Parenting Islami

8 Maret 2021

Kisah Nabi Ibrahim AS: Teladan Sosok Pemimpin, Ayah, dan Suami yang Hebat

Sosok Ibrahim kecil akan mencuri hati setiap Moms saat membaca kisahnya
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Membacakan dongeng atau cerita sejak kecil terbukti memiliki banyak manfaat. Salah satunya adalah dapat menambah kosa kata dan meningkatkan kreativitas Si Kecil. Banyak sekali buku bacaan yang bisa Moms bacakan untuk Si Kecil.

Dari sekian banyak itu, tidak ada salahnya untuk membacakan kisah-kisah pada nabi. Selain memperkenalkan sosok nabi, ini juga akan membuat anak mengetahui kisah-kisah hebat yang telah dilalui para nabi agar Islam bisa menjadi agama yang besar hingga saat ini.

Salah satunya adalah kisan Nabi Ibrahim AS. Mengetahui kisahnya dari kecil hingga dewasa dan memiliki anak yang juga seorang nabi yaitu nabi Ismali AS akan memberikan pelajaran hidup yang luar biasa. Apalagi kisah hidupnya salah satunya berkaitan dengan rukun Islam, yakni haji.

Baca Juga: Inspiring Stories: 3 Kisah Haru Perjuangan Ibu dan Bayi Prematur

Kisah Nabi Ibrahim Kecil

Kisah Nabi Ibrahim -1.jpg

Foto: Btid.org

Kisah Nabi Ibrahim kecil berawal saat dia dilahirkan di sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Raja Namrud. Dia adalah raja lalim yang sangat angkuh dan egois. Salah satu peraturan yang meresahkan masyarakatnya adalah membunuh bayi laki-laki agar tidak ada lagi penggantinya sebagai raja.

Agar tidak ketahuan, maka ibunda Nabi Ibrahim AS mengasingkannya ke hutan. Atas kuasa Allah SWT, Nabi Ibrahim tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tangguh hingga selalu selamat dari berbagai macam bahaya. Hingga suatu ketika dia dapat kembali ke masyarakat.

Ketika Nabi Ibrahim AS telah kembali, dia begitu bingung karena banyak yang menyembah patung berhala. Hampir disepanjang perjalanan ke rumah dia melihat patung. Sampai dirumahnya, benda itu masih ditemukan dan ternyata ayahnya bekerja sebagai pembuat patung.

Nabi Ibrahim AS merasa bingung terhadap apa yang dilakukan oleh ayah dan masyarakatnya hingga memutuskan untuk menyendiri di gunung. Dalam usia sekecil itu, dia pun bertanya-tanya kepada dirinya dan rasa ingin tahunya sangat besar. Di manakah Tuhan itu? Manakah yang dinamakan Tuhan?

Kemudia Allah memberikan mukjizat kepadanya, yaitu sebuah pemikiran yang cerdas dan kritis. Allah SWT mengutusnya sebagai penyampai keberadaanNya selama ini kelak masyarakat meninggalkan berhala yang tidak penting dan bertakwa kepadaNya .

Dengan kecerdasannya, dia menjalankan taktik untuk menyadarkan Raja Namrud dan pengikutnya. Nabi Ibrahim menjalankan aksinya dengan menghancurkan semua berhala terkecuali berhala yang paling besar.

Saat Raja Namrud kembali dari luar kota, dia marah besar. Dia mencari orang yang merusak berhala-berhalanya. Salah satu pengikutnya memberi tahu bahwa Nabi Ibrahim yang melakukannya. Dengan penuh rasa marah, dia meminta Nabi Ibrahim untuk menghadapnya.

Raja Namrud: “Wahai Ibrahim, bukankah engkau yang telah menghancurkan berhala-berhala ini?”

Nabi Ibrahim: “Bukan!”

Raja Namrud: “Lalu siapa lagi kalau, bukankah kau berada di sini saat kami pergi dan engkau membenci berhala-berhala ini?”

Nabi Ibrahim: “Ya, tapi bukan aku yang menghancurkan berhala-berhala itu. Aku pikir, berhala besar itulah yang menghancurkannya, bukankah kampaknya berada di lehernya?”

Raja Namrud: “Mana mungkin patung berhala dapat berbuat semacam itu!”.

Mendengar hal itu dengan tegas Nabi Ibrahim berkata: “Kalau begitu, kenapa engkau menyembah berhala yang tidak dapat berbuat apa-apa?”

