Scroll untuk melanjutkan membaca

KESEHATAN MENTAL
03 Oktober 2021

Paranoid Bisa Jadi Tanda Skizofrenia, Kenali Gejala dan Pengobatannya!

Pengidap skizofrenia ternyata bisa mengalami berbagai gejala, salah satunya adalah gangguan paranoid
Paranoid Bisa Jadi Tanda Skizofrenia, Kenali Gejala dan Pengobatannya!

Tahukah Moms bahwa seseorang dengan skizofrenia juga mungkin mengalami delusi, termasuk paranoid?

Paranoid dapat menyebabkan seseorang takut bahwa orang lain sedang memperhatikan atau mencoba menyakitinya.

Orang yang mengalami kondisi tersbeut mungkin percaya bahwa media, seperti televisi atau internet memiliki pesan tersembunyi untuk dirinya.

Perasaan dan keyakinan ini dapat menyebabkan ketakutan dan kecemasan parah, sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari.

Paranoid juga bisa membuat penderitanya kesulitan bisa bekerja atau menjalani hubungan yang baik, termasuk dengan keluarga.

Mengutip PsychCentral, hampir 50% orang dengan skizofrenia mengalami gejala paranoid.

Yuk, ketahui faktanya lebih lanjut!

Baca Juga: 5 Efek Skizofrenia pada Kehamilan, Simak di Sini Moms

Paranoid adalah Gejala dari Skizofrenia

Paranoid Adalah Gejala dari Skizofrenia

Foto: Paranoid Adalah Gejala dari Skizofrenia

Foto: Paranoid (Orami Photo Stocks)

Skizofrenia adalah gangguan spektrum. Artinya, kondisi ini mencakup beberapa kondisi, gejala, dan sifat yang terkait.

Sebelum 2013, tenaga kesehatan menganggap skizofrenia dan paranoid sebagai jenis kelainan yang berbeda.

Namun, kini, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, yang memberikan pedoman ahli, mengklasifikasikan paranoid sebagai gejala, bukan subtipe dari skizofrenia.

Skizofrenia itu sendiri adalah kondisi kesehatan mental yang terjadi seumur hidup.

Mengutip U.S. National Institute of Mental Health, gejala skizofrenia sering muncul saat penderita berusia akhir belasan hingga awal 30-an.

Skizofrenia dapat mempengaruhi beberapa hal, seperti:

  • Proses berpikir
  • Persepsi dan perasaan
  • Pola tidur
  • Kemampuan untuk berkomunikasi
  • Kemampuan untuk fokus dan menyelesaikan tugas
  • Kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain

Untuk gejala skizofrenia, keluhannya bisa meliputi:

  • Kurangnya motivasi
  • Pergerakan yang lambat
  • Perubahan pola tidur
  • Libido rendah
  • Kurangnya perawatan diri
  • Pemikiran yang tidak teratur
  • Perubahan bahasa tubuh dan emosi
  • Menarik diri dari keluarga, teman, dan aktivitas
  • Halusinasi dan delusi

Sementara itu, paranoid sebagai salah satu gejala skizofrenia juga mungkin menyebabkan keluhan seperti berikut:

  • Merasa kesal, cemas, marah, dan bingung
  • Curiga terhadap orang-orang di sekitarnya
  • Percaya bahwa seseorang berencana menganiaya dirinya
  • Takut seseorang mengikuti, mengejar, meracuni, atau berkomplot melawannya
  • Merasa seolah-olah orang lain mengendalikan pikiran dan tindakannya
  • Merasa seolah-olah pikiran mereka lenyap atau diambil darinya
  • Memiliki pikiran dan kencenderungan untuk bunuh diri

Jika seseorang mengalami salah satu hal di atas, mereka harus segera menerima perawatan medis

Baca Juga: Memahami Gejala dan Penyebab Skizofrenia pada Anak

Penyebab dan Faktor Risiko Paranoid dan Skizofrenia

Penyebab dan Faktor Risiko Paranoid dan Skizofrenia

Foto: Penyebab dan Faktor Risiko Paranoid dan Skizofrenia

Foto: Penyebab Paranoid (Orami Photo Stocks)

Skizofrenia adalah gangguan neuropsikiatri, sehingga penyebab pastinya tidak diketahui jelas.

Akan tetapi. kondisi ini mungkin berkaitan erat dengan faktor genetik dan kondisi lingkungan.

Faktor risiko skizofrenia yang lainnya dapat berupa:

  • Genetik: Mereka yang memiliki riwayat keluarga mungkin memiliki risiko lebih tinggi.
  • Medis: Ini mungkin termasuk gizi buruk sebelum lahir dan infeksi virus.
  • Biologis: Ciri-ciri struktur otak atau aktivitas neurotransmitter, seperti dopamin, dapat berperan.
  • Lingkungan: Stres, trauma masa lalu, dan pelecehan dapat memicu gejala pada orang yang sudah berisiko.

Satu studi dari Schizophrenia Research Cognition menunjukkan bahwa orang dengan skizofrenia dan paranoid mungkin memiliki gangguan kognitif sosial.

Hal tersebut membuat mereka lebih sulit, misalnya, untuk mengenali emosi orang atau mempercayai orang lain.

Namun, menarik kesimpulan tentang hal ini membutuhkan lebih banyak penelitian.

Terlepas dari itu, beberapa obat yang dapat mempengaruhi kondisi mental, seperti amfetamin, kokain, ganja, dan LSD, diyakini dapat memicu psikosis atau skizofrenia pada orang yang rentan.

Baca Juga: Hati-hati, Flu Bisa Menyebabkan Skizofrenia Pada Janin!

Gejala dan Diagnosis Paranoid

Diagnosa Skizofrenia

Foto: Diagnosa Skizofrenia

Foto: Gejala dan Diagnosis Paranoid (Orami Photo Stocks)

Skizofrenia dan paranoid harus segera diberikan tata laksana.

Dokter akan mengawali pemeriksaan dengan bertanya tentang riwayat medis pribadi dan keluarga, serta kesehatan fisik, serta gejala yang dialami pasien.

Dokter juga mungkin akan melakukan tes darah untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lainnya.

Guna memastikan diagnosis skizofrenia, dokter biasanya akan mengonfirmasi ada/tidaknya gejala selama 6 bulan belakangan.

Gejala-gejala tersebut, meliputi:

  • Delusi
  • Halusinasi
  • Bicara tidak teratur
  • Disfungsi sosial dan pekerjaan
  • Perilaku yang sangat tidak teratur
  • Keteraturan emosional atau kurangnya kesenangan dalam kehidupan sehari-hari

Seorang dokter hanya dapat mendiagnosis skizofrenia jika gejala-gejala tersebut tidak terkait dengan kondisi medis lain, termasuk penyalahgunaan obat atau alkohol.

Secara keseluruhan, diperlukan beberapa waktu untuk menegakkan diagnosis.

Menurut U.S. National Alliance on Mental Illness (NAMI), orang berkulit hitam dan Latin di Amerika Serikat lebih cenderung menerima diagnosis skizofrenia yang salah.

Ini mungkin karena bias rasial, kesulitan mengakses perawatan kesehatan yang sesuai, atau kombinasi keduanya.

Baca Juga: 16 Ciri-ciri Orang Depresi yang Harus Diwaspadai

Pengobatan untuk Gangguan Paranoid dan Skizofrenia

Pengobatan untuk Gangguan Paranoid dan Skizofrenia

Foto: Pengobatan untuk Gangguan Paranoid dan Skizofrenia (Careersinpsychology.org)

Foto: Pengobatan Paranoid (Orami Photo Stocks)

Meski gangguan paranoid dan skizofrenia adalah kondisi seumur hidup, tetapi pengobatan dapat membantu meringankan gejalanya.

Beberapa perawatan yang bisa dilakukan, antara lain:

1. Pengobatan

Obat yang disebut antipsikotik dapat mengurangi terjadinya gangguan pikiran, halusinasi, dan delusi.

Namun, perlu waktu untuk menemukan opsi yang sesuai.

Selain itu, mengutip StatPearls, sekitar 30% orang tidak memiliki reaksi yang baik terhadap obat antipsikotik.

Pada sekitar 7% kasus, obat juga tidak efektif.

Jika gejala orang tersebut tidak merespons setidaknya dua antipsikotik, dokter mungkin meresepkan clozapine.

Namun, ini bukan pilihan pertama mengingat adanya risiko efek samping.

2. Psikoterapi dan Dukungan Sosial

Konseling dan jenis terapi lain dapat membantu penderita skizofrenia hidup mandiri.

Beberapa opsinya, termasuk:

  • Terapi pelatihan kejuruan
  • Terapi perilaku kognitif
  • Psikoterapi suportif
  • Terapi peningkatan kognitif

Selain itu, dukungan sosial dapat membantu penderita mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal.

Adanya orang terdekat yang mendampingi juga bisa membantu meningkatkan keterampilan komunikasi dan kesejahteraan penderita secara keseluruhan.

3. Obat Pelengkap

Menurut NAMI, berikut ini mungkin berperan dalam rencana perawatan yang lebih luas:

  • Akupunktur
  • Meditasi
  • Intervensi nutrisi

Metode tersebut di atas tidak bisa menggantikan obat-obatan atau terapi yang secara khusus diberikan oleh dokter.

Perlu diperhatikan, jika pengobatan skizofrenia dan paranoid tak bisa dihentikan sebelum waktunya.

Jika abai dengan hal tersebut, gejalanya bisa kembali kapan saja.

Selain itu, butuh waktu untuk menemukan pendekatan terbaik untuk membantu mengendalikan gejala.

Hal tersebut berkaitan dengan berbagai faktor, seperti seberapa sering dan parah gejala yang muncul, serta usia penderita.

Baca Juga: Kurang Tidur Memengaruhi Kesehatan Mental, Kok Bisa?

Hidup dengan Paranoid dan Skizofrenia

Hidup dengan Paranoid dan Skizofrenia

Foto: Hidup dengan Paranoid dan Skizofrenia

Foto: Cara Hidup dengan Paranoid (Orami Photo Stocks)

Tanpa pengobatan, paranoid dan skizofrenia dapat mengganggu kehidupan seseorang secara signifikan, termasuk kemampuan mereka untuk bekerja, belajar, dan merawat diri sendiri.

Namun, ada beberapa strategi yang bisa membantu meningkatkan kualitas hidup penderita, seperti:

  • Mengikuti rencana perawatan dengan hati-hati, termasuk minum obat sesuai resep
  • Mengemukakan kekhawatiran tentang pengobatan dengan penyedia layanan kesehatan
  • Memanfaatkan dukungan, yang mungkin melibatkan teman, layanan krisis, dan fasilitas perawatan kesehatan khusus
  • Membuat pilihan yang sehat tentang diet, olahraga
  • Berbicara tentang pengalaman skizofrenia dengan teman, anggota keluarga, atau penyedia layanan kesehatan

Orang terdekat dari penderita dapat membantu meringankan gejala dengan melakukan hal-hal berikut ini:

  • Mendengarkan keluhan orang tersebut
  • Mendidik diri mereka sendiri tentang skizofrenia
  • Belajar mengenali tanda-tanda kambuh
  • Memahami apa yang harus dilakukan jika kambuh terjadi

Baca Juga: Eksklusif! Poppy Sovia Buka-bukaan Soal Kesehatan Mentalnya, Idap Bipolar Hingga Akui Ingin Terjun dari Apartemennya

Skizofrenia adalah kondisi kesehatan mental yang parah dan dapat menyebabkan delusi maupun paranoid.

Meski tak bisa disembuhkan, kondisi ini masih mungkin untuk dikendalikan. Dengan demikian, kualitas hidup penderita bisa tetap terjaga.

  • https://www.nami.org/About-Mental-Illness/Mental-Health-Conditions/Schizophrenia
  • https://psychcentral.com/pro/dsm-5-changes-schizophrenia-psychotic-disorders/004336.html
  • https://www.verywellmind.com/what-is-paranoid-schizophrenia-4155331
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/schizophrenia/symptoms-causes/syc-20354443
  • https://www.healthline.com/health/schizophrenia/paranoid-schizophrenia#caregivers
  • https://www.psycom.net/paranoid-schizophrenia
  • https://www.webmd.com/schizophrenia/schizophrenia-paranoia
  • https://www.nimh.nih.gov/health/topics/schizophrenia/index.shtml
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5156478/