19 September 2022

Gangguan Metabolisme: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Penanganan

Gejalanya bisa berbeda, tergantung pada penyakit yang dialami

Gangguan metabolisme adalah kondisi saat proses metabolisme gagal menyediakan zat yang dibutuhkan oleh tubuh agar tetap sehat.

Metabolisme sendiri merupakan istilah yang menggambarkan proses biokimia untuk tumbuh, berkembang biak, memperbaiki kerusakan, dan merespons lingkungan.

Artinya, gangguan metabolisme adalah kondisi yang memengaruhi sejumlah proses tersebut.

Misalnya, tubuh tidak dapat mencukupi kebutuhan enzim untuk memecah makanan atau menghasilkan energi yang dibutuhkan oleh sel dalam tubuh.

Gangguan mencakup berbagai kondisi yang menyebabkan gejala dan komplikasi berbeda di dalam tubuh.

Baca juga: Antrain, Obat Penurun Demam dan Mengatasi Nyeri Intensitas Ringan

Gejala Gangguan Metabolisme

Sakit Perut
Foto: Sakit Perut (Istockphoto)

Metabolisme mengacu pada banyak proses kimia yang berbeda dalam tubuh guna mempertahankan kehidupan dan fungsi normal.

Gangguan metabolisme memengaruhi setiap aspek metabolisme. Akibatnya, tubuh memproduksi terlalu banyak atau terlalu sedikit zat yang dibutuhkan.

Gangguan metabolisme beragam dan bisa berdampak banyak aspek fungsi tubuh. Gejala umumnya, meliputi:

  • Kelelahan.
  • Kelemahan otot.
  • Kenaikan atau penurunan berat badan tiba-tiba.
  • Perubahan warna kulit.
  • Sakit perut.
  • Mual atau muntah.
  • Penurunan nafsu makan.
  • Masalah perkembangan pada janin.

Penyebab dan Faktor Risiko

Diabetes
Foto: Diabetes (Istockphoto)

Gangguan metabolisme terkait dengan kelebihan berat badan atau obesitas dan pola hidup tidak aktif (sedentary life).

Ini juga terkait dengan kondisi yang disebut resistensi insulin.

Biasanya, sistem pencernaan memecah makanan yang akan diolah menjadi gula dengan bantuan insulin.

Insulin adalah hormon yang dibuat oleh pankreas dan berfungsi untuk membantu gula memasuki sel sebagai bahan bakar.

Pada orang dengan resistensi insulin, sel tidak merespons insulin secara normal, sehingga glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel tubuh.

Akibatnya, kadar gula darah dalam tubuh semakin meningkat.

Adapun faktor pemicunya, antara lain:

  • Usia. Risiko gangguan metabolisme meningkat seiring bertambahnya usia.
  • Ras. Orang Amerika Serikat, terutama ras Hispanik, memiliki risiko tinggi terkena gangguan metabolisme.
  • Kegemukan. Terlalu banyak lemak di perut menjadi salah satu faktor pemicu.
  • Diabetes. Menderita diabetes selama kehamilan (diabetes gestasional) dan memiliki riwayat diabetes tipe 2 meningkatkan risiko gangguan metabolisme.
  • Penyakit lainnya. Penyakit hati berlemak non alkohol, sindrom ovarium polikistik, atau sleep apnea.

Baca juga: Anelat, Suplemen Asam Folat yang Baik Dikonsumsi Bumil dan Busui

Diagnosis Gangguan Metabolisme

Pertama-tama, dokter akan bertanya tentang gejala dan memeriksa riwayat medis penderita beserta keluarganya.

Di sini dokter akan mencari sumber penyakit metabolik pada anggota keluarga, yang mungkin mengindikasikan penyebab genetik.

Selanjutnya, dokter akan melakukan tes darah guna memeriksa kadar glukosa darah abnormal, yang merupakan tanda diabetes.

Penderita perlu melakukan beberapa hal sebelum melakukan prosedur tes darah. Pertama, mereka harus berpuasa selama 12 jam.

Penderita juga perlu menghentikan konsumsi obat-obatan, karena bisa memengaruhi hasil tes darah.

Penanganan Gangguan Metabolisme

Jika telah didiagnosis dengan gangguan metabolisme, penderita disarankan untuk melakukan perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat.

Langkah ini berguna untuk membantu mencegah atau memperlambat masalah kesehatan yang serius, seperti serangan jantung atau stroke.

Gaya hidup sehat yang disarankan, meliputi:

1. Berolahraga secara Teratur

Setidaknya lakukan cara ini selama 30 menit setiap hari. Tak perlu dalam intensitas berat, penderita bisa melakukan jalan cepat.

Berolahraga juga dapat meningkatkan respons insulin dalam mengolah gula dalam tubuh, sehingga tidak terjadi penumpukan yang berdampak pada diabetes.

2. Penurunan Berat Badan

Diet Sehat
Foto: Diet Sehat (Istockphoto.com)

Kehilangan sebanyak 7 persen dari total berat badan dapat mengurangi resistensi insulin dan tekanan darah yang berdampak pada diabetes.

Caranya bisa dilakukan dengan membatasi asupan gula. Hindari makanan dengan tinggi gula, seperti kue, minuman manis, dan minuman bersoda.

Selanjutnya, konsisten melakukan diet sehat dalam jangka panjang. Makanan yang dikonsumsi bisa disesuaikan dengan aktivitas fisik dan kebutuhan kalori tubuh.

Agar rasa kenyang bertahan lebih lama, penderita bisa memperbanyak asupan makanan berserat.

Asupan ini bisa didapatkan dari sayuran, biji-bijian dan buah-buahan, seperti kacang hijau, brokoli, lentil, serta kacang lima.

3. Hindari Konsumsi Alkohol

Alkohol mengandung tinggi gula dan kalori yang bisa menyebabkan obesitas dan diabetes.

Tak hanya itu, konsumsi alkohol berlebihan juga bisa memengaruhi sistem otak yang berkaitan dengan kontrol insulin.

4. Berhenti Merokok

Saat sedang berusaha berhenti merokok, hindari faktor atau kebiasaan yang menjadi pemicunya.

Beberapa di antaranya minum kopi dan alkohol atau berkumpul dengan teman sesama perokok.

Jika terbiasa merokok setelah makan, cari pengalihan lain sebagai penggantinya, seperti mengunyah permen karet atau menggosok gigi.

5. Kelola Stres dengan Baik

Salah satu cara mengelola stres adalah melakukan kegiatan yang disukai. Misalnya saja memancing, membaca buku, dan menonton film atau drama Korea.

Jika merasa sulit memilih aktivitas yang menyenangkan, cobalah hal baru yang belum pernah dicoba.

Misalnya, melukis, memasak, berkebun, bermain puzzle, menyulam, belajar hal baru dari internet, atau mengikuti kelas dansa.

Baca juga: Hepamax, Obat yang Digunakan untuk Menjaga Fungsi Hati

Komplikasi Gangguan Metabolisme

Adapun komplikasi yang menghantui para penderita, antara lain:

1. Diabetes Tipe 2

Ini bisa terjadi jika penderita tidak melakukan perubahan gaya hidup untuk mengontrol kelebihan berat badan.

Itu berdampak pada meningkatnya resistensi insulin yang menyebabkan peningkatan kadar gula darah.

2. Sakit Jantung dan Pembuluh Darah

Kolesterol tinggi dan tekanan darah tinggi (hipertensi) berkontribusi pada penumpukan plak di arteri.

Plak ini mempersempit dan mengeraskan arteri, sehingga penderita berisiko terkena serangan jantung atau stroke.

Pencegahan Gangguan Metabolisme

Langkah yang efektif untuk mencegah gangguan metabolisme di antaranya melakukan aktivitas fisik 30 menit per hari.

Selain itu, konsumsi sayuran, buah-buahan, protein tanpa lemak dan biji-bijian. Batasi juga asupan lemak jenuh dan garam.

Terakhir, jauhi rokok dan konsumsi alkohol berlebihan.

Dengan penerapan langkah pencegahan yang konsisten, seseorang bisa terhindar dari gangguan metabolisme yang membahayakan kesehatan.

  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/metabolic-disorders#:~:text=A%20metabolic%20disorder%20occurs%20when,cause%20problems%20with%20energy%20regulation.
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/metabolic-syndrome/symptoms-causes/syc-20351916

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.