Momspiration

MOMSPIRATION
25 Juni 2020

Betapa Kagetnya Saya Melihat Anak Tiba-tiba Kejang Tanpa Sebab

Jangan panik ya Moms dan cari tahu apa yang harus dilakukan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Kartika Anindita, Media Relations Specialist. Ibu dari 2 anak, Ayunda Cayla, 8 tahun, dan Bimasena Aryasatya, 3 tahun.

Menjadi seorang ibu adalah pekerjaan yang mulia. Merawat buah hati kita dari bayi hingga besar dan dewasa adalah sebuah kebanggaan tersendiri.

Namun menjadi seorang ibu tidak berarti semuanya berjalan lancar-lancar saja seperti jalan tol. Pasti ada beberapa hal yang membuat kebahagiaan itu pergi sekejap, digantikan dengan perasaan cemas. Apalagi kalau bukan saat anak-anak sakit?

Moms pasti tahu bagaimana khawatirnya seorang ibu, meskipun anaknya hanya sakit demam. Inilah yang saya rasakan, dan parahnya lagi saya tidak hanya menghadapi demam biasa, melainkan hal yang belum pernah saya alami.

Baca Juga: Butuh Perjuangan untuk Berdamai dengan Preeklampsia

Anak Saya Tiba-tiba Kejang!

anak kejang tanpa sebab

Foto: dok. Kartika Anindita

Pagi hari itu, 17 April 2018, sudah beberapa hari Bima mengalami turun naik suhu tubuhnya. Kadang demam tinggi (sampai 39,1 derajat Celsius) kadang turun demamnya. Biasanya selepas bapaknya anak-anak berangkat kerja saya akan kembali tidur sebentar sebelum akhirnya sarapan, mandi, kemudian berangkat ke kantor.

Tapi pagi itu lain dari biasanya. Padahal tidak ada firasat apapun selain memang Bima yang sedang sakit dan perlu dipantau suhu tubuhnya tiap 4 jam sekali.

Saat mata akan kembali terpejam, terdengar suara seperti orang tertawa, saya pikir itu suara Cyla tertawa karena sedang nonton video di tabletnya. Kemudian ragu sendiri, itu bukan seperti suara tertawa tapi seperti suara orang mendengkur.

Saya lihat ke arah Cyla yang memang tidur di pojok dekat tembok, tubuhnya terguncang-guncang. Seperti orang sedang tertawa terbahak-bahak, tapi saya yakin dia bukan sedang tertawa. Lalu saya colek bahunya, masih saja terguncang, tak ada jawaban.

Saya coba membalikkan tubuhnya, Ya Allah ternyata dia kejang! Matanya terpejam, seluruh badannya mengejang, dari mulutnya keluar busa-busa putih. Saya panggil-panggil namanya, saya tepuk-tepuk pipinya, tak juga bergeming.

Baca Juga: Barang Preloved untuk Si Kecil? Enggak Masalah!

Saya panik. Teriak sambil menggendong tubuhnya keluar kamar dan saya letakkan di ruang keluarga. Ayah saya dan adik saya datang karena terbangun, begitu pun beberapa tetangga yang datang karena adik di depan minta tolong karena orang serumah belum punya pengalaman ada keluarga yang mengalami kejang seperti ini.

Cyla Mengalami First Unprovoked Seizure, Kejang Tanpa Faktor

anak kejang tanpa sebab

Foto: dok. Kartika Anindita

Saya serahkan Cyla ke ayah saya sambil mengontak ibu, sahabat, juga dokter spesialis anak yang biasa menangani anak-anak. Sementara Cyla dibawa ke rumah sakit terdekat oleh ayah, adik, juga satu orang tetangga.

Saya tidak bisa ikut karena harus menjaga Bima di rumah. Cerita dari ayah dan adik saya, Cyla harus dirujuk ke dokter spesialis saraf karena kejang yang dia alami bukan merupakan kejang demam.

Tadinya saya sempat membuat janji dengan salah satu dokter spesialis saraf di rumah sakit dekat rumah, tapi untungnya dokternya anak-anak yang kebetulan saat itu sedang cuti berhasil dihubungi dan menyarankan Cyla dibawa ke dokter spesialis saraf anak, bukan saraf umum.

Dia merekomendasikan Cyla dibawa ke dokter spesialis saraf anak rekanannya di salah satu rumah sakit di Cibubur. Cyla langsung saya bawa saat itu juga ke dokter spesialis saraf anak yang dimaksud.

Baca Juga: Serunya Drama Hamil Kembar saat Si Sulung Masih Batita

Singkat cerita, Cyla mengalami First Unprovoked Seizure atau kejang yang terjadi tanpa faktor pencetus seperti demam, infeksi sistem saraf pusat, trauma kepala, gangguan metabolik, hipoksia otak, atau obat-obatan.

Dokter menyarankan Cyla menjalani EEG (Elektroensefalografi) guna merekam aktivitas elektrik di kepala atau mengukur fluktuasi tegangan dalam otak.

Setelah menjalani proses EEG dan keluar hasilnya, terlihat ada sharp wave (gelombang tajam) di temporal kanan dengan kemungkinan fokus di temporal depan kanan.

Merujuk hasil EEG, Cyla disarankan juga menjalani MRI, tapi kata dokternya karena masih kecil dan perkembangan otaknya masih bisa berubah dan belum tentu kejangnya berulang, Cyla tidak perlu menjalani MRI.

Diapun tidak memberikan Cyla obat, karena kejang tanpa demam pada anak belum tentu berulang. Hanya saja saya perlu memantau aktivitasnya. Intinya Cyla tidak boleh terlalu lelah atau kurang istirahat.

Beliau juga berpesan, jika dalam waktu kurang dari setahun kejang tanpa demamnya berulang, Cyla harus kembali untuk konsultasi. Cyla hanya diresepkan Stesolid untuk berjaga-jaga jika sampai kejang tanpa demamnya berulang.

Sedikit informasi, Stesolid adalah obat yang digunakan untuk terapi jangka pendek pada penyintas salah satunya adalah penyintas status epileptikus.

Tapi alhamdulillah sampai saat tulisan ini ditulis, Stesolid yang selalu saya masukkan dalam tas sekolah dan tas lainnya belum pernah digunakan oleh Cyla. Tapi apakah ceritanya berakhir di sini? Saya tadinya mengamini begitu. Tapi ternyata ini hanya awal dari cerita yang akan saya ceritakan selanjutnya.

Serangan Kedua Itu Terjadi Kurang dari Satu Tahun

anak kejang tanpa sebab

Foto: emergencyfoundation.org.au

Pada 7 April 2019, setahun kurang 10 hari dari serangan kejang yang pertama. Saya ingat, saat itu Minggu siang tiba-tiba Cyla nepuk-nepuk bapaknya minta tolong, dia seperti enggak bisa ngomong.

Seperti ada yang menahan dia untuk enggak bisa ngomong, tapi alhamdulillah hanya terjadi selama beberapa detik setelah itu dia kami suruh istirahat walaupun eyangnya sempat menyuruh saya untuk menghubungi dokternya tapi saya masih anggap mungkin Cyla hanya terlalu lelah dengan seabrek aktivitasnya.

Sisa hari Minggu itu sampai saat malam menjelang tidur kembali kami lewati seperti biasa sama seperti Minggu malam lainnya bersiap tidur menjelang awal minggu yang baru keesokan harinya.

Baca Juga: Belum Rela Titip Anak di Daycare, Suami Pilih Jadi Bapak Rumah Tangga

Tetapi sekitar jam 11.00 malam tiba-tiba saya dikejutkan oleh tepukan keras tangan Cyla ke lengan saya, begitu saya terbangun saya melihat dia seperti bicara "tolong aku" tapi mulutnya tidak bisa digerakkan bahkan terlihat miring.

Tak lama saya langsung duduk dan membangunkan bapaknya untuk menemani Cyla sebentar sementara saya langsung menghubungi dokter spesialis saraf anak yang pernah menangani Cyla. Dokter hanya bilang berarti ini serangan kedua dengan jeda kurang dari setahun dari serangan pertama dan beliau mengharuskan Cyla untuk kembali kontrol ke dia.

Beruntung esok harinya beliau ada jadwal praktek dan pagi-pagi sekali saya langsung bertolak ke rumah sakit hanya berdua bersama Cyla.

Ternyata, yang terjadi pada Cyla di hari Minggu siang dan malam itu disebut dengan Speech Arrest, masih serumpun dengan First Unprovoked Seizure dan Benign Rolandic (kondisi epilepsi yang dialami anak usia 6-8 tahun).

Karena ini termasuk serangan kedua maka dokter langsung meminta Cyla menjalankan terapi. Terapinya adalah minum obat tanpa putus selama dua tahun. Obatnya mengandung asam valproat yang memang bertujuan untuk terapi pengobatan kejang.

Saat pertama mengkonsumsi obat juga harus dicek fungsi hatinya karena termasuk obat yang keras. Obatnya sendiri diberikan sehari 2x dengan jeda lebih kurang 12 jam dengan takaran yang disesuaikan dengan berat badan anak.

Kenapa harus 2 tahun mengkonsumsinya? Karena menurut jurnal Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) angka kekambuhan kejang akan semakin kecil jika anak minum obat sampai 2 tahun bebas kejang. Pun setelah 2 tahun menurut dokter tidak akan langsung berhenti tapi dikurangi bertahap sampai akhirnya benar-benar berhenti minum obatnya.

Semenjak kasus yang terjadi pada Cyla saya jadi banyak baca literatur dan jurnal kesehatan (yang jelas tentunya) mengenai epilepsi dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Bahkan saya juga baru mengetahui bahwa bengong atau melamun itu bisa dikategorikan dengan (serangan) kejang.

Baca Juga: Demi ASI Eksklusif, Saya Rutin Membawa Bayi Bekerja

Jangan Panik, Moms Harus Tahu Tips yang Tepat

anak kejang tanpa sebab

Foto: health.clevelandclinic.org

Yang jelas jika anak Moms mengalami kejang tanpa demam, ada beberapa tips menghadapinya di antaranya adalah:

  • letakkan anak di lantai serta singkirkan benda-benda yang bisa menghalanginya atau membahayakannya,
  • baringkan anak dengan posisi miring untuk menghindari anak tersedak air liurnya sendiri
  • longgarkan pakaian anak,
  • jangan mencoba menghentikan kejang dengan paksa seperti memeluknya karena akan membuat anak tidak nyaman,
  • jangan masukan benda apapun ke dalam mulutnya (seperti mitos yang mengatakan kalau anak kejang masukan sendok ke mulutnya) karena dapat menutup jalan nafasnya,
  • carat durasi kejang anak karena ini berhubungan dengan tindakan atau terapi yang akan dilakukan oleh dokter spesialis saraf anak,
  • segera bawa anak ke dokter atau rumah sakit terdekat.

Sampai sekarang kejang tanpa demam enggak memiliki sebab yang jelas karena memang biasanya terjadi mendadak dan bisa di mana saja.

Tapi kembali menurut jurnal IDAI pencetus kejang yang sering dialami bisa kurang tidur atau istirahat, stress fisik atau emosi, cahaya yang berkedip yang dihasilkan komputer, TV, Video Game, dan lain-lain (terjadi pada pasien epilepsi fotosensitif).

Pertanyaan Seputar Kejang Anak yang Sering Ditanyakan

anak kejang tanpa sebab

Foto: dok. Kartika Anindita

Masih bisa melakukan banyak aktivitaskah? Itu yang sering ditanya banyak orang. Jawabnya: masih kok selama anaknya masih punya waktu buat istirahat dan tidur yang cukup.

Bahkan salah satu olahraga (selain senam artistik) yang dijalani Cyla adalah berenang yang sebenarnya nggak disarankan karena takut tiba-tiba terjadi serangan di air. Tapi dengan seizin dokternya untuk selalu mengawasi dengan intensif, Cyla masih berenang sampai saat ini dan alhamdulillah sering mengikuti kejuaraan senam artistik juga berenang dan hampir kesemuanya mendapatkan juara.

Baca Juga: Tips Pintar jadi Orang Tua Baru Zaman Now

Ada kendala enggak sih selama terapi berlangsung? Alhamdulillah tidak ada, asal bisa komitmen untuk selalu minum obat tepat waktu (kami sampai punya alarm di 3 ponsel yang berbeda) dan juga memastikan anak untuk selalu punya cukup waktu istirahat dan tidur kuncinya. Bisa sembuh nggak? Insya Allah bisa jika mengikuti aturan terapi dan panduan dokter selama terapi.

Alhamdulillah, setahun pertama dilalui dengan baik sekali tanpa ada serangan (kejang) lanjutan. Kami tinggal melalui setahun kedua (yang Insya Allah sampai April 2021) masa mengkonsumsi obatnya.

Mudah-mudahan setahun kedua akan selancar tahun pertama sampai nanti akhirnya benar-benar putus dan lepas dari obatnya, aamiin. Bantu doa ya, Moms.

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait