Scroll untuk melanjutkan membaca

KESEHATAN UMUM
25 Juni 2022

4 Obat Diare untuk Anak, Efektif untuk Mengurangi Gejala

Obat diare untuk anak yang aman sebagai pertolongan pertama
4 Obat Diare untuk Anak, Efektif untuk Mengurangi Gejala

Moms dan Dads, diare bukanlah hal yang menyenangkan baik untuk bayi maupun anak. Penyakit ini sangat buruk, bahkan bisa mengancam jiwa. Saat terkena, Moms pun bertanya-tanya obat diare untuk anak.

Ini karena sudah banyak obat yang bisa dibeli bebas untuk meredakan diare pada orang dewasa dan anak-anak yang lebih tua.

Jika tinja encer dan berlangsung lebih dari satu hari, anak berisiko mengalami dehidrasi. Kondisi ini bisa mengganggu fungsi tubuh, bahkan meningkatkan risiko kematian jika tak segera ditangani.

Benjamin Ortiz, M.D., seorang dokter anak di Food and Drug Administration's Office of Pediatric Therapeutics, menyatakan pentingnya mengobati diare.

“Aspek terpenting dalam mengobati diare adalah mengetahui tanda-tanda dehidrasi dan mengambil langkah-langkah untuk menghidrasi kembali anak,” kata Ortiz.

Selain itu, penting pula untuk mengonsumsi obat diare agar keluhan tak bertambah parah.

Ingin tahu apa saja rekomendasi obat untuk diare untuk anak? Simak terus di bawah ini, ya, Moms!

Baca Juga: 4 Buah untuk Diare yang Enak dan Ampuh!

Obat Diare untuk Anak

Sebagai pertolongan pertama, Moms bisa menggunakan obat diare untuk anak berikut ini:

1. Oralit

Oralit sebagai obat diare untuk anak

Foto: Oralit sebagai obat diare untuk anak (halodoc)

Foto: Oralit (website/halodoc)

Oralit, yang disebut sebagai solusi obat diare untuk anak, merupakan cairan yang diberikan untuk membantu mengembalikan elektrolit yang keluar dari tubuh melalui feses.

Moms bisa membuat oralit sendiri dari campuran air hangat, gula, dan garam.

Bila sulit, beberapa apotek atau toko obat juga menyediakan oralit kemasan dengan berbagai rasa maupun merk dagang.

Oralit sachet bisa digunakan untuk mencegah dan mengobati kekurangan cairan (dehidrasi) akibat diare.

Larutan ini dapat diminum sebanyak beberapa mililiter dalam 15-30 menit sekali. Moms juga bisa mengikuti sesuai petunjuk pemakaian yang biasanya tertera di kemasan.

Oralit kerap dianggap sebagai obat diare untuk anak, karena dapat membantu penyerapan natrium, kalium, dan air ke dalam tubuh. Alhasil, feses anak akan lebih padat.

Oralit dibutuhkan, mengingat konsumsi air putih saja tidak cukup untuk mengembalikan keseimbangan elektrolit dalam tubuh anak saat diare.

Memberi minuman kesehatan yang mengandung elektrolit juga tidak disarankan bagi anak-anak, karena mengandung gula tinggi.

Dikhawatirkan, hal tersebut dapat membuat lebih banyak air masuk ke usus sehingga memperburuk diare yang terjadi.

Baca Juga: Cukupi Kebutuhan Asam Amino Esensial Anak Demi Tumbuh Kembang yang Optimal

Untuk dosisnya, apabila anak berusia di bawah 1 tahun, maka 3 jam pertama 1,5 gelas, selanjutnya 1/2 gelas setiap kali anak buang air besar cair.

Sementara itu, untuk anak 1-5 tahun, dosisnya adalah 3 gelas untuk 3 jam pertama. Selanjutnya, 1 gelas setiap kali anak mengeluarkan feses cair.

Untuk anak 5-12 tahun, dosisnya adalah 6 gelas untuk 3 jam pertama. Selanjutnya, 1,5 gelas tiap kali anak buang air besar cair.

Dosis untuk anak berusia lebih dari 12 tahun, yaitu 12 gelas untuk 3 jam pertama. Selanjutnya, 2 gelas tiap kali anak mengeluarkan feses cair.

Cara memakai oralit sachet sebagai obat diare untuk anak, yaitu dilarutkan dengan air matang.

Larutan ini tidak dapat digunakan apabila diare terjadi lebih dari 24 jam.

Jika terjadi muntah, hentikan sementara, 2 sampai 5 menit. Berikan oralit dengan sendok sedikit demi sedikit.

Bila masih menyusui, Moms mesti terus memberikan ASI dan beri makanan ekstra setelah sembuh.

Bila keadaan memburuk atau dalam 2 hari tidak membaik, segera bawa ke RS atau puskesmas.

Jika terjadi gejala kekurangan natrium dalam darah (hiponatremia), konsultasikan ke dokter atau tenaga kesehatan terdekat.

Hentikan Oralit jika diare berhenti dan anak mulai membaik.

2. Probiotik

Probiotik sebagai obat diare untuk anak

Foto: Probiotik sebagai obat diare untuk anak

Foto: Probiotik Sachet (website/halodoc)

Diare bisa terjadi akibat ketidakseimbangan bakteri di usus.

Hal tersebut dapat diatasi dengan mengonsumsi probiotik.

Probiotik dapat membantu memulihkan keseimbangan dengan menyediakan jumlah bakteri baik yang lebih tinggi.

Ini dapat mengembalikan fungsi normal usus dan memperpendek durasi diare.

American Family Physician Journal menerangkan, probiotik adalah mikroorganisme yang terbukti dapat mencegah dan mengurangi durasi penyakit pada anak dengan diare akut.

Memberikan probiotik dalam takaran yang tepat mampu mengurangi risiko diare pada tahun-tahun awal kehidupan.

Jadi, obat diare untuk anak, seperti probiotik, mengandung bakteri baik yang dapat meredakan keluhan tersebut.

Kemudian, pemberian probiotik bersama cairan rehidrasi oral juga diketahui dapat mengobati diare pada anak dan mempercepat pemulihan.

Baca Juga: Redakan Diare dan Muntah pada Bayi dengan Makanan Ini

Tak perlu bingung bentuk probiotik seperti apa yang bisa menjadi obat diare untuk anak. Moms bisa mencari salah satu merk, seperti Lacto-B.

Lacto-B adalah probiotik bentuk bubuk yang memiliki fungsi utama membantu mempercepat penyembuhan diare pada anak-anak.

Dalam satu sachet Lacto-B mengandung 10 juta bakteri hidup.

Dosis aman penggunaan Lacto-B yang dianjurkan untuk anak usia 1-12 tahun adalah 3 kali 1 sachet sehari.

Cara mengonsumsi Lacto-B sebagai obat diare untuk anak, yaitu memberikannya langsung dengan dilarutkan dalam air putih.

Lacto-B juga bisa diberikan bersama makanan anak dan susu formula.

Namun, hindari mencampurnya dengan minuman bersoda.

Lacto-B mesti segera dikonsumsi setelah sachet dibuka dan dicampurkan.

Bila lupa memberikan Lacto-B, jangan menggandakan dosis di jadwal konsumsi berikutnya.

Efek samping yang mungkin bisa terjadi setelah mengonsumsi Lacto-B adalah perut kembung dan rasa tidak nyaman pada perut.

3. Suplemen Zinc

Obat diare untuk anak yaitu zinc

Foto: Obat diare untuk anak yaitu zinc

Foto: Suplemen Zinc (website/halodoc)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemberian suplemen zinc sebagai obat diare untuk anak, terutama di bawah usia 5 tahun.

Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya defisiensi zinc karena diare akibat infeksi virus.

Suplementasi zinc sebagai obat diare untuk anak telah terbukti dapat membantu mengurangi durasi, keparahan, serta kemungkinan infeksi berikutnya selama 2-3 bulan.

Zinc sebagai tambahan obat diare untuk anak bermanfaat, karena merupakan mikronutrien penting dalam pembentukan protein.

Selain itu, zinc juga membantu pertumbuhan dan diferensiasi sel, fungsi kekebalan, dan transportasi air maupun elektrolit di dalam tubuh.

Zinc juga penting untuk pertumbuhan dan perkembangan normal anak-anak dengan atau tanpa diare.

Kekurangan zinc dikaitkan dengan peningkatan risiko infeksi saluran cerna, efek samping pada struktur dan fungsi saluran pencernaan, serta masalah fungsi kekebalan.

Baca Juga: Apa Perbedaan Diare dan Disentri?

Namun, meskipun manfaat suplemen zinc untuk diare telah ditetapkan, masih ada sejumlah hal yang mesti diwaspadai.

Terkadang, pemberian suplemen zinc menimbulkan efek samping berupa muntah. Karenanya, tidak sembarang anak boleh mengonsumsi suplemen ini.

Jika dokter anak meresepkan suplemen zinc, kemudian anak muntah, konsultasikan kembali dengan dokter tersebut. Moms juga bisa meminta second opinion dari dokter lain.

Merk suplemen zinc yang bisa Moms pilih adalah Zinkid Zinc. Di mana, tiap 5 ml mengandung zinc sulfate 27,45 mg atau setara dengan zinc 10 mg.

Pelengkap Zinkid Zinc untuk pengobatan diare pada bayi dan anak-anak di bawah 5 tahun diberikan bersama oralit.

Dosis Zinkid Zink untuk anak 6 bulan sampai 5 tahun adalah 10 ml, dan diberikan setiap hari selama 10 hari berturut-turut (bahkan ketika diare telah berhenti).

Apabila diare tidak kunjung sembuh setelah 3 hari, sebaiknya segera periksakan anak ke dokter.

4. Obat Antidiare

Ilustrasi obat untuk diare pada anak

Foto: Ilustrasi obat untuk diare pada anak

Foto: Bayi Sakit (Orami Photo Stocks)

Obat diare untuk anak, seperti loperamide, juga dapat mengurangi frekuensi BAB dengan memperlambat pergerakan usus.

Namun, penggunaan obat antidiare ini harus sesuai dengan resep dan rekomendasi dokter.

Menurut Medicine for Children, loperamide biasanya diberikan 1 kali pada awal pengobatan.

Obat ini juga bisa diberikan pada anak yang buang air besar cair sebanyak 4 kali dalam sehari hingga keluhannya membaik.

Namun, jika anak sakit kurang dari 30 menit setelah mendapat dosis loperamide, beri mereka dosis yang sama lagi.

Jika anak sakit lebih dari 30 menit setelah mendapat dosis loperamide, Moms tidak perlu memberikannya dosis lagi.

Meski demikian, loperamide jarang digunakan sebagai pengobatan diare. Sebab, obat ini bisa menimbulkan efek samping berupa mual, nyeri perut, dan kembung.

Loperamide juga biasanya tidak diberikan selama lebih dari 2 hari.

Jika diare pada anak tidak membaik setelah 2 hari, jangan tunda untuk segera berobat ke dokter anak.

Baca Juga: Disentri pada Anak, Ini Penyebab, Penularan, dan Cara Menanggulanginya

Bila pemberian obat diare untuk anak sudah dilakukan tetapi keluhan tak kunjung membaik, jangan sungkan untuk segera berobat ke dokter atau rumah sakit.

Hal ini penting, khususnya jika anak tampak mengalami tanda dan gejala dehidrasi, seperti menangis tanpa air mata, penurunan frekuensi berkemih, atau urine berwarna lebih gelap dari biasanya.

Agar lebih aman, Moms juga sebaiknya melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum memberikan obat diare untuk anak jenis apa pun. Salam sehat, Moms!

  • https://www.medicinesforchildren.org.uk/loperamide-diarrhoea
  • https://www.aafp.org/afp/2011/0701/p25.html