Kesehatan

2 April 2021

Obat Antidepresan: Manfaat, Jenis, Dosis, dan Efek Samping

Meski antidepresan bermanfaat untuk gangguan mental, ada efek samping yang perlu dipahami
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Rizky
Disunting oleh Intan Aprilia

Apakah Moms atau orang terdekat pernah mengalami depresi atau gangguan kesehatan mental lainnya? Jika iya, mungkin Moms sudah tidak asing dengan obat antidepresan yang biasanya diresepkan psikiater.

Antidepresan adalah obat yang dapat membantu meredakan berbagai masalah mental, mulai dari gejala depresi, gangguan kecemasan sosial, gangguan kecemasan, gangguan afektif musiman, distimia, atau depresi kronis ringan, serta kondisi lainnya.

Psikiater meresepkan obat antidepresan agar obat ini memperbaiki ketidakseimbangan kimiawi neurotransmitter di otak yang diyakini bertanggung jawab atas perubahan suasana hati dan perilaku.

Antidepresan pertama kali dikembangkan pada 1950-an dan penggunaannya semakin umum dalam 20 tahun terakhir.

Menurut data dari Center for Disease Control and Prevention (CDC), persentase orang berusia 12 tahun ke atas yang menggunakan antidepresan di Amerika Serikat telah naik dari 7,7 persen pada 1999-2002 menjadi 12,7 persen pada 2011-2014.

Selain itu ditemukan fakta bahwa ada sekitar dua kali lebih banyak wanita yang menggunakan antidepresan ketimbang pria.

Ada beberapa fakta mengenai obat antidepresan yang perlu Moms ketahui berikut ini!

Baca Juga: 8 Jenis Gangguan Kesehatan Mental yang Perlu Kita Kenal

Cara Antidepresan Bekerja untuk Atasi Gangguan Mental

Cara Antidepresan Bekerja untuk Gangguan Mental

Foto: Orami Photo Stock

Tidak diketahui secara pasti bagaimana antidepresan bekerja pada otak manusia. Namun, diperkirakan mereka bekerja dengan meningkatkan kadar bahan kimia di otak yang disebut neurotransmitter.

Neurotransmiter tertentu, seperti serotonin dan noradrenalin, terkait dengan suasana hati dan emosi.

Neurotransmitter ini juga dapat memengaruhi sinyal nyeri yang dikirim oleh saraf, yang mungkin menjelaskan mengapa beberapa antidepresan dapat membantu meredakan nyeri jangka panjang.

Meskipun antidepresan dapat mengobati gejala depresi, antidepresan tidak selalu mengatasi penyebab depresi itu sendiri.

Inilah sebabnya mengapa mereka biasanya digunakan dalam kombinasi dengan terapi lainnya untuk mengobati depresi yang lebih parah atau kondisi kesehatan mental lainnya.

Mengutip National Health Service UK, penelitian menunjukkan bahwa antidepresan dapat membantu orang dengan depresi sedang atau berat.

Penelitian telah menunjukkan bahwa mereka lebih baik daripada plasebo atau obat tiruan yang digunakan dalam penelitian untuk mengatasi masalah kesehatan mental.

Namun, obat antidepresan biasanya tidak direkomendasikan untuk depresi ringan, kecuali jika perawatan lain seperti terapi tidak membantu.

Royal College of Psychiatrists memperkirakan bahwa 50 hingga 65 persen orang yang diobati dengan antidepresan untuk depresi akan melihat peningkatan, dibandingkan dengan 25 hingga 30 persen dari mereka yang hanya menggunakan plasebo.

Baca Juga: Perhatikan dengan Seksama, Ini 4 Tanda Gangguan Kesehatan Mental pada Anak

Jenis Antidepresan yang Biasa Digunakan

Jenis Antidepresan

Foto: Orami Photo Stock

Dalam pengobatan yang terkait dengan kesehatan mental, para psikiater telah mengenal dan membagi obat antidepresan menjadi lima jenis utama, antara lain:

1. SNRI dan SSRI

Ini adalah jenis antidepresan yang paling sering diresepkan. Serotonin and noradrenaline reuptake inhibitors (SNRI) digunakan untuk mengobati depresi berat, gangguan suasana hati, dan gangguan hiperaktif defisit perhatian (ADHD), gangguan obsesif-kompulsif (OCD), gangguan kecemasan, gejala menopause, fibromyalgia, dan neuropatik kronis.

SNRI akan bekerja dengan meningkatkan kadar serotonin dan norepinefrin, dua neurotransmiter di otak yang memainkan peran kunci dalam menstabilkan suasana hati.

Sementara itu, selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) adalah antidepresan lain yang juga dianggap lebih efektif dalam mengobati depresi. Terlebih, obat ini juga memiliki efek samping yang lebih sedikit dibandingkan antidepresan lainnya.

SSRI memblokir pengambilan kembali, atau penyerapan, serotonin di otak. Alhasil, ini akan memudahkan sel-sel otak untuk menerima dan mengirim pesan. Akibatnya, obat ini akan menghasilkan suasana hati yang lebih baik dan lebih stabil.

Namun, baik itu SSRI dan SNRI mungkin memiliki efek samping seperti:

  • Hipoglikemia, atau gula darah rendah
  • Rendah sodium
  • Mual
  • Ruam
  • Mulut kering
  • Sembelit atau diare
  • Penurunan berat badan
  • Berkeringat
  • Gemetaran
  • Disfungsi seksual
  • Insomnia
  • Sakit kepala
  • Pusing
  • Kecemasan dan agitasi
  • Pemikiran abnormal

Ada laporan bahwa orang yang menggunakan SSRI dan SNRI, dan terutama mereka yang berusia di bawah 18 tahun, mungkin mengalami pikiran untuk bunuh diri, terutama saat mereka pertama kali mulai menggunakan obat tersebut.

2. Tricyclic Antidepressants

Antidepresan trisiklik dinamai demikian karena ada tiga cincin dalam struktur kimia obat ini.

Mereka digunakan untuk mengobati depresi, fibromyalgia, beberapa jenis kecemasan, dan dapat membantu mengendalikan nyeri kronis.

Antidepresan trisiklik mungkin memiliki efek samping seperti:

  • Kejang
  • Insomnia
  • Kegelisahan
  • Aritmia, atau detak jantung tidak teratur
  • Hipertensi
  • Ruam
  • Mual dan muntah
  • Kram perut
  • Penurunan berat badan
  • Sembelit
  • Retensi urin
  • Peningkatan tekanan pada mata
  • Disfungsi seksual

3. Monoamine Oxidase Inhibitors

Jenis antidepresan ini biasanya diresepkan sebelum SSRI dan SNRI diperkenalkan.

Obat ini menghambat aksi oksidase monoamine, yakni sejenis enzim di otak. Oksidase monoamine membantu memecah neurotransmitter, seperti serotonin.

Jika lebih sedikit serotonin yang dipecah, akan ada lebih banyak serotonin yang bersirkulasi. Secara teori, ini mengarah pada suasana hati yang lebih stabil dan sedikit kecemasan. Dokter sekarang menggunakan obat ini jika SSRI tidak bekerja.

Obat ini juga umumnya disimpan untuk kasus di mana antidepresan lain tidak bekerja karena obat ini dapat berinteraksi dengan beberapa obat lain dan beberapa makanan.

Efek samping yang mungkin terjadi antara lain:

  • Penglihatan kabur
  • Ruam
  • Kejang
  • Penurunan berat badan atau penambahan berat badan
  • Disfungsi seksual
  • Diare, mual, dan sembelit
  • Kegelisahan
  • Insomnia dan kantuk
  • Sakit kepala
  • Pusing
  • Aritmia, atau irama jantung tidak teratur
  • Pingsan atau merasa pingsan saat berdiri
  • Hipertensi, atau tekanan darah tinggi
  • Noradrenaline dan antidepresan serotoninergic spesifik (NASSAs)

Antidepresan jenis ini digunakan untuk mengobati gangguan kecemasan, beberapa gangguan kepribadian, dan depresi. Ada beberapa kemungkinan efek samping termasuk:

  • Sembelit
  • Mulut kering
  • Penambahan berat badan
  • Mengantuk dan sedasi
  • Penglihatan kabur
  • Pusing
  • Reaksi merugikan yang lebih serius termasuk kejang, pengurangan sel darah putih, pingsan, dan reaksi alergi.

Baca Juga: Bagaimanakah Kesehatan Mental Bisa Mempengaruhi Program Hamil?

Dosis dan Durasi Pengobatan Antidepresan

dosis antidepresan

Foto: Orami Photo Stock

Antidepresan biasanya dikonsumsi dalam bentuk tablet. Ketika diresepkan, seseorang akan mulai dengan dosis serendah mungkin yang diperlukan untuk memperbaiki gejala.

Antidepresan biasanya perlu diminum selama 1 atau 2 minggu (tanpa melewatkan satu dosis pun) sebelum manfaatnya mulai terasa.

Penting untuk tidak berhenti meminumnya jika seseorang mendapatkan beberapa efek samping ringan sejak dini, karena efek ini biasanya cepat hilang.

Jika seseorang menggunakan antidepresan selama 4 minggu tanpa merasakan manfaat apa pun, bicarakan dengan dokter umum atau spesialis kesehatan mental.

Mereka mungkin merekomendasikan untuk meningkatkan dosis atau mencoba obat lain.

Suatu pengobatan biasanya berlangsung setidaknya 6 bulan. Beberapa orang dengan depresi berulang mungkin disarankan untuk meminumnya tanpa batas waktu.

Efek Samping Antidepresan yang Perlu Diwaspadai

Efek Samping Antidepresan

Foto: Orami Photo Stock

Efek samping apapun kemungkinan besar akan terjadi selama 2 minggu pertama, dan kemudian secara bertahap hilang.

Efek yang umum adalah mual dan kecemasan, tetapi ini akan tergantung pada jenis obat yang digunakan, seperti yang disebutkan di atas.

Jika efek sampingnya sangat tidak menyenangkan, atau jika termasuk berpikir untuk bunuh diri, dokter harus segera diberitahu.

Selain itu, penelitian telah mengaitkan efek samping berikut dengan penggunaan antidepresan, terutama di kalangan anak-anak dan remaja.

1. Peningkatan Suasana Hati dan Aktivasi Perilaku yang Berlebihan

Ini mungkin termasuk mania atau hipomania. Perlu dicatat bahwa antidepresan tidak menyebabkan gangguan bipolar, tetapi dapat membuka kedok kondisi yang belum terungkap dengan sendirinya.

2. Keinginan Bunuh Diri

Ada beberapa laporan tentang risiko yang lebih tinggi untuk memiliki pikiran untuk bunuh diri saat pertama kali menggunakan antidepresan.

Hal ini dapat disebabkan oleh obat-obatan atau faktor lain, seperti waktu yang dibutuhkan obat untuk bekerja, atau mungkin gangguan bipolar yang tidak terdiagnosis yang mungkin memerlukan pendekatan pengobatan yang berbeda.

3. Gejala Penarikan Diri

Tidak seperti beberapa obat, tidak perlu terus menaikkan dosis untuk mendapatkan efek yang sama dengan antidepresan. Artinya, mereka tidak membuat ketagihan.

Saat seseorang berhenti menggunakan antidepresan, ia tidak akan mengalami gejala putus obat yang sama seperti yang terjadi, misalnya saat berhenti merokok.

Namun, hampir 1 dari 3 orang yang menggunakan SSRI dan SNRI melaporkan beberapa gejala penarikan setelah menghentikan pengobatan. Gejala berlangsung dari 2 minggu hingga 2 bulan dan termasuk:

  • Kegelisahan
  • Pusing
  • Mimpi buruk atau mimpi yang hidup
  • Sensasi seperti sengatan listrik di tubuh
  • Gejala seperti flu
  • Sakit perut

Baca Juga: Kecemasan Sosial saat Pandemi, Atasi dengan 7 Cara Ini

Dalam kebanyakan kasus, gejalanya ringan. Kasus yang parah jarang terjadi sehingga dokter mungkin harus mengurangi dosis secara bertahap untuk meminimalkan risiko gejala penarikan yang tidak menyenangkan.

  • https://www.cdc.gov/nchs/products/databriefs/db283.htm
  • https://www.nhs.uk/mental-health/talking-therapies-medicine-treatments/medicines-and-psychiatry/antidepressants/overview/
  • https://www.rcpsych.ac.uk/
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait