Trimester 3

TRIMESTER 3
7 Februari 2020

4 Bahaya Hamil Lebih dari 42 Minggu, Waspada!

Moms, bila hamil lebih dari 42 minggu, ada juga kemungkinan Si Kecil terkena makrosomia
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Waritsa Asri
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Sebagian besar bayi dilahirkan sekitar perkiraan tanggal jatuh tempo atau Hari Perkiraan Lahir (HPL), biasanya dua minggu sebelum atau sesudahnya.

Kehamilan ini disebut sebagai full term pada 40 minggu. Tapi, bila kehamilan berlanjut selama lebih dari 42 minggu disebut kehamilan pasca-jangka panjang, lama atau terlambat.

Baca Juga: Ternyata Ini Penyebab Perut Gatal Ketika Hamil Tua

Jika ibu dan bayinya baik-baik saja, terlambat satu minggu tidak dikaitkan dengan risiko khusus untuk salah satu dari mereka. Tetapi setelah itu, kemungkinan ibu atau anak mengembangkan masalah kesehatan secara bertahap meningkat.

Persalinan kemudian dapat diinduksi dengan cepat, atau bayi dapat dilahirkan dengan operasi yang dikenal sebagai operasi caesar.

Bahaya Hamil Lebih dari 42 Minggu

Sebuah studi di AS yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine 2018 merekomendasikan bahwa perempuan harus ditawari pilihan untuk mendorong persalinan begitu mereka mencapai minggu ke-40 karena,ada bahaya yang mengintai bila hamil lebih dari 42 minggu.

Berdasarkan The American College Obstetricians and Gyneologists, ada beberapa bahaya hamil lebih dari 42 minggu. Berikut ulasannya.

1. Kelahiran Mati (Still Birth)

Stillbirth

Siapa sangka, hamil lebih dari 42 minggu ternyata punya dampak yang buruk pada bayi yang Moms kandung. Jika Moms hamil lebih dari 42 minggu, bayi yang Moms kandung berisiko lahir dalam kondisi meninggal.

Still birth atau bayi meninggal dalam kandungan adalah saat bayi dilahirkan dalam keadaan tidak bernyawa setelah minggu ke-20 kehamilan. Sementara itu, kematian bayi sebelum minggu ke-20 kehamilan disebut dengan keguguran.

Sedangkan, menurut World Health Organization, untuk perbandingan internasional menyebut bayi meninggal dalam kandungan adalah bayi yang lahir tanpa tanda-tanda kehidupan pada usia kandungan 28 minggu atau lebih.

2. Makrosomia

Ilustrasi Berat Badan Bayi

Moms, bila hamil lebih dari 42 minggu, ada juga kemungkinan Si Kecil terkena makrosomia. Makrosomia adalah berat badan bayi yang lahir lebih dari 4000 gram.

Terdapat risiko komplikasi dari bayi dengan berat lahir berlebih atau makrosomia baik dialami Moms atau bayi itu sendiri seperti pendarahan, infeksi, preeklamsia, dan operasi caesar.

Baca Juga: Tahapan Perkembangan Bayi Minggu Ke-42

3. Sindrom Pascamaturitas

Bayi baru lahir

Setiap bayi dapat menunjukkan gejala postmaturity yang berbeda. Beberapa gejala tersebut adalah:

  • Kulit kering, kendur, terkelupas
  • Kuku yang tumbuh berlebihan
  • Banyak rambut di kepala
  • Terlihat kerutan pada telapak tangan dan telapak kaki
  • Sejumlah kecil lemak di tubuh
  • Warna kulit hijau, coklat, atau kuning dari tinja bayi yang lewat di dalam rahim

Gejala postmaturity terkadang terlihat seperti kondisi kesehatan lainnya. Pastikan anak Anda mengunjungi dokter untuk didiagnosis.

4. Mekonium di Paru-paru Janin

Bayi tengah diperiksa

Mekonium adalah kotoran, feses, atau tinja pertama bayi yang baru lahir dan biasanya mulai dihasilkan oleh usus sebelum kelahiran. Nah, apabila bila bayi kemasukan mekonium terutama di paru-paru janin dapat menyebabkan masalah pernapasan serius setelah lahir.

Tak hanya itu, ada juga risiko bila hamil lebih dari 42 minggu yaitu penurunan cairan ketuban, yang dapat menyebabkan tali pusat mengecil dan membatasi aliran oksigen ke janin

Risiko lain termasuk peningkatan kemungkinan persalinan pervaginam atau persalinan sesar. Ada juga kemungkinan lebih tinggi infeksi dan perdarahan postpartum ketika kehamilan Anda melewati hari perkiraan lahir (HPL).

Baca Juga: 5 Tips Mengatasi Stres Saat Hamil Tua

Nah, bila Moms mengalami hamil lebih dari 42 minggu setelah HPL. Maka, selama kunjungan ke rumah sakit, mereka akan memeriksa ukuran Si Kecil, detak jantung, posisi, dan bertanya tentang gerakan bayi.

Jika Anda lebih dari satu minggu setelah tanggal jatuh tempo, penyedia layanan kesehatan mungkin melakukan pemantauan detak jantung janin (tes non-stres) dan penilaian volume cairan ketuban atau kombinasi dari tes non-stres dan USG janin (profil biofisik).

Dalam beberapa kasus menurut Mayo Clinic, induksi persalinan mungkin direkomendasikan. Induksi persalinan adalah stimulasi kontraksi uterus selama kehamilan sebelum persalinan dimulai dengan sendirinya untuk mencapai kelahiran vagina.

Sementara itu, lakukan yang terbaik untuk menikmati sisa kehamilan Anda.

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait