Kesehatan

27 Agustus 2021

5 Jenis Kista Ovarium yang Wajib Moms Waspadai, Jangan Dianggap Remeh!

Umumnya, kista ovarium tidak menimbulkan gejala. Tetapi waspada apabila Moms merasakan hal-hal ini
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Cholif Rahma
Disunting oleh Karla Farhana

Apakah Moms pernah mendengar istilah kista ovarium? Kista ini seperti kantong padat yang berisi cairan di dalam ovarium. Ini akan menjadi masalah ketika tidak hilang atau membesar.

Ini juga bisa menjadi menyakitkan. Tapi dalam kebanyakan kasus, kista tidak menimbulkan rasa sakit dan gejalanya hanya samar-samar.

Ada juga kemungkinan juga menimbulkan kanker, tetapi jarang terjadi. Tapi peluang berubahnya kista menjadi kanker akan meningkat seiring bertambahnya usia.

Dilansir Mayo Clinic , banyak perempuan yang memiliki kista ovarium pada suatu waktu. Sebagian besar menghilang tanpa pengobatan dalam beberapa bulan.

Baca Juga: Punya Kista, Begini Perjuangan Rachel Goddard Selama Hamil

Jenis-jenis Kista Ovarium

Penyeba kista ovarium

Foto: Orami Photo Stock

Ovarium sendiri merupakan bagian dari sistem reproduksi perempuan. Ovarium terletak di perut bagian bawah dan di kedua sisi rahim. Perempuan memiliki dua ovarium yang menghasilkan telur dan hormon estrogen dan progesteron.

Dokter kandungan, Mark Dassel, MD mengatakan bahwa faktanya, banyak kista didiagnosis ketika perempuan sedang melakukan annual pelvic exams atau tes-tes lainnya yang dilakukan sebenarnya bukan untuk mencari tahu ada kista atau tidak.

Bahkan, kista yang sudah cukup besar pun sering tidak diperhatikan. “Tetapi, jika kista jadi cukup besar, biasanya akan menciptakan perasaan tertekan di bawah perut atau bahkan rasa sakit,” jelas dr Mark.

Ovarium biasanya menumbuhkan struktur seperti kista yang disebut folikel setiap bulan. Folikel menghasilkan hormon estrogen dan progesteron dan melepaskan sel telur saat berovulasi.

Jika folikel bulanan normal terus tumbuh, itu dikenal sebagai kista fungsional, jenis yang paling umum adalah kista fungsional, seperti kista folikel dan kista corpus luteum.

Dilansir dari Office on Women's Health, berikut adalah jenis kista ovarium yang umumnya dialami perempuan:

1. Kista Folikel

Saat perempuan mengalami siklus menstruasi, sel telur tumbuh di dalam kantung yang disebut folikel. Kantung ini letaknya ada di dalam ovarium.

Dalam kebanyakan kasus, folikel akan membuka dan melepaskan sel telur. Tapi, apabila folikel tidak membuka, cairan di dalam folikel bisa membentuk kista pada ovarium.

2. Kista Corpus Luteum

Kantung folikel biasanya larut setelah melepaskan telur. Tetapi jika kantung tidak larut dan pembukaan kantung tidak menutup, cairan tambahan dapat berkembang di dalam kantung, dan akumulasi cairan ini menyebabkan kista corpus luteum.

Beberapa jenis kista ovarium lainnya adalah:

  • Kista dermoid: pertumbuhan seperti kantung pada ovarium yang bisa mengandung rambut, lemak, dan jaringan lainnya. Tumor ovarium jinak dan ganas juga dapat bersifat kistik. Kadang-kadang, jaringan ovarium berkembang secara tidak normal untuk membentuk jaringan tubuh lain seperti rambut atau gigi. Kista dengan jaringan abnormal ini benar-benar tumor yang disebut teratoma kistik jinak atau kista dermoid.
  • Cystadenoma: pertumbuhan non-kanker yang bisa berkembang di bagian luar ovarium.
  • Endometrioma: jaringan yang biasanya tumbuh di dalam rahim bisa berkembang di luar rahim dan melekat pada ovarium hingga menghasilkan kista.

3. Kista Coklat

Endometriosis adalah suatu kondisi di mana sel-sel yang biasanya tumbuh di dalam sebagai lapisan rahim (rahim), malah tumbuh di luar rahim di lokasi lain. Ovarium adalah situs umum untuk endometriosis.

Ketika endometriosis melibatkan ovarium, area jaringan endometrium dapat tumbuh dan berdarah dari waktu ke waktu, membentuk kista berisi darah dengan isi berwarna merah atau coklat yang disebut endometrioma, kadang-kadang disebut sebagai 'kista coklat'.

4. Sindrom Ovarium Polikistik

Kondisi yang dikenal sebagai sindrom ovarium polikistik atau PCOS ditandai dengan adanya beberapa kista kecil di kedua ovarium. PCOS dikaitkan dengan sejumlah masalah hormonal dan merupakan penyebab paling umum infertilitas pada perempuan.

5. Abses Tubo-Ovarium

Infeksi pada organ panggul dapat melibatkan ovarium dan saluran telur. Pada kasus yang parah, ruang kistik berisi nanah mungkin ada pada, di dalam, atau di sekitar ovarium atau tuba. Ini dikenal sebagai abses tubo-ovarium.

Kista fungsional biasanya tidak berbahaya, jarang menimbulkan rasa sakit, dan sering hilang dengan sendirinya dalam dua atau tiga siklus menstruasi.

Baca Juga: Benarkah Siklus Menstruasi Tidak Teratur Bikin Susah Hamil?

Gejala Kista Ovarium

penyebab kista yang wajib diketahui hero banner magz (1510x849)

Foto: Orami Photo Stock

Biasanya, kista ovarium tidak menimbulkan gejala apapun. Tetapi, gejala ini bisa muncul ketika kista sedang berkembang dalam tubuh. Berikut ini beberapa gejala yang patut Moms waspadai:

  • Perut kembung atau bengkak.
  • BAB terasa sakit.
  • Nyeri panggul sebelum atau selama menstruasi.
  • Hubungan seksual terasa menyakitkan.
  • Sakit di punggung bagian bawah atau paha.
  • Nyeri payudara.
  • Mual dan muntah.
  • Kenaikan berat badan.
  • Pendarahan pada vagina (bukan menstruasi).
  • Buang air kecil jadi lebih sering.
  • Susah buang air kecil.

Apabila Moms mengalami gejala kista ovarium di bawah ini, maka sebaiknya segera konsultasikan ke dokter untuk pengobatan lebih lanjut. Gejala yang bisa berbahaya meliputi:

  • Nyeri panggul yang sangat parah.
  • Demam tinggi.
  • Pingsan atau pusing.
  • Pernapasan cepat.

Gejala-gejala di atas bisa menunjukkan kista pecah yang bisa mengakibatkan penyakit serius apabila tidak ditangani dengan cepat.

Baca Juga: Patut Tahu! Ternyata Ini Bedanya Tumor, Kanker dan Kista

Penyebab dan Komplikasi Kista Ovarium

Kista Ovarium -3

Foto: Orami Photo Stock

Ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko kista ovarium. Hal-hal yang mungkin membuat Moms lebih mungkin terkena kista ovarium meliputi:

  • Masalah hormonal. Mengkonsumsi obat kesuburan seperti clomiphene (Clomid) untuk membantu berovulasi dapat meningkatkan risiko kista.
  • Kehamilan. Kista yang terbentuk selama ovulasi mungkin tetap berada di ovarium setelah hamil dan selama kehamilan.
  • Endometriosis. Sel-sel yang biasanya melapisi bagian dalam rahim akan tumbuh di luarnya. Sel-sel ‘bandel’ ini dapat menempel pada ovarium dan menyebabkan tumbuhnya kista.
  • Infeksi panggul yang parah. Jika ini menyebar ke ovarium, itu dapat menyebabkan tumbuhnya kista di sana.
  • Kista ovarium sebelumnya. Jika Moms pernah memiliki setidaknya satu kista ovarium sebelumnya, ini akan menjadi penyebab bagi Moms untuk lebih mungkin mendapatkan kista yang lain.

Setelah mengetahui penyebabnya, ternyata beberapa perempuan juga dapat mengalami komplikasi kista ovarium yang tidak biasa.

Beberapa perempuan mengembangkan jenis kista yang kurang umum yang ditemukan dokter selama pemeriksaan panggul. Massa ovarium kistik yang berkembang setelah menopause mungkin bersifat kanker (ganas).

Dokter mungkin mengetahuinya selama pemeriksaan panggul, jadi penting untuk melakukan pemeriksaan rutin.

Beberapa komplikasi kista ovarium di antaranya:

  • Torsi Ovarium. Jika kista tumbuh besar, mereka dapat membuat ovarium bergerak dan memutar. Proses Memutar atau yang disebut puntir ovarium ini sangat menyakitkan. Gejalanya dapat berupa nyeri panggul yang parah secara tiba-tiba, mual, dan muntah. Torsi ovarium juga dapat menurunkan atau menghentikan aliran darah ke ovarium.
  • Pecah. Kista juga dapat pecah dan menyebabkan nyeri hebat yang disertai pendarahan, terutama jika kista berukuran besar. Seks vagina dan aktivitas lainnya juga lebih mungkin dapat membuat kista pecah. Semakin besar kista, semakin besar risiko pecahnya. Kista yang pecah terkadang sembuh dengan sendirinya, tetapi seringkali termasuk dalam keadaan darurat medis.
  • Kista ovarium yang terinfeksi. Kista ovarium dapat berkembang sebagai respons terhadap infeksi panggul, membentuk abses. Jika abses pecah, bakteri berbahaya dapat menyebar ke seluruh tubuh.Itulah mengapa penting untuk melakukan pemeriksaan panggul secara teratur.

Baca Juga: Patut Tahu! Ternyata Ini Bedanya Tumor, Kanker dan Kista

Bagaimana Cara Mengobati Kista Ovarium?

kista ovarium

Foto: freepik.com

Melansir National Health Service, ada beberapa pengobatan dan tindakan medis yang digunakan dalam mengobati kista ovarium. Berikut ini penjelasan lengkapnya:

1. Menunggu dengan waspada

Dalam kebanyakan kasus, kebijakan "menunggu dengan waspada" direkomendasikan.

Ini berarti Moms tidak akan menerima perawatan segera, tetapi mungkin melakukan pemindaian ultrasound beberapa minggu atau bulan kemudian untuk memeriksa apakah kista ovarium telah hilang.

Jika Moms telah melewati masa menopause, Moms mungkin disarankan untuk melakukan pemindaian ultrasound dan tes darah setiap 4 bulan selama setahun, karena Moms akan memiliki risiko kanker ovarium yang sedikit lebih tinggi.

Jika pemindaian menunjukkan bahwa kista telah hilang, tes dan pengobatan lebih lanjut biasanya tidak diperlukan. Pembedahan mungkin disarankan jika kista masih ada.

2. Operasi

Kista ovarium yang besar atau persisten, atau kista yang menyebabkan gejala, biasanya perlu diangkat melalui pembedahan.

Pembedahan atau operasi juga biasanya dianjurkan jika ada kekhawatiran bahwa kista bisa menjadi kanker atau bisa menjadi kanker.

Ada 2 jenis operasi yang digunakan untuk mengangkat kista ovarium:

Laparoskopi

Sebagian besar kista ovarium dapat diangkat menggunakan laparoskopi. Ini adalah jenis operasi lubang kunci di mana sayatan kecil dibuat di perut dan gas ditiupkan ke panggul untuk memungkinkan ahli bedah mengakses indung telur.

Laparoskop (mikroskop kecil berbentuk tabung dengan lampu di ujungnya) dimasukkan ke dalam perut Moms sehingga dokter dapat melihat organ dalam. Dokter bedah kemudian mengangkat kista melalui luka kecil di kulit.

Setelah kista diangkat, luka akan ditutup dengan jahitan yang dapat hilang sendiri.

Laparoskopi lebih disukai karena menyebabkan lebih sedikit rasa sakit dan memiliki waktu pemulihan yang lebih cepat. Kebanyakan orang bisa pulang pada hari yang sama atau keesokan harinya.

Baca Juga: Benjol di Lutut, Hati-Hati Terkena Kista Baker

Laparotomi

Jika kista sangat besar, atau ada kemungkinan itu bisa menjadi kanker, laparotomi mungkin direkomendasikan.

Selama laparotomi, sayatan tunggal yang lebih besar dibuat di perut untuk memberi dokter akses yang lebih baik ke kista.

Seluruh kista ovarium dapat diangkat dan dikirim ke laboratorium untuk memeriksa apakah itu kanker. Jahitan atau staples akan digunakan untuk menutup sayatan.

Moms mungkin perlu tinggal di rumah sakit selama beberapa hari setelah prosedur laparotomi dilakukan.

3. Aspirasi

Metode aspirasi dilakukan untuk mengeluarkan cairan dari dalam kista. Dokter akan menggunakan alat bantu berupa jarum yang ditusukkan ke dalam kista, kemudian melakukan penyedotan cairan kista ke dalam tabung jarum suntik. Metode ini salah satunya digunakan untuk mengatasi kista ganglion.

Baca Juga: Berbeda dengan Bisul, Ini Cara Menghilangkan Kista Ateroma

Moms, itulah beberapa hal mengenai kista ovarium yang patut diwaspadai. Apabila Moms sudah merasakan beberapa gejala di atas, jangan ragu untuk segera memeriksakan diri ke dokter, ya.

  • https://www.womenshealth.gov/a-z-topics/ovarian-cysts
  • https://www.webmd.com/women/guide/ovarian-cysts
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ovarian-cysts/symptoms-causes/syc-20353405
  • https://www.medicinenet.com/ovarian_cysts/article.htm
  • https://www.nhs.uk/conditions/ovarian-cyst/treatment/
  • https://www.healthline.com/health/ovarian-cysts
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait