KESEHATAN MENTAL
27 April 2022

Seputar Fetisisme Seksual, Ketertarikan pada Hal-Hal yang Tidak Lazim

Pada tahap tertentu sebenarnya tidak berbahaya
Seputar Fetisisme Seksual, Ketertarikan pada Hal-Hal yang Tidak Lazim

Seksualitas manusia datang dalam banyak rasa. Fetisisme adalah salah satu ekspresi dan hasrat yang kerap dianggap menyimpang.

Hingga titik tertentu, fetisisme adalah seksualitas yang sehat.

Namun, jika hal ini sudah memengaruhi hidup secara negatif, tentu sudah jadi bahaya.

Lantas, bagaimana fetisisme berkembang?

Tanda seperti apa yang perlu diwaspadai sebagai suatu gangguan?

Buang rasa penasaran Moms dan Dads dengan menyimak artikel berikut ini!

Baca Juga: Kondom Wanita (Diafragma): Kenali Cara Pakai, Kelebihan, dan Kekurangannya

Penjelasan tentang Fetisisme

keram kaki

Foto: keram kaki (healthline.com)

Foto: Orami Photo Stock

Istilah fetisisme sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu.

Ini berasal dari kata bahasa Portugis “feitico”, yang berarti daya tarik obsesif.

Saat ini fetisisme mengacu pada fantasi, dorongan, atau perilaku yang membangkitkan gairah seksual.

Fetish dapat melibatkan apa saja, mulai dari pakaian hingga bagian tubuh non-genital seperti kaki.

Namun, pada tahap tertentu, bukan berarti orang yang memiliki fetish itu aneh.

Menurut studi pada 1996 di jurnal BMJ, fetisisme hanya sejenis paraphilia, atau perilaku seksual atipikal.

Banyak pelaku fetisisme memegang, menggosok, atau mencium objek fiksasi, atau meminta pasangannya untuk menggunakan item tersebut.

Beberapa di antaranya mungkin tidak dapat mengalami gairah tanpa stimulus dari objek fetish-nya.

Pakaian dalam wanita, sepatu hak tinggi, sepatu bot, rambut, stoking, dan berbagai benda kulit, sutra, dan karet semuanya bisa menjadi objek fetish.

Bagaimana Fetisisme Berkembang?

Depresi pd pria.jpg

Foto: Depresi pd pria.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Fetisisme biasanya muncul pada awal pubertas.

Sebagian besar kasus gangguan fetisistik didiagnosis pada pria.

Para ahli menduga, hal ini berasal dari kombinasi proses neurobiologis, interpersonal, dan kognitif.

Studi pada 2018 di Medical Journal Armed Forces India mencoba mengungkapkan hal ini.

Para peneliti menemukan, campuran kompleks pengaruh biologis dan budaya, adalah dasar untuk mengembangkan fetish.

Hal ini juga ditambah dengan apa yang masyarakat ajarkan untuk dipandang sebagai sesuatu yang erotis.

Peneliti juga mendunga ada beberapa hubungan antara gangguan parafilik tertentu, serta trauma dan paparan aktivitas seksual pada masa kanak-kanak.

Namun, ini sering dicatat pada gangguan parafilik lain seperti voyeuristik, bukan fetisisme.

Ada banyak teori tentang bagaimana dan mengapa fetisisme berkembang. Namun, tidak ada penyebab pasti yang terbukti.

Baca Juga: 10 Posisi Seks Kesukaan Suami yang Perlu Diketahui Istri, Coba Lakukan Biar Saling Terpuaskan!

Kapan Fetisisme Menjadi Masalah?

Kenali Depresi Setelah Menikah, Mungkinkah Terjadi 01.jpg

Foto: Kenali Depresi Setelah Menikah, Mungkinkah Terjadi 01.jpg (parents.com)

Foto: Orami Photo Stock

Seperti dijelaskan tadi, fetisisme sebenarnya bukan sesuatu yang menjadi masalah, hingga titik tertentu.

Saat seseorang mengembangkan fetisisme, bagaimana ia memenuhi keinginannya menentukan apakah itu perilaku yang sehat atau tidak.

Banyak yang menderita dalam diam dan tidak melakukan apa-apa.

Beberapa mungkin menemukan konten pornografi yang sesuai dengan minat khusus mereka dan beralih ke itu.

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association, menyatakan kebanyakan orang dengan minat seksual atipikal tidak memiliki gangguan mental.

Panduan tersebut mengatakan, untuk didiagnosis dengan gangguan, orang dengan fetisisme harus menunjukkan hal berikut:

  • Merasakan tekanan pribadi tentang minat mereka, bukan hanya penderitaan akibat ketidaksetujuan masyarakat.
  • Memiliki hasrat atau perilaku seksual yang melibatkan tekanan psikologis, cedera, atau kematian orang lain.

Fetisisme juga disebut gangguan jika ada hasrat untuk melakukan hal yang memaksa orang yang tidak bersedia.

Pilihan Pengobatan untuk Gangguan Fetisisme

5 Alasan Perlunya Konsultasi Dengan Dokter Kesuburan.jpg

Foto: 5 Alasan Perlunya Konsultasi Dengan Dokter Kesuburan.jpg (Orami Photo Stock)

Foto: Orami Photo Stock

Ketika gejala fetisisme mulai terasa tidak terkendali dan menyebabkan kesusahan, banyak orang mungkin mencari pengobatan.

Terkadang, dorongan dan perilaku seseorang dapat menyebabkan masalah hukum, menandakan perlunya bantuan.

Siapa pun yang didiagnosis dengan gangguan fetisisme dapat mengatasi gejala yang mereka anggap mengganggu.

Ada banyak strategi yang tersedia untuk membantu orang dengan fetisisme untuk mengelola gejalanya.

Jadi, jangan takut untuk meminta bantuan ahlinya, seperti psikolog atau psikiater.

Seperti kebanyakan kondisi, orang dengan gangguan ini mungkin harus mencoba beberapa hal.

Tujuannya adalah untuk menemukan rencana perawatan yang paling sesuai.

Bagi kebanyakan orang dengan gangguan fetisisme, rencana perawatan terbaik adalah kombinasi terapi dan obat-obatan.

Berkonsultasi dengan terapis yang terlatih dalam gangguan seksual dapat memberi pilihan sumber daya terbaik.

Pengobatan efektif untuk gangguan ini biasanya difokuskan pada pengurangan bahaya pada diri sendiri dan orang lain.

Baca Juga: 6 Kelainan Seksual yang Mungkin Belum Kita Tahu

Lebih jelasnya, berikut ini pilihan pengobatan yang bisa dijalani:

1. Terapi

Terapi sering kali merupakan langkah pertama dalam pengobatan gangguan fetisisme.

Ada beberapa bentuk terapi yang efektif dalam mengobati semua gangguan parafilik, bukan hanya gangguan fetisisme, yaitu:

  • Terapi seks

Jenis terapi bicara ini berfokus pada seks dan kesehatan seksual, tanpa rasa malu atau menghakimi.

  • Terapi perilaku kognitif (CBT)

Untuk mengidentifikasi penyebab yang mendasari, menggunakan teknik restrukturisasi dan terapi keengganan.

Terapi keengganan bertujuan untuk membantu mengubah asosiasi antara fetish dan perilaku seksual yang dimiliki.

Baca Juga: Viral Suami Unggah Foto Istri "Dibungkus" dengan Kain, Normalkah Seseorang Punya Fetish?

2. Obat-obatan

Bagi beberapa orang dengan gangguan fetisisme, pemberian obat-obatan dapat menjadi pilihan pengobatan yang efektif.

Beberapa obat yang membantu mengelola gejala gangguan yang dimiliki adalah selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI).

SSRI adalah sejenis antidepresan yang biasa digunakan untuk masalah kesehatan mental.

Obat ini membantu mengurangi perilaku obsesif, kecemasan, dan dorongan seks yang tinggi terkait dengan gangguan fetisistik.

Selain itu, obat ini juga dapat membantu mengatur perilaku kompulsif dan depresi.

Seringkali, orang yang didiagnosis dengan gangguan fetisisme dan parafilik lainnya harus mencoba berbagai obat SSRI sebelum menemukan obat yang tepat.

Baca Juga: Gamophobia, Ketakutan Akan Komitmen atau Pernikahan

Jadi, penting untuk banyak-banyak berkonsultasi dengan dokter atau psikoterapis, untuk menemukan obat yang paling cocok.

Nah, itulah pembahasan mengenai fetisisme dan hal-hal yang terkait dengannya.

Dapat diketahui bahwa fetisisme hanya bisa dianggap sebagai gangguan jika sudah mengganggu kehidupan diri sendiri dan orang lain.

Jika mengalami kondisi ini, jangan ragu untuk meminta bantuan pada ahlinya, ya!

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1115095/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6495465/
  • https://www.psychiatry.org/psychiatrists/practice/dsm
  • https://www.healthline.com/health-news/what-causes-sexual-fetishes
  • https://www.webmd.com/sex-relationships/features/sexual-fetish
  • https://psychcentral.com/disorders/fetishism-symptoms
  • https://greatist.com/happiness/it-ok-have-fetish