26 Desember 2022

Fakta Seputar Pembekuan Sel Telur dan Biaya yang Dibutuhkan, Catat!

Metode ini untuk meningkatkan kehamilan di usia tua

Moms, apakah pernah mendengar seputar metode pembekuan sel telur?

Metode ini juga disebut dengan istilah oocyte cryopreservation atau kerap disebut egg freezing.

Metode ini dilakukan untuk membantu wanita yang mungkin ingin menunda kehamilan untuk sekarang, namun ingin memastikan bisa hamil di masa yang akan mendatang.

Sederhananya, prosedur dari pembekuan sel telur dilakukan dengan mengambil sel telur wanita dari rahim.

Kemudian, sel telur akan dibekukan dan disimpan dalam laboratorium.

Telur yang diambil dari ovarium dibekukan tanpa dibuahi dan disimpan untuk digunakan nanti.

Telur beku dapat dicairkan, dikombinasikan dengan sperma di laboratorium dan ditanamkan di rahim (in vitro fertilization).

Dokter dapat membantu Moms memahami cara kerja pembekuan sel telur, potensi risiko, dan apa saja hal yang terkait mengenai hal ini.

Lebih lengkapnya, simak ulasan selengkapnya berikut ini, ya.

Baca Juga: Mengenal Proses Oogenesis dalam Membentuk Sel Telur

Fakta Seputar Pembekuan Sel Telur

Fakta seputar Pembekuan Sel Telur (myhealthturkey.com)
Foto: Fakta seputar Pembekuan Sel Telur (myhealthturkey.com) (Orami Photo Stock)

Keberhasilan kehamilan dari metode pembekuan sel telur pertama kali dilaporkan pada tahun 1986.

Jika berbicara tentang fakta seputar metode egg freezing ini, tidak akan terlepas dari kondisi wanita yang membutuhkannya.

Dilansir dari UCLA Health, kelompok wanita yang mungkin memerlukan metode pembekuan sel telur, di antaranya adalah:

  • Wanita dengan kanker yang membutuhkan kemoterapi dan/atau terapi radiasi panggul yang dapat memengaruhi kesuburan.
  • Pembedahan yang bisa menyebabkan kerusakan pada ovarium.
  • Risiko kegagalan ovarium prematur karena kelainan kromosom atau riwayat keluarga dengan menopause dini.
  • Sedang menjalani in vitro fertilization atau sering disebut juga bayi tabung.
  • Penyakit ovarium dengan risiko kerusakan ovarium.
  • Mutasi genetik yang memerlukan pengangkatan ovarium.
  • Keinginan untuk menunda memiliki anak atau alasan pribadi lainnya.

Metode ini tidak terlepas dari potensi risiko yang mungkin ditimbulkan. Perhatikan ulasan berikutnya, ya.

Baca Juga: Kapan Berhubungan Setelah Minum Profertil untuk Meningkatkan Peluang Hamil?

Risiko Melakukan Pembekuan Sel Telur

Risiko Melakukan Pembekuan Sel Telur (Orami Photo Stocks)
Foto: Risiko Melakukan Pembekuan Sel Telur (Orami Photo Stocks)

Setiap prosedur medis pasti tidak akan lepas dari potensi risiko yang mungkin ditimbulkan.

Sama halnya dengan risiko melakukan pembekuan sel telur yang dapat saja terjadi.

Dilansir dari laman Mayo Clinic, berikut ini beberapa risiko melakukan metode pembekuan sel telur yang dapat terjadi, yaitu:

1. Ovarium yang Membengkak

Hal ini berkaitan dengan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan obat kesuburan.

Penggunaan obat kesuburan suntik, seperti hormon perangsang folikel sintetis atau hormon luteinizing dapat menginduksi ovulasi.

Kondisi ini yang akhirnya menyebabkan ovarium membengkak dan nyeri segera setelah ovulasi atau pengambilan sel telur.

Hal ini disebut juga ovarian hyperstimulation syndrome.

Beberapa tanda dan gejala yang dapat terjadi, seperti sakit perut, perut kembung, mual, muntah, dan diare.

Pada kasus yang jarang terjadi, bentuk sindrom yang lebih parah yang bisa mengancam jiwa.

2. Komplikasi Prosedur Pengambilan Sel Telur

Penggunaan jarum aspirasi untuk mengambil sel telur bisa mengakibatkan perdarahan, infeksi atau kerusakan pada usus, kandung kemih, atau pembuluh darah.

3. Risiko Terkait Kondisi Emosional

Pembekuan sel telur dapat memberikan harapan untuk kehamilan di masa depan, tetapi tidak ada jaminan keberhasilan.

Hal ini bisa berpengaruh pada kondisi emosional Moms.

Jika Moms menggunakan telur beku untuk memiliki anak, risiko keguguran terutama akan didasarkan pada usia Moms saat telur dibekukan.

Wanita yang lebih tua memiliki tingkat keguguran yang lebih tinggi, terutama karena memiliki sel telur yang lebih tua.

Itulah potensi risiko yang dapat ditimbulkan terkait dengan pembekuan sel telur.

Namun, apabila Moms tetap ingin mengetahui prosedur melakukan pembekuan sel telur, simak ulasan berikutnya, ya.

Baca Juga:Telur Infertil: Pengertian, Bahaya, dan Cara Membedakan dengan Telur Normal

Persiapan sebelum Melakukan Pembekuan Sel Telur

Persiapan sebelum Melakukan Pembekuan Sel Telur
Foto: Persiapan sebelum Melakukan Pembekuan Sel Telur (medicalnewstoday.com)

Jika Moms mempertimbangkan untuk melakukan pembekuan sel telur, carilah klinik kesuburan yang ahli di bidangnya.

Moms bisa berkonsultasi terlebih dulu dengan ahli endokrinologi reproduksi.

Sebelum melakukan proses pembekuan sel telur, Moms mungkin akan menjalani beberapa tes darah, seperti:

1. Tes Cadangan Ovarium

Tes ini dilakukan untuk menentukan kuantitas dan kualitas sel telur.

Dokter mungkin menguji konsentrasi hormon perangsang folikel dan estradiol dalam darah pada hari ketiga siklus menstruasi.

Hasilnya dapat membantu memprediksi bagaimana ovarium akan merespon obat kesuburan.

2. Tes Darah

Tes darah lain dan USG ovarium bisa juga digunakan untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang fungsi ovarium.

3. Skrining Penyakit Menular

Selanjutnya, Moms mungkin akan diminta untuk diskrining untuk penyakit menular tertentu, seperti HIV, serta hepatitis B dan C.

Baca Juga: Pahami Jenis dan Fungsi Melakukan Tes Darah untuk Kesehatan

Prosedur Melakukan Pembekuan Sel Telur

Pemeriksaan dengan Dokter
Foto: Pemeriksaan dengan Dokter (Orami Photo Stock)

Prosedur melakukan pembekuan sel telur bisa dijelaskan dalam beberapa langkah, yaitu:

1. Stimulasi Ovarium

Moms akan menggunakan hormon sintetik untuk merangsang indung telur untuk menghasilkan banyak sel telur.

Obat-obatan yang mungkin diperlukan antara lain:

  • Obat untuk stimulasi ovarium, seperti follitropin alfa atau beta (Follitropin AQ, Gonal-f) atau menotropin (Menopur).
  • Obat untuk mencegah ovulasi dini, seperti leuproline acetate (Lupron Depot) atau antagonis hormon pelepas gonadotropin seperti cetrorelix (Cetrotide).

Selama perawatan ini, dokter akan memantau kondisi Moms.

Selanjutnya, Moms mungkin akan menjalani tes darah untuk mengukur respons terhadap obat perangsang ovarium.

Kadar estrogen biasanya meningkat saat folikel berkembang, dan kadar progesteron tetap rendah sampai setelah ovulasi.

Umumnya, setelah 10-14 hari, folikel siap untuk pengambilan sel telur, suntikan human chorionic gonadotropin (Pregnyl, Ovidrel) atau obat lain dapat membantu sel telur matang.

Baca Juga: Bisakah Periode Pembuahan Sel Telur Dideteksi?

2. Pengambilan Sel Telur

Pengambilan sel telur dilakukan dengan obat penenang.

Pendekatan umum yang dilakukan, yaitu melalui ultrasound transvaginal, di mana probe ultrasound dimasukkan ke dalam vagina.

Sebuah jarum kemudian dipandu melalui vagina dan masuk ke dalam folikel.

Alat pengisap yang terhubung ke jarum digunakan untuk mengeluarkan telur dari folikel. Beberapa telur dapat dikeluarkan.

Penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak telur yang diambil, maka semakin baik peluang kehamilan.

Setelah proses ini, Moms mungkin akan mengalami kram.

3. Pembekuan

Setelah sel telur yang tidak dibuahi dipanen, sel telur tersebut didinginkan hingga suhu di bawah nol untuk mengawetkannya agar dapat digunakan di masa mendatang.

Susunan sel telur yang tidak dibuahi membuatnya sedikit lebih sulit untuk dibekukan.

Hal ini menyebabkan kehamilan yang sukses daripada susunan sel telur yang dibuahi (embrio).

Proses yang paling umum digunakan untuk pembekuan telur disebut vitrifikasi.

Baca Juga: Mengenal Folikel Antral dan Kaitannya dengan Kesuburan Wanita

Berapa Biaya yang Dibutuhkan?

Berapa Biaya yang Dibutuhkan?
Foto: Berapa Biaya yang Dibutuhkan? (Orami Photo Stock)

Mengenai biaya pembekuan sel telur mungkin akan sangat beragam.

Semua tergantung pada rumah sakit yang dikunjungi, fasilitas yang didapatkan, dan konsultasi dokter spesialis yang berbeda-beda.

Namun, sebagai kisaran untuk pemeriksaan awal, dimulai dari Rp2 juta.

Selanjutnya, akan dilakukan konsultasi dokter spesialis, screening test, hingga proses pembekuan sel telurnya itu sendiri.

Jadi, total pemeriksaan mungkin akan mencapai belasan hingga puluhan jutaan rupiah.

Jika Moms ingin melakukan metode ini, sebaiknya pertimbangkan budget yang dibutuhkan.

Penting juga untuk diskusi dulu dengan Dads, ya, Moms!

  • https://www.uclahealth.org/obgyn/egg-freezing
  • https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/egg-freezing/about/pac-20384556

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.