Rupa-rupa

6 Oktober 2021

Ragam Motif Batik Yogyakarta Beserta Filosofinya, Cantik!

Indah dan penuh makna
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Riskita
Disunting oleh Amelia Puteri

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan budaya. Salah satu yang termasuk dalam warisan budaya Nusantara, yakni batik Yogyakarta.

Moms pasti sudah tahu bahwa setiap daerah di Tanah Air memiliki motif batik yang berbeda dan menjadi ciri khas. Tak terkecuali pada batik Yogyakarta ini.

Ada berbagai motif kain batik Yogyakarta yang cantik dan mengandung makna atau filosofi tersendiri. Sebagai masyarakat Indonesia, Moms tentu perlu mengetahuinya agar kain batik tetap lestari.

Yuk, simak beragam motif batik khas Yogyakarta beserta filosofinya yang dikutip dari berbagai sumber.

Baca Juga: 7 Ragam Motif Batik Solo dan Maknanya, Cocok untuk Hadiah Kerabat!

Filosofi Batik Yogyakarta dan Ciri Khasnya

ciri batik yogyakarta

Foto: contoh.kemendesa.go.id

Sebagai wawasan tambahan, cari tahu ciri-ciri batik Yogyakarta berikut ini, Moms.

1. Cenderung Berwarna Gelap

Melansir laman Kraton Jogja, ciri-ciri batik khas Yogyakarta bisa dilihat dari warnanya. Warna dasaran atau latar batik gaya Yogyakarta adalah warna putih atau hitam (biru kehitaman).

Dalam pewarnaannya, didominasi oleh warna cokelat - soga, putih bersih - pethak, biru tua - wedel, serta hitam - cenderung biru pekat kehitaman.

Bila diamati dengan seksama, warna batik khas Yogyakarta ini cenderung mengarah ke warna-warna tanah. Diketahui, pemilihan warna batik ini memang tidak lepas dari pengaruh geografis dan kondisi alam dari wilayah Yogyakarta yang kehidupan masyarakatnya dulu selalu berhubungan dengan tanah dan pertanian.

Bahan-bahan pewarna yang digunakan dalam membuat batik juga dipilih karena ketersedian bahan baku yang ada di lingkungan sekitar.

Misalnya, warna biru tua didapat dari ranting dan daun tanaman indigo yang dicampur dengan gula aren, tebu, tape, dan tuak.

Sementara warna cokelat diperoleh dari ekstrak campuran beberapa jenis kayu dan kulit kayu, seperti kayu tegeran, kulit kayu jambal, dan kulit kayu tingi.

Meski cenerung berwarna gelap, kain batik khas Yogyakarta tetap memiliki keindahan tersendiri.

2. Arti Warna Batik

Tentu saja, pemilihan warna batik khas Yogyakarta tidak dilakukan sembarangan karena memiliki arti yang mendalam, Moms.

Misalnya, warna cokelat dipilih sebagai simbol dari warna tanah lempung yang subur sehingga diharapkan dapat membangkitkan rasa kebahagiaan, kerendahan hati, kesederhanaan dan sifat “membumi”.

Sedangkan warna biru dipercaya mampu memberikan rasa ketenangan, kepercayaan, kelembutan pekerti, keikhlasan, dan kesetiaan.

Warna putih sendiri melambangkan sinar kehidupan, kesucian, ketenteraman hati dan keberanian, dan sifat pemaaf pemakainya.

Dan warna hitam atau gelap melambangkan kekuatan, kekekalan, kemewahan, kemisteriusan, dan keanggunan. Unik sekali, ya?

Baca Juga: Keindahan Motif dan Filosofi Batik Semarang

3. Filosofi Motif

Layaknya kain batik dari daerah lainnya, batik dari Yogyakarta pun terdiri dari berbagai motif yang memiliki filosofi.

Berdasarkan motif utama, batik khas Yogyakarta dibagi menjadi 2, yaitu geometris dan non geometris. Kedua motif utama ini memiliki turunan mulai dari puluhan hingga ratusan jenis motif.

Motif geometris pada batik khas Yogyakarta terdiri dari motif ceplok, berwujud pola dari tatanan simetris dalam bentuk lingkaran, kotak, bintang, dan garis-garis miring.

Selain itu, ada juga motif parang, yang polanya merupakan jalinan menyerupai huruf S dengan kemiringan diagonal 45 derajat dan motif lereng yang memiliki pola sama dengan motif parang, tetapi tidak memiliki ornamen pemisah (mlinjon).

Sementara yang termasuk dalam motif non geometris, yakni motif semen yang berasal dari kata “semi”, yang berarti tumbuh dan berkembang. Pola motif semen biasanya mengandung gambar meru ( tanah, bumi, gunung) beserta flora dan fauna yang hidup.

Ada juga motif lung-lungan, bentuk pola berupa sulur-sulur dari pohon yang merambat. Lalu motif boketan, yang menampilkan wujud pola 1 pohon, mulai dari batang, daun, ranting, bunga dan hewan-hewan yang ada.

Perlu diketahui, motif batik khas Yogyakarta banyak mengadopsi simbol kebudayaan Hindu. Simbol dan konsep budaya Hindu ini paling nampak dalam motif semen.

Dalam motifnya, tertuang gambar gurda – burung garuda yang melambangkan matahari, lidah api yang melambangkan Dewa Api yang sakti, dan juga gambar tentang konsep dunia bawah – tengah – atas, serta mandala.

Ciri khas batik Yogyakarta juga bisa dilihat dari seret-nya atau bagian putih pada pinggir kain batik. Seret batik khas Yogyakarta ini memiliki keunikan tersendiri karena dipertahankan agar tetap berwarna putih terang.

Oleh sebab itu, dalam proses pembuatanya sangat diusahakan agar lilin (malam) tidak pecah sehingga pewarna lain tidak dapat masuk.

Motif Batik Yogyakarta

Berikut ragam motif batik khas Yogyakarta beserta maknanya yang perlu Moms ketahui.

1. Motif Ceplok

motif batik ceplok yogyakarta.jpg

Foto: sintesakonveksi

Seperti yang telah disebutkan, motif ceplok merupakan motif geometris pada batik Yogyakarta.

Motif ceplok biasanya terdiri dari bentuk bunga mawar yang melingkar sebagai dasar, disertai bintang ataupun bentuk kecil lainnya sehingga membentuk pola yang simetris secara keseluruhan.

Motif ini juga disebut sebagai motif grampol yang berasal dari bahasa Jawa dan memiliki arti berkumpul atau bersatu.

Motif ceplok atau grampol memiliki makna harapan orang tua terhadap berkumpulnya semua hal baik, seperti rejeki, kerukunan hidup, kebahagiaan, serta ketentraman untuk kedua mempelai dan keluarga pengantin.

Baca Juga: Menelisik Filosofi dan Ragam Motif Batik Pekalongan

2. Motif Parang

motif batik parang

Foto: bergaya.id

Selanjutnya, ada motif batik Yogyakarta parang yang ditandai dengan pola pedang atau keris. Motif parang memiliki pola berupa garis-garis tegas yang disusun secara diagonal paralel.

Garis-garis dalam motif parang diartikan sebagai ombak lautan yang menjadi pusat tenaga alam.

Dalam hal ini, yang dimaksudkan adalah raja. Komposisi kemiringan pada motif parang juga melambangkan kewibawaan, kekuasaan, kebesaran, serta gerak cepat sehingga pemakainya diharapkan dapat bergerak cepat.

Batik parang diciptakan oleh seorang pendiri Keraton Mataram, maka oleh kerajaan, motif-motif parang tersebut hanya boleh dipakai oleh raja dan keturunannya dan tidak boleh dipakai oleh rakyat biasa.

Batik ini kemudian termasuk dalam batik larangan. Penetapan batik larangan sendiri sudah dimulai sejak pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana I.

Penetapan terakhir dibuat oleh Sri Sultan Hamengkubuwana VIII pada 31 Mei 1927 yang tertuang dalam aturan yang berjudul “Pranatan Dalem Bab Namanipun Panganggo Keprabon Ing Nagari Dalem Ngayogyakarta Hadiningrat”.

Dalam Pranatan Dalem, ini motif-motif yang termasuk larangan antara lain, Parang Rusak Barong, Parang Rusak Gendreh, Parang Rusak Klitik, Semen Gede Swat Gurda, Semen Gede Swat Lar, Udan Liris, Rujak Sente, dan Parang-parangan.

Di luar aturan baku tersebut, yang juga termasuk motif larangan adalah Sembagen Huk, sebagai wujud rasa hormat pada Sultan Agung Hanyakrakusuma yang telah menciptakan motif tersebut.

Baca Juga: Batik Jumputan, Sejarah, Cara Membuat dan Harga

3. Motif Kawung

batik kawung

Foto: berkaos

Motif batik Yogyakarta berikutnya, yakni motif kawung yang berupa 4 lingkaran atau berbentuk elips yang mengelilingi lingkaran kecil sebagai pusat, dengan susunan memanjang menurut garis diagonal miring ke kiri atau ke kanan berselang-seling.

Motif kawung melambangkan 4 arah angin atau sumber tenaga yang mengelilingi yang berporos pada pusat kekuatan,.

Pusat kekuatannya yaitu: timur (matahari terbit: lambang sumber kehidupan), utara (gunung: lambang tempat tinggal para dewa, tempat roh/kematian), barat (matahari terbenam: turunnya keberuntungan) selatan (zenit: puncak segalanya).

Dalam hal ini, rajalah sebagai pusat yang dikelilingi rakyatnya. Jadi, kerajaan merupakan pusat seni budaya, ilmu, pemerintahan, agama, dan perekonomian.

Rakyat pun harus patuh pada pusat, tetapi raja juga senantiasa melindungi rakyatnya.

Kawung juga melambangkan kesederhanaan dari seorang raja yang senantiasa mengutamakan kesejahteraan rakyatnya. Bisa juga memiliki makna lainnya, yakni sebagai simbol keadilan dan kesejahteraan.

Nah, itu dia penjelasan filosofi atau makna dari berbagai motif batik khas Yogyakarta. Mari lestarikan warisan budaya ini dengan terus menghargainya, salah satunya dengan memakai produknya, Moms.

  • https://www.kratonjogja.id/kagungan-dalem/17/batik-gaya-yogyakarta
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait