12 Juni 2023

7 Cara Mengajarkan Anak Bersosialisasi, Yuk Terapkan!

Anak juga harus tahu aturan interaksi dengan orang lain
7 Cara Mengajarkan Anak Bersosialisasi, Yuk Terapkan!

Foto: Freepik.com/pch-vector

Kehidupan sosial menjadi salah satu elemen penting bagi pertumbuhan Si Kecil. Untuk itu, Moms perlu mengetahui cara mengajarkan anak bersosialisasi.

Moms sedang mencari cara mengajarkan anak bersosialisasi? Simak artikel ini hingga akhir, yuk Moms.

Sejak usia 2,5 tahun, balita sebaiknya sudah mulai diajarkan untuk bergaul dan waspada terhadap orang asing yang ditemuinya.

Tujuannya bukan untuk membuat balita takut dengan semua orang asing ya, Moms.

Tetapi mengajarkan batasan interaksi antara balita dan orang asing, serta mengenali mana orang asing yang “baik” dan “tidak baik.”

Dengan berbagai kasus penculikan serta pelecehan seksual terhadap anak yang semakin marak belakangan ini, ada baiknya Moms mulai mengajarkan anak untuk bersosialisasi.

Namun, cara mengajarkan anak bersosialisasi harus dilakukan dengan benar agar anak dapat mempraktikannya dengan baik.

Lantas, bagaimana cara mengajarkan anak bersosialisasi? Simak caranya di bawah ini, ya Moms.

Baca Juga: Tenggang Rasa: Arti, Manfaat, dan Cara Mengajarkannya pada Anak Sejak Kecil

Cara Mengajarkan Anak Bersosialisasi

Sebagai orang tua, Moms dan Dads perlu mengetahui cara mengajarkan anak bersosialisasi.

Tidak ada rentang usia yang tepat untuk meningkatkan keterampilan sosial anak dan tidak ada kata terlambat untuk mengasah keterampilan sosial mereka.

Mulailah dengan keterampilan sosial paling dasar terlebih dahulu dan terus tingkatkan keterampilan anak dari waktu ke waktu.

Berikut ini beberapa cara mengajarkan anak bersosialisasi yang Moms dan Dads bisa lakukan.

1. Ajarkan Cara Berbagi

Ilustrasi Berbagi (Orami Photo Stock)
Foto: Ilustrasi Berbagi (Orami Photo Stock)

Cara mengajarkan anak bersosialisasi yang paling dasar adalah dengan mengajarkannya untuk berbagi.

Kesediaan untuk berbagi makanan ringan atau mainan dapat sangat membantu anak-anak menjalin dan mempertahankan pertemanan.

Menurut sebuah penelitian dalam Psychological Science, anak-anak berusia 2 tahun mungkin menunjukkan keinginan untuk berbagi dengan orang lain.

Namun, hal ini tidak berlaku pada anak berusia antara 3 dan 6 tahun. Sebab, mereka sering bersikap egois dalam hal berbagi.

Pada usia 7 atau 8 tahun, anak-anak menjadi lebih mementingkan keadilan dan lebih bersedia untuk berbagi.

Mengajari anak-anak untuk berbagi dapat membantu meningkatkan harga diri mereka dalam bersosialisasi bersama teman.

Moms dapat menunjukkan cara berbagi pada Si Kecil. Puji anak ketika berbagi dan perhatikan bagaimana perasaan orang lain.

Katakan sesuatu seperti,

“Kamu bisa berbagi makanan ringan dengan kakakmu. Mama yakin dia merasa senang tentang itu. Itu hal yang baik untuk dilakukan.”

2. Biasakan Si Kecil Bekerja Sama

Ilustrasi Kerja Sama (Orami Photo Stock)
Foto: Ilustrasi Kerja Sama (Orami Photo Stock)

Cara mengajarkan anak bersosialisasi selanjutnya adalah dengan mengejarkan kerja sama.

Bekerja sama berarti bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama itu termasuk berkontribusi, berpartisipasi, dan membantu.

Keterampilan kerja sama yang baik sangat penting untuk berhasil bergaul dalamlingkungan sosial.

Anak-anak mungkin perlu melakukan kerja sama dengan teman sekelas di taman bermain dan juga di kelas.

Pada usia sekitar 3 tahun, anak kecil dapat mulai bekerja dengan teman sebayanya untuk mencapai tujuan bersama.

Untuk anak-anak, kerja sama dapat melibatkan apa saja mulai dari mengerjakan misi mainan bersama hingga memainkan permainan dalam olahraga kelompok.

Selain itu, kerja sama juga bisa menjadi kesempatan besar bagi anak-anak untuk belajar lebih banyak tentang diri mereka sendiri dan bagaimana mereka berinteraksi dengan baik dalam kelompok.

Baca Juga: Pendidikan Moral: Pengertian, Contoh, Tujuan, dan Cara Mengajarkannya pada Anak Sejak Kecil

3. Latih Anak untuk Mau Mendengarkan

Anak dan Orang Tua
Foto: Anak dan Orang Tua (Orami Photo Stock)

Cara mengajarkan anak bersosialisasi selanjutnya adalah dengan mengajarkan untuk selalu mendengarkan.

Mendengarkan bukan hanya tentang berdiam itu berarti benar-benar menyerap apa yang dikatakan orang lain.

Ini menjadi komponen penting dari komunikasi dan kegiatan sosial yang sehat.

Dalam kegiatan sehari-hari anak perlu mendengarkan perkataan dan penjelasan dari guru di sekolah.

Menyerap materi, membuat catatan, dan memikirkan apa yang dikatakan menjadi lebih penting saat anak berkembang secara akademis.

Memberi anak banyak kesempatan untuk berlatih mendengarkan dapat memperkuat keterampilan bersosial.

Sebab, mendengarkan perkataan orang lain menjadi bagian penting dalam mengembangkan empati.

Tekankan kepada anak-anak sejak usia dini bahwa harus mendengarkan saat mereka terlibat dalam percakapan.

Moms bisa melatih cara mendengarkan yang baik pada anak ketika membaca buku, hentikan secara berkala dan minta mereka untuk memberi tahu Moms tentang apa dibaca.

Jeda dan katakan, "Ceritakan apa yang kamu ingat tentang cerita sejauh ini."

4. Ajari Anak Mengikuti Arahan

Komunikasi Orang Tua dan Anak
Foto: Komunikasi Orang Tua dan Anak (Usatoday.com)

Cara mengajarkan anak bersosialisasi selanjutnya adalah berikan pemahaman pada Si Kecil untuk mengikuti arahan.

Anak-anak pada usia 2–3 tahun cenderung untuk kesulitan menerima arahan yang diberikan oleh orang di sekitarnya.

Namun, sebenarnya penting bagi anak-anak untuk dapat diberikan arahan dan mengikuti instruksi.

Namun, sebelum anak pandai mengikuti arahan, penting bagi Moms untuk mahir dalam memberikan arahan.

Untuk memberikan arahan yang baik dan menghindari kesalahan umum, ikuti strategi ini.

Beri anak satu arah pada satu waktu. Seperti "Tolong ambil sepatu di rak" bukan "Tolong ambil sepatu, tas, dan bukumu,".

Ingatlah bahwa kesalahan itu normal. Wajar jika anak kecil berperilaku impulsif, atau lupa akan arahan yang diberikan.

Lihat setiap kesalahan yang dilakukan Si Kecil sebagai kesempatan untuk membantu mereka meningkatkan keterampilan mereka dalam mengikuti arahan.

Selain itu, puji anak ketika mereka mengikuti petunjuk dengan mengatakan hal-hal seperti, "Terima kasih sudah mengambil sepatu".

Jika anak sulit mengikuti arahan, beri mereka kesempatan untuk berlatih mengikuti perintah sederhana.

Katakan hal-hal seperti, "Tolong berikan buku itu kepada saya," dan kemudian berikan pujian segera untuk mengikuti arahan.

Baca Juga: 4 Manfaat Beramal dan Cara Mengajarkannya pada Anak agar Tumbuh Jiwa Peduli Sejak Dini

5. Beri Tahu Anak untuk Menghormati Ruang Pribadi

Komunikasi Orang Tua dan Anak
Foto: Komunikasi Orang Tua dan Anak (Freepik.com/artursafronovvvv)

Cara mengajarkan anak bersosialisasi selanjutnya adalah dengan memberitahu mengenai ruang pribadi orang lain.

Sebab, mungkin beberapa anak adalah pembicara yang dekat, seperti merangkak ke pangkuan kenalan tanpa tahu bahwa itu membuat mereka merasa tidak nyaman.

Penting untuk mengajari anak-anak cara menghargai ruang pribadi orang lain.

Buat aturan yang mendorong anak-anak untuk menghormati ruang pribadi orang lain.

Jika anak mengambil barang dari tangan orang lain atau mendorong saat tidak sabar, tentukan konsekuensinya.

Kemudian, ketika anak berdiri terlalu dekat dengan orang saat berbicara, gunakan itu sebagai momen mengajarkan cara yang tepat.

Ajari anak untuk berdiri sekitar satu lengan jauhnya dari orang-orang ketika mereka sedang berbicara.

Saat mereka berdiri dalam antrean, bicarakan tentang seberapa dekat mereka dengan orang di depan mereka dan ingatkan mereka untuk menjaga jarak dengan orang lain.

Moms dapat memainkan berbagai skenario untuk membantu anak-anak mempraktikkan ruang pribadi yang sesuai.

6. Jelaskan Pentingnya Melakukan Kontak Mata

Kontak mata yang baik adalah bagian penting dari komunikasi.

Jadi, cara mengajarkan anak bersosialisasi selanjutnya adalah dengan menjelaskan teknik kontak mata.

Apakah Si Kecil pemalu dan lebih suka menatap lantai atau tidak mau melihat ke atas saat asyik dengan aktivitas lain, tekankan pentingnya kontak mata yang baik.

Jika anak kesulitan dengan kontak mata, tawarkan pengingat cepat setelah kejadian tersebut.

Dengan suara lembut, tanyakan, “Kemana mata kamu harus diarahkan ketika seseorang sedang berbicara dengan ibu?”

Berikan pujian saat Si Kecil ingat untuk melihat orang saat sedang berbicara.

Pertimbangkan untuk menunjukkan kepada Si Kecil bagaimana rasanya melakukan percakapan dengan seseorang yang tidak melakukan kontak mata, seperti:

  • Minta mereka untuk berbagi cerita saat Moms menatap tanah, memejamkan mata, atau melihat ke mana pun kecuali ke arah mereka.
  • Biarkan mereka untuk menceritakan kisah lain dan lakukan kontak mata yang sesuai saat mereka berbicara.

7. Ajari Menggunakan Adab

Ilustrasi Anak dan Orang Tua
Foto: Ilustrasi Anak dan Orang Tua (Orami Photo Stocks)

Cara mengajarkan anak bersosialisasi yang terakhir adalah pentingnya adab.

Mengucapkan tolong dan terima kasih serta menggunakan tata krama meja yang baik dapat sangat membantu anak berkehidupan sosial.

Sebab, guru, orang tua lain, dan anak-anak lain akan menghormati anak yang santun.

Penting bagi anak-anak untuk mengetahui bagaimana bersikap sopan dan hormat terutama saat mereka berada di rumah orang lain atau di sekolah.

Baca Juga: 9 Cara Mengajarkan Anak Menulis Namanya Sendiri

Aturan Berinteraksi dengan Orang Asing yang Harus Diajarkan pada Anak

Komunikasi Orang Tua dan Anak
Foto: Komunikasi Orang Tua dan Anak (Freepik.com/lifestylememory)

Setelah mengetahui cara mengajarkan anak bersosialisasi, Moms juga perlu memberi tahu mengenai aturan berinteraksi dengan orang asing pada Si Kecil, seperti:

1. Ajarkan Bagian Tubuh yang Terlarang

Tidak pernah terlalu dini untuk mulai mengajarkan balita nama yang benar untuk menyebut kemaluannya, yaitu penis dan vagina.

Menurut Psychology Today, cara ini akan menghindarkan balita dari kesan bahwa dia harus merasa tidak nyaman, risih, atau nakal saat membicarakan bagian tubuh tersebut.

Ajarkan pada balita bahwa area penis dan vagina hanya boleh disentuh oleh dirinya, Moms, dan Dads saja.

Area tersebut tidak boleh disentuh oleh orang lain dan ia juga tidak boleh menyentuh area kemaluan orang lain.

2. Harus Didampingi Orang Dewasa yang Sudah Dikenal

Aturan “jangan berbicara dengan orang asing” saja sudah tidak lagi cukup untuk diterapkan.

Sebagai gantinya, ajarkan balita bahwa dia hanya boleh berbicara pada orang asing bila didampingi Moms, Dads, atau orang dewasa lain yang sudah ia kenal, seperti kakek, nenek, atau paman dan bibi.

Bila balita sedang sendiri dan ada orang asing yang mengajaknya berbicara, ajari balita untuk segera pergi dari tempat tersebut dan mencari Moms.

Baca Juga: 4 Cara Mengajarkan Anak Berhitung dengan Menyenangkan, Si Kecil Jadi Lebih Mudah Paham, Moms!

3. Tidak Boleh Menerima Apa pun dari Orang Asing

Ajarkan pada buah hati bahwa dia tidak boleh menerima apapun dari orang asing tanpa seizin Moms atau Dads, baik itu makanan, mainan, atau benda lainnya.

Balita juga tidak boleh memberi atau menerima bantuan dalam bentuk apa pun dari orang asing, baik itu membantu mencarikan mainan, mengajak pergi, dan sebagainya.

Sebagai bagian dari aturan interaksi antara balita dan orang asing, ingatkan bahwa meski orang asing tersebut mengatakan “Tidak apa-apa, kata ibu boleh kok,” balita harus tetap menolak dan segera pergi dari tempat tersebut dan mencari Moms.

4. Tunjukkan Orang Asing yang “Aman”

Saat sedang berada di ruang publik, ajari mereka cara mengenali orang asing “baik” yang bisa dipercaya dan aman dimintai bantuan.

Selain polisi dan satpam, ajarkan balita untuk meminta bantuan pada orang yang mengenakan tanda nama di dadanya, seperti pegawai toko atau kasir di pusat perbelanjaan.

5. Tidak Boleh Menyimpan Rahasia

Aturan interaksi balita dan orang asing ini juga tidak kalah penting, Moms.

Katakan bahwa Si Kecil harus cerita pada Moms bila ada orang yang menyentuh area kemaluannya atau memintanya menyentuh area kemaluan mereka.

Tekankan pada buah hati bahwa ia tidak boleh menyimpan rahasia, kecuali untuk kejutan. Jadi, minta balita untuk segera memberitahu Moms bila ada orang yang memintanya menyimpan rahasia.

6. Ajarkan tentang “Tidak, Pergi, Teriak, Beritahu”

National Crime Prevention Council merekomendasikan setiap orang tua mengajarkan taktik “Tidak, Pergi, Teriak, Beritahu” pada anak mereka.

Ajarkan balita untuk menggunakan taktik ini dalam situasi berbahaya atau tidak aman, di mana dia harus segera berteriak “Tidak!” sambil berlari menjauh, lalu kembali berteriak minta tolong dan beritahu kepada orang dewasa “aman” seperti yang sudah diajarkan di poin sebelumnya.

Beritahu buah hati bahwa dia boleh berkata tidak pada orang dewasa dan boleh berteriak bila ada orang dewasa yang membuatnya merasa tidak nyaman.

Moms, yang terpenting adalah mengajarkan balita untuk segera pergi dan berteriak bila ia tidak nyaman atau merasa ada sesuatu yang salah.

Jangan juga memaksa balita untuk menyapa, memeluk, atau mencium orang lain baik asing maupun dekat.

Baca Juga: 6 Cara Mengajarkan Anak Menyelesaikan Masalah, Coba Ya Moms!

Itulah beberapa cara mengajarkan anak bersosialisasi dengan orang lain yang bisa Moms dan Dads terapkan.

Apa Moms punya tips agar komunikasi dengan balita bisa lancar dan dia tidak sungkan untuk bercerita apa pun?

  • https://www.verywellfamily.com/seven-social-skills-for-kids-4589865
  • https://www.brainbalancecenters.com/blog/ways-improve-childs-social-skills

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.