Scroll untuk melanjutkan membaca

KESEHATAN UMUM
18 Juli 2022

Mengenal Glaukoma, Penyakit Kerusakan Saraf Mata yang Kerap Serang Lansia

Seperti apa pengobatan yang bisa dilakukan?
Mengenal Glaukoma, Penyakit Kerusakan Saraf Mata yang Kerap Serang Lansia

Dilansir dari American Academy of Ophthalmology, glaukoma adalah penyakit kerusakan saraf optik mata.

Hal ini biasanya terjadi ketika cairan menumpuk di bagian depan mata. Cairan ekstra itu meningkatkan tekanan di mata, lalu merusak saraf optik.

Kelainan mata ini bisa dikatakan sebagai salah satu penyebab utama kebutaan bagi orang berusia di atas usia 60 tahun. Glaukoma dapat terjadi pada semua usia, tetapi lebih sering terjadi pada orang dewasa yang lebih tua.

Banyak bentuk glaukoma tidak memiliki tanda-tanda peringatan.

Efeknya sangat bertahap sehingga Moms mungkin tidak melihat perubahan penglihatan hingga kondisi mata sampai pada stadium lanjut.

Baca Juga: Mata Buram, Yuk Cari Tahu Gejala, Penyabab, dan Cara Mencegah Moms!

Gejala Glaukoma

glaukoma

Foto: glaukoma

Foto: gejala glaukoma (rowaneyecenter.com)

Gejala yang ditimbulkan dari glaukoma, berbeda berdasarkan dari tipenya. Ada 2 tipe glaukoma berdasarkan onset penyakitnya:

1. Tipe Kronis

Glaukoma tipe ini tidak menimbulkan gejala, dan dikenal juga sebagai “pencuri penglihatan”.

Pasien umumnya baru mengeluh penglihatan terganggu apabila sudah terjadi penyempitan lapang pandang yang ekstrim, seperti mengintip lubang kunci.

Gejala yang mungkin terjadi adalah sering tersandung dan/atau menabrak, atau tidak melihat objek yang datang dari arah samping kanan atau kiri pasien.

2. Tipe Akut

Glaukoma tipe ini terjadi mendadak akibat peningkatan tekanan bola mata seketika.

Gejalanya rasa sakit, penglihatan kabur, dan mata merah secara tiba-tiba. Kadang kala apabila sakit sangat hebat, dapat menimbulkan mual dan muntah.

Secara umum, kedua tipe glaukoma ini akan tetap mengalami progresivitas penurunan penglihatan, walaupun sudah diterapi, karena penyebab pastinya yang belum diketahui.

Baca Juga: Latihan dan Gerakan Senam Mata Minus, Coba Yuk Moms!

Penyebab Glaukoma

glaukoma

Foto: glaukoma (Orami Photo Stocks)

Foto: penyebab glaukoma (nuccawellnesschicago.com)

Hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti dari glaukoma.

Diketahui ada beberapa kelainan genetika pada tipe glaukoma tertentu (primer), namun hubungan sebab akibatnya masih belum jelas.

“Faktor risiko utama yang dikaitkan dengan terjadinya glaukoma adalah tekanan bola mata yang tinggi,” kata dr. Astrianda Nadya Suryono, Sp.M (K), Dokter Spesialis Penyakit Mata Konsultan Glaukoma RS Pondok Indah – Pondok Indah.

Hal ini tidak dapat diartikan secara sederhana dan dikaitkan dengan ketahanan saraf optik per individu terhadap tekanan tersebut. Tekanan bola mata tertentu dapat menyebabkan glaukoma dan perburukan kondisi.

Kondisi lain yang menjadi faktor risiko adalah penyakit diabetes melitus, darah tinggi, kelainan refraksi tertentu, ras Asia, dan jenis kelamin wanita.

Adapun beberapa hal diketahui dapat menyebabkan glaukoma sekunder.

Seperti penggunaan obat steroid jangka panjang atau berulang, katarak yang terlalu tebal dan lanjut, peradangan di dalam bola mata, sebagai komplikasi operasi mata lain, atau komplikasi penyakit sistemik seperti diabetes melitus, hipertensi, dan lain-lain.

Baca Juga: Mengulik Ulkus Kornea, Infeksi yang Membuat Mata Merah dan Membengkak

Faktor Risiko Glaukoma

glaukoma

Foto: glaukoma (Orami Photo Stocks)

Foto: faktor risiko glaukoma (healthline.com)

Orang-orang dengan riwayat anggota keluarga lain yang menderita glaukoma mempunyai risiko lebih tinggi menderita glaukoma.

Oleh sebab itu sebaiknya segera memeriksaan mata secara rutin, khususnya jika sudah berusia di atas 40 tahun.

Faktor risiko lainnya adalah:

  • Usia tua (lebih dari 40 tahun)
  • Kelainan refraksi (miopia dan hipermetropia)
  • Menderita penyakit diabetes melitus
  • Memiliki kondisi medis tertentu, seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan anemia sel sabit
  • Memiliki kornea yang tipis di tengah
  • Memiliki tekanan mata internal yang tinggi (tekanan intraokular)
  • Pernah mengalami cedera mata atau jenis operasi mata tertentu
  • Menggunakan obat kortikosteroid, terutama obat tetes mata dalam waktu lama

Apabila Moms termasuk dalam kategori yang memiliki faktor risiko tersebut, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan mata rutin sebagai antisipasi, ya.

Baca Juga: Mengenal Degenerasi Makula, Kondisi Hilangnya Penglihatan Mata di Usia Lanjut

Diagnosis Glaukoma

diagnosis glaukoma

Foto: diagnosis glaukoma

Foto: diagnosis glaukoma (Orami Photo Stock)

Dikutip dari Web MD, tes glaukoma tidak menimbulkan rasa sakit dan tidak memakan waktu lama. Dokter mata biasanya akan menguji penglihatan Moms.

Dokter akan menggunakan obat tetes untuk melebarkan pupil Moms dan memeriksa mata. Mereka akan memeriksa saraf optik untuk mengidentifikasi tanda-tanda glaukoma.

Selain itu, dokter mungkin akan mengambil foto sehingga mereka dapat melihat perubahan pada kunjungan Moms berikutnya.

Dokter juga akan melakukan tes yang disebut tonometri untuk memeriksa tekanan mata, serta melakukan tes bidang visual untuk melihat apakah Moms kehilangan penglihatan tepi.

Jika dokter mencurigai adanya glaukoma, mereka mungkin memesan tes pencitraan khusus saraf optik untuk Moms.

Baca Juga: Mengenal Kalazion, Benjolan di Kelopak Mata

Pengobatan Glaukoma

glaukoma

Foto: glaukoma

Foto: pengobatan glaukoma (rowaneyecenter.com)

Cara mengatasi glaukoma jika sudah diketahui ada glaukoma, maka perlu dilakukan pemantauan rutin seumur hidup.

Hal ini dilakukan untuk memonitor tekanan bola mata dan fungsi saraf mata. Prinsip penatalaksanaan glaukoma adalah mempertahankan fungsi penglihatan dan kualitas hidup.

Faktor tekanan bola mata masih merupakan faktor risiko yang diketahui mendukung perkembangan dan memperberat penyakit glaukoma.

Oleh sebab itu, untuk memperlambat progresivitas, cara mengatasi glaukoma adalah dengan menjaga tekanan bola mata senormal mungkin.

“Tekanan bola mata dapat diturunkan dengan obat-obat tetes dan minum, dengan tindakan laser, dan pembedahan,” tutur dr. Astrianda Nadya Suryono.

Tipe pembedahan antara lain adalah pembuatan saluran secara manual atau dengan menanamkan implan di bola mata.

Baca Juga: Pterygium, Kondisi Munculnya Selaput Lendir di Atas Kornea Mata

Cara Mencegah Glaukoma

Berikut cara yang dapat diterapkan sebagai upaya pencegahan terjadinya glaukoma.

1. Pemeriksaan Mata Rutin

periksa mata

Foto: periksa mata (medicalnewstoday.com)

Foto: memeriksa mata (Orami Photo Stock)

Cara mencegah Moms dari glaukoma yang pertama adalah dengan deteksi dini, memeriksakan mata secara rutin tanpa menunggu ada gejala.

“Jika sudah terdeteksi/terkonfirmasi glaukoma, maka dapat dilakukan pemeriksaan mata secara rutin untuk pemantauan fungsi penglihatan dan tekanan bola mata secara berkala, seumur hidup,” jelas dr. Astrianda Nadya Suryono, Sp.M (K), Dokter Spesialis Penyakit Mata Konsultan Glaukoma RS Pondok Indah – Pondok Indah.

Sebagai aturan umum, American Academy of Ophthalmology merekomendasikan untuk melakukan pemeriksaan mata yang komprehensif setiap:

  • 5 sampai 10 tahun sekali jika berusia di bawah 40 tahun
  • 2 hingga 4 tahun sekali jika berusia 40 hingga 54 tahun
  • 1 hingga 3 tahun sekali jika berusia 55 hingga 64 tahun
  • 1 hingga 2 tahun sekali jika berusia lebih dari 65 tahun

Jika Moms berisiko terkena glaukoma, maka perlu melakukan pemeriksaan lebih sering. Mintalah dokter untuk merekomendasikan jadwal skrining yang tepat untuk Moms.

Baca Juga: Penyebab Mata Terasa Mengganjal dan Cara Mengatasinya

2. Ketahui Riwayat Kesehatan Mata Keluarga

riwayat kesehatan mata keluarga

Foto: riwayat kesehatan mata keluarga (Pexels/Andrea Piacquadio)

Foto: ilustrasi riwayat kesehatan (Orami Photo Stock)

Menurut jurnal Ophtalmic Molecular Genetics yang diterbitkan pada Desember 1998, kerabat pasien dengan glaukoma memiliki peningkatan risiko glaukoma yang kuat.

Maka, sudah sangat jelas bahwa glaukoma cenderung diturunkan dalam keluarga. Jadi, apabila Moms berisiko tinggi, sebaiknya melakukan skrining lebih sering.

3. Berolahraga dengan Aman

pelindung mata saat olahraga

Foto: pelindung mata saat olahraga

Foto: berolahraga (Orami Photo Stock)

Olahraga teratur dapat membantu menurunkan tekanan mata dan menjaga aliran darah ke saraf di mata.

Namun, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter tentang program latihan yang tepat karena beberapa aktivitas fisik mungkin dapat meningkatkan tekanan.

Baca Juga: 7 Rekomendasi Produk Vitamin Mata yang Bagus untuk Dewasa dan Anak

4. Minum Obat yang Telah Diresepkan

Obat Tetes Mata

Foto: Obat Tetes Mata (freepik.com)

Foto: obat tetes mata (Orami Photo Stock)

Obat tetes mata glaukoma dapat mengurangi risiko tekanan mata tinggi secara signifikan yang akan berkembang menjadi glaukoma.

Agar efektif, obat tetes mata yang diresepkan oleh dokter perlu digunakan secara teratur bahkan jika Moms tidak memiliki gejala.

Apabila dokter juga memberikan obat lain yang dianjurkan untuk diminum, pastikan Moms tidak melewatkannya, ya.

Baca Juga: Tak Kalah Penting, Simak 6 Cara Menjaga Kesehatan Mata!

5. Gunakan Pelindung Mata

kacamata cegah glaukoma

Foto: kacamata cegah glaukoma

Foto: sunglasses (Orami Photo Stock)

Cedera mata yang serius dapat menyebabkan glaukoma.

Oleh sebab itu, Moms sebaiknya mengenakan pelindung mata saat menggunakan perkakas listrik atau bermain olahraga raket berkecepatan tinggi di lapangan tertutup.

Saat memilih riasan mata, gunakan merek non-alergi, dan sering-sering mengganti riasannya ya, Moms. Apalagi jika sudah kedaluwarsa.

Pastikan juga untuk memakai kacamata hitam di luar ruangan, terutama di musim panas atau di sekitar permukaan yang sangat silau seperti pasir, salju, dan air.

Nah, itulah beberapa hal yang perlu Moms ketahui tentang glaukoma.

Jadi, meskipun lebih banyak menyerang kelompok usia di atas 40 tahun, glaukoma juga bisa terjadi pada kelompok usia lain. Maka, selalu lakukan pencegahan, ya.

  • https://www.aao.org/eye-health/diseases/what-is-glaucoma
  • https://www.webmd.com/eye-health/glaucoma-eyes
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/glaucoma/symptoms-causes/syc-20372839
  • https://jamanetwork.com/journals/jamaophthalmology/fullarticle/264654