Scroll untuk melanjutkan membaca

PARENTING ISLAMI
03 Oktober 2022

Belajar dari Kisah Nabi Ismail: Ditinggal di Padang Pasir hingga Hendak Dikurbankan

Kisah Nabi Ismail paling terkenal adalah saat akan dikurbankan
Belajar dari Kisah Nabi Ismail: Ditinggal di Padang Pasir hingga Hendak Dikurbankan

Foto: Freepik

Kisah Nabi Ismail mengandung banyak sekali hikmah.

Mulai sejak dilahirkan hingga akhir hayatnya, terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan dua ibadah utama yakni haji dan juga kurban.

Nabi Ismail merupakan anak dari Nabi Ibrahim dari Siti Hajar.

Begitu pentingnya kisah Nabi Ismail, dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman:

وَٱذْكُرْ فِى ٱلْكِتَٰبِ إِسْمَٰعِيلَ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ صَادِقَ ٱلْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَّبِيًّا

Artinya: “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur'an.

Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.” (QS Maryam: 54)

Baca Juga: 10 Hikmah Ibadah Haji yang Menenangkan Hati, Masya Allah!

Kisah Nabi Ismail dan Air Zamzam

Kisah Nabi Ismail -1

Foto: Kisah Nabi Ismail -1 (Zamzam.com)

Setelah melakukan pembangkangan terhadap Raja Namrud, Nabi Ibrahim pindah bersama keluarganya.

Nabi Ismail lahir di Kanaan dan sempat tinggal di Palestina.

Pada suatu hari, Allah SWT menguji Nabi Ibrahim untuk memboyong Ismail kecil dan Siti Hajar ke tempat tandus.

Hajar bertanya pada suaminya akan pergi ke mana saat melihat lembah tidak berpenghuni.

Ia terus mengulang pertanyaan hingga bertanya apakah Allah yang memerintahkan?

Nabi Ibrahim mengiyakan. Hajar menjawab dengan keyakinan bahwa Allah SWT tidak akan menelantarkan mereka.

Nabi Ibrahim meninggalkan mereka dengan perasaan kalut sambil berdoa agar Allah senantiasa melindungi mereka.

Hajar juga yang terus meyakinkan diri bahwa Allah SWT tidak akan meninggalkannya sendiri.

Dirinya hanya bertahan hidup dari bekal air yang dibawa dari Syam (Palestina).

Saat persediaan bekal habis, Hajar dan Ismail kecil haus.

Hajar pun berusaha mencari air dengan berlari dari Bukit Shafa dan Bukit Marwah sebanyak tujuh kali, tapi tidak menghasilkan apapun.

Tiba-tiba ada yang menyapa Hajar saat berada di puncak bukit Marwah dan mengatakan bahwa akan ada yang menolong Hajar dan anaknya.

Ternyata, Allah SWT menurunkan malaikat Jibril untuk membuat sumber mata air yang airnya tidak pernah kering hingga saat ini.

Sambil menangis, Ismail kecil menghentakkan kakinya dan keluarlah air jernih dari tanah yang tandus.

Hajar senang sekali hingga bergumam: “Zam, zam, zam (berkumpul).”

Allah SWT mencatatkan kisah Hajar bolak-balik bukit Shafa dan Marwah dalam surat Al-Baqarah ayat 158.

Lalu, ini menjadi salah satu rukun dalam ibadah haji.

Baca Juga: Hukum Melaksanakan Penyembelihan Hewan Kurban, Wajib Tahu!

Kisah Nabi Ismail dan Sejarah Kurban

Kisah Nabi Ismail -2

Foto: Kisah Nabi Ismail -2 (Suara.com)

Setelah kisah air zamzam, Nabi Ibrahim rutin berkunjung ke Makkah untuk bertemu keluarganya dan melepas rindu.

Semakin lama bersama, Nabi Ibrahim begitu sayang kepada mereka.

Namun, ternyata dalam tidurnya dia bermimpi menyembelih dan mengurbankan putra tersayangnya itu.

Allah SWT kembali menguji keimanan Nabi Ibrahim. Meski sempat merasa ragu, akhirnya dia meminta pendapat anaknya.

Ismail mantap untuk melakukannya dan meminta ayahnya untuk patuh pada perintah Allah SWT.

Kemudian, Nabi Ibrahim membawa Ismail ke perbatasan Mina dan Muzdalifah.

Melansir NU Online, menurut sebagian pendapat, ketika Nabi Ibrahim mendapatkan mimpi tersebut, Nabi Ismail sedang berumur tujuh tahun.

Ada juga yang mengatakan berumur tiga belas tahun, sebagaimana yang dijelaskan Syekh Wahbah Zuhaili dalam Kitab Tafsir Al-Munir.

Sebagai sosok yang sangat taat pada perintah Allah, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail melakukan apa yang telah menjadi ketetapan bagi keduanya.

Hal ini menunjukkan bahwa seorang hamba harus mengikuti semua perintah Tuhan-Nya.

Kejadian itu juga merupakan contoh keteladanan luar biasa yang harus dilakukan oleh seluruh umat Islam.

Bahwa tidak ada yang lebih mulia selain mengikuti perintah-Nya dan tidak ada kenikmatan yang lebih sempurna selain menjalankan semua kewajiban-Nya.

Saat menuju lokasi penyembelihan, iblis menggoda Nabi Ibrahim agar membatalkan rencananya.

Namun, dirinya menyambitnya dengan batu yang kini dikenal dengan sebutan lempar jumroh saat prosesi haji.

Di Jabal Qurban, Nabi Ibrahim membaringkan Ismail dan menutup matanya dengan kain putih.

Setelah pisau sudah ada di tangannya, Nabi Ibrahim meletakkan pisau tajam itu ke leher Nabi Ismail.

Namun, keajaiban datang dari Allah SWT. Pisau itu ternyata sama sekali tidak melukai Nabi Ismail.

Beberapa kali Nabi Ibrahim mengulanginya, tapi tidak ada yang berubah.

Berbagai pertanyaan muncul saat itu, sebab pisau yang sangat tajam dan bahkan bisa membelah batu yang begitu keras.

Namun, justru tidak bisa melukai leher Nabi Ismail yang begitu halus dan lembut.

Saat pisau siap menyembelih anaknya, malaikat Jibril kemudian datang dan menggantikannya dengan sembelihan yang besar.

Kejadian tersebut Allah catat dalam surat As-Shafaat ayat 107.

Menurut tafsir dari Ibnu Abbas, hewan yang menggantikan Nabi Ismail tersebut adalah sejenis kibas atau kambing spesial yang berasal dari surga.

Peristiwa yang dialami Nabi Ismail ini menjadi awal mula turunnya perintah berkurban untuk umat Islam yang memiliki finansial lebih.

Baca Juga: 3 Doa Minum Air Zam Zam, Bisa Mengabulkan Keinginan, Masya Allah!

Kisah Nabi Ismail dan Pembangunan Ka’bah

Kisah Nabi Ismail -3

Foto: Kisah Nabi Ismail -3 (Zawiyahjakarta.or.id)

Setelah dua kejadian besar tersebut, kisah Nabi Ismail dan ayahnya terus berlanjut.

Saat dewasa, Allah SWT meminta keduanya untuk membangun Ka'bah sebagai rumah ibadah pertama bagi manusia.

Keduanya membangun Ka’bah langsung di bawah bimbingan Allah SWT melalui perantara awan.

Setelah menentukan derajat posisi, Nabi Ibrahim membangun pondasi.

Kemudian, dia meminta tolong pada Nabi Ismail untuk mencari batu paling bagus sebagai penanda manusia.

Dan Ismail bertemu Jibril kemudian memberinya batu hitam yang dikenal sebagai Hajar Aswad.

Ismail pun berlari menemui ayahnya untuk memberikan batu cantik tersebut.

Betapa senangnya Nabi Ibrahim hingga mencium batu tersebut berkali-kali.

Setelah batu tersebut diletakkan di tempatnya, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail berdoa kepada Allah SWT agar banyak yang berkunjung ke Makkah untuk melihat Ka’bah.

Allah SWT mengabulkan doanya hingga masuk ke dalam rukun Islam kelima, yakni menunaikan haji.

Bekas pijakan Nabi Ibrahim saat membangun Ka'bah diabadikan dengan sebutan Maqam Ibrahim.

Dikutip dari studi Ta’dibuna Jurnal Pendidikan Islam, dari keseluruhan kisah Nabi Ismail ini menunjukkan keberhasilan Nabi Ibrahim dalam mendidik putranya karena menjadikan tauhid sebagai fondasi utama.

Sejak kecil Ismail sudah dikenalkan dengan nilai-nilai ketuhanan. Dari kepatuhan kepada Tuhan berbuah kepatuhan kepada orang tua.

Itulah kisah nabi Ismail yang sarat hikmah dan menjadi contoh dalam menjadi muslim yang taat atas perintah Allah SWT.

  • https://zakat.or.id/kisah-nabi-ismail-lengkap-dari-haji-hingga-kurban/
  • https://islam.nu.or.id/sirah-nabawiyah/sejarah-kurban-teladan-nabi-ibrahim-dan-nabi-ismail-7hy6W
  • https://www.researchgate.net/publication/341067889_Pendidikan_karakter_berbasis_keluarga_pada_kisah_Nabi_Ibrahim_dan_Ismail