Kesehatan Umum

28 Oktober 2021

6 Pilihan Obat Alergi, Pertimbangkan Sesuai Kebutuhan, ya!

Tersedia dalam bentuk pil, cairan, tetes mata, inhaler, krim kulit, hingga semprotan hidung
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Karinta
Disunting oleh Karla Farhana

Ketika alergi kambuh, kebanyakan orang memilih menggunakan obat alergi untuk membantu meredakan gejala.

Obat ini sebenarnya bukan menyembuhkan atau menghilangkan alergi, tetapi hanya meringankan agar gejala tidak bertambah parah.

Untuk bisa sembuh, obat alergi yang diberikan pun harus tepat. Jangan salah ya, Moms, berikut pilihan obat alergi sesuai penyebabnya.

Bagaimana Alergi Terjadi?

alergi-air.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Alergi terjadi saat sistem kekebalan tubuh merespons zat asing yang masuk ke dalam tubuh, misalnya melalui makanan, pernapasan, maupun kontak kulit.

Zat asing tersebut dikenal sebagai alergen. Kondisi ini membuat sel darah putih secara otomatis melepas antibodi yang kemudian mengikat sel bernama sel mast.

Selain itu, tubuh juga memproduksi protein bernama IgE yang bertugas menangkap alergi.

Nah, sel mast yang sebelumnya ditangkap oleh antibodi bisa pecah sehingga melepaskan bahan kimia dan histamin ke dalam aliran darah.

Inilah yang membuat munculnya gejala alergi, entah ringan atau parah. Adapun gejala alergi ringan seperti:

  • Gatal
  • Mata berair
  • Hidung meler
  • Tenggorokan gatal
  • Ruam kulit

Sementara gejala alergi yang lebih parah mencakup:

  • Bengkak pada tenggorokan
  • Napas berbunyi (mengi)
  • Susah bernapas

Baca Juga: Mengalami Alergi Udang? Begini Pertolongan Pertama dan Cara Mengatasinya

Gejala alergi parah berisiko mengancam jiwa bila tidak segera ditangani, Moms. Karenanya, Moms harus segera ke dokter untuk mengatasi gejalanya.

Selain ke dokter, ada pula berbagai obat yang bisa Moms konsumsi untuk mengatasi gejala alergi.

Berbagai Pilihan Obat Alergi

Untuk mengatasinya, Moms, Dads, atau Si Kecil bisa minum obat alergi yang tersedia dalam berbagai bentuk, seperti:

  • Pil
  • Cairan
  • Semprotan hidung
  • Inhaler
  • Krim kulit
  • Suntikan
  • Obat tetes mata

Ada obat alergi yang bisa dibeli bebas (Over the Counter atau OTC), tetapi ada juga yang perlu resep dari dokter.

Berikut penjelasan lebih lengkap seputar obat alergi beserta fungsi dan kemungkinan efek sampingnya.

1. Antihistamin

antihistamin.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Antihistamin, sesuai namanya, bertugas memblokir histamin.

Histamin adalah bahan kimia penyebab gejala alergi yang dilepaskan oleh sistem kekebalan tubuh selama reaksi alergi berlangsung.

Obat alergi antihistamin tersedia dalam berbagai bentuk seperti berikut:

Pil dan Cairan

Antihistamin oral (minum) bisa dibeli bebas maupun dengan resep dokter. Tujuannya untuk meredakan:

  • Hidung meler
  • Kulit gatal
  • Bengkak di kulit
  • Mata gatal dan berair
  • Gejala alergi lainnya

Obat alergi antihistamin dalam bentuk pil dan cairan berisiko menyebabkan kantuk.

Jadi, sebaiknya hindari konsumsi obat-obatan ini bila Moms, Dads, dan Si Kecil akan beraktivitas, ya.

Berikut obat alergi antihistamin pil dan cairan:

  • Difenhidramin
  • Klorfeniramin
  • Cetirizine (Zyrtec, Zyrtec Alergi)
  • Desloratadin (Clarinex)
  • Fexofenadine (Allegra, Allegra Alergi)
  • Levocetirizine (Xyzal, Xyzal Alergi)
  • Loratadin (Alavert, Claritin)

Semprotan Hidung

Obat alergi antihistamin yang tersedia dalam bentuk semprotan hidung berfungsi meredakan gejala alergi berupa:

Antihistamin berbentuk semprotan hidung ini punya kemungkinan efek samping berupa rasa pahit, lelah, dan mengantuk.

Berikut obat alergi antihistamin semprotan hidung:

  • Azelastine (Astelin, Astepro)
  • Olopatadin (Patanase)

Baca Juga: 7 Obat Biduran Alami untuk Mengatasi Kulit Gatal dan Kemerahan, Yuk Coba!

Obat Tetes Mata

Sama seperti antihistamin pil dan cairan, obat alergi antihistamin dalam bentuk tetes mata juga tersedia bebas maupun dengan resep dokter, mengutip dari Mayo Clinic.

Obat tetes mata untuk alergi ini biasanya dipakai untuk meredakan gejala berupa

Kandungan obat alergi tetes mata ini mungkin kombinasi dari antihistamin dan obat-obatan lainnya.

Sakit kepala dan mata kering mungkin Moms, Dads, dan Si Kecil alami sebagai efek samping dari obat alergi berbentuk tetes mata ini.

Berikut obat alergi antihistamin bentuk tetes mata:

  • Ketotifen (Alaway, Zaditor)
  • Olopatadine (Pataday, Patanol, Pazeo)
  • Pheniramine dan naphazoline (Visine, Opcon-A, lainnya)

2. Kortikosteroid

obat alergi

Foto: Orami Photo Stock

Kortikosteroid adalah obat alergi yang berfungsi untuk:

  • Meredakan peradangan
  • Mencegah dan mengobati hidung tersumbat
  • Bersin
  • Gatal
  • Pilek karena alergi

Obat alergi ini memiliki sediaan berupa pil, cairan, semprotan hidung, obat tetes mata, inhaler, hingga krim kulit.

Berikut obat alergi kortikosteroid semprotan hidung:

  • Budesonida (Rhinokort)
  • Fluticasone furoate (Sensimis Flonase)
  • Fluticasone propionate (Pereda Alergi Flonase)
  • Mometason (Nasonex)
  • Triamcinolone (Alergi Nasacort 24 Jam)

Berikut obat alergi kortikosteroid pil dan cairan resep:

  • Prednisolon (Prelon)
  • Prednison (Prednison Intensol, Rayos)
  • Metilprednisolon (Medrol)

Berikut obat alergi kortikosteroid inhaler:

  • Beclomethasone (Qvar Redihaler)
  • Budesonide (Pulmicort Flexhaler)
  • Ciclesonide (Alvesco)
  • Flutikason (Flovent)
  • Mometason (Asmanex Twisthaler)

Berikut obat alergi tetes mata:

  • Fluorometholon (Flarex, FML)
  • Loteprednol (Alrex, Lotemax)
  • Prednisolon (Omnipred, Pred Forte, lainnya)

Berikut obat alergi krim kulit:

  • Betametason (Dermabet, Diprolene, lainnya)
  • Desonide (Desonate, DesOwen)
  • Hidrokortison (Locoid, Micort-HC, lainnya)
  • Mometason (Elocon)
  • Triamsinolon

Baca Juga: Mengapa Ada Orang yang Alergi Air? Ini Penyebab hingga Pengobatannya

Kortikosteroid adalah obat alergi yang sangat efektif. Namun, obat ini harus diminum secara teratur sesuai aturan agar kerjanya bisa lebih efektif.

Kortikosteroid punya berbagai potensi efek samping, khususnya bila digunakan untuk waktu yang lama.

Efek samping obat alergi kortikosteroid bila dipakai dalam jangka pendek yakni:

Sementara bila digunakan untuk jangka panjang, efek samping kortikosteroid meliputi:

  • Pertumbuhan terhambat
  • Diabetes
  • Katarak mata
  • Osteoporosis
  • Kelemahan otot

3. Dekongestan

obat alergi

Foto: Orami Photo Stock

Obat alergi dekongestan biasanya dipakai untuk meredakan hidung tersumbat dan sinus.

Ini tersedia dalam bentuk pil, cairan, dan semprotan hidung.

Contoh dekongestan pil dan cairan seperti pseudoefedrin (Sudafed), sedangkan semprotan hidung yakni oksimetazolin (Afrin) dan tetrahidrozolin (Tizin).

Sayangnya, dekongestan tidak direkomendasikan untuk orang-orang dengan tekanan darah tinggi, penyakit kardiovaskular, glaukoma, dan hipertiroidisme.

4. Mast Cell Stabilizers

03 GUNAKAN OBAT SEMPROT HIDUNG - sumber firstcryparenting.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Mast cell stabilizers atau stabilisator sel mast adalah obat alergi yang membantu mengatasi peradangan ringan hingga sedang.

Obat ini bekerja dengan menghambat pelepasan bahan kimia dalam sistem kekebalan tubuh yang berperan terhadap reaksi alergi.

Biasanya, perlu waktu beberapa hari sampai obat ini bisa bekerja optimal.

Mast cell stabilizers atau stabilisator sel mast umumnya menjadi pilihan bila obat alergi antihistamin tidak bekerja maupun tidak bisa diterima oleh tubuh.

Stabilisator sel mast tersedia sebagai obat tetes mata untuk konjungtivitis alergi dan semprotan hidung untuk gejala alergi hidung

Semprotan hidung stabilisator sel mast dijual bebas, seperti cromolyn (Nasalcrom).

Sementara obat tetes mata stabilisator sel mast yang bisa diperoleh dalam bentuk resep yaitu:

  • Kromolin (Krolom)
  • Lodoksamida (Alomida)
  • Nedokromil (Alokril)

Baca Juga: Aspilet Obat Pengencer Darah, Ini Manfaat, Dosis, dan Efek Sampingnya

5. Leukotrien

obat alergi

Foto: Orami Photo Stock

Leukotriene modifiers atau pengubah leukotrien adalah obat alergi resep yang biasanya digunakan untuk mengatasi asma dan alergi hidung.

Obat ini membantu mengurangi gejala alergi seperti hidung tersumbat, pilek, dan bersin.

Sediaan leukotrien umumnya dalam bentuk pil dan tablet kunyah, salah satu contohnya yaitu montelukast (Singulair) yang disetujui untuk mengobati demam.

Sayangnya, beberapa orang mungkin mengalami reaksi seperti:

  • Kecemasan
  • Depresi
  • Mimpi aneh
  • Demam
  • Hidung tersumbat
  • Ruam
  • Mudah marah
  • Sakit kepala
  • Sulit tidur

6. Imunoterapi

obat alergi

Foto: Orami Photo Stock

Immunoterapi bisa menjadi salah satu obat alergi yang efektif bila Moms, Dads, atau Si Kecil mengalami gejala alergi lebih dari 3 bulan dalam setahun.

Obat ini secara bertahap meningkatkan perlindungan dari paparan alergen misalnya serbuk sari, tungau debu, hingga jamur.

Hal ini bertujuan untuk melatih kerja sistem kekebalan tubuh agar tidak bereaksi buruk terhadap alergen tersebut.

Imunoterapi biasanya digunakan ketika pengobatan lain dirasa tidak efektif atau tidak dapat digunakan.

Bagi beberapa orang, imunoterapi bisa membantu meredakan gejala asma. Berikut pilihan imunoterapi tablet yang bisa diperoleh dari resep dokter:

  • Grastek
  • Oralair
  • Ragwitek
  • Odactra
  • Palforzia

Namun Moms, pastikan untuk selalu berkonsultasi dahulu dengan dokter dan apoteker sebelum menentukan mana jenis obat alergi yang paling sesuai.

Semoga informasi di atas membantu, ya Moms!

  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/allergies/in-depth/allergy-medications/art-20047403
  • https://www.webmd.com/allergies/allergy-medications
  • https://www.rxlist.com/allergy_medications/drug-class.htm
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait