01 Februari 2023

Paranoid: Gejala, Faktor Risiko, Diagnosis, dan Pengobatannya

Sering merasa takut dan selalu curiga dengan orang di sekitar bisa jadi tanda paranoid

Tahukah Moms bahwa seseorang dengan skizofrenia juga mungkin mengalami delusi, termasuk paranoid?

Paranoid merupakan perasaan dan keyakinan seseorang bahwa dirinya sedang diawasi orang lain dan orang tersebut akan menyakitinya.

Kondisi paranoid menyebabkan ketakutan dan kecemasan parah, sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari.

Paranoid juga bisa membuat penderitanya kesulitan bisa bekerja atau menjalani hubungan yang baik, termasuk dengan keluarga.

Baca Juga: 5 Efek Skizofrenia pada Kehamilan, Simak di Sini Moms

Paranoid Bisa Jadi Gejala dari Skizofrenia

Ilustrasi Paranoid
Foto: Ilustrasi Paranoid (Orami Photo Stock)

Mengutip PsychCentral, hampir 50% orang dengan skizofrenia mengalami gejala paranoid.

Skizofrenia adalah gangguan spektrum. Artinya, kondisi ini mencakup beberapa kondisi, gejala, dan sifat yang terkait.

Sebelum 2013, tenaga kesehatan menganggap skizofrenia dan paranoid sebagai jenis kelainan yang berbeda.

Namun, kini, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, yang memberikan pedoman ahli, mengklasifikasikan paranoid sebagai gejala, bukan subtipe dari skizofrenia.

Skizofrenia itu sendiri adalah kondisi kesehatan mental yang terjadi seumur hidup.

Mengutip U.S. National Institute of Mental Health, gejala skizofrenia sering muncul saat penderita berusia akhir belasan hingga awal 30-an tahun.

Pengaruh Skizofrenia dalam Kehidupan

Skizofrenia dapat memengaruhi beberapa hal, seperti:

  • Proses berpikir.
  • Persepsi dan perasaan.
  • Pola tidur.
  • Kemampuan untuk berkomunikasi.
  • Kemampuan untuk fokus dan menyelesaikan tugas.
  • Kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain.

Gejala Skizofrenia Secara Umum

Untuk gejala skizofrenia, keluhannya bisa meliputi:

  • Kurangnya motivasi.
  • Pergerakan yang lambat.
  • Perubahan pola tidur.
  • Libido rendah.
  • Kurangnya perawatan diri.
  • Pemikiran yang tidak teratur.
  • Perubahan bahasa tubuh dan emosi.
  • Menarik diri dari keluarga, teman, dan aktivitas.
  • Halusinasi dan delusi.

Tanda yang Dialami Penderita Paranoid yang Dapat Menjadi Gejala Skizofrenia

Paranoid sebagai salah satu gejala skizofrenia juga mungkin menunjukkan tanda seperti berikut:

  • Merasa kesal, cemas, marah, dan bingung.
  • Curiga terhadap orang-orang di sekitarnya.
  • Percaya bahwa seseorang berencana menganiaya dirinya.
  • Takut seseorang mengikuti, mengejar, meracuni, atau berkomplot melawannya.
  • Merasa seolah-olah orang lain mengendalikan pikiran dan tindakannya.
  • Merasa seolah-olah pikiran mereka lenyap atau diambil darinya.
  • Memiliki pikiran dan kencenderungan untuk bunuh diri.

Jika seseorang mengalami salah satu hal di atas, mereka harus segera menerima perawatan medis

Baca Juga: Memahami Gejala dan Penyebab Skizofrenia pada Anak

Penyebab dan Faktor Risiko Paranoid dan Skizofrenia

Penyebab dan Faktor Risiko Paranoid dan Skizofrenia
Foto: Penyebab dan Faktor Risiko Paranoid dan Skizofrenia (Orami Photo Stock)

Skizofrenia adalah gangguan neuropsikiatri, sehingga penyebab pastinya tidak diketahui jelas.

Akan tetapi. kondisi ini mungkin berkaitan erat dengan faktor genetik dan kondisi lingkungan.

Faktor risiko skizofrenia yang lainnya dapat berupa:

  • Genetik: Mereka yang memiliki riwayat keluarga mungkin memiliki risiko lebih tinggi.
  • Medis: Ini mungkin termasuk gizi buruk sebelum lahir dan infeksi virus.
  • Biologis: Ciri-ciri struktur otak atau aktivitas neurotransmitter, seperti dopamin, dapat berperan.
  • Lingkungan: Stres, trauma masa lalu, dan pelecehan dapat memicu gejala pada orang yang sudah berisiko.

Satu studi dari Schizophrenia Research: Cognition menunjukkan bahwa orang dengan skizofrenia dan paranoid mungkin memiliki gangguan kognitif sosial.

Hal tersebut membuat mereka lebih sulit, misalnya, untuk mengenali emosi orang atau mempercayai orang lain.

Namun, menarik kesimpulan tentang hal ini membutuhkan lebih banyak penelitian.

Terlepas dari itu, beberapa obat yang dapat mempengaruhi kondisi mental, seperti amfetamin, kokain, ganja, dan LSD, diyakini dapat memicu psikosis atau skizofrenia pada orang yang rentan.

Baca Juga: Hati-hati, Flu Bisa Menyebabkan Skizofrenia Pada Janin!

Diagnosis Paranoid

Ilustrasi Konsultasi Psikolog
Foto: Ilustrasi Konsultasi Psikolog (Orami Photo Stocks)

Skizofrenia dan paranoid harus segera diatasi.

Dokter akan mengawali pemeriksaan dengan bertanya tentang riwayat medis pribadi dan keluarga, serta kesehatan fisik, serta gejala yang dialami pasien.

Dokter juga mungkin akan melakukan tes darah untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lainnya.

Guna memastikan diagnosis skizofrenia, dokter biasanya akan mengonfirmasi ada/tidaknya gejala selama 6 bulan belakangan.

Gejala-gejala tersebut, meliputi:

  • Delusi.
  • Halusinasi.
  • Bicara tidak teratur.
  • Disfungsi sosial dan pekerjaan.
  • Perilaku yang sangat tidak teratur.
  • Keteraturan emosional atau kurangnya kesenangan dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang dokter hanya dapat mendiagnosis skizofrenia jika gejala-gejala tersebut tidak terkait dengan kondisi medis lain, termasuk penyalahgunaan obat atau alkohol.

Secara keseluruhan, diperlukan beberapa waktu untuk menegakkan diagnosis.

Baca Juga: 16 Ciri-ciri Orang Depresi yang Harus Diwaspadai

Pengobatan untuk Gangguan Paranoid dan Skizofrenia

Pengobatan untuk Gangguan Paranoid dan Skizofrenia
Foto: Pengobatan untuk Gangguan Paranoid dan Skizofrenia (Careersinpsychology.org)

Meski gangguan paranoid dan skizofrenia adalah kondisi seumur hidup, tetapi pengobatan dapat membantu meringankan gejalanya.

Beberapa perawatan yang bisa dilakukan, antara lain:

1. Pengobatan

Obat yang disebut antipsikotik dapat mengurangi terjadinya gangguan pikiran, halusinasi, dan delusi.

Namun, perlu waktu untuk menemukan opsi yang sesuai.

Selain itu, mengutip StatPearls, sekitar 30% orang tidak memiliki reaksi yang baik terhadap obat antipsikotik.

Pada sekitar 7% kasus, obat juga tidak efektif.

Jika gejala orang tersebut tidak merespons setidaknya dua antipsikotik, dokter mungkin meresepkan clozapine.

Namun, ini bukan pilihan pertama mengingat adanya risiko efek samping.

2. Psikoterapi dan Dukungan Sosial

Konseling dan jenis terapi lain dapat membantu penderita skizofrenia hidup mandiri.

Beberapa opsinya, termasuk:

  • Terapi pelatihan kejuruan
  • Terapi perilaku kognitif
  • Psikoterapi suportif
  • Terapi peningkatan kognitif

Selain itu, dukungan sosial dapat membantu penderita mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal.

Adanya orang terdekat yang mendampingi juga bisa membantu meningkatkan keterampilan komunikasi dan kesejahteraan penderita secara keseluruhan.

3. Obat Pelengkap

Menurut NAMI, berikut ini mungkin berperan dalam rencana perawatan yang lebih luas:

  • Akupunktur
  • Meditasi
  • Intervensi nutrisi

Metode tersebut di atas tidak bisa menggantikan obat-obatan atau terapi yang secara khusus diberikan oleh dokter.

Perlu diperhatikan, jika pengobatan skizofrenia dan paranoid tak bisa dihentikan sebelum waktunya.

Jika abai dengan hal tersebut, gejalanya bisa kembali kapan saja.

Selain itu, butuh waktu untuk menemukan pendekatan terbaik untuk membantu mengendalikan gejala.

Hal tersebut berkaitan dengan berbagai faktor, seperti seberapa sering dan parah gejala yang muncul, serta usia penderita.

Baca Juga: Kurang Tidur Memengaruhi Kesehatan Mental, Kok Bisa?

Cara Membantu Meningkatkan Kualitas Hidup Penderita Paranoid dan Skizofrenia

Ilustrasi Gangguan Mental
Foto: Ilustrasi Gangguan Mental (Orami Photo Stock)

Tanpa pengobatan, paranoid dan skizofrenia dapat mengganggu kehidupan seseorang secara signifikan, termasuk kemampuan mereka untuk bekerja, belajar, dan merawat diri sendiri.

Namun, ada beberapa strategi yang bisa membantu meningkatkan kualitas hidup penderita, seperti:

  • Mengikuti rencana perawatan dengan hati-hati, termasuk minum obat sesuai resep.
  • Mengemukakan kekhawatiran tentang pengobatan dengan penyedia layanan kesehatan.
  • Memanfaatkan dukungan, yang mungkin melibatkan teman, layanan krisis, dan fasilitas perawatan kesehatan khusus
  • Membuat pilihan yang sehat tentang diet, olahraga.
  • Berbicara tentang pengalaman skizofrenia dengan teman, anggota keluarga, atau penyedia layanan kesehatan.

Orang terdekat dari penderita dapat membantu meringankan gejala dengan melakukan hal-hal berikut ini:

  • Mendengarkan keluhan orang tersebut.
  • Mendidik diri mereka sendiri tentang skizofrenia.
  • Belajar mengenali tanda-tanda kambuh.
  • Memahami apa yang harus dilakukan jika kambuh terjadi.

Baca Juga: Eksklusif! Poppy Sovia Buka-bukaan Soal Kesehatan Mentalnya, Idap Bipolar Hingga Akui Ingin Terjun dari Apartemennya

Skizofrenia adalah kondisi kesehatan mental yang parah dan dapat menyebabkan delusi maupun paranoid.

Meski tak bisa disembuhkan, kondisi ini masih mungkin untuk dikendalikan. Dengan demikian, kualitas hidup penderita bisa tetap terjaga.

  • https://www.nami.org/About-Mental-Illness/Mental-Health-Conditions/Schizophrenia
  • https://psychcentral.com/pro/dsm-5-changes-schizophrenia-psychotic-disorders/004336.html
  • https://www.verywellmind.com/what-is-paranoid-schizophrenia-4155331
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/schizophrenia/symptoms-causes/syc-20354443
  • https://www.healthline.com/health/schizophrenia/paranoid-schizophrenia#caregivers
  • https://www.psycom.net/paranoid-schizophrenia
  • https://www.webmd.com/schizophrenia/schizophrenia-paranoia
  • https://www.nimh.nih.gov/health/topics/schizophrenia/index.shtml
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5156478/

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.