Scroll untuk melanjutkan membaca

TRIMESTER 2
12 April 2022

Mengenal Amniosentesis, Pemeriksaan Cairan Ketuban Saat Kehamilan

Tenang, Moms biasanya akan dibius lokal
Mengenal Amniosentesis, Pemeriksaan Cairan Ketuban Saat Kehamilan

Selain pemeriksaan USG, ada pemeriksaan lain tak kalah penting bagi ibu hamil, yakni amniosentesis.

Ini adalah prosedur di mana cairan ketuban dikeluarkan dari rahim untuk sampel pengujian atau perawatan tertentu.

Memang, tak semua ibu hamil perlu melakukan prosedur ini. Biasanya ini diperuntukkan untuk bayi yang kemungkinan lahir prematur ataupun janin dengan kondisi kesehatan tertentu.

Seperti apa prosedur dan proses pemeriksaan amniosenstesis? Mari ketahui bersama, Moms!

Apa Itu Amniosentesis?

Amniosentesis, Ini Prosedur dan Cara Mengatasinya!

Foto: Amniosentesis, Ini Prosedur dan Cara Mengatasinya!

Foto: Orami Photo Stocks

Melansir Johns Hopkins Medicine, amniosentesis adalah pengambilan air ketuban untuk mendeteksi kelainan dan kondisi janin dalam kandungan.

Cairan ketuban adalah cairan yang mengelilingi dan melindungi bayi selama kehamilan.

Cairan ini mengandung sel-sel janin dan berbagai protein untuk kebutuhan bayi.

Fungsi lain dari cairan ketuban itu sendiri antara lain:

Sel-sel dalam janin ini mengandung berbagai enzim, protein, dan hormon yang penting bagi kelangsungan hidup bayi.

Ketika prosedur amniosentesis dilakukan, ini untuk mendiagnosis kelainan genetik dan cacat tabung saraf pada bayi.

Pengujian juga dapat dilakukan untuk memeriksa cacat gen bawaan dan gangguan metabolisme berdasarkan riwayat keluarga.

Untuk bayi prematur sendiri, prosedur ini dilakukan untuk memeriksa kematangan fungsi paru-paru janin.

Nantinya, cairan air ketuban akan dianalisis di laboratorium oleh para ahlinya.

Proses memakan waktu sekitar 10-14 hari, tergantung pada laboratorium dan tujuan pengujian.

Siapa yang Membutuhkan Amniosentesis?

Amniosenstesis Saat Hamil.jpg

Foto: Amniosenstesis Saat Hamil.jpg (https://dreamstime.com/)

Foto: Orami Photo Stocks

Prosedur amniosentesis memang tak diwajibkan untuk seluruh ibu hamil. Lantas, siapa saja yang diperlukan untuk melakukan prosedur ini?

Melansir dalam Clevelend Clinic, langkah pemeriksaan cairan ketuban diperlukan pada kondisi:

1. Kelaninan Janin

Ketika pemeriksaan USG ibu hamil ditemukan adanya kelainan janin, amniosentesis diperlukan bagi mereka.

Hasil tes USG yang tidak normal adalah salah satu alasan utama Moms membutuhkan pemeriksaan cairan ketuban.

Amniosentesis ini dapat membantu dokter untuk melihat kelainan yang ditemukan dalam tes USG sebelumnya.

Baca Juga: Ketuban Pecah Dini, Harus Bagaimana?

2. Ibu Hamil Tua

janin tidak berkembang.jpg

Foto: janin tidak berkembang.jpg (everylifecounts.ndtv.com)

Foto: Orami Photo Stocks

Ibu hamil yang berusia 35 tahun atau lebih pada saat melahirkan, biasanya lebih berisiko tinggi memiliki kelainan genetik.

Kelainan genetik adalah penyakit bawaan yang diderita janin sejak dalam kandungan.

Biasanya ini diturunkan dari riwayat keluarga dengan kondisi serupa.

Pada janin yang memiliki kelainan genetik, amniosentesis direkomendasikan untuk dilakukan.

Salah satu penyakit genetik yang kerap terjadi seperti penyakit cystic fibrosis.

3. Kelainan Kromosom

Kelainan kromosom dapat dideteksi pada janin sebelum dilahirkan dengan bantuan amniosentesis. Salah satunya yaitu penyakit down syndrome.

Selain itu, bayi yang memiliki kelainan serius pada otak atau sumsum tulang belakang juga dapat terdeteksi melalui prosedur ini.

Komplikasi selama kehamilan mungkin mengharuskan ibu hamil untuk melahirkan bayi lebih awal dari waktu perkiraan.

Nah, fungsi dari prosedur ini lainnya yakni untuk melihat apakah paru-paru bayi telah berfungsi dengan baik jika dilahirkan.

Tindakan amnniosentesis juga diperlukan bagi mereka yang memiliki infeksi kehamilan atau anemia yang cukup parah.

Langkah-Langkah Prosedurnya

Proses Amniosentesis

Foto: Proses Amniosentesis (Hopkinsmedicine.org)

Foto: Orami Photo Stocks

Amniosentesis adalah pemeriksaan yang membutuhkan pengambilan sampel kecil cairan ketuban sehingga sel-sel yang dikandungnya dapat diuji.

Cairan ketuban berada di dalam rahim yang berfungsi untuk melindungi bayi dalam kandungan.

Amniosentesis biasanya direkomendasikan saat 16 hingga 20 minggu kehamilan atau trimester kedua.

Beberapa tahapan atau langkah-langkah dalam prosedurnya seperti:

Baca Juga: Manfaat Tes Glukosa Pada Bayi Baru Lahir

1. Persiapan

Biasanya, Moms tidak memerlukan persiapan khusus untuk melakukan proses amniosentesis.

Moms tetap dibolehkan makan atau minum seperti biasa dan tidak perlu berpuasa.

Dalam beberapa kasus, ibu hamil mungkin disarankan untuk menahan buang air kecil selama beberapa jam sebelum tes.

Pasalnya, kandung kemih yang penuh bantu memudahkan pemeriksaan.

2. Melakukan USG

Pemeriksaan Amniosentesis.jpg

Foto: Pemeriksaan Amniosentesis.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Sebelum memulai pengambilan sampel, diperlukan pemeriksaan USG.

Melansir National Heatlh Services, pemeriksaan ultrasound atau USG berfungsi untuk:

  • Mengetahui posisi bayi.
  • Menemukan jalur untuk mengeluarkan cairan ketuban.
  • Memastikan jarum dapat masuk dengan aman melalui dinding perut dan rahim.

Ini layaknya pemeriksaan USG bayi pada umumnya, Moms.

3. Anestesi atau Pembiusan Lokal

Anestesi adalah pembiusan yang diperlukan sebelum melakukan proses pembedahan ataupun tindakan medis tertentu.

Nah, amniosentesis juga memerlukan anestesi lokal untuk mengurangi rasa sakit.

Biasanya ini dibius di sekitar perut agar 'mati rasa' ketika prosedur amniosentesis terjadi.

Baca Juga: Mengenal Tes Apgar Score untuk Bayi Baru Lahir

4. Pengambilan Sampel

Prosedur Amniosentesis dan Prosesnya.jpg

Foto: Prosedur Amniosentesis dan Prosesnya.jpg (http://www.howitworksdaily.com/)

Foto: Orami Photo Stocks

Larutan antiseptik akan dituangkan di sekitar perut ibu hamil untuk meminimalkan risiko infeksi.

Kemudian, jarum panjang tipis akan dimasukkan melalui dinding perut untuk mengambil sampel cairan ketuban.

Biasanya, ini terasa seperti 'disengat' tapi tak menimbulkan rasa sakit.

Prosedur ini akan dibantu dengan gambaran dari ultrasound untuk melihat proses pengambilan sampel.

Setelah sampel diambil, akan dikirim ke laboratorium untuk dianalisis.

Baca Juga: Setelah Tes HSG, Mungkinkan Peluang untuk Hamil Akan Meningkat?

Untuk beberapa kasus, prosedur ini juga dapat dilakukan untuk mengurangi jumlah cairan ketuban di dalam rahim jika berlebihan.

Sekarang, sudah lebih kenal bukan dengan prosedur amniostensis? Semoga informasi ini bermanfaat, ya!

  • https://www.hopkinsmedicine.org/health/treatment-tests-and-therapies/amniocentesis
  • https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/4206-genetic-amniocentesis
  • https://www.nhs.uk/conditions/amniocentesis/what-happens/