26 November 2019

7 Cara Mengatasi OCD, Jangan Diremehkan Ya!

OCD dapat diatasi dengan langkah-langkah berikut

Banyak orang yang sampai saat ini tidak menyadari jika dirinya memiliki gangguan obsesif kompulsif atau sering juga dikenal dengan OCD. Bisa karena mereka tidak memahami tanda-tanda OCD, atau bahkan menyangkal dirinya mengidap gangguan ini.

The International OCD Foundation (IOCDF) mengatakan bahwa di Amerika Serikat saja, sebanyak 1 dari 100 orang dewasa dan 1 dari 200 anak-anak memiliki OCD. Itu kira-kira 2 hingga 3 juta orang dewasa dan setengah juta anak-anak.

Gangguan OCD sendiri memang memiliki tingkat keparahan yang berbeda-beda, mulai dari ringan hingga berat.

Penanganan OCD yang cukup parah harus menemui psikiater untuk menjalani psikoterapi atau meminum obat-obatan tertentu. Tapi penderita dengan gejala ringan, masih bisa disembuhkan dengan sendirinya.

Cara Mengatasi OCD

Dilansir dari organisasi kesehatan mental HelpGuide, terdapat 7 langkah self-care yang dapat mengatasi OCD yang di alami:

1. Ketahui Pemicu Rasa Cemas Penyebab OCD

listicle 1.jpg
Foto: listicle 1.jpg

Untuk bisa mengatasi OCD, pertama Moms harus mengetahui terlebih dahulu tanda-tanda awal menderita OCD. Klik di sini untuk mengetahui tanda-tanda OCD.

Jika Moms merasa beberapa dari tanda yang ada sering Moms rasakan dan lakukan, pikirkan bagaimana hal itu bisa terjadi. Baik pikiran maupun situasi yang membuat Moms jadi merasa cemas dan khawatir berlebihan.

Urutkan intensitas ketakutan atau kecemasan Moms akan suatu hal. Kemudian sikap kompulsif apa yang biasa Moms lakukan untuk mengurangi rasa cemas itu.

Baca Juga: Cari Tahu 8 Tanda Menderita OCD

2. Lawan Sifat Kompulsif dan Obsesif yang Menghantui

listicle 2.jpg
Foto: listicle 2.jpg

Setelah mengetahui penyebab kecemasan, dan sifat kompulsif yang sering dilakukan, mari kita bahas lebih lanjut cara untuk mengatasi OCD tersebut.

Jika Moms mau sembuh, cobalah untuk menghadapi rasa takut itu. Seperti misalnya, kondisi kompulsif yang Moms rasakan adalah kebutuhan untuk selalu mencuci tangan.

Hal ini dipicu karena rasa takut akan bakteri dan kuman yang menempel di setiap fasilitas umum. Coba hadapi rasa takut itu dengan tidak mencuci tangan lagi setelah memegang gagang pintu toilet umum.

Dengan mencoba melawan ketakutan, dan menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang membuat kompulsif, sedikit demi sedikit Moms akan melupakan kebiasaan ini, dan mampu kembali menjalani rutinitas selayaknya orang normal.

3. Tantang Pikiran Obsesif yang Ada

listicle 3.jpg
Foto: listicle 3.jpg

Pikirkan mengenai ketakutan yang Moms miliki, dan coba tantang pikiran tersebut. Misalnya Moms selalu takut untuk memegang benda-benda fasilitas umum, dengan alasan bakteri dan kuman yang menempel pada benda-benda tersebut.

Saat pikiran tersebut memaksa Moms untuk mencuci tangan, coba untuk lawan dengan pertanyaan seperti “Apa yang terjadi jika aku tidak cuci tangan?” “Apakah tindakan ini diperlukan?” “Apa aku bisa celaka jika tidak mencuci tangan?”

Baca Juga: Mengenal Obsessive Compulsive Disorder (OCD) Pada Anak

4. Cari Dukungan dari Sekitar

listicle 4.jpg
Foto: listicle 4.jpg

Meski terkadang menjadi OCD membuat kita menarik diri dari pergaulan karena mungkin merasa tidak cocok atau merasa tidak percaya diri, tetaplah bersosialisasi.

Orang yang menderita OCD sangat butuh dukungan orang sekitar, khususnya keluarga. Karena perasaan kesepian dan tidak berdaya dapat membuat penderita mengalami gangguan yang lebih parah.

Minta keluarga atau teman mengingatkan jika kita sudah mulai melakukan tindakan kompulsif, minta juga supaya mereka mendukung keinginan kita untuk bisa sembuh.

Moms juga bisa bergabung bersama grup penderita OCD, untuk sekedar sharing dan saling mendukung.

5. Kendalikan Stres

listicle 5.jpg
Foto: listicle 5.jpg

Cobalah untuk tidak terlalu stres memikirkan gangguan yang Moms alami. Semakin Moms memikirkannya akan semakin besar rasa kekhawatiran dan kecemasan Moms akan sesuatu.

Moms bisa mencoba teknik relaksasi seperti yoga, meditasi, dan masih banyak teknik lainnya. Lakukan secara rutin untuk membantu mengontrol pikiran negatif yang menyebabkan kecemasan tersebut.

6. Jalani Hidup Sehat untuk Mengurangi OCD

listicle 6.jpg
Foto: listicle 6.jpg

Hidup yang sehat dan seimbang, berperan penting dalam mengatasi OCD. Cobalah untuk melakukan olahraga rutin, tidur yang cukup, serta menjauhi alkohol dan rokok.

Olahraga bukan hanya memberi kebugaran untuk tubuh kita, tapi juga menyegarkan pikiran.

Dengan rutin berolahraga, tubuh akan terasa lebih berenergi, sehingga membuat pikiran juga spontan menjadi lebih jernih. Tubuh yang sehat dipercaya dapat menciptakan energi positif bagi jiwa dan pikiran.

Tidur yang cukup juga sangat penting untuk membuat kita dapat berpikir jernih. Ketika kita mengalami stres biasanya kita juga akan mengalami insomnia.

Baca Juga: Susah Tidur? Simak 5 Tips untuk Mengatasi Insomnia

Insomnia dapat membuat seseorang menjadi tidak bersemangat dan mudah lelah. Hal itu bisa menimbulkan pikiran-pikiran negatif kerap muncul kembali.

Selain itu, jika Moms merasa alkohol dan rokok dapat membuat pikiran menjadi lebih tenang, Moms salah besar. Alkohol dan nikotin justru pemicu terkuat gangguan ini semakin parah.

7. Menjalani Terapi Kognitif Perilaku (CBT)

listicle 7.jpg
Foto: listicle 7.jpg

Terapi kognitif perilaku (CBT) dianggap sebagai bentuk terapi terbaik untuk OCD. Terapi ini bertujuan untuk membuat penderita OCD mengatur pikirannya dan belajar jika tindakan yang dilakukannya hanya sebuah kecemasan.

Jika mereka merasa apa yang mereka lakukan adalah bentuk perlindungan, sebenarnya tanpa ada perlindungan itu pun tidak akan terjadi apa-apa.

Paling tidak, tidak akan terjadi sesuatu yang besar yang dapat membahayakan nyawanya atau nyawa orang lain.

Apa yang diuraikan di atas mungkin tampak sulit bagi penderita OCD, tapi hal itu dapat dicapai.

“Jika Anda ingin mempermudah langkah-langkah mengatasi OCD di atas, cobalah untuk berbicara dengan seseorang yang sudah berhasil mengatasi OCD. Hal itu mungkin akan membuat Anda menjadi lebih yakin dan merasa mampu untuk melakukannya”, ungkap Fred Penzel, Ph.D, psikolog yang berfokus pada perawatan kognitif/perilaku pada OCD sekaligus pendiri IOCDF.

(DH)

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.