Trimester 3

26 Mei 2021

Mengenal Perineum, Jaringan Dasar Panggul yang Berperan Besar saat Persalinan

Jangan salah, laki-laki juga punya perineum lho Moms
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Ada satu yang sering luput dari perhatian, yaitu kesehatan bagian tubuh yang disebut perineum. Sering kali ini adalah topik yang jarang diperbincangkan karena dirasa tidak nyaman.

Padahal, memiliki perineum yang fleksibel merupakan kebahagiaan tersendiri, khususnya bagi ibu hamil. Sebab, bagian tersebut akan ikut menentukan lancar atau tidaknya proses melahirkan.

Perineum adalah area kulit antara vagina dan anus pada perempuan serta skrotum dan anus pada pria. Pada perempuan, perineum adalah penutup pelindung untuk otot perineum yang bekerja dengan otot dan ligamen kunci lainnya untuk menahan organ panggul di tempatnya.

Organ panggul tersebut termasuk kandung kemih, rektum, vagina, dan rahim. Ada juga pembuluh darah di bawah perineum. Pada pria, perineum melindungi otot dasar panggul dan pembuluh darah juga.

Perineum juga bertanggung jawab untuk menutupi saraf yang digunakan tubuh pria untuk buang air kecil atau mencapai ereksi.

Baca Juga: Terapi Pijat Untuk Meningkatkan Kesuburan

Mengenal Pijat Perineum

Manfaat Pijat Perineum untuk Ibu Hamil 01.gif

Foto: Theconversation.com

Setelah mengenal bagian dari perineum, ada kepercayaan bagi ilmu hamil jika bahian itu dipijat maka tidak akan menyebabkan ibu hamil dijahit vaginanya setelah melahirkan.

Pijatan perineum adalah peregangan lembut pada dasar panggul untuk mempersiapkan otot dan kulit di antara vagina dan dubur untuk kelahiran bayi.

Dan benar, tujuan pijat perineum adalah untuk mengurangi risiko robek dan jaringan parut saat Moms melahirkan.

Vagina dirancang untuk meregangkan dan mengakomodasi bayi saat melahirkan.

Hebatnya lagi, vagina bisa kembali ke ukuran yang hampir sama hanya dalam beberapa minggu setelah melahirkan.

Perineum adalah jaringan dasar panggul antara vagina dan dubur.

Bagian ini kurang elastis dan berpotensi robek saat Moms melahirkan.

Jika Moms bersedia bersusah-susah pada minggu-minggu sebelum persalinan, pijatan perineum mungkin bisa membantu membuat dasar panggul Moms siap untuk lahir.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), pijat perineum baik antepartum atau selama persalinan tahap kedua, dapat menurunkan resistensi otot dan mengurangi kemungkinan laserasi.

Beberapa bukti menunjukkan bahwa melakukan pijatan perineum selama bulan terakhir kehamilan dapat mengurangi risiko robekan vagina dan perineum serta episiotomi.

Meskipun pijat perineum tidak pasti untuk membantu, tidak akan memperburuk juga.

Dan banyak perempuan mengaku bahwa hal ini membantu saat persalinan.

Pijat perineum mungkin lebih bermanfaat jika ini adalah persalinan pervaginam pertama bagi Moms. Pijat perineum juga membantu meminimalkan ketegangan pada kepala bayi Moms. Khususnya dalam 30 menit terakhir persalinan.

Baca Juga: Manfaat Pijat Bayi Baru Lahir dan Waktu yang Tepat untuk Melakukannya

Waktu dan Cara Pijat Perineum Sendiri

Manfaat Pijat Perineum untuk Ibu Hamil 03.jpg

Foto: Indianlifestylez.com

Moms bisa memulai pijat perineum di usia kehamilan 34 minggu.

Namun, di usia tersebut Moms akan kesulitan melakukan pijat perineum sendiri, karena perut besar dan lain sebagainya.

Moms bisa membuat jadwal dengan terapi fisik dasar panggul, atau minta bantuan Dads untuk memijat.

Namun sebelumnya, Dads harus tahu cara pijat perineum yang tepat. Moms bisa tanyakan kepada bidan atau terapis khusus panggul. Apabila Moms atau pasangan akan pijat sendiri, perhatikan hal-hal berikut ini:

  • Cuci tangan dengan seksama dan pastikan kuku terpotong.
  • Duduk dalam posisi santai dengan kepala ditopang di tempat tidur dan lutut Moms terbentang lebar.
  • Oleskan beberapa tetes minyak kelapa, minyak zaitun atau pelumas lain yang dirancang untuk vagina. Hindari minyak mineral atau Vaseline. Oleskan minya ke ibu jari dan area perineum.
  • Masukkan jempol ke dalam vagina hingga sekitar buku jari pertama. Tak perlu dalam, karena Moms hanya akan memijat perineum, bukan dinding vagina.
  • Berikan tekanan lembut di vagina menuju ke bawah, ke area dubur.
  • Pertahankan tekanan saat menggerakkan ibu jari dari kiri ke kanan dalam bentuk huruf U (mulai jam 3 hingga 9, jika Anda membayangkan jam tangan).
  • Moms harus merasakan regangan dan sedikit menyengat atau terbakar, tetapi tidak pernah sakit.
  • Lanjutkan memijat selama tiga hingga lima menit. Lalu ulangi sekali atau dua kali seminggu, dan hingga sehari sekali, sampai melahirkan.

Pijat perineum butuh waktu dan ketekunan. Untuk merasakn salah satu manfaat potensial dari pijat ini, Moms harus melakukan pijatan perineum secara teratur selama empat hingga enam minggu terakhir kehamilan.

selain itu, hindari memijat terlalu keras, karena dapat meningkatkan aliran darah ke daerah yang sudah membanjiri darah. Ini dapat meningkatkan peradangan dan menyebabkan iritasi, ketidaknyamanan dan rasa sakit.

Bicaralah dengan dokter sebelum melakukan pijatan perineum jika Moms memiliki infeksi jamur, herpes atau infeksi vagina lainnya. Serta, bila pijatan perineum terasa terlalu canggung atau menghabiskan waktu, tidak apa-apa kok untuk melewatkannya.

Baca Juga: Bolehkah Pijat Saat Sedang Menstruasi? Kenali 4 Manfaatnya!

Kondisi Perineum Gatal

Perineum -3

Foto: Orami Photo Stock

Jika tidak dijaga kebersihannya, bagian perineum juga bisa menyebkan rasa terbakar atau gatal pada perineum. Penyebabnya biasanya:

  • Pruritus ani. Ini adalah suatu kondisi yang dapat terjadi pada kedua jenis kelamin, tetapi paling sering terjadi pada pria. Kondisi tersebut menyebabkan sensasi gatal di area anus yang bisa menjadi kejadian akut atau kronis.
  • Pruritus akut (gatal). Ini mungkin disebabkan oleh dermatitis kontak, seperti dari deterjen atau sabun baru, atau dari infeksi jamur atau bakteri. Luka bakar waxing dan cedera saat mencukur juga bisa menyebabkan kondisi ini.
  • Pruritus ani kronis pada pria bisa disebabkan oleh banyak hal. Ini termasuk dermatitis atopik, diabetes, karsinoma sel basal, dan penyebab lainnya. Terkadang, penyebabnya idiopatik, artinya dokter tidak dapat mengidentifikasi penyebab yang mendasarinya.
  • Infeksi menular seksual (IMS). Gatal di sekitar area anus dan perineum bisa menjadi gejala IMS. Kondisi yang dapat menyebabkan gejala ini antara lain: herpes anal, kutil anal, gonorea, serta kutu kemaluan.
  • Cedera mengangkang. Ini adalah cedera yang terjadi karena trauma pada area di antara paha, termasuk perineum. Hal ini dapat terjadi karena terjatuh di palang sepeda, pagar, peralatan gym, atau tepi bathtub. Ini dapat menyebabkan rasa terbakar pada perineum akibat kerusakan saraf atau pembengkakan pada area yang mempengaruhi saraf.
  • Nyeri pasca episiotomi/robekan. Episiotomi adalah sayatan bedah yang dilakukan untuk membantu persalinan jika lubang vagina tidak cukup besar. Beberapa perempuan yang menjalani episiotomi setelah melahirkan dapat mengalami kerusakan saraf, gangguan dasar panggul, dan masalah buang air besar, terutama segera setelah melahirkan. Ini dapat mempengaruhi perineum, menyebabkan gatal atau terbakar.
  • Infeksi jamur. Perempuan sangat rentan terhadap infeksi jamur, yang merupakan pertumbuhan berlebih dari jamur Candida. Gejalanya berupa gatal pada vagina yang bisa meluas ke area perineum, nyeri saat berhubungan seks, dan nyeri saat buang air kecil.
  • Penipisan jaringan terkait hormon. Saat seorang wanita memasuki masa menopause, penurunan estrogen alami dapat menyebabkan penipisan jaringan di area vagina dan perineum. Ini dapat membuat area tersebut lebih rentan terhadap gatal.

Jika dokter dapat mengidentifikasi penyebab yang mendasari rasa gatal di perineum, dokter akan mengarahkan perawatan yang sesuai. Namun, terkadang dokter tidak dapat menentukan penyebab spesifik yang mendasari. Jika ini masalahnya, beberapa perawatan umum meliputi:

  • Minum antihistamin yang dijual bebas (seperti Benadryl), terutama di malam hari saat rasa gatal cenderung memburuk.
  • Oleskan kompres dingin ke area perineum untuk meredakan sensasi terbakar.
  • Oleskan krim emolien atau penghalang ke area anus untuk melindungi dari iritasi akibat tinja atau urin. Contohnya termasuk salep minyak bumi atau salep seng oksida.
  • Kenakan pakaian dalam bersih dan berpori yang dicuci dengan sabun lembut yang tidak menimbulkan iritasi.
  • Terkadang, dokter akan meresepkan obat selain merekomendasikan antihistamin sebagai cara untuk memutus siklus gatal-dan-garuk yang dapat membuat seseorang terjaga di malam hari. Contoh obat ini mungkin termasuk gabapentin dan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI).

Meskipun tidak selalu memungkinkan untuk mencegah rasa gatal di perineum, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi kemungkinan timbulnya gatal. Ini termasuk:

  • Hindari menggosok kuat-kuat saat membersihkan area anus setelah buang air besar.
  • Ganti pakaian dalam segera setelah berolahraga untuk mengurangi iritasi keringat di area perineum.
  • Makan makanan berserat tinggi dan minum banyak air untuk mengurangi kejadian sembelit.
  • Jangan menggunakan air panas saat mandi atau berendam.
  • Gunakan pembersih lembut bebas pewangi untuk membersihkan area genital.

Selain dengan melakukan pijat perineum bagi ibu hamil, untuk perempuan dan laki-laki juga harus menjaga kebersihan area tersebut.

  • https://www.healthline.com/health/itchy-perineum#prevention
  • https://www.acog.org/news/news-releases/2016/06/obgyns-can-prevent-and-manage-obstetric-lacerations-during-vaginal-delivery-says-new-acog-practice-bulletin
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait