21 Februari 2023

Mengenal Penyakit Jantung Koroner, Bisakah Sembuh Total?

Bisa terjadi karena gaya hidup yang buruk, seperti merokok

Moms pasti sudah tidak asing dengan penyakit jantung koroner, bukan?

Penyakit jantung adalah salah satu kondisi yang tidak bisa diremehkan, lantaran bisa berdampak sangat fatal.

Kondisi ini bisa dialami oleh siapa saja dan dari berbagai kalangan usia. Artinya, penyakit ini tak hanya menyerang lansia.

Yuk, cari tahu penjelasan tentang penyakit jantung koroner yang kerap terjadi di Indonesia!

Baca Juga: 13 Efek Sering Berhubungan, Bisa Meningkatkan Risiko Serangan Jantung!

Pengertian Penyakit Jantung Koroner

Pemeriksaan Jantung
Foto: Pemeriksaan Jantung (Orami Photo Stock)

Penyakit jantung koroner (PJK) adalah kondisi yang terjadi ketika suplai darah jantung tersumbat, sehingga mengakibatkan penumpukan zat lemak di arteri koroner.

Seiring waktu, dinding arteri pada jantung akan dipenuhi dengan timbunan lemak.

Prosesnya dikenal dengan aterosklerosis dan timbunan lemak disebut ateroma.

Aterosklerosis dapat terjadi akibat gaya hidup tidak sehat, seperti merokok dan minum alkohol secara berlebihan.

Seperti yang Moms ketahui bahwa jantung merupakan organ yang berukuran sebesar kepal tangan orang dewasa, dan fungsinya sangat vital bagi tubuh.

Jantung bekerja dengan memompa darah bersih mengandung oksigen untuk diantarkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah arteri.

Setelah darah yang mengandung oksigen, nutrisi, serta senyawa penting lainnya terdistribusi ke organ-organ, maka darah akan kembali ke jantung.

Baca Juga: 15 Gerakan Olahraga Mengecilkan Perut dan Paha, Bye-Bye Lemak Jahat!

Hal tersebut dengan membawa sisa-sisa metabolisme dan karbondioksida melalui pembuluh vena.

Siklus aliran darah dari dan ke jantung akan terus berulang selama masa kehidupan manusia.

Layaknya organ tubuh lain, jantung juga membutuhkan oksigen dan nutrisi, serta zat lainnya agar tetap dapat berfungsi dengan baik.

Biasanya, semua kebutuhan jantung diantarkan melalui arteri koroner.

Nah, jika arteri koroner bermasalah, maka akan menyebabkan berbagai kondisi, salah satunya adalah penyakit jantung koroner (PJK).

Baca Juga: Lisinopril, Obat untuk Mengatasi Hipertensi dan Penyakit Jantung

Gejala Penyakit Jantung Koroner

Ilustrasi Pemeriksaan Jantung
Foto: Ilustrasi Pemeriksaan Jantung (Freepik.com/DCStudio)

Penyakit jantung koronar tahap awal biasanya belum menyebabkan terjadinya gejala apa pun.

Sebab, terbentuknya plak-plak hingga terjadi penumpukan di arteri membutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan hingga bertahun-tahun.

Namun, ketika arteri telah menyempit atau tersumbat, pasien akan memperlihatkan sejumlah gejala.

Gejala tersebut menandakan bahwa jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah dan oksigen ke seluruh organ di dalam tubuh.

Sifat penyakit jantung koroner yang paling umum terlihat adalah sesak napas dan nyeri dada, yang dapat terjadi meski sedang melakukan kegiatan ringan.

Pada sebagian orang, gejala penyakit jantung koroner masih sering dianggap biasa saja, sampai ketika mengalami kondisi serangan jantung.

Gejala-gejala serangan jantung, meliputi:

  • Sakit kepala ringan dan pusing
  • Tubuh lemas dan lelah
  • Rasa tidak nyaman di dada, seperti berat dan tertekan, serta dapat menjalar hingga leher dan punggung
  • Perut mual
  • Tubuh keringat dingin

Baca Juga: 18 Buah yang Bagus untuk Jantung, Ada Buah Delima!

Penyebab Penyakit Jantung Koroner

Ilustrasi Jantung Koroner
Foto: Ilustrasi Jantung Koroner (Freepik.com/Freepik)

Berdasarkan penelitian di Official Journal of Gulf Heart Association, penyebab penyakit jantung koroner terbagi menjadi dua, yaitu faktor yang dapat dikendalikan dan tidak dapat dikendalikan.

Contoh faktor yang dapat dikendalikan, yaitu kebiasaan merokok, minum alkohol, kurang gerak, dan mengonsumsi makanan tinggi kolesterol.

Sementara itu, faktor yang tidak dapat dikendalikan adalah keturunan atau adanya riwayat keluarga, usia, dan jenis kelamin.

Berikut di bawah ini penjelasan untuk masing-masing penyebab jantung koroner:

1. Merokok

Merokok adalah penyebab nomor satu penyakit jantung koroner.

Perlu diketahui, bahwa kandungan nikotin dan karbon monoksida pada rokok sangat berbahaya bagi jantung dan pembuluh darah.

Hal ini akan menyebabkan terjadinya penumpukan plak pada dinding pembuluh darah, sehingga terjadilah penyempitan.

Selain itu, banyak merokok akan membuat darah pada tubuh menjadi tidak bersih.

Jantung pun akhirnya harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh, yang juga dapat mengakibatkan pembuluh darah rusak.

Baca Juga: Menyusui Bisa Menurunkan Risiko Penyakit Jantung? Yuk, Simak Penjelasannya!

2. Kolesterol Tinggi

Bagi Moms yang suka dan sering mengonsumsi makanan berlemak, besar kemungkinan dapat memicu penyakit jantung koroner.

Lemak akan menumpuk pada dinding arteri jika kolesterol terlalu tinggi. Keadaan ini dikenal pula sebagai aterosklerosis.

Lemak yang terus mengalami penumpukan lama-kelamaan akan menyebabkan pembuluh arteri menyempit, sehingga aliran darah ke jantung pun terhambat.

Akibatnya, dada akan terasa nyeri dan memicu sejumlah gejala-gejala lainnya.

3. Jarang Bergerak

Jantung koroner bisa sangat berbahaya, terutama jika disebabkan oleh kurangnya bergerak atau berolahraga.

Kurang bergerak dan tidak berolahraga secara teratur dapat menyebabkan proses pembakaran lemak menurun.

Lemak-lemak yang tidak terbakar tersebut akan menumpuk di arteri yang seringkali dikenal sebagai kolesterol jahat.

Jika terus terjadi dan penumpukan lemak semakin meningkat, maka akan memicu penyakit jantung koroner.

4. Faktor Keturunan

Tidak dimungkiri, faktor keturunan menjadi salah satu penyebab penyakit koroner.

Jika memiliki keluarga dengan riwayat penyakit jantung koroner di usia dini, bisa jadi anggota keluarga lainnya juga mengalami hal yang sama.

Apabila sudah seperti itu, segera memeriksakan diri ke dokter.

Hal ini guna memperoleh informasi terkait kemungkinan kondisi yang dialami, sehingga dapat menurunkan risiko di kemudian hari.

5. Jenis Kelamin

Diyakini bahwa pria memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami penyakit jantung koroner.

Pasalnya, selama usia produktif, seorang wanita memiliki hormon estrogen yang bertugas mencegah terbentuknya plak aterosklerosis.

Namun, ketika memasuki usia menopause alias saat hormon estrogen sudah tak lagi diproduksi oleh tubuh, maka risiko penyakit penyakit jantung koroner pada wanita dapat meningkat lebih tinggi.

Terlepas dari itu, pria atau wanita di usia berapa pun tetap bisa berisiko mengalami penyakit mematikan tersebut.

6. Usia

Semakin usia yang bertambah, semakin tua pula usia organ-organ di dalam tubuh, termasuk jantung.

Artinya, pada orang-orang yang berusia lebih tua, organ jantung dan pembuluh darah akan mengalami penurunan fungsi.

Cepat atau lambat, hal tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.

Risiko bisa semakin tinggi apabila seseorang tidak menerapkan gaya hidup dan pola makan sehat sejak dini.

Kendati demikian, penyakit jantung koroner juga bisa terjadi pada orang usia muda, khususnya jika memiliki faktor-faktor lain yang telah disebutkan sebelumnya.

Baca Juga: Serba-serbi Penyakit Jantung Lemah, Bisa Sebabkan Gagal Jantung Jika Tak Diobati

Diagnosis Penyakit Jantung Koroner

Ilustrasi Diagnosis Jantung Koroner
Foto: Ilustrasi Diagnosis Jantung Koroner (Freepik.com/Jcomp)

Pada tahap awal diagnosis jantung koroner, dokter akan melakukan pengecekan riwayat kesehatan pasien, riwayat keluarga, gaya hidup, serta melakukan tes darah.

Adapun beberapa tes lebih lanjut yang diperlukan, yaitu:

1. Tes Treadmill

Tes treadmill dilakukan untuk skrining atau deteksi pasien yang memiliki gangguan fungsi jantung seperti gangguan irama jantung (aritmia) dan penyakit jantung koroner.

2. CT Scan

Pemeriksaan ini menggunakan sinar-X dan komputer untuk menghasilkan gambar 3D dari bagian dalam tubuh.

3. Pemindaian MRI

Pemindaian yang menggunakan medan magnet dan gelombang radio yang kuat untuk menghasilkan gambar detail bagian dalam tubuh.

4. Prosedur Angiografi Koroner

Ini merupakan prosedur khusus yang mengambil gambar rontgen jantung secara dinamis.

Baca Juga: Cara Meningkatkan Saturasi Oksigen, Salah Satunya Berlatih Pernapasan!

Mengenal Obat ISDN untuk Penyakit Jantung Koroner

Ilustrasi ISDN atau Isosorbide Dinitrate
Foto: Ilustrasi ISDN atau Isosorbide Dinitrate (Pexels.com/Dids)

ISDN merupakan kepanjangan dari Isosorbide Dinitrate yang merupakan obat untuk melebarkan pembuluh darah.

Seperti yang sudah disinggung di atas, jantung koroner merupakan kondisi karena adanya sumbatan di jantung.

Hal ini senada dengan penjelasan dr. Johan Winata, Sp.JP (K), FIHA (Spesialis Jantung & Pembuluh Darah Konsultan Kardiologi Intervensi) - RS Pondok Indah, Puri Indah.

Dalam pembuluh darah kita itu dia bisa membesar maupun mengecil.

Nah, salah satu zat yang bisa melebarkan pembuluh darah untuk memperbesar pembuluh darah kita sebut sebagai nitric oxide.

"Nitrat itu merupakan salah satu turunan dari ataupun kesamaan dari nitric oxide," jelas dr. Johan Winata.

Jadi, dr. Johan Winata menambahkan ISDN memiliki kemampuan untuk melebarkan pembuluh darah.

Karena kemampuannya ini, sering diberikan pada pasien dengan penyakit jantung koroner stabil.

"Kalau ada nyeri dada, tidak hilang dalam jangka waktu tertentu, itu diberikan ISDN bisa membantu untuk mengurangi gejala," kata dr. Johan Winata.

Tapi, obat ini tidak disarankan bagi penderita serangan jantung, meski sebenarnya bisa juga membantu mengobati serangan jantung.

Jika obat ini dikonsumsi pada kasus serangan jantung, tentunya akan menimbulkan risiko.

Baca Juga: Kenali Inviclot, Obat Pencegah Penggumpalan Darah

Penggunaan ISDN (bagi kasus serangan jantung) ini bisa juga diberikan.

Tapi memiliki risiko juga seperti halnya kalo misalkan serangan jantung terjadi karena sumbatan pembuluh darah di sebelah kanan.

Di mana efek dari serangan jantung di pembuluh darah kanan ini salah satunya adalah hipotensi atau tekanan darah yang turun.

"Ketika kita berikan nitrat maka, tekanan darah akan semakin turun dan itu akan membahayakan sebenarnya untuk pasien," ungkap dr. Johan Winata.

Maka, penggunaan ISDN atau Isosorbide Dinitrate bagi kasus serangan jantung memiliki risiko menurunkan tekanan darah dan mengakibatkan hipotensi, ya Moms.

Baca Juga: Selain Nyeri Dada, Ini 5 Gejala Lain Serangan Jantung

Perbedaan Serangan Jantung dan Penyakit Jantung Koroner

Ilustrasi Penyakit Jantung
Foto: Ilustrasi Penyakit Jantung (Freepik.com/Jcomp)

Sifat penyakit jantung koroner memang terlihat mirip dengan serangan jantung.

Tapi, tentunya ini merupakan kondisi yang berbeda dan sangat bisa dibedakan dari gejalanya.

"Gejala penyakit jantung koroner itu mesti kita bedakan antara serangan jantung ataupun kita sebut sebagai angina pectoris atau dan terminologi saat ini di bagian jantung itu dikenal sebagai kronik koroner sindrom," kata dr. Johan Winata.

Hal utama yang menjadi pembeda antara serangan jantung dan PJK adalah kasus serangan jantung bisa terjadi dalam kondisi apa pun.

Misalkan, saat istirahat, saat olahraga, atau pada saat aktivitas seperti biasa. Tapi, nyeri yang ditimbulkan sangat hebat dan lebih lama.

Bahkan disertai juga dengan gejala-gejala lain, seperti keringat dingin, sesak napas, dan jantung berdebar.

"Salah satu yang berbeda dari serangan jantung dan penyumbatan adalah kalau serangan jantung itu biasa pembuluh darah tersumbat 100%, tapi kalau penyumbatan itu biasa masih ada darah yang bisa melewati segmen sumbatan," terangnya.

Jadi, kalau sumbatan pembuluh darah itu gejalanya lebih banyak pada waktu aktivitas.

Misalkan kalau naik tangga, lari, itu timbul nyeri dada tapi ketika kita istirahat, nyeri dadanya hilang.

Nah, itu kita sebut sebagai angina pectoris atau kronik koroner sindrom.

"Nah, tapi kalau berbicara mengenai serangan jantung ya, itu ada sumbatan 100%," tambah dokter.

Baca Juga: Serba-serbi Penyakit Jantung Lemah, Bisa Sebabkan Gagal Jantung Jika Tak Diobati

Cara Mengatasi Penyakit Jantung Koroner

Ilustrasi Cara Mengatasi Jantung Koroner
Foto: Ilustrasi Cara Mengatasi Jantung Koroner (Freepik.com/Shayne_ch13)

Kondisi ini tidak dapat disembuhkan, namun untuk mengurangi gejala yang dirasakan.

Biasanya dokter akan menyarankan rangkaian gaya hidup sehat, serta penggunaan obat-obatan untuk mencegah kondisi semakin memburuk.

Berikut beberapa obat-obatan yang biasa diresepkan oleh dokter, antara lain:

  • Beta Blocker: bertujuan untuk meringankan hipertensi, dan sejumlah masalah pada jantung, seperti aritmia dan nyeri dada.
  • Obat nitrogliserin: berfungsi untuk mengurangi nyeri pada dada.
  • ACE Inhibitor: untuk mengontrol hipertensi, bekerja dengan membuat pembuluh darah menjadi rileks.
  • Antagonis kalsium: mengatasi penyakit jantung dan hipertensi yang bekerja dengan mencegah senyawa kalsium masuk ke dalam jantung, dan melebarkan pembuluh darah.

Baca Juga: Hari Jantung Sedunia, Yayasan Jantung Indonesia Ajak Masyarakat Hidup Sehat

Apakah Penyakit Jantung Koroner Bisa Sembuh?

Ilustrasi Detak Jantung
Foto: Ilustrasi Detak Jantung (Orami Photo Stock)

Jantung koroner adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Namun, penyakit ini dapat diterapi dengan berbagai pengobatan untuk meredakan gejalanya.

Pengobatan bertujuan untuk mengurangi kemungkinan masalah lainnya, seperti serangan jantung.

Melansir National Heart Services, penderita penyakit jantung koroner dapat tetap hidup normal asalkan melakukan gaya hidup dan pola makan sehat.

Dokter nantinya akan membantu menangani aspek-aspek kehidupan yang mungkin terpengaruh oleh penyakit jantung koroner.

Mencegah Penyakit Jantung Koroner

Ilustrasi Makanan Sehat
Foto: Ilustrasi Makanan Sehat (Freepik.com/Denamorado)

Mengontrol kadar kolesterol darah dapat membantu mengurangi risiko terjadinya jantung koroner.

Adapun cara mengontrolnya, yaitu:

1. Konsumsi Makanan Sehat

Mengonsumsi makanan sehat yang mengandung serat, protein, asam lemak omega-3, dan sejumlah nutrisi lainnya yang mendukung kesehatan jantung.

2. Rutin Kontrol Kondisi Kesehatan

Rutin mengontrol kondisi kesehatan yang dialami, seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol dapat membantu Moms mengetahui apa saja masalah yang ada di dalam tubuh.

3. Hindari Alkohol dan Rokok

Merokok tidak hanya buruk bagi jantung, namun juga dapat memberi efek negatif pada tubuh secara keseluruhan.

4. Rajin Berolahraga

Upayakan selalu bergerak aktif. Minimal lakukan jalan kaki selama 30 menit, sebanyak 5 kali dalam seminggu.

Selain baik untuk kesehatan jantung, rutin berolahraga juga dapat menurunkan berat badan dan mengurangi stres.

Baca Juga: Manfaat Minum Cokelat, Jaga Kesehatan Jantung dan Tingkatkan Mood!

Selain menerapkan gaya hidup dan pola makan sehat, melakukan medical check up secara rutin juga penting untuk mendeteksi masalah jantung sejak dini.

Mengetahui risiko penyakit lebih awal dapat mencegah kondisi menjadi semakin buruk.

Yuk, lakukan gaya hidup dan pola makan sehat sejak sekarang, agar terhindar dari penyakit jantung koroner di kemudian hari!

  • https://www.nhs.uk/conditions/coronary-heart-disease/#:~:text=Coronary%20heart%20disease%20is%20the,furred%20up%20with%20fatty%20deposits.
  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/16898-coronary-artery-disease#symptoms-and-causes
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/184130#treatment
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5686931/#:~:text=There%20are%20many%20risk%20factors,activity%3B%20unhealthy%20diet%20and%20stress.
  • https://www.nhs.uk/conditions/coronary-heart-disease/#:~:text=Coronary%20heart%20disease%20cannot%20be,regular%20exercise%20and%20stopping%20smoking

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.