KESEHATAN UMUM
07 Oktober 2022

Serba-serbi Bell's Palsy, Penyakit Kelumpuhan Saraf Wajah yang Bisa Menyerang Si Kecil

Bell's palsy tak hanya bisa terjadi pada orang dewasa, tetapi juga pada anak, Moms!
Serba-serbi Bell's Palsy, Penyakit Kelumpuhan Saraf Wajah yang Bisa Menyerang Si Kecil

Bell's palsy adalah kelumpuhan saraf pada wajah yang diakibatkan oleh peradangan dan pembengkakan saraf yang mengontrol otot pada sisi wajah.

Dikutip dari SAGE Journals, Bell's palsy adalah penyakit mono-neuropati akut umum yang dinamai oleh ahli anatomi asal Skotlandia, Sir Charles Bell.

Menurut The Royal Children's Hospital Melbourne, Bell's palsy atau belpasi merupakan kondisi kelumpuhan otot pada salah satu bagian wajah.

Untuk lebih jelasnya, yuk kenali lebih dalam tentang penyakit ini!

Baca Juga: Sakit Gigi pada Anak: Penyebab, Risiko, dan Cara Mengatasinya

Gejala dan Penyebab Bell's Palsy

bells-palsy.jpg

Foto: bells-palsy.jpg (leighbrainandspine)

Sama seperti penyakit lainnya, belpasi juga penyakit yang menimbulkan gejala saat menyerang tubuh.

Berikut berbagai gejala Bell's palsy:

  • Perubahan bentuk wajah yang akan sulit untuk tersenyum
  • Mata sulit berkedip dan terus berair pada salah satu bagian wajah
  • Sakit kepala
  • Mengeluarkan air liur
  • Nyeri pada rahang atau belakang telinga
  • Kemampuan indera perasa berkurang

Sebenarnya, penyebab belpasi belum diketahui pasti, tetapi penyakit ini biasanya berkaitan dengan infeksi virus.

Melansir Mayo Clinic, berikut daftar virus yang menyebabkan beberapa penyakit, tetapi juga berkaitan dengan belpasi.

  • Herpes simpleks, yang menyebabkan luka dingin dan herpes genital
  • Herpes zoster, yang menyebabkan cacar air dan herpes zoster
  • Epstein-Barr, yang menyebabkan mononukleosis menular
  • Infeksi sitomegalovirus
  • Adenovirus, yang menyebabkan penyakit pernapasan
  • Rubela, yang menyebabkan campak Jerman
  • Virus gondok, yang menyebabkan gondongan
  • Flu B, yang menyebabkan flu
  • Coxsackievirus, yang menyebabkan flu Singapura
  • HIV, yang merusak sistem kekebalan tubuh
  • Sarkoidosis, yang menyebabkan peradangan organ
  • Penyakit Lyme, yang merupakan infeksi bakteri yang disebabkan oleh kutu yang terinfeksi.

Baca Juga: Sindrom Putri Duyung, Penyakit Langka yang Ditandai dengan Menyatunya Kedua Kaki

Faktor Risiko Terjadinya Bell's Palsy

faktor risiko bells palsy

Foto: faktor risiko bells palsy

Siapa saja yang dapat terkena Bell’s palsy?

Dilansir dari Doctor NDTV, belpasi dapat menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita yang biasanya akan terjadi di usia 15-45 tahun.

Namun, ada beberapa faktor risiko yang bisa meningkatkan terjadinya Bell's palsy, yakni:

  • Sedang hamil, terutama pada trimester ketiga, atau yang berada di minggu pertama setelah melahirkan
  • Memiliki infeksi saluran pernapasan atas, seperti flu atau pilek
  • Mengalami infeksi paru-paru
  • Memiliki penyakit diabetes
  • Memiliki riwayat keluarga dengan kondisi belpasi.

Meski serangan berulang dari Bell's palsy jarang terjadi, tetapi dalam beberapa kasus, ada riwayat keluarga dengan serangan berulang.

Hal ini menunjukkan kemungkinan untuk menurunkan belpasi secara genetik pada anggota keluarga lainnya.

Baca Juga: Cyclist's Palsy: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi

Komplikasi Penyakit Belpasi

komplikasi bells palsy

Foto: komplikasi bells palsy

Kasus Bell's palsy ringan biasanya dapat sembuh total.

Namun, pada kasus yang lebih parah bisa saja melibatkan kelumpuhan total.

Komplikasi dari penyakit belpasi mungkin termasuk:

  • Kerusakan permanen pada saraf wajah.
  • Pertumbuhan kembali serabut saraf yang tidak normal. Hal ini dapat menyebabkan kontraksi otot-otot tertentu yang tidak disengaja ketika penderitanya mencoba untuk menggerakkan organ lain (synkinesis). Misalnya, ketika sedang tersenyum, mata di sisi yang sakit mungkin akan menutup.
  • Kebutaan sebagian atau seluruhnya pada mata yang tidak dapat menutup karena kekeringan yang berlebihan dan goresan pada selaput pelindung mata (kornea).

Baca Juga: Mengenali Gangguan Saraf pada Anak agar Tidak Terlambat Ditangani

Diagnosis Bell's Palsy

diagnosis bell's pasy

Foto: diagnosis bell's pasy

Dalam mendiagnosis belpasi, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mengetahui sejauh mana kelemahan otot pada wajah.

Selain itu, dokter akan mengajukan pertanyaan tentang gejala, termasuk kapan gejala itu terjadi atau kapan pertama kali mengalami kelemahan otot.

Meskipun tidak ada tes laboratorium khusus, dokter dapat menggunakan berbagai tes untuk membantu membuat diagnosis Bell's palsy.

Tes-tes ini juga dapat membantu menyingkirkan kemungkinan penyebab kelemahan wajah lainnya yang mungkin perlu ditangani, seperti sindrom Guillain-Barré atau penyakit Lyme. Tes ini mungkin termasuk:

  • Tes darah untuk memeriksa adanya infeksi bakteri atau virus.
  • Tes darah untuk memeriksa diabetes atau kondisi lain.
  • Tes pencitraan seperti MRI atau CT scan untuk memeriksa saraf di wajah dan menyingkirkan kemungkinan stroke atau tumor otak.
  • Tes elektromiografi (EMG). Dokter akan memasukkan elektroda kawat yang sangat tipis ke dalam otot untuk memastikan apakah ada kerusakan pada saraf yang mengontrol otot-otot wajah. Tes ini juga dapat menentukan seberapa besar kerusakan yang terjadi.
  • Pungsi lumbal dapat dilakukan jika penyakit Lyme dicurigai.

Baca Juga: Mengenal Glaukoma, Penyakit Kerusakan Saraf Mata yang Kerap Serang Lansia

Cara Mengatasi Bell's Palsy

Bells Palsy -1

Foto: Bells Palsy -1 (Acuheal.co.in)

Dalam kebanyakan kasus, gejala Bell's palsy membaik tanpa pengobatan.

Namun, perlu waktu beberapa minggu atau bulan agar otot-otot di wajah mendapatkan kembali kekuatannya yang normal.

Beberapa perawatan berikut ini mungkin dapat membantu pemulihan:

1. Menggunakan Obat

Dokter mungkin akan merekomendasikan obat-obatan seperti:

  • Obat kortikosteroid, yang mengurangi peradangan.
  • Obat antivirus atau antibakteri, yang mungkin diresepkan jika virus atau bakteri yang menyebabkan Bell's palsy.
  • Obat nyeri yang dijual bebas, seperti ibuprofen atau asetaminofen, yang dapat membantu meredakan nyeri ringan.
  • Obat tetes mata untuk menjaga mata yang terkena dilumasi dengan baik.

Selama Bell's palsy, satu sisi wajah menjadi lemah atau lumpuh.

Untuk membantu mempercepat proses pemulihannya, banyak orang memilih untuk melakukan terapi fisik atau latihan.

Ini akan membantu meningkatkan kekuatan otot dan mendapatkan kembali koordinasi wajah dari kelumpuhan wajah sementara ini.

Sebagian besar latihan harus dilakukan tiga atau empat kali sehari dalam sesi singkat, dengan hingga 30 pengulangan per latihan.

2. Stimulasi Wajah

Sebelum memulai latihan wajah, penting untuk melakukan pemanasan dan stimulasi otot terlebih dahulu.

Untuk melakukan latihan wajah dengan benar, para ahli menyarankan untuk duduk di depan cermin sehingga Moms dapat melihat wajah dengan jelas dan melihat gerakan otot.

  • Mulai dengan mencoba menggerakkan setiap bagian wajah secara perlahan dan lembut.
  • Gunakan jari untuk mengangkat alis dengan lembut. Satu sisi akan terangkat lebih tinggi dari yang lain, tetapi jangan terlalu memaksakan kekuatan pada sisi yang terkulai.
  • Pijat dengan lembut berbagai bagian wajah dengan menggunakan jari, termasuk dahi, hidung, pipi, dan mulut.

3. Latihan Hidung dan Pipi

Setelah pemanasan, dilanjutkan dengan area pipi dan hidung. Area ini penting karena kekakuan atau otot yang lemah di zona ini dapat memengaruhi kekuatan seluruh wajah saat pulih.

  • Dorong dengan lembut kulit di sebelah hidung di sisi yang sakit menggunakan jari sambil mencoba mengerutkan hidung.
  • Coba untuk mengerutkan wajah dengan fokus pada pipi dan hidung.
  • Buka lubang hidung dan coba tarik napas dalam-dalam melalui hidung. Moms dapat menutupi lubang hidung yang tidak terpengaruh untuk memaksa otot yang terkena bekerja lebih keras.
  • Kembungkan pipi dan embuskan udara. Ulangi ini 10 kali.

4. Latihan Mulut

Area berikutnya yang dapat dilatih adalah bagian mulut, termasuk bibir dan lidah.

Banyak penderita Bell's palsy sulit makan dan minum karena gerakan otot terbatas.

Beberapa juga mengatakan bahwa mereka tidak mampu menggiring bola atau mengendalikan air liurnya sendiri yang bisa membuat stres.

Latihan-latihan untuk Bell's palsy ini dapat membantu mendapatkan kembali kontrol mulut yang lebih baik.

Latihan ini dapat diulang masing-masing 30 kali, hingga 4 kali sehari.

  • Buka mulut seolah-olah akan tersenyum, lalu tutup. Kemudian, lakukan yang sebaliknya dan berlatih mengerutkan kening.
  • Kerutkan bibir dengan lembut dan biarkan rileks.
  • Coba angkat setiap sudut mulut satu per satu. Gunakan jari-jari untuk membantu mengangkat sisi yang sakit.
  • Julurkan lidah dan arahkan ke bawah ke arah dagu.

5. Latihan Mata

Penderita Bell's palsy mungkin mengalami kesulitan menutup mata yang terkena, yang dapat mengganggu dan membuat Moms kesulitan saat akan tidur.

Latihan wajah ini membantu mendapatkan kembali kontrol dan fungsi otot-otot di sekitar mata.

  • Berlatihlah menaikkan alis ke atas dan ke bawah. Moms dapat menggunakan jari untuk mengangkat alis yang terkena.
  • Lihat ke bawah dan tutup mata sambil memijat lembut kelopak mata dan alis.
  • Buka mata lebar-lebar secara bergantian, lalu tutup dengan lembut.

Latihan ini dinilai cukup aman dilakukan di rumah tanpa pengawasan. Namun, Moms tidak boleh terlalu memaksakan diri atau otot.

Baca Juga: Ketahui Gejala Campak pada Bayi dan Cara Mengatasinya

Cara Mengobati Bell's Palsy pada Anak

Bagaimana cara mengobati Bell's palsy? Simak di bawah ini yuk Moms!

1. Latihan Wajah

cara mengobati bells palsy pada anak.jpeg

Foto: cara mengobati bells palsy pada anak.jpeg (https://mymodernmet.com/)

Fisioterapi merupakan salah satu cara untuk memperkuat otot-otot wajah.

Prosedur dalam terapi ini dapat membantu kasus Bell’s palsy untuk meningkatkan koordinasi dan jangkauan gerakan.

Latihan ini lebih mengutamakan kualitas dibandingkan kuantitasnya, setidaknya dilakukan 2-3 kali dalam sehari dengan pergerakan yang tepat.

Dalam kasus Bell’s palsy yang akut dapat memulainya dengan mengompres bagian wajah yang terkena dengan air hangat.

Lakukan pijatan untuk meningkatkan aliran darah pada otot-otot wajah.

Setelah itu, dapat dilakukan gerakan tertentu pada wajah yang dapat merangsang otak memberi sinyal pada otot untuk menggerakan wajah dan akan lebih baik jika didampingi oleh ahli fisioterapi.

2. Elektrikal Stimulasi

Mengobati Bells Palsy Pada Anak 2.jpg

Foto: Mengobati Bells Palsy Pada Anak 2.jpg (http://sahajaarogyam.com/)

Elektrikal stimulasi mungkin masih asing untuk dikenal.

Ini adalah sebuah alat pengumpul otot lemah yang dirangsang oleh listrik untuk memperkuat otot.

Alat ini masuk ke dalam salah satu terapi fisik pada pasien yang ingin mengembalikan kekuatan dan kontraksi ototnya.

3. Perawatan Gigi

Mengobati Bells Palsy Pada Anak 3.jpg

Foto: Mengobati Bells Palsy Pada Anak 3.jpg (https://parenting.dream.co.id/)

Pemicu Bell’s palsy juga bisa dari trauma, demam, dan pencabutan gigi.

Otot wajah merupakan saraf yang paling sering lumpuh dibandingkan bagian tubuh lainnya sehingga lebih rentan terjadi gangguan.

Maka dari itu, perawatan gigi juga dibutuhkan sebagai pencegahan terjadinya Bell’s palsy.

Pastikan gigi tidak mengalami pembusukan, atau mengalami kerusakan gigi dengan perawatan rutin seperti menggosok dan membersihkan gigi dengan benang.

4. Terapi Pijat

terapi pijat

Foto: terapi pijat

Terapi pijat dapat menjadi pilihan terapi yang dapat memulihkan Bell’s palsy.

Terapi pemijatan merupakan manipulasi sistematik dan ilmiah jaringan tubuh yang dapat memperbaiki dan memulihkan.

Proses pemijatan ini memberikan manfaat untuk memberikan relaksasi otot dan mempertahankan tonus otot.

5. Obat-obatan

obat bell's pasy

Foto: obat bell's pasy

Selain cara dan terapi yang telah disebutkan di atas, National Institute of Neurological Disorders and Stroke juga merekomendasikan penanganan belpasi dengan obat.

Bell’s palsy yang menyebabkan nyeri dapat mengonsumsi analgesik seperti ibuprofen atau parasetamol.

Sementara vitamin B6 dan B12 dapat dikonsumsi untuk pertumbuhan serabut saraf yang rusak.

Saat mengalami Bell’s palsy, setidaknya mata juga akan mengalami masalah seperti iritasi.

Maka dari itu penderita Bell’s palsy biasanya diberikan air mata buatan, latihan mengedipkan mata secara manual, hingga tindakan operatif.

Hidup dengan Bell's palsy dapat membuat seseorang merasa tertekan, stres, atau cemas.

Bicaralah dengan dokter jika penyakit ini memengaruhi kesehatan mental anak Moms.

Kebanyakan pasien belpasi akan pulih dalam waktu 9 bulan, tetapi bisa juga memakan waktu lebih lama.

Menurut studi yang diterbitkan dalam Journal of Child Neurology, para peneliti menemukan bahwa anak-anak bisa cepat pulih.

Sebab, usia pasien yang lebih muda mungkin merupakan faktor prognostik yang baik sehingga bisa mempercepat waktu pemulihan pada anak-anak dengan Bell's palsy.

Jadi, sebaiknya Moms segera mengunjungi dokter jika menemukan adanya gejala belpasi pada anak-anak.

Semakin cepat diobati, peluang untuk sembuh menjadi lebih besar.

Meski demikian, dalam sejumlah kecil kasus, kelemahan wajah ini bisa menjadi permanen.

Oleh karena itu, kembalilah ke dokter jika tidak ada tanda-tanda perbaikan setelah 3 minggu perawatan.

Selain itu, beberapa kasus mungkin perlu diobati dengan operasi.

Itulah serba-serbi penyakit Bell's palsy yang sebaiknya orang tua pahami. Semoga informasinya bermanfaat, ya!

  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/bells-palsy/symptoms-causes/syc-20370028
  • https://www.nhs.uk/conditions/bells-palsy/
  • https://www.healthline.com/health/bells-palsy#causes
  • https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/0194599813505967
  • https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/0883073819877098
  • https://www.webmd.com/brain/best-exercises-bells-palsy
  • https://www.healthline.com/health/bells-palsy