Parenting

7 Februari 2021

10 Perasaan yang Dimiliki Anak Broken Home, Orang Tua Perlu Pahami!

Perasaan anak broken home sebaiknya perlu dimengerti
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Istihanah
Disunting oleh Adeline Wahyu

Moms pasti ingin memberikan kebahagiaan kepada Si Kecil.

Namun, dalam masalah-masalah di dalam keluarga terkadang tidak bisa dihindari dan akhirnya berpisah.

Saat orang tua berpisah, anak sering disebut menjadi korban.

Anak broken home biasanya memiliki sifat yang berbeda dari yang lain, khususnya yang memiliki keluarga utuh.

Jurnal The Linacre Quarterly menyebutkan, perceraian atau perpisahan orang tua dapat berimbas pada anak-anak, kehidupan keluarga, ekonomi dan juga mayarakat.

Namun, tidak semua dampaknya negatif. Karena beberapa penelitian juga menunjukkan, anak dengan keluarga yang tidak utuh dapat tumbuh seperti anak dari keluarga utuh.

Baca juga: 11+ Tips Membangun Keluarga Harmonis menurut Islam, Yuk Amalkan!

Broken Home Mempengaruhi Mental Anak

broken home

foto: moslemlifestyle.com

Tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh bisa menjadi pengalaman yang sulit. Apalagi jika dialami oleh anak Moms yang usianya masih sangat muda.

Anak broken home biasanya menghadapi tantangan yang tidak biasa.

Mulai dari kurangnya perhatian orang tua karena berpisah, bahkan kesulitan ekonomi.

Hidup di bawah trauma emosional seperti yang dialami anak di usia muda dapat menghancurkan kesehatan mental mereka.

Melansir Time of India, akan sangat sulit menanamkan perasaan cinta dan perhatian di dalamnya.

Indian Journal of Psychological Medicine menyebutkan, ada hubungan yang erat antara perpisahan (orang tua) dengan gangguan depresi. Hal ini biasanya disebabkan oleh alasan sosial dan ekonomi.

Tak heran, kalau beberapa anak dengan kondisi keluarga tidak utuh ini mengalami penyakit mental.

Baca juga : 5 Cara Menjaga Kesehatan Mental Anak yang Bisa Dilakukan Orang Tua

Perasaan Anak Broken Home

kesehatan mental anak

foto: Orami Photo Stock

Percaya atau tidak, perasaan anak broken home berbeda dari kebanyakan anak-anak lainnya.

Hal ini, karena mereka sudah menghadapi masalah di rumah.

Belum lagi adanya kekerasan dalam rumah tangga yang terkadang juga dihadapi oleh anak-anak ini.

Nah, Moms agar lebih mengerti berikut perasaan anak broken home yang perlu diketahui agar bisa menghadapinya dengan bijak.

1. Sensitif

Anak yang berasal dari keluarga yang tidak utuh biasanya lebih sensitif dalam menghadapi sesuatu di dalam keluarga.

Hal ini karena mereka sudah terlalu sering melihat pertengkaran, teriakan, dan kekerasan lain di rumah.

Hal ini tentu membuat perasaan mereka lebih sensitif.

Namun, anak-anak ini akan menutupi hal ini dan berusaha untuk menjadi kuat di depan orang lain.

2. Kesepian

Anak yang tumbuh di keluarga broken home biasanya lebih suka berada di luar rumah.

Mereka menganggap berada di luar rumah lebih nyaman dibandingkan suasana rumah yang selalu tegang.

Tak sedikit dari mereka akan mengulur-ulur waktu untuk kembali ke rumah saat sedang bersama teman-temannya.

Melarikan diri dari rumah dan menemui orang terdekat merupakan salah satu cara anak dengan keluarga tidak utuh untuk mencari kesenangan di tengah kesepian yang selalu mereka rasakan selama berada di rumah.

3. Rapuh

Anak broken home sudah terlalu sering merasakan sakit dan terluka.

Tak heran, kalau kebanyakan dari mereka lebih mudah menyayangi orang lain.

Hal ini karena mereka tidak mau ada orang lain mengalami kejadian yang sama dengan mereka.

Saat ada orang terluka, anak dengan keluarga tidak utuh akan lebih berempati.

Mereka juga tak segan untuk memahami keadaan dari orang terdekat saat mengalami sebuah musibah.

Hal ini karena jauh di dalam lubuh hati anak broken home memiliki perasaan yang sangat rapuh.

Baca juga: 4 Kebaikan Memelihara Binatang Peliharaan Untuk Kesehatan Mental Anak

4. Penuh Cinta Kasih

Ketika tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis, Moms dapat lebih memahami perasaan ingin dicintai.

Hal itu merupakan sesuatu yang akan selalu diinginkan oleh anak broken home, bahkan hingga mereka tumbuh dewasa.

Jadi Moms jangan heran kalau mereka cenderung memiliki hati yang besar untuk orang lain. Namun, mereka juga akan berharap mendapatkan balasan yang sama.

Meskipun tidak menerima cinta yang sama dari orang lain, anak-anak ini biasanya akan tetap berusaha untuk memberikan cinta yang tulus. Karena mereka sangat memahami bagaimana rasanya tidak mendapatkan cinta sejati.

5. Kesulitan Meluapkan Emosi

Banyak orang secara tidak sengaja akan memendam emosinya.

Anak broken home cenderung menjaga emosi karena ketakutan yang dimiliki.

Anak dengan kondisi ini sengaja melakukan itu karena takut bahwa emosi yang kami miliki akan digunakan untuk melawan mereka di kemudian hari.

Sesulit apapun masalah yang dirasakan, anak broken home akan tetap diam dan tenang.

Karena mereka kesulitan untuk mengekspresikan emosi.

Mereka berpikir, apapun yang mereka lakukan salah.

Perasaan ini tentu tidak bisa diabaikan karena kesulitan meluapka emosi bisa menjadi penyebab timbulnya penyakit mental seperti serangan panik atau kecemasan.

6. Sangat Berhati-hati dalam Pergaulan

Ketika Moms tumbuh di lingkungan toxic, seperti keluarga yang tidah harmonis akan mempermudah dalam pergaulan.

Karena Moms akan dengan mudah membedakan seseorang yang toxic dan menjadi ancaman dalam pergaulan.

Saat tumbuh di keluarga yang toxic membuat Moms tidak ingin mendapatkan lingkungan toxic di luar rumah.

Selain itu, Moms juga tidak ingin menghidupkan lagi rasa sakit yang sudah dirasakan di rumah.

Jadi, jangan heran kalau kebanyakan anak broken home suka menyendiri.

Hal ini tidak selalu karena mereka kesepian, tetapi mereka lebih berhati-hati dalam bergaul dengan orang luar.

Mereka juga sangat sensitif dalam menilai orang.

Baca juga: 5 "Ritual" Sederhana Ini Bikin Kesehatan Mental Anak Jadi Lebih Baik

7. Overprotective

Anak dari keluarga yang tidak utuh biasanya akan overprotective terhadap semua anggota keluarganya.

Moms yang tumbuh di keluarga broken home biasanya akan melindungi kakak, adik atau bahkan orang tua (ayah atau ibu) dari kekerasan fisik atau mental.

Anak dari keluarga yang tidak harmonis akan bertindak sebagai seorang pelindung, meskipun di usia muda.

Sifat ini akan terus tumbuh hingga mereka dewasa.

Sifat ini sangat normal karena mereka ingin melindungi sesuatu yang berharga bagi hidup mereka.

Perasaan anak broken home yang suka melindungi terkadang terbawa hingga ke pergaulan.

Mereka biasanya tidak segan melindungi pasangan atau sahabatnya saat menghadapi gangguan dari luar.

8. Ingin Mendapat Perhatian Lebih

Perasaan ingin selalu diperhatikan menjadi sifat utama seorang anak yang tidak mendapatkan perhatian dari orang tuanya.

Bukan tanpa sebab, hal ini karena mereka tidak mendapat banyak perhatian di rumah.

Apalagi, kalau mereka tumbuh dengan orang tua tunggal yang super sibuk.

Jadi, jangan heran kalau banyak anak broken home yang sering merundung orang lain. Biasanya, mereka melakukan ini hanya karena ingin mendapat perhatian dari orang lain.

Sayangnya, perasaan ingin selalu mendapat perhatian ini terkadang membuat anak broken home mendapat masalah.

Apalagi kalau mereka sampai merundung orang lain atau melakukan hal yang tidak baik.

9. Lebih Suka Menghindar Saat Menghadapi Masalah

Karena terlalu sering menghadapi masalah di rumah, anak broken home lebih memilih untuk menghindar.

Selain keluar rumah, mereka biasanya akan melakukan suatu hal yang membuat mereka melupakan keadaan rumah yang toxic.

Perasaan ini sepertinya hampir dimiliki oleh semua anak broken home.

Mereka akan memilih untuk melakukan hal lain dibandingkan mendengarkan pertengkaran orang tua mereka.

Perasaan ingin menghindari masalah terkadang membuat anak broken home memiliki hobi yang dapat membawa mereka meraih prestasi.

Sayangnya, tidak sedikit anak broken home akan menghindar dan mencari pelarian ke hal-hal negatif.

Baca juga: COVID-19 Bisa Pengaruhi Kesehatan Mental Anak, Ini Langkah yang Dapat Dilakukan

10. Ambisius

Sifat ambisius biasanya juga dimiliki oleh anak broken home.

Sifat ini timbul karena mereka merasa marah dengan lingkungan mereka. Perasaan ini biasanya dapat menuntun anak broken home ke hal yang positif.

Perasaan marah ini bisa membuat mereka berambisi dalam meraih impian.

Mereka ingin membuktikan kepada semua orang, bahwa mereka juga bisa sukses walaupun tumbuh di keluarga broken home.

Anak broken home yang sudah sukses biasanya akan menjadi kebanggaan bagi orang tua mereka.

Selain itu, anak broken home juga lebih mandiri dibandingkan dengan orang lain.

Karena mereka memang ingin menunjukan, bahwa mereka bisa sukses tanpa bantuan orang tua atau anggota keluarga lainnya.

Cara Memahami Perasaan Anak Broken Home

perasaan anak broken home

foto: Orami Photo Stock

Menghadapi anak broken home memang tidak mudah.

Moms perlu melakukan beberapa pendekatan, khususnya di sisi mental.

Karena anak yang berasal dari keluarga broken home memiliki trauma emosional dan ini dapat terus berlanjut hingga mereka dewasa jika tidak ditangani dengan benar.

Komunikasi merupakan kunci utama dalam menghadapi anak broken home.

Mulailah mengajak mereka berbicara dengan tenang dan layaknya seorang teman.

Selain itu, jangan pernah memberikan penilaian berlebihan kepada anak yang berasal dari keluarga broken home.

Baca juga: Sering Tidak Disadari, Inilah 4 Dampak Perceraian Pada Pendidikan Anak

Karena anak broken home sangatlah sensitif.

Pastikan jangan membahas mengenai sesuatu yang dapat membangkitkan trauma mereka ya Moms.

Demikian penjelasan mengenai perasaan anak broken home dan cara memahaminya. Jangan sampai hal ini terjadi pada Si Kecil ya Moms.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait