24 Desember 2022

Sangat Mendunia, Begini Filosofi Noken Papua yang Bisa Moms Ketahui!

Ditetapkan sebagai hasil karya tradisional dan warisan kebudayaan UNESCO, noken punya filosofi unik

Setiap daerah Indonesia dari Sabang sampe Merauke memiliki ciri khas kebudayaannya masing-masing, salah satunya adalah noken Papua. Filosofi noken Papua ini tergolong unik dan menarik.

Masyarakat Papua memang dikenal jarang sekali untuk membeli tas, sebab mereka membuatnya sendiri.

Noken merupakan budaya Indonesia dari hasil olahan cipta, rasa, dan karya dari masyarakat Papua yang sudah tumbuh subur sejak lama.

Lalu, apa itu noken ya Moms? Seperti apa filosofi noken Papua? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Baca juga: 5+ Motif Batik Papua dan Filosofi 'Tersembunyi' di Baliknya

Apa Itu Noken?

Noken Papua.jpg
Foto: Noken Papua.jpg (Orami Photo Stock)

Kalau Moms pernah berlibur ke Raja Ampat, mungkin sudah tak asing lagi dengan warisan budaya yang satu ini.

Noken merupakan tas anyaman tradisional masyarakat Papua yang terbuat dari serat kulit kayu seperti pohon Manduam, pohon Nawa atau Anggrek hutan dan masih banyak lagi jenis pohon yang umum digunakan.

Dikutip dari laman Kemendikbud, noken sendiri memiliki nama-nama yang berbeda sesuai dengan suku bangsanya.

Misalnya saja Su yang merupakan sebutan dari Suku Hugula, Inoken sebutan Suku Biak, Agiya sebutan Suku Mee, dan masih banyak lagi.

Lalu, apa yang menyebabkan noken begitu mendunia? Selain bahan pembuatannya yang tak biasa, cara membawa tas ini juga terbilang unik.

Kalau biasanya Moms menenteng tas di jinjing atau di pundak, tidak demikian dengan noken.

Masyarakat Papua membawa tas noken dengan menggunakan kepalanya.

Karena keunikannyalah, UNESCO menetapkannya sebagai hasil karya tradisional dan warisan kebudayaan pada tanggal 4 Desember 2012.

Penetapan ini dilakukan oleh Ketua Sidang Komite Antar pemerintah ke-7 bernama Arley Gill untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda di Markas UNESCO di Paris, Prancis.

Baca juga: 3 Motif Kain Khas Toraja Beserta Makna Budaya di Dalamnya

Filosofi Noken Papua

Filosofi Noken Papua.jpg
Foto: Filosofi Noken Papua.jpg (Orami Photo Stock)

Bisa dibilang filosofi noken Papua memang asli buatan mama-mama di Papua.

Bukan hanya digunakan sebagai wadah untuk memindahkan barang ke tempat yang lain, Noken juga menjadi simbol kehidupan yang baik, kesuburan, dan perdamaian bagi tanah Papua.

Terutama bagi suku Mee/Ekari, Damal, Suku Yali, Dani, Suku Lani dan Bauzi yang tinggal di daerah Pegunungan Tengah Papua.

Memang kebudayaan yang turun menurun, noken hanya boleh dibuat oleh orang Papua.

Sejak kecil para wanita di Papua sudah harus belajar untuk membuatnya. Membuat noken melambangkan kedewasaan dari si wanita itu.

Dianggapnya, jika wanita Papua belum bisa membuat noken, maka dia belum dianggap dewasa dan itu adalah syarat pernikahan.

Ukuran, kegunaan, dan jenis noken berbeda untuk perempuan dengan laki-laki.

Dilansir dari laman Pemprov Papua, noken laki-laki berukuran lebih kecil (disebut mitutee) karena dipergunakan hanya untuk membawa barang pribadi seperti korek api atau rokok.

Sementara, noken wanita berukuran lebih besar (disebut Yatoo) karena biasanya digunakan untuk membawa hasil perkebunan, barang-barang belanjaan, atau bahkan menggendong anak.

Noken dipakai untuk menggendong anak karena ventilasi udaranya aman. Sebab, noken terbuat dari daun pandan dan daun-daun lainnya sehingga aman untuk bayi.

Noken rupanya bisa memperkuat otot bayi yang digendong sehingga jarang sakit.

Baca juga: Tari Serimpi: Sejarah, Makna, dan Jenis Gerakannya

Untuk tas yang berukuran sedang atau disebut Gapagoo digunakan untuk membawa barang-barang belanjaan dalam jumlah sedang.

Sedangkan bagi intelektual Papua, noken biasa digunakan untuk menyimpan buku.

Noken Papua yang paling dikenal yaitu noken Raja Ampat dan noken Wamena.

Noken Raja Ampat sendiri dibuat dari tanaman pesisir yang lokasinya memang berasal dari Raja Ampat sendiri.

Noken Raja Ampat berbentuk kotak yang memiliki variasi warna unik dan dilengkapi dengan penutup.

Untuk itu, penggunaan noken ini digantungkan di leher dan menghadap ke depan.

Berbagai keunikan filosofi noken Papua, benda ini dijadikan sebagai hadiah kenang-kenangan bagi para tamu yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah Papua dan wajib dipakai saat upacara.

Cara Pembuatan Noken

Cara Membuat Noken Papua.jpg
Foto: Cara Membuat Noken Papua.jpg (Orami Photo Stock)

Untuk membuat noken sebetulnya cukup rumit karena masih dikerjakan secara manual dan tidak menggunakan mesin.

Cara pembuatan noken juga berbeda-beda antar masyarakat, tetapi pada umumnya cabang, batang atau kulit pohon dipotong dan dipanaskan di atas api. Setelah itu, diangkat dan direndam dalam air.

Serat kayu yang tersisa kemudian dikeringkan dan dipiliah-pilah. Lalu, serat tersebut ipintal secara manual untuk dijadikan benang atau tali yang kuat, yang terkadang diwarnai dengan pewarna alami.

Proses pembuatan ini bisa mencapai 1-2 minggu untuk noken sedang dan kecil.

Sementara noken ukuran besar membutuhkan waktu 3 minggu hingga 2-3 bulan. Meski demikian, hasil yang didapat memang sepadan.

Tas tradisional noken memang tidak mudah robek, kuat, dan tahan lama.

Jika Moms dan Dads ingin berkunjung dan melihat langsung proses pembuatannya, bisa kunjungi daerah Sauwadarek, Papua.

Noken yang dibuat oleh mama asli dari Papua dijual dengan harga yang bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Namun, seiring berkembangnya zaman, dikutip dari laman UNESCO, pembuatan dan penggunaan noken ini terus berkurang.

Faktor-faktor yang mengancam kelangsungan hidup dari noken antara lain:

  • Kurangnya kesadaran masyarakat sekitar.
  • Berkurangnya jumlah pengrajin.
  • Melemahnya transmisi tradisional.
  • Persaingan dari tas buatan pabrik.
  • Masalah dalam memperoleh bahan baku dengan mudah dan cepat.
  • Pergeseran nilai-nilai budaya noken.

Sayangnya juga, Papua belum memiliki lokasi terpusat untuk menjual noken asli Papua.

Pada kenuyataannya, sampai sekarang noken masih dijual di lapak-lapak sederhana atau dijual secara lesehan di trotoar.

Terlebih, saat ini serat kayu sudah sulit untuk ditemukan. Seiring dengan berkembangnya zaman, serat kayu sudah bisa digantikan dengan kain wol.

Baca Juga: Mengenal Berbagai Rumah Adat Papua, Jenis, dan Keunikannya

Hal ini juga yang membuat kualitas noken tentu berubah. Kualitasnya bisa baik atau bisa buruk, tergantung dari yang memakainya.

Untuk menjaga kebudayaan noken, masyarakat Indonesia diharapkan bisa mulai menggunakannya. Terlebih saat ini noken sudah menjadi warisan dunia.

  • https://ich.unesco.org/en/USL/noken-multifunctional-knotted-or-woven-bag-handcraft-of-the-people-of-papua-00619
  • https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/press-release-seminar-nasional-noken-sebagai-warisan-budaya-takbenda/
  • https://www.papua.go.id/view-detail-berita-2746/undefined

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.

rbb