Begitu pintar dan cerdiknya Nabi Ibrahim menjawab segala pertanyaan dari Raja Namrud tersebut. Hingga akhirnya banyak masyarakat yang tersadar bahwa Tuhan yang selama ini mereka sembah tidak dapat bergerak, melihat, dan hanya bisa diam.

Baca Juga: 9 Kisah dari Orang Terkenal yang Mengajarkan Kita Agar Tidak Mudah Menyerah

Kisah Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Keluarganya

Kisah Nabi Ibrahim -2.jpg

Foto: Rafed.net

Kisah Nabi Ibrahim berlanjut saat dia, istrinya Hajar dan bayi kecil mereka Isma'il melakukan perjalanan selama berhari-hari. Kemudian, mereka berhenti di tempat yang tidak memiliki air, tumbuhan atau kehidupan manusia. Satu-satunya hal yang bisa dilihat adalah bukit dan pasir.

Nabi Ibrahim membantu istri dan anaknya turun dan kemudian meninggalkan mereka dengan sedikit makanan dan air minum. Saat dia naik kembali ke atas untanya, Hajar sangat terkejut dan bertanya kepadanya, "Mau ke mana Ibrahim, meninggalkan kami di lembah tandus ini?"

Nabi Ibrahim tidak menjawabnya. Hajar khawatir hal buruk akan menimpa mereka, terutama bayinya yang bisa mati kelaparan dan kehausan. Kemudian Hajar bertanya lagi, "Apakah Allah memerintahkanmu untuk melakukannya?". “Ya,” jawab Nabi Ibrahim.

Karena Hajar adalah istri yang taat dan memiliki iman yang kuat, dia berkata: “Jika ini adalah Perintah Allah, maka Dia tidak akan meninggalkan kita,”. Meski Nabi Ibrahim sangat mengkhawatirkan keluarganya, dia tahu Allah SWT sedang mengujinya; dan Allah SWT pasti menjaga keluarganya.

Nabi Ibrahim pun berdoa: “Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur,” (QS Ibrahim: 37).

Setelah air dan makanan habis, Hajar dan bayinya kelaparan dan kehausan. Bayi Isma'il mulai menangis dengan sedih dan air mata Hajar pun mulai mengalir. Karena tidak tahan, Hajarpun meletakkan Ismali dan mulai mencari air.

Dia berlarian dari Gunung As-Safa ke gunung Al-Marwa berharap menemukan makanan, air atau seseorang untuk membantu mereka. Hajar melakukannya selama 7 kali sambil terus berdoa. Kejadian ini menjadi salah satu bagian dari haji, yakni berlari kecil antara Safa dan Marwa.

Hajar kembali dan memandang bayinya yang tanpa daya. Dia menangis dan berdoa dengan sepenuh hati agar Allah SWT membantu mereka. Kemudian keajaiban terjadi. Hajar melihat air jernih keluar dari tanah yang kering di dekat kaki bayinya.

Allah SWT telah menanggapi tangisannya! Dengan cepat, dia menuangkan air ke mulut Isma'il dan kemudian meminumnya juga. Inilah yang menjadi kisah hadirnya air Zam-zam yang masih mengalir tanpa mengering hingga kini.

Kisah ketaatan Nabi Ibrahim dan keluarganya berlanjut ketika dia bermimpi aneh. Saat nabi Isma’il masih muda, dia bermimpi bahwa dia mengorbankan putra satu-satunya yang sangat dicintai. Namun, Nabi Ibrahim tahu bahwa mimpinya merupakan perintah Allah SWT dan dia akan menaati perintah itu.

Ini adalah pengorbanan yang sangat besar. Hanya seorang nabi besar seperti Ibrahim yang mampu melakukan tugas ini sebagai bukti cinta sejatinya kepada Penciptanya. Nabi Ibrahim kemudian memberi tahu Isma'il tentang mimpi itu dengan rasa pilu.

Ismail berkata: "Oh ayahku! Lakukan apa yang diperintahkan, jika Allah menghendaki,". Isma’il kemudian melepas pakaiannya dan meminum air. Khawatir akan kesulitan, Isma'il meminta ayahnya untuk mengikat tangan dan kakinya.

Nabi Ibrahim kemudian menajamkan pisaunya agar kematiannya cepat dan rasa sakitnya berkurang. Dengan berat hati, dia mengangkat pisaunya dan membawanya ke tenggorokan Isma'il, tetapi pisaunya tidak mau memotong!

Ismail mendesak ayahnya untuk menekan lebih keras namun tetap saja tidak terpotong. Nabi Ibrahim kemudian meminta pengampunan atas kelemahannya, dan Allah SWT menjawab permohonannya, "Wahai Ibrahim, kamu telah memenuhi mimpinya, maka kami memberi pahala yang taat,"

Setelah itu, muncullah seekor domba jantan besar menggantikan Isma'il. Pisau tajam itu nyatanya dapat memotong tenggorokan domba itu dengan satu gerakan cepat. Inilah kisah Nabi Ibrahim yang menjadi dasar adanya hari raya qurban atau Idul Adha.

Baca Juga: 4 Film Hollywood Ini Berdasarkan Kisah Nyata

Keutamaan dalam Kisah Nabi Ibrahim

Kisah Nabi Ibrahim -3.jpg

Foto: Fa.interaztv.com

Sejak lahir hingga akhir hayatnya, kisah Nabi Ibrahim menjadi wujud ketaatan dan ketauhidan yang luar biasa. Ini bisa menjadi potret ideal bagi pendidikan dalam keluarga. Ada beberapa keutamaan yang bisa didapatkan dalam kisah Nabi Ibrahim.

Salah satunya seperti yang dicatat oleh Jurnal Ilmu Pendidikan Islam dan Keagamaan Pascasarjana UIN Sumatera Utara. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya nilai-nilai pendidikan Islam dalam aspek aqidah yang tertera dalam surat Al-an'am ayat 74-81, yakni:

  • Nilai aqidah. Allah SWT tidak akan meninggalkan dan akan selalu mengawasi makhluknya; Allah SWT akan memberikan petunjuk kepada makhluk-Nya; dan Allah SWT tidak sederajat dengan makhluknya.
  • Nilai moral. Akhlak kepada Allah (habluminallah): jika Allah SWT memberi petunjuk dan menjawab doa hambanya, maka kewajiban manusia untuk menerima dan mematuhinya.
  • Nilai edukasi. Akhlak yang ditampilkan dalam kisah Nabi Ibrahim AS adalah akhlak yang luhur, baik dalam menghadapi ayahnya atau umatnya yang kafir. Dia mengajak manusia berdialog menggunakan logika dan gaya persuasif dalam menyampaikan kebenaran.

Selain itu, dalam kisah Nabi Ibrahim juga ditemukan sosok nabi, pemimpin, ayah, dan suami yang luar biasa. Dikutip Human Appeal, inilah karakteristik Nabi Ibrahim yang terpuji.

  • Sosok pemimpin sejati. Allah SWT menjadikannya seorang imam, pemimpin umat, dan fokusnya adalah melanjutkan warisan ini untuk keturunannya dan ummat. Dia tahu cara menumbuhkan kepemimpinan dan berdoa kepada Allah SWT. Dia selalu terbuka saat memimpin dan melakukan kebaikan, serta menginspirasi orang lain untuk mengambil tindakan. Dia juga tahu pentingnya memastikan bahwa dia tidak mengabaikan keluarganya dalam dakwah, karena dia adalah orang yang seimbang.
  • Memiliki kepercayaan yang sempurna. Nabi Ibrahim sangat menginspirasi dalam hal ketakwaan dan ketauhidan. Dia lebih fokus untuk menyenangkan Allah SWT dan menjadikan-Nya sebagai prioritas. Dalam perjalanan hidupnya, Nabi Ibrahim memiliki tawakul atau kepercyaan, karena hanya bergantung kepada Allah SWT dan tidak ada yang bisa menggoyangkan keimanannya.
  • Contoh kesabaran. Ketika dihadapkan pada tantangan, cobaan dan ujian, Nabi Ibrahim selalu bersikap tenang dan bijaksana. Ketika ayahnya menentang dia dan pesannya, dia tidak marah dan tetap sabar. Dia berbicara kepada ayahnya dengan cara yang lemah lembut.
  • Dia beribadah dengan Ihsaan (keunggulan). Banyak orang yang beribadah dengan tergesa-gesa, misalnya terburu-buru sholat. Namun, Nabi Ibrahim menunjukkan kualitas ibadah yang sangat istimewa sepanjang hidupnya.

Banyak hikmah yang bisa dipetik dalam kisah Nabi Ibrahim ini. Moms bisa mengajak Si Kecil untuk mencari tahu bersama.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait