Scroll untuk melanjutkan membaca

JALAN-JALAN
04 November 2022

Mengenal Sejarah Angkringan yang Jadi Tempat Makan Fenomenal

Siapa yang pertama kali membuat ide angkringan dan apa filosofinya?
Mengenal Sejarah Angkringan yang Jadi Tempat Makan Fenomenal

Moms pernah makan di angkringan?

Angkringan menjadi tempat makan fenomenal yang populer di Yogyakarta.

Saking populernya, angkringan selalu menjadi daya tarik bagi para wisatawan asing dan mancanegara.

Kita bisa dengan mudah menjumpai pedagang angkringan yang berjualan di sepanjang jalanan setapak atau trotoar yang ada di Yogyakarta.

Konsep tempat makan ini dinilai unik dan sangat cocok dengan masyarakat Indonesia.

Hal inilah yang membuat angkringan tetap dikenal hingga sekarang.

Baca Juga: 10 Obat Muntah Anak Tradisional, Ampuh dan Mudah Didapatkan!

Sejarah Angkringan

Cikal Bakal Angkringan

Foto: Cikal Bakal Angkringan (www.kompas.com)

Jika menilik sejarah angkringan, tempat makan ini sebenarnya sudah lama ada dan menjadi budaya serta tradisi secara turun-temurun yang tak lekang oleh waktu.

Dilansir dari kompas.com, angkringan sudah ada sejak tahun 1930-an.

Meski populer di Yogyarakarta, tempat makan ini sebenarnya diciptakan oleh seorang laki-laki yang bernama Eyang Karso Dikromo dari Desa Ngerangan, Klaten.

Dirinya lebih akrab dipanggil dengan nama Jukut.

Awalnya, Eyang Karso Dikromo yang suka berganti-ganti profesi ini mulai tertarik dengan bisnis makanan.

Ketika ia berusia 15 tahun, Eyang Karso Dikromo pergi merantau ke daerah Solo.

Perantauannya ke Solo ini dikarenakan ingin merubah nasib.

Ayahnya meninggal dunia sehingga ia sebagai anak tertua harus menghidupi keluarganya.

Di Solo, Eyang Karso Dikromo bertemu dengan Mbah Wiryo.

Keduanya pun bekerjasama untuk membuat bisnis makanan yang nantinya akan dikenal sebagai cikal bakal angkringan.

Baca Juga: 11 Cara Menghilangkan Bekas Cupang di Leher dan Bagian Tubuh Lainnya yang Bisa Moms Coba

Munculnya Ide Membuat Angkringan

Pedagang Angkringan Jaman Dulu

Foto: Pedagang Angkringan Jaman Dulu (evoi.id)

Awalnya, angkringan bukanlah seperti apa yang kita saat ini.

Eyang Karso dan Mbah Wiryo membuat makanan terikan.

Terikan ini adalah makanan dari Jawa Tengah yang terbuat dari bahan dasar aneka protein yang dimasak dengan kuah kental.

Mereka berdua menjual makanan ini di malam hari karena pada masa itu belum banyak yang berjualan makanan saat malam hari.

Selama berjualan, Eyang Karso dan Mbah Wiryo ini perlahan menambah menu makanan dan minuman yang dijual.

Keduanya mendapat ide menjajakan minuman seperti wedang jahe, teh manis panas, kopi panas, hingga aneka minuman kesehatan tradisional lainnya yang bisa dikonsumsi untuk menghangatkan tubuh di malam hari.

Berhubung ada banyak orang yang mampir untuk menikmati minuman saja tanpa ingin menyantap terikan.

Eyang Karso dan Mbah Wirso pun memiliki ide untuk menyajikan menu jajanan atau camilan kampung.

Misalkan saja pisang rebus, pisang goreng, singkong goreng, ubi goreng, dan lain sebagainya.

Membuat hidangan istimewa kampung atau yang disingkat dengan nama HIK menjadikan angkringan mulai dikenal oleh masyarakat Jawa Tengah.

Baca Juga: Apotek BPJS: Cara Daftar, Lokasi, Fasilitas hingga Manfaatnya bagi Masyarakat

Asal Mula Nama Angkringan

Angkringan

Foto: Angkringan (angkringanmbahbejo.blogspot.com)

Nama angkringan berasal bahasa Jawa, yaitu angkring yang artinya adalah alat dan tempat jualan makanan keliling.

Jadi pada masa awal berjualan, Eyang Karso dan Mbah Wirso memilih untuk menjajakan makanannya dengan menggunakan gerobak pikul.

Bentuk gerobak pikul merupakan sebuah gerobak yang di bagian kanan dan kirinya terdapat gerobak kecil dengan ukuran sedang yang bagian atasnya diberi sebuah pikulan dari bahan kayu.

Dengan adanya pikulan ini, maka pedagang bisa dengan mudah membawa barang dagangan mereka sambil berkeliling.

Seiring dengan berjalannya waktu, angkringan tak lagi dijual dengan cara dipikul, tetapi dijual dengan bentuk gerobak dengan dua roda disampingnya.

Hal ini terjadi pada sekitar tahun 1970-an.

Jadi, konon katanya seorang pedagang pernah kesandung dan ketumpahan air panas dari gerobak yang ia pikul.

Gerobak pikul pun beralih menjadi gerobak dorong pada tahun 1980-an hingga sekarang.

Selain bisa membuat keselamatan lebih aman, peralihan gerobak angkringan ini juga dilakukan supaya barang dagangan bisa lebih banyak dibawa dan nantinya orang-orang bisa dengan lebih leluasa untuk bersantap.

Baca Juga: Nyeri Tumit: Penyebab, Diagnosis, dan Cara Mengatasinya

Mengapa Angkringan Lebih Populer di Yogyakarta?

Angkringan

Foto: Angkringan (kompas.com)

Selama ini kita memang menganggap kalau angkringan asalnya dari Yogyakarta.

Namun, ada banyak perdebatan yang terjadi kalau sebenarnya konsep tempat makan ini berasal dari Solo karena kemunculan pertamanya ada di Solo.

Ada juga yang meyakini kalau angkringan asalnya dari Klaten karena orang yang pertama kali mempelopori angkringan asalnya dari Desa Ngerangan yang ada di Klaten.

Usut punya usut, ternyata ada alasan mengapa angkringan lebih populer di Yogyakarta dan menjadi ikon dari kota tersebut.

Pada tahun 1950-an tempat makan ini sudah menyebar ke seluruh daerah yang ada di Jawa Tengah, termasuk Yogyakarta.

Di Yogyakarta inilah pedagang angkring mengalami masa kejayaannya.

Hal ini dikarenakan kota Yogyakarta memiliki banyak pelajar mahasiswa yang sering mampir ke angkringan di malam hari untuk mengisi perut mereka sambil mengobrol.

Baca Juga: Kelainan Darah Hemofilia: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Selain mahasiswa, ada wisatawan juga yang paling sering mampir ke tempat makan ini.

Menu angkringan yang banyak dan harganya yang murah meriah menjadi alasan bagi mahasiswa dan wisawatan untuk datang ke sana.

Salah satu menu yang paling populer di sana adalah nasi kucing.

Nasi kucing adalah kuliner yang di dalamnya terdapat nasi dan lauk pauk.

Lauk pauknya bisa berupa orak tempe, telur balado, sambal goreng kentang ati, dan lain sebagainya.

Keunikan dari nasi kucing adalah ukurannya yang kecil sehingga mirip dengan porsi makanan kucing.

Biasanya orang akan membeli 2-3 nasi kuning untuk memenuhi porsi makan normal.

Tak hanya nasi kucing, ada beragam jenis sate yang juga menjadi makanan kesukaan yang banyak dicoba oleh pembeli.

Ada sate usus, telur puyuh, ati ampela, dan lain sebagainya.

Baca Juga: 11 Produk Danone yang Paling Populer, Sudah Coba yang Mana Moms?

Filosofi Angkringan

Angkringan

Foto: Angkringan (etnis.id)

Angkringan sebenarnya memiliki filosofi unik yang bisa dikatakan menjadi salah satu alasan terbesar mengapa tempat makan ini hingga sekarang masih saja disukai oleh masyarakat Indonesia.

Tempat ini selalu yang menyajikan HIK ini dinilai sebagai tempat yang egaliter.

Egaliter bermakna kesetaraan derajat sosial seseorang dengan orang lain.

Jadi kalau kita lihat, siapa saja bisa menyantap makanan yang ada di tempat makan ini.

Pembeli yang datang tanpa membeda-bedakan strata sosial bisa menikmati makanan mereka sambil bebas mengobrol hingga larut malam meski tak saling kenal. Bahan obrolannya bisa beragam.

Mulai dari perbincangan mengenai sosial, ekonomi, hingga politik.

Coba saja Moms perhatikan saat berada di tempat makan ini, orang-orang pasti akan suka sekali mengobrol satu sama lain dan suasananya juga sangat akrab.

Faktor inilah yang membuat angkringan cocok didatangi oleh siapa saja.

Nasi Kucing

Foto: Nasi Kucing

Banyak sekali variasi menu angkringan yang dapat Moms temui dan mencobanya berikut ini:

1. Aneka Bacem

Kebanyakan makanan khas Jawa memang memiliki cita rasa yang manis, tidak terkecuali bacem.

Ada banyak bahan makanan yang bisa dibuat bacem, namun yang paling populer di masyarakat adalah tempe dan tahu.

Di beberapa angkringan juga menyediakan pilihan bacem lain, seperti ayam bacem.

Rasa manis dari bumbu dan gurihnya ayam kerap kali menjadi incaran para pengunjung yang ingin makan enak dengan budget terbatas.

2. Nasi Kucing

Di angkringan Moms akan menemukan nasi kucing.

Dari namanya memang unik tapi tenang saja nasi kucing bukan makanan khusus kucing tetapi hanya sebutannya saja. 

Nasi kucing ini memiliki porsi yang mungil atau sedikit, kemudian terbungkus dengan daun pisang atau kertas minyak.

Sekilas memang terlihat seperti buntelan tempe tetapi jika kamu buka akan terlihat nasi dan sambal.

Tidak hanya sambal, biasanya juga menemukan campuran ikan asin kecil di dalamnya.

3. Aneka Sate

Pergi ke angkringan rasanya kurang lengkap bila tidak mencoba aneka sate.

Hidangan ini memang acap kali menjadi sasaran para pengunjung karena rasanya yang lezat namun terjangkau.

Moms juga tidak perlu khawatir karena ada begitu banyak jenis sate yang biasa dijual di angkringan, jadi bisa memilih yang paling sesuai dengan selera.

Baca Juga: 10 Obat Muntah Anak Tradisional, Ampuh dan Mudah Didapatkan!

4. Tempe Mendoan

Selanjutnya menu angkringan yang bisa Moms jumpai, yaitu tempe mendoan.

Menu yang satu ini memang wajib ada dan harus kamu coba ketika berkunjung ke angkringan. 

Tempe mendoan hampir sama cara pembuatan dan bentuknya namun terdapat sedikit perbedaan dari teknik memasaknya.

Pada saat menggoreng tempe mendoan tidak menunggu waktu lama dan hanya setengah matang.

Sehingga teksturnya lebih kenyal dan tidak garing, tetapi itu yang menjadikan ciri khas tempe mendoan.

5. STMJ (Susu Telur Madu Jahe Rempah)

Setelah membahas tentang makanan, Moms juga tidak boleh melewatkan menu minuman khas angkringan yang legendaris ini.

Apalagi kalau bukan, STMJ atau Susu Telur Madu Jahe Rempah.

Minuman ini umumnya diincar pengunjung saat malam atau pagi hari, itu karena khasiatnya yang mampu menghangatkan tubuh.

Selain itu, STMJ juga tergolong minuman yang menyehatkan karena menggunakan bahan-bahan alami, seperti jahe, cengkeh, madu, telur, dan susu.

6. Wedang Jahe

Satu lagi menu angkringan yang ampuh sebagai penangkal dingin, yaitu wedang jahe.

Minuman ini terbuat dari jahe, serai, dan gula merah yang dimasak bersama daun pandan untuk menambah aromanya.

Berbeda dengan STMJ yang menggunakan susu dan telur, harga wedang cenderung lebih murah, yaitu Rp3.000-Rp5.000 saja per gelasnya.

7. Teh Tarik 

Salah satu minuman yang wajib Moms coba saat mampir ke angkringan, yaitu teh tarik.

Sekarang ini Moms bisa menikmati segelas teh tarik di angkringan tanpa pergi ke tempat minum khusus.

Ketika Moms berkunjung ke angkringan pasti mudah menemukan teh tarik karena banyak pedagang angkringan menjualnya.

Dalam membuatnya juga tidak sulit teh tarik ini, dengan bahan baku teh lalu mencampurkannya dengan susu dan gula.

Cara mencampurkannya yang menjadi ciri khas minuman ini yaitu menariknya dengan tinggi sampai berbusa. 

Baca Juga: Serba-serbi Kelenjar Getah Bening, Mulai dari Pembengkakan hingga Kanker

Menjadi tempat makan yang legendaris dan sudah menjadi budaya khas masyarakat Jawa Tengah, Moms sendiri sudah pernah mampir ke angkringan belum?

Kalau sudah pernah, apa menu kesukaan Moms?