11 Februari 2022

Serba-serbi Pemeriksaan Laparoskopi untuk Diagnosis Penyakit

Dikenal minim risiko efek samping

Pemeriksaan laparoskopi atau dikenal sebagai laparoskopi diagnostik, adalah prosedur diagnostik bedah untuk memeriksa organ di dalam perut.

Ini adalah prosedur dengan risiko rendah (prosedur invasif minimal). Sebab, prosedur dilakukan dengan sayatan kecil saja, atau sebesar lubang kunci.

Alat yang digunakan bernama laparoskop, yaitu tabung tipis panjang dengan cahaya dan kamera beresolusi tinggi di bagian depan.

Alat ini dimasukkan melalui sayatan di dinding perut. Saat bergerak, kamera mengirimkan gambar ke monitor video.

Baca juga: Kenali Aerosol dan Manfaatnya dalam Pengobatan Penyakit

Laparoskopi memungkinkan dokter untuk melihat ke dalam tubuh secara real time, tanpa operasi terbuka.

Dokter juga dapat memperoleh sampel untuk diperiksa di laboratorium (biopsi) selama prosedur ini.

Mengapa Pemeriksaan Laparoskopi Dilakukan?

laparoskopi
Foto: laparoskopi (healthline.com)

Foto: healthline.com

Laparoskopi sering digunakan untuk mengidentifikasi dan mendiagnosis sumber nyeri di panggul atau perut.

Ini biasanya dilakukan ketika metode non-invasif lain tidak dapat membantu diagnosis.

Dalam banyak kasus, masalah perut juga dapat didiagnosis dengan teknik pencitraan, seperti:

  • Ultrasound (USG), yang menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk membuat gambar tubuh
  • CT scan, yang merupakan serangkaian sinar-X khusus yang mengambil gambar penampang tubuh
  • Pemindaian MRI, yang menggunakan magnet dan gelombang radio untuk menghasilkan gambar tubuh

Laparoskopi dilakukan ketika tes ini tidak memberikan informasi yang cukup untuk diagnosis.

Prosedur ini juga dapat digunakan untuk mengambil biopsi, atau sampel jaringan, dari organ tertentu di perut.

Menurut studi pada 2014 di Nigerian Journal of Surgery, pemeriksaan laparoskopi dapat membantu mencapai diagnosis akhir tanpa komplikasi yang signifikan.

Prosedurnya juga cepat dan efektif. Namun, apakah ini dapat menggantikan metode diagnostik lain, masih perlu studi lebih lanjut.

Dokter biasanya merekomendasikan laparoskopi untuk memeriksa organ-organ berikut:

Dengan mengamati area ini dengan laparoskop, dokter dapat mendeteksi:

  • Massa perut atau tumor
  • Cairan di rongga perut
  • Penyakit hati
  • Efektivitas perawatan tertentu

Selain itu, menurut ulasan pada 2004 di jurnal Langenbeck's Archives of Surgery, laparoskopi dapat berguna untuk menegakkan diagnosis dan stadium kanker.

Prosedur Pemeriksaan Laparoskopi

laparoskopi
Foto: laparoskopi (rghospitals.com)

Foto: rghospitals.com

Pemeriksaan laparoskopi biasanya dilakukan sebagai prosedur rawat jalan, atau tidak memerlukan rawat inap.

Prosedur ini dapat dilakukan di rumah sakit atau pusat bedah rawat jalan.

Dokter biasanya akan mengawali prosedur dengan memberi anestesi umum. Ini berarti pasien akan tidur selama prosedur dan tidak akan merasakan sakit.

Untuk mencapai anestesi umum, jalur intravena (IV) dimasukkan ke salah satu pembuluh darah.

Melalui infus, ahli anestesi akan memberi obat-obatan khusus dan juga memberikan hidrasi dengan cairan.

Dalam beberapa kasus, anestesi lokal digunakan sebagai gantinya.

Anestesi lokal membuat area tersebut mati rasa. Jadi meskipun pasien akan terjaga selama operasi, tidak akan merasakan sakit apa pun.

Baca juga: Waspada Bahaya Glomerulonefritis Akut pada Anak, Cek Gejala dan Penyebabnya di Sini!

Selama laparoskopi, dokter bedah membuat sayatan di bawah pusar, dan kemudian memasukkan tabung kecil yang disebut kanula.

Kanula digunakan untuk menggembungkan perut dengan gas karbon dioksida. Gas ini memungkinkan dokter untuk melihat organ perut dengan lebih jelas.

Setelah perut mengembang, dokter memasukkan laparoskop melalui sayatan.

Kamera yang terpasang pada laparoskop menampilkan gambar di layar, memungkinkan organ dilihat secara real time.

Jumlah dan ukuran sayatan tergantung pada penyakit spesifik apa yang coba dikonfirmasi atau dikesampingkan oleh dokter.

Sayatan ini memungkinkan alat lain untuk dimasukkan. Misalnya, jika dokter membutuhkan pengambilan sampel atau biopsi.

Setelah prosedur selesai, semua alat akan dilepas. Sayatan kemudian ditutup dengan jahitan dan dipasangi perban.

Hasil Pemeriksaan Laparoskopi

5 Konsultasi Dokter.jpg
Foto: 5 Konsultasi Dokter.jpg (Orami Photo Stock)

Foto: Orami Photo Stock

Jika biopsi diambil, ahli patologi akan memeriksanya.

Ahli patologi adalah seorang dokter yang berspesialisasi dalam analisis jaringan. Laporan yang merinci hasil akan dikirim ke dokter yang menangani.

Hasil normal dari laparoskopi menunjukkan tidak adanya perdarahan perut, hernia, dan penyumbatan usus. Ini juga berarti bahwa semua organ dalam kondisi sehat.

Hasil abnormal dari laparoskopi menunjukkan kondisi tertentu, dapat berupa:

  • Perlengketan atau bekas luka operasi
  • Hernia
  • Radang usus buntu
  • Fibroid, atau pertumbuhan abnormal di rahim
  • Kista atau tumor
  • Kanker
  • Kolesistitis, radang kandung empedu
  • Endometriosis, gangguan di mana jaringan yang membentuk lapisan tumbuh di luar rahim
  • Cedera atau trauma pada organ tertentu
  • Penyakit radang panggul, infeksi pada organ reproduksi

Dokter akan menjadwalkan janji temu selanjutnya untuk membahas hasilnya.

Jika ditemukan kondisi medis yang serius, dokter akan membuat rencana atau pilihan pengobatan yang sesuai.

Risiko Pemeriksaan Laparoskopi

Risiko paling umum yang terkait dengan pemeriksaan laparoskopi adalah pendarahan, infeksi, dan kerusakan organ di perut. Namun, ini adalah kejadian langka.

Baca juga: Peritonitis: Pengertian, Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasi

Setelah prosedur pemeriksaan laparoskopi selesai, penting untuk memperhatikan tanda-tanda infeksi. Hubungi dokter jika mengalami:

  • Demam atau kedinginan
  • Sakit perut yang menjadi lebih intens dari waktu ke waktu
  • Kemerahan, pembengkakan, pendarahan, atau keluar cairan di tempat sayatan
  • Mual atau muntah terus menerus
  • Batuk terus-menerus
  • Sesak napas
  • Ketidakmampuan untuk buang air kecil
  • Pusing

Ada risiko kecil kerusakan pada organ yang diperiksa selama laparoskopi. Darah dan cairan lain bisa bocor ke tubuh jika ada organ yang tertusuk.

Dalam hal ini, operasi tambahan biasanya diperlukan untuk memperbaiki kerusakan.

Selain itu, ada juga beberapa risiko efek samping lain dari pemeriksaan laparoskopi, yang sifatnya kurang umum, yaitu:

  • Komplikasi dari anestesi umum
  • Radang dinding perut
  • Gumpalan darah, yang dapat menyebar ke panggul, kaki, atau paru-paru

Itulah pembahasan mengenai pemeriksaan laparoskopi. Lebih lanjutnya, bisa dibicarakan langsung pada dokter ya, Moms!

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/labs/pmc/articles/PMC4141449/
  • https://link.springer.com/article/10.1007%2Fs00423-004-0483-x
  • https://www.healthline.com/health/laparoscopy
  • https://medlineplus.gov/ency/article/003918.htm
  • https://www.nhs.uk/conditions/laparoscopy/

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.