ADVERTISEMENT

3-5 TAHUN
23 Juli 2022

5 Tahap Perkembangan Psikoseksual Anak: Oral, Anal, Phalik, Laten, dan Genital

Moms juga harus memahami perilaku seksual normal dan bermasalah pada anak
Artikel ditulis oleh Nurul Aulia Ahmad
Disunting oleh Aprillia

Apakah Moms pernah melihat Si Kecil memegang alat kelaminnya dan terlihat "keenakan"? Jangan langsung dimarahi Moms. Itu adalah hal yang normal dan termasuk dalam tahapan perkembangan psikoseksual anak.

Psikoanalis terkenal Sigmund Freud, memiliki teori perkembangan psikoseksual.

“Teori ini berasal dari Freud pada awal 1900-an sebagai cara untuk memahami dan menjelaskan penyakit mental dan gangguan emosional,” jelas psikoterapis Dana Dorfman, PhD, New York, dilansir dari Healhtline.

Baca Juga: Perkembangan Anak 2 Tahun, Apakah Sudah Sesuai dengan Si Kecil?

Tahapan Perkembangan Psikoseksual Anak

Foto: Tahapan Perkembangan Psikoseksual Anak

Foto: perkembangan psikoseksual anak (Orami Photo Stock)

ADVERTISEMENT

Setiap tahapan perkembangan psikoseksual anak ini dikaitkan dengan bagian tubuh tertentu, atau lebih khusus lagi, zona sensitif seksual.

Setiap zona adalah sumber kesenangan dan konflik dalam setiap tahapan masing-masing.

“Kemampuan seorang anak untuk menyelesaikan konflik itu menentukan apakah mereka dapat melanjutkan ke tahap berikutnya atau tidak,” jelas konselor profesional berlisensi Dr. Mark Mayfield, pendiri dan CEO Mayfield Counseling Centers, dilansir dari Healthline.

ADVERTISEMENT

Jika dapat menyelesaikan konflik dalam tahap tertentu, anak akan maju ke tingkat perkembangan berikutnya. Jika tidak, maka anak akan berada dalam fase "terjebak".

Misalnya, seorang anak yang "terjebak" dalam tahap oral mungkin terlalu menikmati bila terdapat sesuatu di dalam mulutnya, dan ini akan memengaruhi perkembangannya.

Oleh karena itu, Moms perlu memperhatikan tahapan perkembangan psikoseksual anak, yakni:

1. Tahap Oral (0–1 Tahun)

ADVERTISEMENT

Pada tahap ini, bayi mendapatkan kesenangan dari mulutnya.

Selain menyusui, bayi akan terus memainkan mulutnya dengan jari misalnya, dan terus mengeksplor bagian tersebut dengan memasukkan segala jenis benda ke dalam mulutnya.

Menurut Freud, selama tahap pertama perkembangan ini, libido manusia terletak di mulutnya.

Artinya mulut adalah sumber utama kesenangan. “Tahap ini terkait dengan menyusui, menggigit, mengisap, dan menjelajahi dunia dengan memasukkan sesuatu ke dalam mulut,” kata Dana.

Mengunyah permen karet berlebihan, menggigit kuku, dan mengisap jempol bisa terjadi bila bila kepuasan oral anak terlalu sedikit atau bahkan terlalu banyak pada tahapan ini.

“Makan berlebihan dan merokok juga berakar pada perkembangan yang buruk dari tahap pertama ini,” tambahnya.

Baca Juga:Mengenal Teori Piaget, 4 Tahapan Perkembangan Kognitif dan Kecerdasan Anak

2. Tahap Anal (1–3 Tahun)

ADVERTISEMENT

Scroll untuk melanjutkan

Foto: Tahap Anal (1–3 Tahun)

Foto: anak usia 1–3 tahun (Orami Photo Stock)

Pada tahap ini, kesenangan anak tidak diperoleh dari memasukkan sesuatu ke dalam tubuh, melainkan mendorong keluar dari anus. Ya, itu kode untuk buang air besar Moms.

Freud percaya bahwa selama tahap ini, menerapkan toilet training serta belajar mengendalikan buang air besar dan kandung kemih adalah sumber utama kesenangan dan ketegangan.

Teori tersebut mengatakan bahwa pendekatan orang tua terhadap proses toilet training akan memengaruhi bagaimana seorang anak berinteraksi seiring bertambahnya usia.

Misalnya, toilet training yang keras dianggap menyebabkan orang dewasa menjadi retensi anal, yakni perfeksionis dan terobsesi dengan kebersihan.

Baca Juga: Cara Bermain Pop It dan Manfaatnya untuk Perkembangan Anak

3. Tahap Phalik (3–6 Tahun)

ADVERTISEMENT

Fase perkembangan ini terjadi saat anak berusia 3–6 tahun. Seorang anak akan suka mengamati dan menyentuh alat kelaminnya.

Hal tersebut terjadi karena zona sensitif seksual terletak di alat kelamin, dan fase ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki.

Pada tahap ini, anak mulai menyadari jenis kelaminnya sendiri.

Mereka mengenal diri mereka sendiri baik sebagai laki-laki atau perempuan dari visi mereka sendiri tentang alat kelamin maupun dari pendidikan seks yang diajarkan oleh orang tua tentang gender.

Orang tua tidak perlu khawatir jika pada fase ini anak cenderung menyentuh alat kelaminnya, karena perilakunya didasari oleh rasa ingin tahu dan kecenderungan anak untuk mengeksplorasi tubuhnya.

Ini tidak didasarkan pada hasrat seksual, sebab di usia ini, hasrat seksual anak sudah pasti belum terbentuk.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Alice Sterling Honig, dari Syracuse University mencatat bahwa anak-anak prasekolah sering bingung dengan perbedaan anatomi seksual.

Bahwa anak-anak membutuhkan nama untuk bagian tubuh seksual, sehingga menyentuh alat kelamin mereka sesekali adalah hal yang normal.

ADVERTISEMENT

4. Tahap Laten (7–10 Tahun)

Foto: Tahap Latens (7–10 Tahun) (pexels)

Foto: anak usia 7–10 Tahun (Orami Photo Stock)

Sigmund Freud berpendapat bahwa ini adalah saat energi seksual disalurkan ke aktivitas aseksual lain seperti belajar, melakukan hobi, dan berhubungan sosial dengan yang lain.

Dia merasa bahwa tahap ini adalah saat seseorang mengembangkan keterampilan sosial dan komunikasi yang sehat.

Sigmund Freud berpendapat bahwa ini adalah saat energi seksual disalurkan ke aktifitas aseksual lain seperti belajar, hobi, dan hubungan sosial.

Dia merasa bahwa tahap ini adalah saat orang mengembangkan keterampilan sosial dan komunikasi yang sehat.

Anak-anak dapat mengembangkan keterampilan sosial, nilai-nilai dan hubungan dengan teman sebaya dan orang dewasa di luar keluarga.

ADVERTISEMENT

Tahapan ini dimulai sekitar waktu anak-anak akan masuk ke sekolah di mana mereka menjadi lebih peduli dengan hubungan bersama teman sebaya, hobi, dan minat lainnya.

Freud percaya kegagalan untuk melewati tahap ini dapat mengakibatkan ketidakdewasaan seumur hidup, atau ketidakmampuan untuk memiliki dan mempertahankan kebahagiaan, kesehatan, dan memenuhi hubungan seksual dan non-seksual sebagai orang dewasa.

Baca Juga: Mengenal Kemampuan Fungsi Eksekutif dalam Perkembangan Anak

5. Tahap Genital (12 Tahun ke Atas)

Memasuki masa pubertas menyebabkan libido menjadi aktif kembali. Selama tahap perkembangan psikoseksual akhir ini, individu dapat mengembangkan minat seksual yang kuat pada lawan jenis.

Tahap ini dimulai selama masa pubertas tetapi dapat berlangsung sepanjang sisa hidup seseorang.

Menurut Sigmund Freud, tahap perkembangan psikoseksual ini ditandai dengan matangnya organ reproduksi anak.

Ini akan memberikan dampak yang beragam bagi perkembangan karakter anak nantinya.

Jika anak mampu melewati tahapan perkembangan psikoseksualnya ini dengan baik, maka anak akan memiliki kepribadian yang sehat.

Baca Juga: Perkembangan Psikologi Anak dari Bayi hingga Usia Sekolah dan Pola Pengasuhan yang Disarankan

Peran Orang Tua

Foto: Peran Orang Tua

Foto: orang tua dan anak (Orami Photo Stock)

Dalam setiap perkembangan yang dialami anak, orang tua sudah sepatutnya berperan penting.

Orang tua harus mendukung setiap pertumbuhan dan perkembangan anak mereka dengan memiliki pengetahuan seputar perilaku anak sejak lahir hingga remaja.

Orang tua dapat menawarkan cinta, rasa penerimaan, penghargaan, dorongan, dan bimbingan kepada anak-anak mereka.

Moms dan Dads juga dapat memberi perlindungan anak-anak saat mereka mengembangkan kepribadian dan identitas mereka, hingga saat anak menjadi dewasa secara fisik, kognitif, emosional, dan sosial.

Baca Juga: Kenali Tahap Perkembangan Sosial Anak Usia 1–5 Tahun dan Cara untuk Mengajarinya Bersosialisasi

Memahami Perilaku Seksual pada Anak

Foto: Memahami Perilaku Seksual pada Anak

Foto: anak-anak belajar (Orami Photo Stock)

Setelah mengetahui tahapan perkembangan psikoseksual anak, Moms tidak perlu canggung lagi untuk berbicara dengan anak-anak tentang perkembangan seksualnya.

Pada usia yang sangat muda, anak-anak mulai mengeksplorasi tubuhnya dengan menyentuh, mencolek, menarik, dan menggosok bagian tubuhnya, termasuk alat kelaminnya.

Seiring bertambahnya usia, anak membutuhkan bimbingan dalam mempelajari bagian-bagian tubuh ini dan fungsinya.

Dilansir dari American Academy of Pediatrics (AAP) ada beberapa perilaku seksual "normal" dan perilaku yang mungkin menandakan masalah pada anak, meliputi:

1. Perilaku yang Normal

Berikut daftar perilaku seksual yang normal dan umum pada anak usia 2 hingga 6 tahun.

  • Menyentuh alat kelamin di tempat umum atau pribadi.
  • Melihat atau menyentuh alat kelamin teman sebaya atau saudara baru.
  • Menampilkan alat kelamin kepada teman sebaya.
  • Berdiri atau duduk terlalu dekat dengan seseorang.
  • Mencoba melihat teman sebaya atau orang dewasa telanjang.

Baca Juga: Ketahui Tahap Perkembangan Motorik Anak Mulai dari Bayi, Balita, hingga Usia 12 Tahun

2. Perilaku yang Menandakan Masalah

Moms juga perlu tahu kapan perilaku seksual anak yang muncul lebih dari sekadar rasa ingin tahu dan cenderung berbahaya.

Sebab, masalah perilaku seksual dapat menimbulkan risiko bagi keselamatan Si Kecil dan juga anak yang lain.

  • Sering terjadi dan tidak dapat dialihkan.
  • Menyebabkan rasa sakit emosional atau fisik atau cedera pada diri sendiri atau orang lain.
  • Diasosiasikan dengan agresi fisik.
  • Melibatkan paksaan.
  • Mensimulasikan tindakan seksual dewasa.

Dengan mengetahui tahap perkembangan psikoseksual anak ini, diharapkan Moms bisa lebih bijak saat membimbing Si Kecil dalam melewati prosesnya.

  • https://www.healthline.com/health/psychosexual-stages#takeaway
  • https://www.verywellmind.com/freuds-stages-of-psychosexual-development-2795962
  • https://www.researchgate.net/publication/234604191_Psychosexual_Development_in_Infants_and_Young_Children_Implications_for_Caregivers
  • https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/preschool/Pages/Sexual-Behaviors-Young-Children.aspx
  • https://www.apa.org/pi/families/resources/parents-caregivers
  • https://www.rspondokindah.co.id/en/news/perlu-cemaskah-ketika-anak-sering-memegang-kelaminnya--i

Sebelumnya

Mata Bengkak pada Anak, Yuk Cari Tahu Penyebab dan Cara Mengatasinya!
Debora • 23 Jul 2022

Selanjutnya

Pengendalian Diri: Pengertian, Contoh, dan Manfaatnya, Yuk, Ajarkan pada Anak!
Nurul Aulia Ahmad • 24 Jul 2022

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

Artikel Terkait
Artikel Pilihan Editor

ADVERTISEMENT