13 September 2022

Mengenal Dermatitis Herpetiformis, Radang Kronis di Kulit yang Sering Diabaikan

Penyakit ini biasanya muncul pada usia dewasa muda atau 20 tahun ke atas

Dermatitis herpetiformis atau disebut juga dengan penyakit Duhring merupakan penyakit yang langka.

Kondisi ini hanya terjadi pada 10-25% penderita penyakit celiac.

Dermatitis herpetiformis yang tidak ditangani dengan baik berisiko menimbulkan berbagai komplikasi, seperti anemia, osteoporosis, hingga perburukan penyakit autoimun yang diderita.

Yuk, simak lebih lanjut mengenai penyakit dermatitis herpetiformis di bawah ini!

Baca Juga: 10 Rekomendasi Alat Olahraga Lari Treadmill yang Bagus untuk Nge-Gym di Rumah

Apa Itu Dermatitis Herpetiformis?

kulit gatal
Foto: kulit gatal

Foto Kulit Gatal (Orami Photo Stock)

Dermatitis herpetiformis atau yang dikenal dengan penyakit Duhring adalah sebuah penyakit kronis jangka panjang yang menyebabkan bintik-bintik atau benjolan gatal dan melepuh.

Ruam dan gatal sering terjadi pada siku, lutut, kulit kepala, punggung, dan bokong.

Kondisi dermatitis herpetiformis sering mengindikasi adanya penyakit intoleransi gluten, dimana dapat berhubungan dengan penyakit lain yang lebih serius, termasuk penyakit celiac.

Bahkan, dermatitis herpetiformis sering dikatakan sebagai manifestasi kulit dari penyakit celiac.

Ruam yang muncul biasanya terasa sangat gatal hingga dibutuhkan pengobatan untuk mengatasinya.

Pengobatan umumnya merupakan kombinasi antara perubahan gaya hidup dengan penggunaan obat untuk mengurangi keparahan gejala.

Melansir Clinical and Developmental Immunology, dibandingkan jenis dermatitis lainnya, dermatitis herpetiformis sebenarnya tergolong langka.

Kumpulan gejalanya banyak dialami oleh orang dewasa berusia 30-40 tahun, dengan jumlah penderita laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan.

Baca Juga: 5 Olahraga Peninggi Badan untuk Postur Tubuh Ideal, Termasuk Berenang dan Beberapa Gerakan Yoga!

Gejala Dermatitis Herpetiformis

dermatitis herpetiformis 2
Foto: dermatitis herpetiformis 2 (istockphoto.com)

Foto dermatitis herpetiformis (istockphoto.com)

Secara umum, gejala dermatitis herpetiformis adalah kulit yang terasa seperti terbakar atau tersengat di beberapa lokasi.

Kemudian, setelah gejala tersebut muncul, timbul benjolan kecil yang berkelompok dan terasa sangat gatal.

Benjolan ini dapat memiliki karakteristik yang berbeda, seperti:

  • Lepuhan
  • Luka yang berisi cairan di dalamnya
  • Luka yang menyerupai urtikaria
  • Luka yang meninggi
  • Plak berwarna merah dan menebal yang menyerupai gejala kulit pada dermatitis, skabies, dan urtikaria papular
  • Erosi atau krusta akibat garukan pada kulit yang gatal

Pada tahap ini, manifestasi klinis kulit pada DH kerap disalahartikan sebagai eksim.

Seringkali, manifestasi klinis kulit pada DH muncul pada daerah tertentu seperti:

  • Siku
  • Lutut
  • Kulit kepala
  • Bokong
  • Punggung
  • Bahu

Tidak menutup kemungkinan manifestasi kulit ini juga muncul pada badan, leher, sekitar paha, bahkan muncul pada enamel gigi.

Umumnya, manifestasi kulit ini muncul pada kedua sisi dari tubuh atau memiliki distribusi yang simetris.

Lepuhan pada DH umumnya akan mengering dan menyembuh dalam waktu 1-2 minggu.

Namun, lepuhan baru muncul di lokasi yang sama.

Pada manifestasi kulit DH yang telah mulai sembuh, dapat muncul post-inflammatory hypopigmentation atau hyperpigmentation.

Baca Juga: 9 Dekorasi Aquarium Sederhana yang Bisa Dads Coba di Rumah

Penyebab Dermatitis Herpetiformis

diabetes
Foto: diabetes (NPS.ORG.AU)

Foto Diabetes (Orami Photo Stock)

Dermatitis herpetiformis adalah jenis penyakit autoimun, yakni kondisi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi secara keliru menyerang sel dan jaringan kulit.

Melansir School of Medicine, pada dermatitis herpetiformis, reaksi autoimun tubuh dapat menimbulkan ruam saat penderitanya mengonsumsi makanan yang mengandung gluten.

Gluten adalah jenis protein yang terkandung dalam produk gandum, seperti mie, pasta, sereal, biskuit, roti, dan makanan lain yang berbahan dasar gandum.

Kemunculan dermatitis herpetiformis juga diduga terkait dengan faktor genetik, yaitu akibat mutasi pada gen HLA-DQ2 dan HLA-DQ8.

Risiko seseorang mengalami dermatitis herpetiformis meningkat lebih dari 5% jika keluarganya juga menderita kondisi ini.

Selain itu, seseorang juga lebih berisiko mengalami dermatitis herpetiformis jika menderita penyakit autoimun lain, seperti:

  • Penyakit autoimun tiroid, seperti penyakit Hashimoto
  • Sindrom Sjögren
  • Diabetes tipe 1
  • Lupus

Baca Juga: Ternyata Mudah, Ini Cara Mengecilkan Rahang Muka yang Lebar

Diagnosis Dermatitis Herpetiformis

lab
Foto: lab

Foto Laboratorium (Orami Photo Stock)

Diagnosis dermatitis herpetiformis dilakukan dengan cara biopsi, pemeriksaan usus halus, pemeriksaan auto-antibodi, dan biopsi usus halus. Berikut penjelasannya:

1. Biopsi atau Pengambilan Jaringan Kulit

Biopsi atau pengambilan jaringan kulit dilakukan untuk menegakkan diagnosis DH.

Pada DH umumnya ditemukan gambaran lepuhan subepidermal, sel peradangan netrofil dan eosinofil pada papilla dermis, dan deposisi granula dari IgA pada papila dermis.

2. Pemeriksaan Status Nutrisi

Pemeriksaan status nutrisi bertujuan mendeteksi gangguan autoimun lain.

Pada pemeriksaan ini, tes darah dilakukan untuk mengevaluasi darah lengkap, fungsi hati, fungsi kelenjar tiroid, serum kalsium, evaluasi zat besi, vitamin B12, dan folat.

3. Pemeriksaan Auto-Antibodi

Pemeriksaan auto-antibodi untuk mengevaluasi kondisi auto-antibodi terhadap IgA dan IgG.

DH umumnya dikaitkan dengan pembentukan IgA terhadap epidermal transglutaminase.

4. Biopsi Usus Halus

Biopsi usus halus dilakukan untuk mengonfirmasi keberadaan penyakit celiac.

Dokter juga akan menyarankan pemeriksaan lain, seperti tes HLA-DQ2 dan HLA-DQ8.

Cara Mengobati Dermatitis Herpetiformis

obat
Foto: obat (Orami Photo Stocks)

Foto Obat-obatan (Orami Photo Stock)

Cara mengobati dermatitis herpetiformis umumnya dilakukan untuk mengurangi gejala.

Berikut beberapa cara mengobati dermatitis herpetiformis yang umumnya dilakukan:

1. Pola Makan Bebas Gluten

Dokter dengan dibantu oleh ahli gizi akan menyarankan menu makanan bebas gluten yang harus dikonsumsi pasien selama beberapa bulan hingga 2 tahun.

Beberapa manfaat yang akan didapatkan dari pola makan bebas gluten ini adalah:

  • Mengurangi penggunaan obat-obatan pereda gejala
  • Mengurangi risiko terjadinya penyakit autoimun lain
  • Mengurangi risiko terjadinya limfoma usus
  • Meredakan sensitivitas usus terhadap gluten
  • Memperbaiki asupan nutrisi

2. Obat-obatan

Dokter akan memberikan antibiotik oral, yaitu dapsone.

Obat ini bekerja untuk meredakan gejala ruam yang timbul dalam waktu sekitar 3 hari.

Perlu diketahui bahwa dapsone adalah antibiotik yang dapat menimbulkan beberapa efek samping yang berbahaya, seperti anemia.

Oleh karena itu, obat ini hanya boleh dikonsumsi atas saran dan evaluasi dari dokter.

Jika pasien tidak bisa mengonsumsi dapsone akibat kondisi tertentu, dokter akan menggantinya dengan sulfapyridine atau sulfasalazine.

Untuk mengatasi gatal yang dirasakan pasien, dokter juga dapat memberikan obat dermatitis berupa krim kortikosteroid.

Selain itu, dokter juga akan mengimbau pasien untuk menghindari konsumsi garam beryodium dan beberapa jenis obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS).

Hal ini karena yodium dan OAINS dapat memicu kambuhnya dermatitis herpetiformis.

Baca Juga: 18 Cara Mengecilkan Paha, Mulai dari Makanan hingga Olahraga yang Bikin Paha Langsing

Itu dia Moms penjelasan mengenai penyakit dermatitis herpetiformis. Jika mengalami gejala di atas, segera periksakan diri ke dokter ya untuk mendapatkan penanganan lebih awal.

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3386601/
  • https://www.mdpi.com/1648-9144/57/8/843/htm
  • https://www.niddk.nih.gov/health-information/professionals/clinical-tools-patient-management/digestive-diseases/dermatitis-herpetiformis
  • https://celiac.org/about-celiac-disease/related-conditions/dermatitis-herpetiformis/
  • https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fimmu.2019.01290/full
  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/21460-dermatitis-herpetiformis

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.

rbb