29 Maret 2023

Penyakit Hirschsprung pada Balita: Gejala dan Penyebabnya

Waspada jika Si Kecil tampak sering konstipasi!

Pernahkah Moms dan Dads mendengar soal penyakit hirschsprung? Kira-kira apa, ya?

Penyakit hirschsprung pada balita adalah gangguan usus bawaan lahir yang ditandai kesulitan buang air besar akibat feses tertahan di usus besar.

Kondisi ini biasanya sudah terlihat dalam jangka waktu 48 jam setelah bayi lahir, tapi pada beberapa kasus gejalanya baru dikenali saat balita.

Apakah penyakit pencernaan ini berbahaya untuk balita dan mengganggu tumbuh kembangnya?

Supaya bisa tahu lebih banyak, simak dulu berbagai fakta tentang penyakit pencernaan berikut ini ya, Moms.

Gejala Penyakit Hirschsprung

Penyakit Hirschsprung pada Balita
Foto: Penyakit Hirschsprung pada Balita (Orami Photo Stock)

Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, gejala utama penyakit hirschsprung pada balita adalah konstipasi atau obstruksi usus.

Pada bayi baru lahir, penyakit pencernaan bisa dikenali dari tidak buang air besar selama 48 jam setelah kelahiran.

Selain itu, perut bayi terlihat membesar, seperti kembung, diare, demam, serta muntah berwarna hijau kecoklatan.

Dalam kasus yang tidak terlalu parah, gejala penyakit tersebut baru terlihat di usia balita.

Anak-anak yang tidak memiliki gejala awal mungkin mengalami tanda-tanda penyakit usus berikut seiring bertambahnya usia:

  • Sembelit yang menjadi lebih buruk seiring waktu.
  • Kehilangan selera makan.
  • Pertumbuhan tertunda.
  • Buang air besar kecil dan berair.
  • Distensi perut.

Perut membesar dan kencang, sulit menaikkan berat badan, dan pertumbuhan terlambat, juga bisa menjadi tanda penyakit hirschsprung.

Baca Juga: Normalkah Bayi yang Baru Lahir Buang Air Besar Terus Menerus?

Penyebab Penyakit Hirschsprung

Penyebab Penyakit Hirschsprung
Foto: Penyebab Penyakit Hirschsprung (Orami Photo Stock)

Seperti dijelaskan dalam laman Boston Children’s Hospital, penyebab penyakit hirschsprung pada balita adalah ketiadaan sebagian ganglion sel saraf.

Padahal sel saraf tersebut berfungsi untuk membantu pergerakan feses di dalam usus sampai akhirnya keluar melalui anus.

Diduga terjadi karena perkembangan tidak sempurna saat dalam kandungan.

Sel saraf yang seharusnya ada pada bagian ujung usus besar atau area sebelum rektum menjadi tidak lengkap.

Akibatnya, sinyal untuk menggerakkan feses ke rektum dan anus pun terputus.

Sayangnya, sampai saat ini belum diketahui secara pasti faktor penyebab ganglion sel saraf tidak berkembang dengan sempurna di area tersebut.

Namun, diketahui kalau anak dengan sindrom down dan anak berjenis kelamin laki-laki memiliki risiko yang lebih besar.

Baca Juga: 4 Penyebab Buang Air Besar Berdarah Pada Balita

Pengobatan Penyakit Hirschsprung

Pengobatan Penyakit Hirschsprung
Foto: Pengobatan Penyakit Hirschsprung (Orami Photo Stock)

Sampai saat ini, prosedur operasi masih jadi cara paling efektif untuk menangani penyakit hirschsprung.

Dalam operasi tersebut, dokter akan mengambil bagian usus besar yang kehilangan sel saraf, dan kemudian menyambungkan kembali dengan rektum.

Prosedur bisa dilakukan dengan laparoskopi, yaitu operasi minimal invasif yang dilakukan hanya dengan membuat sayatan kecil di perut.

Selama Moms mengikuti rekomendasi dan saran dari dokter, sebagian besar balita penderita penyakit hirschsprung bisa pulih dengan cepat.

Lalu, bisa kembali buang air besar dengan normal tanpa masalah apapun.

Baca Juga: 7 Penyebab Sakit Perut Bagian Tengah dan Cara Mengatasinya, Catat!

Penyakit hirschsprung pada balita harus ditangani sedini mungkin karena berbahaya bagi perkembangan dan keselamatan Si Kecil.

Semakin cepat penderita dioperasi, akan semakin cepat pula Si Kecil tumbuh dan berkembang seperti anak seusianya.

Kira-kira apa yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan pencernaan balita, ya, Moms?

  • https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/hirschsprung-disease
  • https://www.childrenshospital.org/conditions-and-treatments/conditions/h/hirschsprungs-disease

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.

rbb