19 Mei 2023

12+ Penyebab Depresi yang Jarang Disadari, Waspada!

Kenali juga gejala yang dialami sehari-hari

Tidak sedikit hal-hal yang tampak sepele, namun dapat menjadi penyebab depresi.

Depresi adalah satu dari sekian penyakit mental yang bisa terjadi pada siapa saja.

Kondisi ini sering dikaitkan dengan kecemasan berlebihan, hilangnya motivasi, hingga badan lemas.

Moms mesti waspada akan penyebab depresi.

Sebab, jika sudah terjadi, gangguan kesehatan mental yang satu ini dapat memicu munculnya keinginan untuk bunuh diri.

Yuk, cari tahu selengkapnya tentang penyebab depresi, gejala, dan cara mengobatinya, Moms!

Baca Juga: 9 Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak, Wajib Tahu!

Perbedaan Stres dan Depresi

Moms mungkin pernah kesulitan membedakan stres dan depresi.

Nah, menurut dr. Ashwin Kandouw, Sp. KJ Dokter Spesialis Psikiatri RS Pondok Indah - Bintaro Jaya, stres bukan diagnosis.

"Stres itu bukan diagnosis. Stres itu adalah sebuah situasi.

Jadi orang stres itu artinya dia mengalami tekanan, mengalami kesulitan untuk bisa menghadapi atau beradaptasi dengan tekanan itu.

Nah itu situasinya namanya stres, jadi stres itu hanya sebuah situasi," jelas dr. Ashwin Kandouw.

Sedangkan kalau depresi adalah kumpulan gejalanya.

"Kalau depresi itu kita sebutnya sebuah diagnosis, sebuah entitas penyakit. Kalau stres itu bukan entitas penyakit, itu keadaan saja," jelasnya.

Gejala Umum Depresi

Pria Depresi
Foto: Pria Depresi (Freepik.com/jcomp)

Tidak semua orang dengan depresi akan mengalami gejala yang sama.

Faktanya, gejala depresi dapat bervariasi. Begitu juga dengan kekambuhan, keparahan, durasi saat gejala terjadi.

Moms patut curiga mengalami depresi jika merasakan kondisi di bawah ini selama lebih dari 2 minggu:

  • Merasa sedih, cemas, atau kosong
  • Sering menangis
  • Merasa terganggu, kesal, atau marah
  • Kehilangan minat atau aktivitas yang sebelumnya menjadi hobi
  • Penurunan energi atau kelelahan berlebih
  • Kesulitan berkonsentrasi, mengingat, atau membuat keputusan
  • Sulit tidur di malam hari

Sakit fisik kronis tanpa penyebab yang jelas dan tidak membaik dengan obat-obatan juga bisa menjadi tanda depresi.

Guna memastikan diagnosis depresi, Moms harus berobat ke psikolog atau psikiater.

Jangan biarkan gejala depresi terus terjadi, karena bisa mengganggu aktivitas, bahkan menurunkan kualitas hidup sepenuhnya.

Ini dia gejala depresi menurut dr. Ashwin Kandouw.

Dua gejala depresi utamanya adalah:

  • Sedih berkepanjangan lebih dari dua minggu
  • Mengalami pengurangan atau kehilangan kesenangan dari hobi-hobi yang biasanya senang dilakukan.

Itu dua gejala utamanya, sedangkan gejala penyertanya ada beberapa, seperti:

  • Kehilangan tenaga.
  • Penurunan konsentrasi, mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas-tugasnya seperti biasa.
  • Adanya gangguan tidur, seperti susah tidur dan sering terbangun-bangun.
  • Perubahan nafsu makan, seperti penurunan nafsu makan atau makan berlebih.
  • Ada kecenderungan menarik diri dari pergaulan. Dari yang suka bergaul, menjadi menutup diri, menutup jendela dan gelap-gelapan.
  • Mengalami penurunan kepercayaan diri, biasanya percaya diri bisa berubah menjadi ragu, takut karena tidak percaya diri.
  • Kesulitan mengambil keputusan bahkan hal-hal kecil sekalipun.
  • Menjadi pesimis dan merasa diri tidak berharga.

"Jika sudah berat, terdapat dua gejala yang sudah dianggap merupakan gejala berat depresi, yaitu mulai melukai dirinya sendiri dan kecenderungan mengakhiri hidup.

Nah itulah dua tanda yang harus diwaspadai jika penderita depresi sudah masuk ke tahap berat," kata dr. Ashwin Kandouw.

Baca Juga: Gangguan Tidur karena Stres, Apa Penyebabnya?

Faktor Risiko dan Penyebab Depresi

Depresi biasanya muncul sebagai hasil dari kombinasi peristiwa terbaru dan trauma di masa lalu.

Waspada, Moms, berikut ini beberapa hal yang dapat menjadi faktor risiko depresi:

1. Pengalaman Pribadi

Masalah Pribadi
Foto: Masalah Pribadi (Freepik.com)

Penyebab depresi yang paling sering, yaitu karena adanya tekanan kehidupan yang muncul tiba-tiba atau berlangsung lama.

Tekanan ini bisa berasal dari pengalaman masa lalu atau terjadi baru-baru ini.

Risiko depresi bisa meningkat apabila Moms tidak bisa mengendalikan diri dan 'tenggelam' dalam kondisi tersebut.

2. Riwayat Keluarga

National Health Services (NHK) menilai bahwa penyebab depresi juga bisa datang dari faktor internal.

Depresi dapat terjadi dalam keluarga dan menurun sebagai kondisi genetik (diwariskan).

Jadi, jika terdapat salah satu anggota keluarga yang pernah depresi, maka Moms lebih berisiko untuk mengalami kondisi serupa.

Kendati begitu, memiliki orang tua atau kerabat dekat dengan depresi tidak serta-merta membuat Moms mengalami kondisi tersebut.

Sebab, setiap orang memiliki fase kehidupan yang berbeda-beda.

Beban hidup yang ditanggung pun tidak akan sama, sekalipun masih dalam satu garis keluarga.

Intinya, selama Moms bisa menerapkan gaya hidup dan pola makan sehat, risiko depresi bisa diminimalkan sekalipun terdapat riwayat penyakit tersebut di dalam keluarga.

3. Kepribadian Terganggu

Gejala dan Penyebab Depresi
Foto: Gejala dan Penyebab Depresi (Freepik.com)

Kondisi kepribadian juga memainkan peran dalam menentukan risiko depresi.

Risiko Moms untuk mengalami depresi bisa lebih tinggi apabila memiliki kecenderungan untuk merasa khawatir, memiliki konsep diri rendah, dan perfeksionis.

Risiko depresi juga bisa tinggi pada orang-orang yang sangat sensitif terhadap kritik atau terlalu kritis pada diri sendiri.

Baca juga: Ingin Mencoba Tes Usia Mental? Ini Link dan Cara Mainnya, Yuk Coba!

4. Kecanduan Obat-obatan

Stres dalam menghadapi dan menjalani perawatan penyakit serius dapat meningkatkan risiko depresi.

Risiko ini bisa meningkat apabila penyakit tersebut bersifat kronis alias berlangsung lama.

Kecanduan obat-obatan dan alkohol juga bisa meningkatkan risiko depresi.

Sebaliknya, orang-orang yang depresi pun lebih berisiko untuk menyalahgunakan obat-obatan terlarang dan alkohol.

5. Gangguan Hormon Tiroid

Adiksi dan Penyebab Depresi
Foto: Adiksi dan Penyebab Depresi (Freepik.com)

Beberapa orang mungkin memiliki tiroid yang kurang aktif (hipotiroidisme) akibat satu dan lain hal.

Selain menyebabkan gejala fisik, kondisi tersebut juga konon dapat meningkatkan risiko depresi.

Moms yang mengalami hipotiroidisme sebaiknya lebih waspada akan risiko ini.

Segera berobat ke psikolog atau psikiater jika curiga mengalami gejala-gejala depresi, ya, Moms!

Baca Juga: 4 Resep Zuppa Sup untuk Hidangan Hangat Keluarga

6. Perubahan Biologis

Perubahan biologis pada tubuh juga bisa meningkatkan risiko depresi.

Salah satu perubahan biologis yang dimaksud, misalnya tak bisa lagi melakukan aktivitas yang disenangi karena sudah terlalu tua.

Selain itu, beberapa pria juga lebih mungkin mengalami depresi saat mengalami perubahan biologis, di mana penis tak bisa lagi ereksi (disfungsi ereksi).

Pada wanita, menopause, diyakini dapat meningkatkan risiko depresi, khususnya jika gejalanya tidak dikendalikan dengan baik.

Jadi, waspada, ya, Moms dan Dads!

7. Pikiran Negatif

Pikiran Negatif
Foto: Pikiran Negatif (Kendraburrows.com)

Pengalaman dan cara berpikir menentukan bagaimana Moms menjalani kehidupan.

Hal ini juga mempengaruhi bagaimana Moms menanggapi suatu peristiwa yang terjadi dalam hidup.

Bisa saja, peristiwa tersebut memberikan beban yang sangat berat pada pikiran Moms.

Hal inilah yang memicu tumbuhnya bibit negatif dalam pikiran, yang pada akhirnya memicu munculnya perasaan stres dan depresi.

Baca Juga: Kekurangan Kalsium Saat Hamil, Waspada Risiko Osteoporosis!

8. Konflik Keluarga

Depresi sering kali dipicu oleh situasi kehidupan yang sangat menegangkan atau peristiwa trauma.

Peristiwa tersebut, seperti kematian orang yang dicintai, pindah tempat tinggal, pindah sekolah, perceraian, kesulitan keuangan, atau kehilangan pekerjaan.

Melansir WebMD, konflik keluarga menjadi salah satu penyebab depresi yang cukup sering ditemukan.

Bibit negatif bisa tumbuh dari pola asuh yang kaku, dipenuhi kritik, atau perfeksionis.

Pola asuh demikian dapat membentuk anak menjadi pesimis dan melihat dunia dengan cara negatif.

Cepat atau lambat, hal tersebut bisa membuat Si Kecil lebih berisiko mengalami depresi.

9. Isolasi Sosial atau Menyendiri

Stres Bekerja
Foto: Stres Bekerja (Womenshealth.gov)

Perdebatan atau pertengkaran terkadang tidak bisa dihindari ketika menjalani kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut bisa berkaitan dengan masalah keluarga, pekerjaan yang tak ada habisnya, atau tempat kerja yang penuh tekanan.

Jika tidak diusut hingga tuntas, kondisi demikian bisa memberikan beban berlebih pada pikiran.

Cepat atau lambat, hal ini bisa memicu stres, yang jika tidak segera diatasi bisa berujung pada depresi.

Parahnya lagi, ketika depresi sudah terjadi, seseorang akan cenderung menarik diri dari lingkungan sekitar.

Bukannya baik, hal ini justru bisa membuat keluhan depresi bertambah parah.

Baca Juga: Amitriptilin untuk Atasi Depresi: Fungsi, Jenis, Dosis, dan Efek Samping

10. Baru Saja Melahirkan (Postpartum Depression)

Beberapa wanita sangat rentan mengalami depresi setelah kehamilan.

Perubahan hormonal dan fisik, serta tanggung jawab menjadi ibu baru dapat menyebabkan depresi pasca melahirkan.

Kelahiran bayi dapat memicu perasaan campur aduk yang terbalut dengan emosi kuat.

Perasaan-perasaan tersebut bisa sangat senang, yang kemudian berubah menjadi kesedihan.

Faktanya, sebagian besar wanita yang baru pertama kali melahirkan mengalami kondisi yang disebut baby blues.

Kondisi ini menyebabkan gangguan suasana hati dan kesulitan tidur di malam hari.

Apabila tidak segera diatasi, kondisi tersebut bisa memicu munculnya stres yang berujung depresi.

11. Kekurangan Vitamin

Kekurangan Vtamin B12
Foto: Kekurangan Vtamin B12 (Orami Photo Stocks)

Tahukah Moms bahwa penyebab depresi ternyata ada yang berkaitan dengan kekurangan vitamin?

Dugaan menyebut bahwa kurangnya asupan vitamin B, termasuk B12, B6, dan B9 (folat), dapat meningkatkan risiko depresi.

Perlu Moms tahu, vitamin-vitamin tersebut dapat membantu otak mengatur suasana hati.

Bahkan, vitamin B6 berperan dalam meredakan gejala dari depresi itu sendiri.

Karenanya, ketika tubuh kekurangan vitamin tersebut, risiko depresi bisa saja meningkat.

Waspada, kondisi kekurangan vitamin bisa terjadi akibat pola makan yang buruk.

Kondisi tersebut pun bisa terjadi saat tubuh memiliki kelainan, di mana tidak mampu menyerap nutrisi dari makanan yang dikonsumsi.

Baca Juga: Mengenal Emotional Eating, Makan Berlebihan saat Stres

12. Efek Samping Obat-obatan

Pada kasus tertentu, obat-obatan dapat menyebabkan efek samping berupa gangguan suasana hati yang berujung depresi.

Beberapa obat yang dapat mencetuskan efek samping tersebut, misalnya barbiturat dan benzodiazepin.

Demikian juga dengan obat-obatan kortikosteroid, opioid (kodein, morfin), dan antikolinergik.

Bahkan, obat tekanan darah yang disebut beta-blocker telah dikaitkan dengan risiko depresi.

Atas dasar itu, jika Moms mengalami gangguan suasana hati yang parah setelah mengonsumsi obat-obatan tersebut, segera berkonsultasi dengan dokter, ya!

Hal ini bertujuan untuk memastikan dosis, sehingga risiko munculnya efek samping yang berujung depresi dapat diminimalkan.

13. Penyakit Kronis

Penyakit Kronis
Foto: Penyakit Kronis (Orami Photo Stocks)

Seseorang mungkin memiliki risiko depresi yang lebih tinggi jika memiliki penyakit yang sudah berlangsung lama.

Pemicu dari depresi ini umumnya karena penyakit yang mengancam jiwa, seperti penyakit jantung koroner atau kanker.

Adanya benturan keras pada kepala juga dapat menjadi penyebab depresi yang sering tidak disadari.

Cedera kepala yang parah dapat memicu perubahan suasana hati dan masalah emosional.

Jangankan penyakitnya, pengobatan untuk kondisi ini pun bisa meningkatkan risiko depresi pada beberapa orang.

Sebab, penyakit parah tersebut memerlukan waktu yang cukup lama untuk bisa membaik.

Semakin lama pengobatan, semakin banyak pula biaya dan waktu yang dibutuhkan.

Hal-hal tersebut, pada beberapa kasus, dapat menyebabkan gangguan suasana hati yang memicu stres dan depresi.

Baca Juga: Kok Bisa Stres Saat Liburan? Intip Penyebab dan Tips Mengatasinya!

Waktu yang Dibutuhkan Hingga Seseorang Didiagosis

Ilustrasi Depresi
Foto: Ilustrasi Depresi (shutterstock.com)

Durasi seseorang dinyatakan depresi nyatanya cukup beragam nih, Moms tergantung dari tingkat keparahan.

"Sebenarnya ketika dokter sudah bertemu dengan pasien dan gejala-gejalanya jelas, maka diagnosisnya akan mudah.

Tapi, masalahnya adalah dari orang menderita depresi sampai mencari pertolongan, durasinya bisa berbeda," kata dr. Ashwin Kandouw.

Jadi, tergantung dari setiap pasien, ya Moms.

Beberapa pasien bisa berprogres dengan cepat, dalam waktu singkat gejalanya langsung memburuk dan kepercayaan dirinya jadi sangat turun.

Tapi ada juga yang bertahap, jadi tergantung pada kondisi masing-masing.

Baca juga: Aktor Jeon Tae Soo Meninggal Akibat Depresi, Ini 8 Cara Mengatasi Depresi yang Harus Kita Tahu

Komplikasi Depresi

Penyakit Diabetes
Foto: Penyakit Diabetes (Medicalnewstoday.com)

Setiap orang mengalami depresi dengan cara yang berbeda.

Namun, intinya, kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Parahnya lagi, pekerjaan juga bisa terganggu akibat kurang produktif lantaran sering merasa lelah dan tidak memiliki motivasi.

Akibatnya, keadaan tersebut turut memengaruhi hubungan dan beberapa kondisi kesehatan fisik.

Kondisi gangguan fisik yang bisa terjadi atau bertambah buruk akibat depresi, antara lain:

Penting untuk disadari bahwa merasa sedih sesekali adalah bagian normal dalam kehidupan.

Peristiwa menyedihkan dan menjengkelkan juga bisa terjadi pada semua orang, lho.

Hal yang perlu Moms sadari, jangan sampai kesedihan tersebut mengambil alih diri Moms sepenuhnya.

Sebab, hal tersebutlah yang menjadi cikal bakal munculnya depresi, yang bisa berujung pada keinginan bunuh diri.

Baca Juga: Mengenal Dinding Roster Sekaligus Kelebihan dan Kekurangannya

Pencegahan Depresi

Ilustrasi Depresi
Foto: Ilustrasi Depresi (Freepik.com/thongden_studio)

Sayangnya, depresi tidak bisa dicegah, Moms. Sebab, bisa dikatakan depresi datang begitu saja.

"Sebetulnya depresi tidak bisa dicegah. Tidak ada cara yang betul-betul mencegah agar orang tidak mengalami depresi.

Tapi, paling tidak hidup sehat, menjauhi masalah, itu yang paling bisa kita lakukan. Namun, jika sudah depresi pun tetap sebaiknya berobat dan diatasi," jelas dr. Ashwin Kandouw.

Moms, demikian sekilas fakta tentang penyebab depresi.

Ingatlah untuk tidak menganggap sepele kondisi ini.

Segera berkonsultasi ke psikolog atau psikiater apabila Moms mengalami gejala-gejala depresi.

Semakin dini diobati dan diatasi, kemungkinan untuk sembuh dan kembali normal lagi akan semakin tinggi.

  • https://www.nhs.uk/mental-health/conditions/clinical-depression/causes/
  • https://www.healthline.com/health/depression#symptoms
  • https://www.webmd.com/depression/guide/causes-depression
  • https://www.health.harvard.edu/mind-and-mood/what-causes-depression

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.