Scroll untuk melanjutkan membaca

3-12 BULAN
25 Mei 2022

Penggunaan Miconazole untuk Bayi, Apakah Aman?

Efektif mengatasi infeksi kulit akibat jamur
Penggunaan Miconazole untuk Bayi, Apakah Aman?

Penggunaan miconazole untuk bayi tidak membahayakan, asal diberikan dalam dosis dan takaran yang pas.

Melansir Medline Plus, miconazole adalah obat topikal yang digunakan untuk mengatasi berbagai infeksi jamur pada kulit, termasuk:

  1. Tinea corporis, yaitu infeksi jamur yang menyebabkan ruam bersisik merah di berbagai bagian tubuh.
  2. Tinea cruris, yaitu infeksi jamur pada kulit di selangkangan atau bokong.
  3. Tinea pedis, yaitu infeksi jamur pada kulit kaki dan di antara jari kaki.

Dalam mengatasi berbagai gejala akibat infeksi, miconazole untuk bayi bekerja dengan menghentikan pertumbuhan jamur yang menjadi pemicu infeksi.

Untuk lebih jelasnya terkait dengan penggunaan miconazole, simak penjelasan selengkapnya di bawah ini!

Baca juga: Otopain, Obat Tetes Telinga untuk Atasi Masalah Infeksi

Apakah Aman menggunakan Miconazole untuk Bayi?

Miconazole - m.kalcare

Foto: Miconazole - m.kalcare (m.kalcare.com)

Foto: m.kalcare.com

Jangan khawatir Moms, karena penggunaan miconazole aman dipakai oleh bayi untuk mengatasi infeksi akibat jamur.

Obat ini umum diberikan pada bayi untuk mengatasi ruam popok, kurap, dan panu.

Penggunaannya pada bayi hanya sebatas dioleskan saja pada kulit.

Sementara untuk orang dewasa, miconazole bisa dioleskan pada mulut untuk mengatasi sariawan.

Pastikan untuk membaca label pada kemasan atau ikuti arahan dari dokter sebelum mengaplikasikannya pada bayi.

Penggunaan Miconazole untuk Bayi

Cara penggunaan obat topikal ini dibedakan berdasarkan lokasi infeksi jamur. Berikut ini penjelasannya:

1. Penggunaan Obat pada Kulit

Miconazole diaplikasikan pada kulit bayi untuk mengatasi sejumlah infeksi jamur, seperti:

Di dalam miconazole memiliki kandungan aktif berupa zinc oksida yang dapat meredakan gejala gatal dan ruam kulit.

Penggunaannya hanya diaplikasikan pada bagian kulit yang terkena, dan hanya direkomendasikan pada bayi berusia 4 minggu ke atas

Obat topikal ini dioleskan 1-2 kali sehari selama 2-4 minggu. Sebelum mengaplikasikan obat, bersihkan dan keringkan terlebih dulu area kulit bayi.

Setelah diaplikasikan, Moms tidak perlu menutupi area dengan kasa atau perban, kecuali jika dokter merekomendasikannya.

Penggunaannya pada bayi hanya diperbolehkan setelah mendapatkan diagnosis dari dokter.

Miconazole hanya dapat mengatasi gejala yang muncul, bukan mencegah terjadinya infeksi jamur pada bayi.

Perlu diketahui, miconazole dan zinc oksida hanya digunakan untuk mengobati, bukan mencegah ruam popok yang disertai infeksi jamur.

Sedangkan untuk mengatasi kurap, miconazole untuk bayi bekerja efektif pada kulit saat diberikan 1-2 kali sehari selama 2-3 minggu.

Untuk mengatasi panu, kurap, dan kutu air, obat hanya direkomendasikan untuk anak berusia di atas 2 tahun.

2. Penggunaan Obat pada Mulut

Penggunaan obat topikal ini tidak dianjurkan pada bayi yang berusia di bawah 4 bulan akibat infeksi jamur Candida.

Pasalnya, penggunaan pada bayi dapat meningkatkan risiko tersedak yang berujung membahayakan nyawa.

Penggunaan yang direkomendasikan sebanyak seperempat sendok takar yang sudah disediakan dan diberikan sebanyak 4 kali sehari.

Penggunaan pada anak disarankan tidak memenuhi tenggorokan untuk meminimalisir risiko tersedak.

Berikan sedikit demi sedikit saja. Bagi dosisnya dalam beberapa kali jika diperlukan.

Penggunaanya juga tidak disarankan di belakang tenggorokan, karena akan menghalangi jalan napas.

Pastikan Moms mencuci tangan dan memotong kuku sebelum mengaplikasikannya pada anak untuk mencegah risiko bakteri dan luka.

Baca juga: Hydromamma untuk Promil, Amankah untuk Dikonsumsi?

Efek Samping Penggunaan Miconazole untuk Bayi

Ruam dan gatal menjadi salah satu efek samping penggunaan miconazole untuk bayi.

Beberapa kemungkinan efek samping dan keluhan yang muncul setelah menggunakan miconazole, seperti:

  • Iritasi
  • Sensasi rasa terbakar
  • Ruam
  • Gatal

Sementara, penggunaannya pada mulut anak bisa menimbulkan efek samping, seperti:

  • Mual dan muntah
  • Obat yang tertelan
  • Mulut kering
  • Rasa tidak nyaman pada mulut

Efek samping lainnya, termasuk perubahan rasa makanan dan minuman, tersedak, diare, sakit pada mulut, reaksi alergi, dan hepatitis.

Tidak semua efek samping dicantumkan. Oleh karena itu, jika Si Kecil mengalami hal-hal yang mengganjal setelah penggunaan, segera periksakan diri di fasilitas kesehatan terdekat.

Pencegahan Infeksi Jamur pada Anak

Cuci Botol Bayi - istockphoto

Foto: Cuci Botol Bayi - istockphoto (istockphoto)

Foto: istockphoto

Melansir dari Healthline, langkah pencegahan efektif untuk meminimalisir risiko penularan infeksi jamur pada anak.

Penggunaan antibiotik tidak disarankan, karena mungkin akan membunuh bakteri baik jika terlalu sering diberikan.

Beberapa langkah untuk mengobati sekaligus mencegah infeksi jamur, meliputi:

  • Sering mengganti dot. Penggunaan dot dalam jangka panjang dapat menampung pertumbuhan ragi. Jadi, periksa dan ganti secara berkala.
  • Sering mengganti empeng. Sama seperti dot, penggunaan empeng dalam waktu yang lama meningkatkan risiko perkembangan infeksi jamur mulut.
  • Cuci dengan baik. Baik dot atau empeng harus dicuci dengan air yang sangat panas. Cara ini dapat membantu membunuh ragi.
  • Sering mengganti popok. Menjaga kebersihan area popok dapat membantu mencegah infeksi jamur. Pastikan area kulit benar-benar kering sebelum memasangkan popok yang baru.

Baca juga: Ketahui Renalyte, Larutan Steril untuk Gantikan Cairan Tubuh yang Hilang

Jika balita terus mengalami infeksi jamur meski sudah melakukan beberapa langkah sederhana di atas, segera lakukan pemeriksaan.

Infeksi jamur berulang mungkin memiliki penyebab yang mendasari, sehingga perlu diobati berdasarkan sumbernya.

Apalagi jika ruam bayi tampak berdarah atau terinfeksi, atau jika anak terus-menerus menangis dan tampak kesakitan.

Dokter dapat mengidentifikasi infeksi jamur melalui pemeriksaan fisik.

Dalam kasus yang jarang terjadi, dokter akan mengambil sampel dari area yang terkena untuk menguji infeksi jamur di laboratorium.

Infeksi jamur di area popok biasanya berhenti setelah anak tidak lagi menggunakan popok.

Sedangkan infeksi di kulit berulang harus diatasi menggunakan obat untuk membunuh dan menghentikan perkembangan jamur.

  • https://www.healthline.com/health/parenting/toddler-yeast-infection#prevention
  • https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a618061.html