03 Maret 2023

Mengenal Emotional Eating, Makan Berlebihan saat Stres

Perlukah waspada dengan “emotional eating” selama hamil?

Emotional eating menjadi hal yang bisa dirasakan oleh banyak orang.

Bahkan, terkadang kita melakukan emotional eating tanpa disadari dan menganggapnya sebagai hal yang normal.

Apakah Moms mengalami hal yang namanya emotional eating?

Bila Moms cenderung makan banyak saat marah atau mengalami depresi, atau mencoba mengendalikan emosi melalui makanan dan mencoba mengubahnya bisa jadi itu salah satu gejala emotional eating.

Yuk ketahui apa itu emotional eating lebih dalam di sini!

Baca Juga: Terlihat Mirip, Ini Perbedaan Squalane dan Squalene dalam Skincare

Apa Itu Emotional Eating?

emotional eating
Foto: emotional eating (Orami Photo Stock)

Emotional eating adalah kebiasaan mengonsumsi makanan kesukaan secara berlebihan saat stres meski sedang tidak lapar.

Bagi penderita kelainan ini, saat sedang marah, stres, maupun sedih, beberapa dari mereka mencari makanan untuk menenangkan emosi.

Makanan biasanya dijadikan sebagai pengalih perhatian.

Namun, tak jarang pula emotional eating dialami oleh seseorang yang sedang berbahagia karena mereka menganggap makanan sebagai ‘self-reward’ untuk pencapaian yang berhasil mereka raih.

Dalam jangka pendek, stres dapat menurunkan nafsu makan akibat pelepasan hormon epinefrin oleh kelenjar adrenal tubuh.

Bila terus berlangsung, stres menyebabkan pelepasan hormon kortisol yang dapat meningkatkan nafsu makan.

Sayangnya, jenis makanan yang dikonsumsi penderita emotional eating ini umumnya tergolong tidak sehat. Seperti, makanan tinggi gula dan lemak, terlalu gurih, dan lain-lain.

Emotional eating bisa terjadi pada siapa saja.

Namun menurut berbagai macam penelitian kondisi ini memang lebih banyak dan lebih umum dialami oleh perempuan jika dibandingkan dengan laki-laki,

Emotional eating bisa membuat menstruasi jarang atau bahkan berhenti.

Bila ini terjadi, tubuh tidak melepaskan telur (berovulasi) sebagaimana mestinya setiap bulannya. Hal ini bisa membuat sulit hamil.

Baca Juga: Begini Cara Menahan Kencing Saat Tidak Ada Toilet di Sekitar

Penyebab Emotional Eating

emotional eating
Foto: emotional eating (Orami Photo Stock)

Dilansir dari Journal of Eating Disorders, hal-hal yang berkaitan dengan stres bisa menjadi penyebab emotional eating.

Namun, setiap orang memiliki alasan berbeda mengapa mereka terus-menerus makan saat mengalami stres, seperti:

1. Masalah Percintaan

Galau, sedih, dan sakit hati adalah luapan emosi yang wajar dialami oleh siapa pun jika hubungan percintaannya bermasalah.

Namun hati-hati, rasa sedih setelah patah hati bisa bikin depresi yang menyebabkan emotional eating jika terus dipendam dan dibiarkan berlarut terlalu lama.

2. Tidak Mendapatkan Dukungan

Ketika Moms tengah tertimpa masalah terutama yang sangat berpengaruh terhadap hidup, dukungan orang-orang terdekat sangatlah diperlukan.

Tak hanya secara fisik, dukungan secara emosional juga dibutuhkan.

Bagi beberapa orang, dukungan emosional dapat membantu mereka untuk melewati masalah yang sedang dihadapi dengan baik.

Namun, sayangnya tidak sedikit lingkungan yang dapat memahami kondisi dan mendukung Moms sehingga membuat stres dan bahkan depresi.

Baca Juga: Cari Tahu 7 Zodiak Paling Keras Kepala, Apakah Moms atau Dads Salah Satunya?

3. Mengalami Masalah Kesehatan

Faktor penyebab stres yang berujung emotional eating lainnya adalah masalah kesehatan.

Seperti penuaan, diagnosis penyakit baru, dan gejala atau komplikasi dari penyakit saat ini dapat menjadi faktor penyebab stres.

Selain itu, meski tidak mengalami masalah kesehatan, Moms yang tinggal bersama dengan orang yang sedang menghadapi suatu penyakit juga bisa merasa stres.

4. Beban di Tempat Kerja

Stres berat di tempat kerja bisa menyebabkan Moms mengalami emotional eating.

Hal ini karena berbagai tekanan, mulai dari situasi hingga lingkungan kerja yang tidak mendukung.

Jika dibiarkan, selain memengaruhi kondisi mental, stres juga dapat memengaruhi kesehatan.

Stres ini tidak hanya berlaku pada pekerja yang bekerja di kantor, ya Moms.

Para pekerja freelance juga rentan mengalami stres.

5. Insomnia

Insomnia adalah gangguan tidur yang umum terjadi dan menyebabkan pengidapnya kesulitan untuk tidur.

Moms yang mengalami stres berat akan benar-benar kesulitan untuk tidur.

Stres yang terjadi dapat menyebabkan hyperarousal, yang dapat menyebabkan terganggunya keseimbangan antara tidur dan terjaga.

Hal ini dapat memicu Moms mengalami emotional eating.

6. Tekanan Situasional

Emotional eating juga bisa timbul dari tekanan situasional.

Misalnya, pandemi COVID-19 mengganggu rutinitas dan menyebabkan Moms tidak bisa bepergian sehingga merasa bosan.

Akhirnya, rasa bosan tersebut dialihkan dengan makan.
Baca Juga: Manfaat Bernyanyi Bagi Kesehatan, Yuk Seru-seruan Bareng Si Kecil!

Perbedaan Emotional Eating dan Ngidam

Perbedaan Emotional Eating dan Ngidam
Foto: Perbedaan Emotional Eating dan Ngidam (Orami Photo Stock)

Karena makanan tertentu meningkatkan aktivitas neurotransmitter di otak, makanan ini menciptakan perubahan biokimia lainnya yang memberikan kenyamanan.

Namun, ini hanya berlangsung singkat dan ketika emosi dan perasaan itu muncul setelah beberapa saat, Moms tetap harus menghadapinya.

Moms mengalami emotional eating yang melebihi ngidam biasa jika:

  • Makan tak terkendali terutama bila sedang marah atau depresi
  • Kerap makan diam-diam karena rasa malu atau bersalah
  • Sering makan banyak meskipun tidak lapar, dan terkadang sampai merasa eneg (mual)

Baca Juga: Review Popok Merries Pants VS Pampers Premium Care, Pilih yang Mana?

Emotional Eating selama Kehamilan

Emotional Eating selama Kehamilan
Foto: Emotional Eating selama Kehamilan

Dorongan untuk makan berlebihan bisa hilang selama kehamilan pada beberapa wanita. Tetapi penelitian menyebutkan pola makan berlebih sering berlanjut bahkan banyak wanita mengalami kelainan ini pertama kalinya saat hamil.

Kebanyakan wanita yang mengalami emotional eating pasti memiliki kelebihan berat badan atau obesitas. Jika ini terjadi, Moms juga memiliki masalah tertentu selama kehamilan, termasuk:

  • Tekanan darah tinggi dan terlalu banyak protein dalam urine (preeklamsia)
  • Gula darah tinggi saat hamil (gestational diabetes)
  • Kemungkinan operasi Caesar
  • Infeksi setelah bayi lahir
  • Kehilangan bayi sebelum lahir (keguguran)
  • Waktu persalinan lama, yang bisa meningkatkan komplikasi kelahiran
  • Memiliki bayi dengan cacat lahir
  • Kelahiran prematur, yang membuat bayi berisiko mengalami berbagai masalah kesehatan

Baca Juga: Mimisan pada Ibu Hamil, Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasinya!

Cara Mengatasi Emotional Eating

Cara Mengatasi Emotional Eating
Foto: Cara Mengatasi Emotional Eating (Freepik.com)

Jika Moms mengalami gangguan makan emotional eating saat hamil atau tidak, memerlukan dukungan ekstra untuk membantu Moms dan bayi tetap sehat dan tubuh Moms juga sehat.

Berikut ini cara mengatasi emotional eating yang bisa Moms lakukan:

1. Cari Penyebabnya

Langkah pertama yang perlu dilakukan untuk mengatasi emotional eating adalah mengenali pemicunya.

Carilah apa yang membuat stres melanda pikiran Moms.

Selanjutnya, kelola stres dengan baik dan cari solusinya agar stres tidak kembali melanda pikiran. 

2. . Kenali Rasa Lapar

Ketika muncul perasaan ingin makan, coba berdiam sejenak dan kenali rasa lapar.

Apakah Moms benar-benar lapar, atau rasa lapar itu hanya palsu?

Terlebih jika Moms sedang stres, sedih, atau marah lalu mulut terasa ingin mengunyah sesuatu.

Coba ingat apakah sebelumnya Moms sudah makan?

Jika Momssudah mengonsumsi cukup makanan sebelum emosi tersebut muncul, itu berarti perasaan lapar yang tengah dirasakan adalah palsu dan perlu mengalihkannya.

Baca Juga: Resusitasi Bayi Baru Lahir, Ini Hal-Hal yang Perlu Moms dan Dads Ketahui!

3. Olahraga

Olahraga adalah salah satu cara yang tepat untuk mengatasi emotional eating.

Sebuah penelitian Behavioural and Cognitive Psychotherapy, meneliti mengenai masalah hubungan yoga dan juga kesehatan mental seseorang.

Partisipan diminta untuk melakukan yoga selama delapan minggu.

Mereka pun kemudian dinilan berdasarkan perhatian dan pemahaman terhadap kegiatan ini dan juga kondisi mental yang diidap.

Hasil dari studi ini adalah yoga dilakukan secara rutin bisa menjadi kegiatan yang baik untuk membantu mengurangi perasaan gelisah dan juga depresi.

Jadi olahraga ini bisa efektif menghilangkan kekhawatiran Moms terhadap masalah kehidupan.

4. Menyediakan Makanan Sehat

Saat sedang stres atau gelisah, tak jarang Moms mencari camilan di lemari.

Jika terus menerus Moms mengonsumsi camilan bisa memengaruhi kesehatan, lho.

Melansir International Journal of Health Policy and Management memaparkan, perilaku dan kebiasaan makan yang tidak sehat meningkatkan risiko terkena penyakit:

  • kanker
  • obesitas
  • tekanan darah tinggi
  • penyakit kardiovaskular
  • diabetes.

Untuk mengatasinya, sediakan jenis makanan yang sehat, seperti buah dan sayuran.

Jika hanya tersedia makanan sehat, otomatis tidak ada pilihan lain Moms untuk mengonsumsinya.

Baca Juga: Melahirkan Normal Tanpa Rasa Sakit dengan ILA, Bagaimana Prosedurnya?

5. Membuat Buku Harian

Mencatat apa yang dimakan dan kapan memakannya dapat membantu Moms mengidentifikasi pemicu yang mengarah pada emotional eating.

Moms dapat menulis catatan di buku harian.

Meskipun terasa melelahkan, cobalah untuk memasukkan semua yang Moms makan seberapa besar atau kecil dan catat perasaan yang dirasakan saat itu.

6. Alihkan Perhatian

Alihkan perhatian Moms dari makanan ke hal yang lain seperti buku, musik, atau film.

Saat merasa tertekan akan sesuatu, cobalah untuk tidak berada dekat-dekat dengan makanan.

Sebaliknya, Moms bisa mengunjungi toko buku atau bioskop agar pikiran teralihkan tanpa harus menambah tumpukan lemak dan kalori dalam tubuh.

Moms juga bisa pergi ke tempat karaoke bersama teman-teman atau sekedar mendengarkan musik melalui earphone dan ikut bersenandung agar tubuh dan pikiran jadi lebih rileks.

Selain kegiatan di atas, Moms juga dapat mengalihkan perhatian dengan cara bermain-main dengan hewan peliharaan yang dimiliki.

Faktanya, menyentuh, mengelus, ataupun memeluk hewan peliharaan seperti kucing atau anjing telah terbukti ampuh untuk meningkatkan produksi hormon endorfin dan oksitosin yang membuat Moms merasa lebih tenang.

Baca Juga: Mengenal Roseola Infantum, Kondisi yang Umum Terjadi pada Anak di Bawah 2 Tahun

Nah, itu dia Moms penyebab dan juga cara Moms keluar dari situasi emotional eating.

Jika Moms sudah mencoba cara di atas tetapi belum ada perubahan, jangan ragu segera konsultasikan dengan dokter ya!

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/labs/pmc/articles/PMC2859040/#!po=6.48148
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/19751539/#:~:text=Results%3A%20Results%20indicate%20that%20the,01).
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/labs/pmc/articles/PMC5582438/#:~:text=Unhealthy%20eating%20behaviors%20and%20habits,%2C%20cardiovascular%20diseases%2C%20and%20diabetes.
  • https://www.healthline.com/health/emotional-eating
  • https://www.webmd.com/balance/stress-management/ss/slideshow-stop-emotional-eating

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.