Parenting Islami

PARENTING ISLAMI
11 Januari 2021

Berhubungan Intim setelah Salat Subuh, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?

Salah satu manfaat berhubungan intim setelah salat subuh adalah keleluasaan waktu
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Untuk pasangan suami istri, berhubungan intim memiliki keuntungan tersendiri. Selain merupakan hak bagi suami atau istri, behubungan intim juga akan meningkatkan mood dan kualitas kehidupan berumah tangga. Bahkan, ada yang melakukannya pada saat-saat tertentu untuk meningkatkan kepuasan.

Salah satunya berhubungan intim setelah salat subuh. Sebuah studi terhadap 1.000 orang yang dilakukan oleh Forza Supplements menemukan bahwa waktu terbaik untuk berhubungan intim adalah sekitar puku 7:30 pagi. Para peneliti menyimpulkan bahwa seks di pagi hari memiliki banyak manfaat.

Salah satunya karena dapat melepaskan endorfin yang menurunkan tekanan darah dan mengurangi stres, serta dapat menjadi aktivitas pagi yang menyenangkan dan meningkatkan mood sepanjang hari.

Jika berhubungan intim setelah salat subuh memiliki manfaat untuk kesehatan, bagaimana dengan pandangan Islam? Simak penjelasannya di sini!

Baca Juga: Perlukah Berhubungan Intim Saat Liburan?

Berhubungan Intim setelah Salat Subuh

Berhubungan Intim Setelah Salat Subuh -1

Foto: Orami Photo Stock

Dalam Islam, masalah waktu untuk berhubungan intim tidak memiliki patokan tertentu. Asalkan tidak berlebihan dan harus dalam keadaan suci setelah melakukannya saat akan memasuki waktu salat dengan melakukan mandi wajib.

Dalam islam, banyak juga pasangan yang berhubungan intim setelah salat subuh. Sebab, dari salat subuh ke salat dzuhur memiliki durasi waktu yang panjang sebelum diharuskan mandi wajib.

Dalam jeda waktu itu, seseorang bisa melakukan aktivitasnya seperti biasa tanpa harus melakukan mandi wajib.

Sebab, pada dasarnya berhubungan intim setelah salat subuh justru memberikan beberapa keuntungan. Yakni seseorang mendapatkan pemuasan hasrat biologis, namun masih tetap beraktivitas karena memiliki kelonggaran waktu yang lebih panjang dibanding waktu-waktu lainnya di siang hari sebelum mandi wajib.

Baca Juga: 4 Bahaya Berhenti Melakukan Hubungan Intim

Waktu untuk Berhubungan Intim

Berhubungan Intim Setelah Salat Subuh -2

Foto: Orami Photo Stock

Mengenai waktu-waktu khusus untuk berhubungan intim, dikutip Konsulasi Syariah tidak ada dalil khusus yang menjelaskannya.

Namun, terdapat beberapa riwayat yang menunjukkan bagaimana kebiasaan orang soleh masa silam dalam memilih waktu untuk melakukan hubungan intim. Berikut beberapa di antaranya:

1. Tiga Waktu Aurat

Tiga waktu aurat yang dimaksudkan ini adalah sebelum subuh, siang hari waktu dzuhur, dan setelah isya. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan perempuan) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari).

Yaitu sebelum salat subuh ketika kamu menanggalkan pakaian (luar) mu, saat salat dzuhur, dan sesudah salat Isya’. (Itulah) tiga waktu aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu.” (QS An-Nur: 58).

Diriwayatkan dari Muqatil bin Hayan menceritakan sebab turunnya ayat ini. Ada pasangan suami istri di kalangan anshar, yang sering membuatkan makanan untuk Rasulullah SAW.

Suatu ketika budaknya masuk ke kamar menemui mereka tanpa izin di waktu yang mereka tidak sukai untuk ditemui.

Sang istripun melaporkan kepada Nabi SAW. “Wahai Rasulullah, betapa buruknya sikap orang ini. Dia menemui seorang perempuan ketika dia sedang berduaan bersama suaminya dalam satu selimut.” Kemudian Allah menurunkan ayat di atas. (Tafsir Ibn Katsir, 6/83)

2. Setelah Tahajud

Rasulullah SAW memiliki kebiasaan tidur di awal malam. Hal ini dilakukan untuk bisa bangun di pertengahan atau sepertiga malam terakhir dan melakukan shalat tahajud. Aisyah menceritakan, bahwa Rasulullah SAW mendekati istrinya setelah tahajud.

Dari al-Aswad bin Yazid, bahwa beliau pernah bertanya kepada Aisyah RA tentang kebiasaan salat malam Rasulullah SAW. Aisyah RA berkata: ”Rasulullah SAW tidur di awal malam, kemudian bangun tahajud. Jika sudah memasuki waktu sahur, beliau shalat witir. Kemudian kembali ke tempat tidur.

Jika beliau ada keinginan, beliau mendatangi istrinya. Apabila beliau mendengar adzan, beliau langsung bangun. Jika dalam kondisi junub, beliau mandi wajib. Jika tidak junub, beliau hanya berwudhu kemudian keluar menuju salat jamaah.” (HR an-Nasai 1680 dan dishahihkan al-Albani).

Berdasarkan keterangan dari Aisyah tersebut, sebagian ulama lebih menganjurkan agar hubungan intim antara suami istri dilakukan di akhir malam setelah tahajud, dengan beberapa pertimbangan:

  • Mendahulukan hak Allah, dengan beribadah kepadanya dalam kondisi masih kuat.
  • Menghindari tidur ketika junub, karena bisa langsung mandi untuk shalat subuh.
  • Di awal malam umumnya pikiran penuh, dan di akhir malam umumnya pikiran dalam keadaan kosong.

Ketika menjelaskan hadis ini, Mula Ali Qori mengutip keterangn Ibnu Hajar yang menjelaskan: “Mengakhirkan hubungan intim hingga akhir malam itu lebih baik. Karena di awal malam terkadang pikiran orang itu penuh. Dan melakukan jima di saat pikiran penuh, bisa jadi membahayakan dengan sepakat para ahli, karena bisa jadi dia tidak bisa mandi, sehingga dia tidur dalam kondisi junub, dan itu hukumnya makruh.” (Mirqah al-Mashabih, 4/345).

Baca Juga: 4 Hal yang Harus Dilakukan Agar Hubungan Seks Makin 'Hot', Termasuk Saat Foreplay

Hikmah Mengajarkan Waktu Aurat pada Anak

Berhubungan Intim Setelah Salat Subuh -3

Foto: Orami Photo Stock

Allah memberikan batasan mengenai aurat orang tua yang boleh dilihat anak. Salah satunya dalam hal berhubungan intim. Allah berfirman:

Dan apabila anak-anakmu telah sampai hulm (ihtilam), Maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. An-Nuur [24]: 59).

Terdapat tiga waktu yang telah ditetapkan dalam Islam di mana seorang anak harus meminta izin terlebih dahulu ketika akan masuk ke kamar orang tuanya. Waktu-waktu tersebut adalah sebelum shalat fajar, siang hari ketika waktu tidur siang serta setelah salat isya’.

Ketiga waktu tersebut merupakan waktu istirahat bagi orang tua, dan biasanya keduanya sedang memakai pakaian ringan dan mungkin juga sedang berada dalam kondisi yang tidak boleh dilihat oleh orang lain. Termasuk saat berhubungan intim setelah salat subuh.

Islam tidak mungkin mengajarkan sesuatu tanpa adanya hikmah di dalamnya. Dalam hal ini, orang tua adalah teladan bagi anak-anak mereka.

Ketika anak memasuki kamar orang tua tanpa izin, bisa jadi mereka akan melihat kedua orang tuanya dalam keadaan yang tidak pantas untuk dilihat, misalnya usai bermesraan atau malah bisa jadi ketika tengah bermesraan.

Anak yang melihat orang tua mereka dalam keadaan berbeda dengan keadaan sehari-hari yang biasa dilihat akan berdampak kepada perilaku mereka, karena mereka melihat sesuatu yang sebenarnya belum waktunya untuk mereka pahami.

Kewibawaan orang tua pun akan jatuh di mata anak-anak.

Melihat aurat orang tua atau orang dewasa lainnya akan membekas pada anak dan merusak jiwa dan syarafnya ketika dewasa.

Banyak orang yang terjangkit penyakit penyimpangan seksual seperti onani maupun masturbasi salah satu sebabnya adalah karena mereka tidak terbiasa menjaga mata dan pendengaran mereka terhadap hal-hal yang tidak sepantasnya dilihat.

Oleh karena itu, diwajibkan bagi orang tua untuk menutup aurat setiap waktu dalam rangka membantu menyeimbangkan naluri anak agar dapat berkembang dengan baik dan memiliki budi pekerti yang luhur.

Salah satunya dengan memastikan kondisi anak sebelum berhubungan intim.

Misalnya dengan memastikan anak anak sudah tidur jika dilakukan di malam hari. Tutup dan kunci pintu kamar hingga aman juga bisa dilakukan sebagai cara menjaga privasi. Karena, melakukan hubungan suami istri di depan anak tetap saja tidak baik.

Buatlah rencana sebaik mungkin hingga bisa melakukan hubungan intim dengan aman dan nyaman. Sebab dalam Islam, hubungan intim bukan hanya sekadar rekreasi belaka. Selain untuk ikhtiar menghasilkan keturunan, juga harus memperhatikan sekelilingnya.

Banyak memiliki keuntungan, berhubungan intim setelah salat subuh bisa dilakukan secara spontan atau direncanakan namun tetap harus memperhatikan kondisi rumah dan anak-anak.

Artikel Terkait