26 Mei 2024

HPL Sudah Lewat tapi Belum Ada Kontraksi, Apa Penyebabnya?

Jangan keburu panik ya, Moms!

Hari perkiraan lahir (HPL) sudah lewat, tetapi kok belum ada tanda-tanda melahirkan? Moms mungkin panik ketika HPL sudah lewat tapi belum ada kontraksi.

Hari-hari terakhir kehamilan biasanya penuh dengan harapan dan kebahagiaan. Namun, stres dapat melanda jika HPL telah berlalu tanpa tanda-tanda kontraksi.

Tak heran jika calon orang tua merasa cemas dan khawatir ada sesuatu yang terjadi pada bayi dalam kandungan.

Kehamilan biasanya berlangsung selama 38 hingga 42 minggu.

Kehamilan yang berlangsung lebih dari 42 minggu disebut kehamilan post-term, berkepanjangan atau terlambat.

Meskipun begitu, normal terjadi jika Moms melahirkan sebelum atau setelah HPL sudah lewat tapi belum ada kontraksi.

Karena sebenarnya, kehamilan bisa berlanjut hingga dua minggu setelah tanggal perkiraan lahir.

Mungkin Moms bertanya-tanya, apa sebenarnya penyebab dan risiko dari HPL sudah lewat tapi belum ada kontraksi? Mari kita simak penjelasannya berikut ini.

Baca Juga: Jangan Panik, Ini 15 Tanda-tanda Mau Melahirkan yang Wajib Diketahui!

Penyebab HPL Sudah Lewat tapi Belum Ada Kontraksi

Perut Ibu Hamil
Foto: Perut Ibu Hamil (Womenshealth.gov)

Dalam perjalanan kehamilan, Moms mungkin menghadapi situasi di mana HPL telah lewat, tetapi belum ada tanda-tanda kontraksi.

Fenomena ini bisa membingungkan dan menimbulkan kekhawatiran, tetapi sebenarnya ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi situasi ini.

Berikut ini beberapa kemungkinan penyebab HPL sudah lewat tapi belum ada kontraksi:

1. Predisposisi Genetik

Menurut Institute for Quality and Efficiency in Health Care (IQWiG), predisposisi genetik atau faktor keturunan adalah salah satu penyebab umum dari kondisi ini.

Setiap individu memiliki karakteristik genetik yang unik, yang dapat mempengaruhi waktu persalinan.

Oleh karena itu, ada kemungkinan bahwa faktor genetik ini memainkan peran dalam situasi ini.

2. Kehamilan Pertama

Kehamilan pertama sering kali memiliki dinamika yang berbeda dibandingkan kehamilan berikutnya.

Tubuh Moms mungkin perlu waktu lebih lama untuk mempersiapkan diri menjelang persalinan.

Ini bisa menjadi salah satu alasan mengapa pada kehamilan pertama, HPL sudah lewat tapi belum ada kontraksi.

3. Riwayat Kehamilan yang Melewati HPL

Jika Moms pernah mengalami kehamilan yang melewati HPL pada masa sebelumnya, besar kemungkinan pola yang sama akan terulang.

Oleh karena itu, tidak mengejutkan jika HPL sudah lewat tapi belum ada kontraksi, kembali terjadi di kehamilan kali ini.

Baca juga: 15 Tanda-Tanda Mau Melahirkan yang Jarang Disadari

4. Jenis Kelamin Bayi

Beberapa orang percaya bahwa jenis kelamin bayi juga dapat mempengaruhi waktu persalinan.

Ada teori bahwa bayi laki-laki cenderung lahir lebih lambat daripada bayi perempuan.

Jika Moms sedang mengandung bayi laki-laki, maka kemungkinan HPL sudah lewat tapi belum ada kontraksi bisa lebih tinggi.

Namun, belum ada penelitian ilmiah yang kuat yang membenarkan klaim ini, ya Moms.

5. Indeks Massa Tubuh Tinggi (Obesitas)

Moms yang memiliki indeks massa tubuh (IMT) 30 atau lebih tinggi, atau yang mengalami obesitas, mungkin menghadapi tantangan tambahan dalam merangsang kontraksi.

Kondisi ini bisa memperlambat proses persalinan dan menyebabkan HPL sudah lewat tapi belum ada kontraksi.

6. Kesalahan dalam Menghitung Tanggal Jatuh Tempo

Kesalahan dalam menghitung tanggal jatuh tempo juga bisa mempengaruhi situasi ini.

Bila Moms bingung mengenai tanggal pasti dimulainya periode menstruasi terakhir atau bila tanggal jatuh tempo didasarkan pada USG akhir trimester kedua atau ketiga.

Maka ada kemungkinan terjadi ketidakcocokan antara HPL dan perkiraan Moms.

7. Stres dan Rasa Cemas

Perlu diketahui, stres dan rasa cemas juga bisa menjadi penyebab HPL sudah lewat tapi belum ada kontraksi.

Hal ini dikarenakan tingkat stres yang tinggi atau kecemasan dapat menghambat pelepasan hormon-hormon yang diperlukan untuk memicu kontraksi.

Baca Juga: 5 Cara Mengatasi Rhinitis Kehamilan yang Jadi Penyebab Hidung Tersumbat saat Hamil

8. Posisi Janin

Posisi janin yang tidak optimal bisa menjadi salah satu penyebab Hari Perkiraan Lahir (HPL) sudah lewat tapi belum ada kontraksi.

Posisi janin sangat berpengaruh terhadap cara bayi memasuki jalan lahir dan memulai kontraksi.

