06 Juni 2024

Desa Penglipuran Bali: Lokasi, Harga Tiket, dan Keunikannya

Ajak Si Kecil berlibur ke sini yuk, Moms!

Selalu seru jika berlibur ke Pulau Dewata, karena banyak sekali objek wisata yang bisa dikunjungi, salah satunya yakni Desa Penglipuran Bali.

Bali tak lagi identik dengan wisata alam pantai yang memanjakan mata.

Ada sejumlah objek wisata yang tersembunyi dan tidak diketahui wisatawan, lho.

Yuk, ketahui lokasi, harga, hingga fakta menarik di balik Desa Penglipuran Bali satu ini, Moms!

Baca Juga: 15 Makanan Khas Bali yang Wajib Dicicipi, Dijamin Lezat!

Keunikan Desa Penglipuran Bali

Tak hanya sekadar desa, tempat ini dijadikan objek wisata oleh pemerintah karena keunikan di dalamnya.

Apa saja yang bisa kita ketahui dari tempat wisata di Bali ini? Berikut penjelasannya:

1. Asal-usul Desa Penglipuran Bali

Asal-usul Desa Penglipuran
Foto: Asal-usul Desa Penglipuran (Instagram.com/desa_adat_penglipuran)

Desa Penglipuran Bali sudah ada sejak 700 tahun yang lalu sehingga termasuk sebagai salah satu desa tertua di Pulau Dewata.

Nama Desa Penglipuran berasal dari bahasa Bali “Pengeling” dan “Pura”.

Pengeling artinya mengingat atau mengenang, sedangkan pura berarti tempat suci atau tempat leluhur.

Nah, jika di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Penglipuran dapat di artikan sebagai “tempat mengenang leluhur”.

Menurut masyarakat, Desa Penglipuran Bali merupakan hadiah dari Raja Bangli kepada masyarakat yang ikut bertempur untuk melawan Kerajaan Gianyar.

Oleh karenanya, masyarakat di desa ini memiliki adat istiadat yang amat kental sejak zaman nenek moyang dahulu kala.

2. Komplek Pemukiman Warga

Desa Penglipuran Bali
Foto: Desa Penglipuran Bali (Instagram/desa_adat_penglipuran)

Keunikan pertama dari desa Penglipuran adalah model bangunannya, Moms.

Desa ini dipenuhi dengan bangunan ala rumah penduduk yang terbilang cukup sederhana.

Ini merupakan desa adat yang berisi komplek pemukiman warga yang ramah lingkungan.

Terlihat, bangunan masih memanfaatkan material bebatuan, daun pisang, serta pintu ukiran untuk mempercantik rumah.

Aneka tanaman dan pepohonan juga dibiarkan tumbuh dan membuat suasana perkampungan menjadi asri.

3. Kearifan Lokal Berkonsep Tri Hita Karana

Kearifan Lokal Desa Penglipuran Bali
Foto: Kearifan Lokal Desa Penglipuran Bali (Instagram.com/desa_adat_penglipuran)

Seluruh masyarakat yang tinggal di Desa Penglipuran Bali sangat memegang teguh pada tradisi nenek moyang mereka.

Adat istiadat, nilai gotong royong dan kekeluargaan, serta kearifan lokal masyarakat setempat ini berlandaskan konsep Tri Hita Karana.

Melansir laman Kementerian Agama Republik Indonesia, istilah ini terambil dari kata tri yang artinya tiga, hita yang artinya keseimbangan atau sejahtera, dan karana yang artinya penyebab.

Ketiga hal tersebut adalah Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan. Berikut penjelasannya:

  • Parahyangan

Berarti ketuhanan atau hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan dalam rangka memuja Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Banyak di kalangan kita mengartikan bahwa parahyangan berarti tempat suci (Pura) untuk memuja Tuhan.

Baca Juga: 6 Rekomendasi Pantai untuk Melihat Sunrise di Bali, Indah!

  • Pawongan

Pawongan adalah perihal yang berkaitan dengan orang dalam satu kehidupan masyarakat.

Dalam arti yang sempit, pawongan adalah kelompok manusia yang bermasyarakat yang tinggal dalam satu wilayah.

  • Palemahan

Palemahan berarti wilayah suatu pemukiman atau tempat tinggal.

Dalam hal ini, manusia harus selalu memperhatikan situasi dan kondisi lingkungannya.

4. Dinobatkan Sebagai Desa Terbersih

Desa Adat Bali.png
Foto: Desa Adat Bali.png (Instagram/desa_adat_penglipuran)

Tak heran jika desa Penglipuran menjadi objek wisata Bali yang tersembunyi.

Melansir laman Wonderful Indonesia, area ini dinobatkan sebagai desa adat terbersih di dunia, lho! Terlihat dari kerapian dan kebersihan pada desa tradisional ini.

Desa adat Penglipuran mendapat beberapa penghargaan bergengsi seperti:

  • ISTA (Indonesia Sustainable Tourism Award) pada tahun 2017.
  • Sustainable Destinations Top 100 versi Green Destinations Foundation.

Berkat peniadaan alat transportasi di dalamnya, desa ini berhasil memenangkan penghargaan tersebut, Moms.

Masyarakat tidak boleh mengendarai kendaraan bermotor apabila masuk ke dalam desa ini. Hal ini, agar desa tetap terlihat asri dan bebas dari polusi.

Penduduk setempat juga memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan mereka.

Tidak ada sampah yang berserakan, dan kebersihan dijaga secara kolektif oleh seluruh komunitas.

5. Berkonsep Tri Mandala

Konsep Desa Penglipuran
Foto: Konsep Desa Penglipuran (Instagram/desa_adat_penglipuran)

Karena termasuk lokasi wisata yang dilestarikan, pembangunan desa ini tak sembarangan.

Desa Penglipuran mengadopsi konsep Tri Mandala, yakni tata ruang desa terbagi menjadi 3, antara lain:

  • Utama Mandala: tempat masyarakat beribadah.
  • Madya Mandala: tempat pemukiman atau rumah tinggal penduduk.
  • Nista Mandala: zona untuk pemakaman penduduk.

Pembagian wilayah tersebut diurutkan dari wilayah paling utara hingga paling selatan.

Masyarakat lokal di sini masih menjunjung tinggi nilai-nilai luhur nenek moyang. Tentunya ini bersifat turun temurun dan perlu selalu dijaga.

Baca Juga: GWK Bali: Tiket Masuk, Daya Tarik, dan Rekomendasi Hotel

6. Rutin Mengadakan Ritual Keagamaan

Layaknya desa adat lainnya, desa Penglipuran juga memiliki ritual keagamaan setiap tahunnya.

Salah satu tradisi besar yang dilakukan adalah Ngusaba, yakni penyambutan Hari Raya Nyepi.

Adapun ini dilakukan setiap 15 hari sekali oleh masyarakat setempat.

Nantinya, acara keagamaan akan dipadati oleh masyarakat yang beribadah ke Pura Penataran.

Tentunya, tempat ibadah ini terletak di dalam desa adat.

Ritual ini terus dilakukan untuk menghormati para tetua adat yang diwariskan oleh para leluhur.

Hal ini membuat desa ini tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai pusat budaya yang hidup.

7. Komplek Pemukiman Diselimuti Bambu

Desa Penglipuran Fakta Menarik.png
Foto: Desa Penglipuran Fakta Menarik.png (Instagram/desa_adat_penglipuran)

Hal menarik dan keunikan lainnya di desa Penglipuran Bangli adalah suasana asri di dalamnya.

Diketahui, tempat ini sengaja dibangun dan dikelilingi oleh pepohonan hutan bambu.

Kerimbunan hutan bambu menambah kesejukan suasana desa adat satu ini, lho.

Cocok untuk dijadikan tempat bersantai para wisatawan yang datang.

Tidak hanya itu, hutan ini juga memberikan pemandangan yang indah dan berfungsi sebagai sumber bahan bangunan tradisional.

Hutan bambu ini membantu menjaga keseimbangan ekosistem lokal dan menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan.

Bahkan, akhir-akhir ini hutan bambu tersebut menjadi spot foto hits untuk dipamerkan di media sosial. Ikonik sekali, bukan?

Baca Juga: Sejarah Tari Kecak Bali: Asal Mula, Pencipta, Properti, Gerakan dan Maknanya

8. Belajar Membuat Kerajinan dari Bambu

Kerajinan Bambu Penglipuran
Foto: Kerajinan Bambu Penglipuran (Penglipuran.net)

Hutan bambu yang mengelilingi desa sehingga membuatnya lebih asri, juga seringkali dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan.

Pengunjung Desa Penglipuran Bali pun dapat belajar membuat aneka kerajinan dari bahan bambu.

Nantinya, akan ada masyarakat setempat yang memandu wisatawan untuk membuat kerajinan berupa anyaman bambu.

Tenang saja, Moms, masyarakat Desa Penglipuran Bali akan mengajarkan kita untuk menganyam bambu sampai dengan finishing pewarnaan.

9. Kuliner Khas Desa Adat

Tidak lengkap rasanya mengunjungi desa adat ini tanpa mencicipi kuliner khasnya.

Nah, di desa Penglipuran terdapat kuliner wajib untuk dicoba, yakni minuman loloh cencem dan makanan tipat cantok.

Minuman ini terbuat dari daun cemcem yang bermanfaat untuk melancarkan pencernaan, lho.

Rasanya yang manis dan kental membuat sejumlah orang ketagihan!

Kalau makanan tipat cantok, ini adalah makanan berat yang berisi ketupat dan aneka sayuran.

Makanan ini dibumbui dengan bumbu kacang yang menyerupai gado-gado, Moms.

Baca Juga: Itinerary Bali 3 Hari 2 Malam, Ide Liburan Kilat On Budget!

Nah, salah satu pengalaman unik untuk bisa dinikmati lainnya adalah Penglipuran Village Festival.

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.