09 Juni 2024

Jerawat di Vagina: Penyebab, Cara Mencegah, dan Mengatasi

Pastikan jaga kebersihan vagina agar tidak muncul jerawat!

Tahukah, Moms kalau jerawat juga bisa muncul di vagina? Nah, jerawat di vagina serupa dengan jerawat yang terjadi di area lain dari tubuh.

Selain wajah, jerawat juga bisa muncul di bagian tubuh lainnya, seperti punggung, bokong hingga kulit kepala.

Jerawat bisa meradang, berwarna merah, dipenuhi nanah, terasa gatal, dan muncul dari berbagai ukuran. Lantas, apa penyebabnya?

Yuk, simak penjelasan seputar jerawat di vagina berikut ini!

Baca Juga: 7 Gambar Vagina untuk Mengenal Bentuk Organ Reproduksi Wanita

Gejala Jerawat di Vagina

Jerawat di vagina (Orami Photo Stocks)
Foto: Jerawat di vagina (Orami Photo Stocks)

Sama seperti jerawat lainnya, gejala jerawat di vagina umumnya berupa:

  • Benjolan kecil yang sakit bila disentuh
  • Memiliki mata putih berisi nanah
  • Kadang menyebabkan kemerahan di sekitar jerawat
  • Bengkak di area vagina (jarang terjadi).

Walaupun gejalanya jelas, ternyata masih banyak yang menyalahartikan jerawat di vagina dengan bisul.

Melansir Flo Health, kondisi bisul adalah jenis infeksi kulit, sedangkan jerawat merupakan kondisi ketika kulit mengalami peradangan akibat bakteri.

Selain itu, bisul biasanya bisa berisi nanah dan berukuran besar hingga menimbulkan gejala berupa demam dan rasa nyeri.

Jadi, selama benjolan hanya memiliki mata nanah namun tidak menyebabkan meriang, itu hanyalah jerawat di vagina pada umumnya.

Baca Juga: Jerawat Meradang, Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobatinya

Penyebab Jerawat di Vagina

Penyebab Jerawat Vagina
Foto: Penyebab Jerawat Vagina (Allure.com)

Moms, penyebab munculnya jerawat di vagina memiliki banyak faktor.

Umumnya, jerawat vagina muncul sebagai jerawat nanah yang mengelilingi rambut.

Kondisi ini dapat terjadi akibat beberapa hal, termasuk perubahan hormonal.

Melansir Medical News Today, beberapa penyebab jerawat di vagina, antara lain:

1. Dermatitis Kontak

Umumnya, jerawat di vagina disebabkan oleh dermatitis kontak.

Kondisi ini adalah reaksi yang muncul ketika vagina terpapar iritan atau alergen tertentu.

Dermatitis kontak pada area vagina juga dapat disebabkan oleh bergaam hal, seperti:

  • Sabun yang mengandung wewangian
  • Tisu
  • Tampon
  • Pembalut
  • Pelumas
  • Spermisida
  • Obat-obatan topikal
  • Deterjen

Selain itu, vagina juga dapat teriritasi karena keputihan, urine, ataupun sperma yang dapat memicu terbentuknya jerawat.

2. Folikulitis

Folikulitis juga menjadi salah satu penyebab umum jerawat di area kewanitaan.

Ini adalah infeksi dan peradangan pada folikel rambut yang berupa rongga kecil tempat tumbuhnya rambut, termasuk rambut kemaluan.

Folikulitis dapat disebabkan oleh berbagai hal, antara lain:

  • Mencukur bulu.
  • Rambut tumbuh ke dalam (ingrown hair).
  • Mengenakan celana ketat atau yang terlalu menggesek kulit.
  • Folikel tersumbat oleh produk tertentu atau keringat.
  • Berenang di kolam yang tidak bersih.

3. Moluskum Kontagiosum

Moluskum kontagiosum adalah infeksi virus pada kulit yang dapat terjadi di bagian tubuh mana saja, termasuk daerah vagina.

Kondisi ini menyebabkan timbulnya lesi berukuran kecil dan berwarna putih pada kulit yang disertai rasa sakit.

Moluskum kontagiosum biasanya membaik dalam waktu 6-12 bulan, namun dapat pula bertahan hingga 4 tahun.

4. Hidradenitis Suppurativa

Hidradenitis suppurativa adalah penyakit kulit kronis yang memengaruhi kelenjar keringat.

Penyakit ini menyebabkan timbulnya lesi seperti jerawat di sekitar tubuh, termasuk vulva, sehingga menyerupai jerawat di vagina.

Penyebab hidradenitis suppurativa belum diketahui secara pasti, serta tak dapat sembuh dengan mudah.

Tak hanya itu, penyakit langka ini juga bisa meninggalkan bekas luka.

Selain itu, hindari memakai pakaian yang terlalu ketat karena bisa menjadi tempat bagi perkembangbiakan bakteri karena area vagina yang selalu tertutup.

Baca Juga: Kenali Brazilian Wax dan 10 Tips untuk Mencegah Rasa Sakit!

5. Pengaruh Perubahan Hormon

Melansir laman Verywell Health, jerawat terjadi ketika pori-pori tersumbat dan hal ini bisa disebabkan oleh perubahan hormonal.

Perubahan hormon bisa menyebabkan jerawat di vagina karena hormon memengaruhi produksi minyak di kulit.

Selama masa pubertas, menstruasi, kehamilan, atau menopause, perubahan kadar hormon seperti estrogen dan progesteron dapat meningkatkan produksi sebum (minyak alami kulit).

Peningkatan sebum dapat menyebabkan penyumbatan pori-pori dan folikel rambut, yang berujung pada pembentukan jerawat.

Kondisi seperti Polycystic ovary syndrome (PCOS) juga dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon yang meningkatkan risiko jerawat di area genital.

Mengelola perubahan hormon melalui perawatan medis yang tepat dapat membantu mengurangi jerawat.

Baca Juga: 17+ Cara Menghilangkan Bau Vagina, Mudah dan Ampuh!

Cara Mencegah Jerawat di Vagina

Cara Mencegah Jerawat di Vagina
Foto: Cara Mencegah Jerawat di Vagina (Orami Photo Stock)

Berikut adalah cara mencegah jerawat di vagina secara lebih rinci:

1. Menjaga Kebersihan Pribadi

Melansir dari International Journal of Health Sciences and Research, kebersihan vagina penting diperhatikan untuk mencegah timbulnya jerawat.

Cuci area genital setiap hari dengan air hangat dan sabun yang lembut tanpa pewangi untuk menghindari iritasi.

Setelah mencuci, pastikan area tersebut benar-benar kering untuk mencegah kelembapan yang dapat menyebabkan bakteri tumbuh.

2. Hindari Pakaian Dalam yang Terlalu Ketat

Memilih pakaian yang tepat sangat penting untuk mencegah jerawat di vagina.

Gunakan pakaian dalam berbahan katun karena bahan ini memungkinkan sirkulasi udara dan menyerap kelembapan dengan baik, mencegah iritasi dan penumpukan keringat.

Hindari pakaian dalam yang terlalu ketat karena dapat menyebabkan gesekan dan iritasi pada kulit sensitif di area genital.

Sebaiknya, pilih pakaian yang longgar dan nyaman untuk mengurangi risiko iritasi dan menjaga area tetap kering.

Selain itu, gantilah pakaian dalam setiap hari dan segera setelah berolahraga atau berkeringat banyak untuk menjaga kebersihan.

3. Hindari Produk Pembersih yang Mengiritasi

Menghindari sabun yang mengiritasi sangat penting untuk menjaga kesehatan kulit di area genital.

Sabun yang mengandung pewangi, pewarna, atau bahan kimia keras dapat menyebabkan iritasi, kekeringan, dan ketidakseimbangan pH di area sensitif tersebut.

Sebaiknya, gunakan sabun yang diformulasikan khusus untuk area intim, yang biasanya lebih lembut dan tidak mengandung bahan yang berpotensi mengiritasi.

Pilihan lain adalah menggunakan pembersih berbasis air atau sabun bayi yang tidak mengandung pewangi.

Penggunaan produk yang tepat membantu menjaga kebersihan tanpa mengganggu keseimbangan alami kulit.

4. Perawatan Saat Bercukur

Perawatan saat bercukur penting untuk mencegah jerawat di area vagina.

Gunakan pisau cukur yang bersih dan tajam untuk menghindari iritasi dan infeksi.

Cukur searah pertumbuhan rambut untuk mengurangi risiko rambut tumbuh ke dalam dan iritasi.

Gunakan krim atau gel cukur untuk melindungi kulit dan memudahkan proses mencukur.

Setelah bercukur, oleskan pelembap atau minyak alami untuk menenangkan kulit dan mencegah iritasi.

Langkah-langkah ini membantu menjaga kulit tetap sehat dan bebas dari jerawat.

5. Kebiasaan Hidup Sehat

Menjaga kebiasaan hidup sehat sangat penting untuk mencegah jerawat di vagina.

Konsumsi makanan sehat yang kaya akan vitamin dan mineral, seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan protein tanpa lemak, dapat membantu menjaga kesehatan kulit.

Minum cukup air setiap hari juga penting untuk menjaga hidrasi kulit dan membantu tubuh mengeluarkan racun.

Selain itu, olahraga teratur dapat meningkatkan sirkulasi darah dan mengurangi stres, yang keduanya berkontribusi pada kesehatan kulit.

Hindari merokok dan batasi konsumsi alkohol karena kedua kebiasaan ini dapat merusak kulit dan memicu timbulnya jerawat.

Dengan mengadopsi kebiasaan hidup sehat, Moms dapat membantu menjaga kebersihan dan kesehatan kulit di area genital.

Melansir studi di jurnal Clinical and Experimental Dermatology, jerawat di vagina bisa sembuh...

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.