Berikut adalah beberapa posisi janin yang mungkin menyebabkan keterlambatan dalam onset kontraksi:

  • Posisi Sungsang (Breech)

Dalam posisi sungsang, bokong atau kaki bayi berada di bawah untuk keluar lebih dulu daripada kepala.

Posisi ini bisa membuat lebih sulit bagi bayi untuk menekan serviks (leher rahim) secara efektif, yang penting untuk memulai kontraksi.

  • Posisi Lintang (Transverse Lie)

Posisi ini terjadi ketika bayi berbaring melintang di dalam rahim, dengan kepala berada di satu sisi rahim dan kaki di sisi lain.

Posisi ini menghalangi bayi dari bergerak ke bawah ke jalan lahir, sehingga kontraksi yang efektif untuk persalinan sulit terjadi.

Baca Juga: Kumpulan Doa untuk Ibu Hamil, Amalkan untuk Kesehatan Janin

  • Posisi Kepala Tinggi (High Head Position)

Dalam posisi ini, meskipun bayi dalam posisi kepala ke bawah, kepala bayi belum turun sepenuhnya ke dalam panggul ibu.

Tanpa tekanan yang cukup dari kepala bayi pada serviks, proses pematangan dan pembukaan serviks bisa tertunda.

  • Posisi Kepala Terhadap Tulang (Occiput Posterior)

Idealnya, bayi akan berposisi dengan wajah menghadap punggung ibu (Occiput Anterior).

Namun, jika bayi menghadap ke arah perut ibu (Occiput Posterior), proses kelahiran bisa lebih lama dan lebih sulit karena ini bukan posisi optimal untuk melintasi jalan lahir.

Untuk mengurangi risiko tersebut, penanganan yang cermat dan proaktif sangat penting:

  • Pemantauan Rutin

Memantau kesehatan ibu dan bayi sangat penting, termasuk memeriksa gerakan bayi, serta melakukan pemeriksaan ultrasound untuk menilai jumlah cairan amnion dan kondisi plasenta.

  • Induksi Persalinan

Jika HPL telah lewat dan tidak ada tanda-tanda kontraksi, induksi persalinan mungkin akan direkomendasikan.

Keputusan untuk induksi harus didasarkan pada kondisi kesehatan ibu dan bayi.

  • Diskusi dengan Dokter

Sangat penting bagi ibu untuk berdiskusi dengan dokter kandungan atau bidan tentang opsi terbaik berdasarkan keadaan spesifiknya.

Baca Juga: 8 Cara Menghitung Usia Kehamilan agar Tahu Kapan Waktu HPL!

Risiko HPL Sudah Lewat tapi Belum Ada Kontraksi

plasenta bayi
Foto: plasenta bayi

Pada minggu pertama setelah HPL sudah lewat tapi belum ada kontraksi, bayi dan ibu tidak berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi jika keduanya baik-baik saja.

Bahkan setelah itu, risiko sesuatu terjadi pada bayi tidak meningkat banyak. Tetapi risiko tertentu memang sedikit meningkat.

Melansir American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), ketika kehamilan berlangsung antara 41 minggu serta 42 minggu atau lebih (kehamilan postterm), bayi mungkin berisiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan, seperti:

1. Makrosomia Janin

Risiko HPL sudah lewat tapi belum ada kontraksi yang pertama adalah makrosomia janin.

Makrosomia merupakan kondisi bayi baru lahir yang jauh lebih besar dari rata-rata.

Seorang bayi yang didiagnosis memiliki janin makrosomia memiliki berat lebih dari 8 pon, 13 ons (4.000 gram), terlepas dari usia kehamilannya.

Kondisi ini dapat meningkatkan risiko persalinan pervaginam operatif, operasi caesar, atau bahu tersangkut di belakang tulang panggul Moms selama persalinan (distosia bahu).

2. Sindrom Postmaturitas

Sindrom postmaturitas mengacu pada janin yang berat badannya bertambah di dalam rahim setelah tanggal jatuh tempo telah berhenti, biasanya karena masalah dengan pengiriman darah ke janin melalui plasenta, yang menyebabkan kekurangan gizi.

Setelah lahir, bayi-bayi ini memiliki penampilan yang khas, seperti penurunan lemak di bawah kulit, kurangnya lapisan berminyak (vernix caseosa), penurunan rambut lembut, berbulu halus (lanugo), dan pewarnaan cairan ketuban, kulit dan tali pusat.

3. Kekurangan Air Ketuban

Air ketuban sedikit
Foto: Air ketuban sedikit

Risiko HPL sudah lewat tapi belum ada kontraksi selanjutnya adalah air ketuban menjadi sedikit.

Cairan ketuban rendah (oligohidramnion) adalah suatu kondisi di mana jumlah cairan ketuban lebih rendah dari yang diharapkan untuk usia kehamilan bayi.

Kondisi ini dapat memengaruhi detak jantung bayi dan menekan tali pusat selama kontraksi.

Baca Juga: Stop Mual Saat Hamil. Ini Super Food yang Wajib Moms Konsumsi di Masa Kehamilan

4. Gangguan Plasenta

Melansir Philosophical Transactions of the Royal Society B, plasenta merupakan organ yang sangat penting karena berfungsi untuk menyimpan dan melepaskan cadangan energi yang mendukung pertumbuhan janin.

Jika HPL sudah lewat tapi belum ada kontraksi, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter untuk memonitor kondisi plasenta.

Meskipun ada kemungkinan fungsi plasenta bisa menurun setelah melewati HPL, dokter tidak akan langsung melakukan tindakan medis karena perlu ada pemantauan ketat.

Jika mengalami HPL sudah lewat tapi belum ada kontraksi, tetap perhatikan gejala infeksi seperti...

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.

rbb