Newborn

NEWBORN
12 Februari 2021

Ini Penyebab dan Cara Mengatasi Alergi Telur pada Bayi, Jangan Panik Dulu!

Si Kecil bisa mengalami alergi telur ayam dan telur bebek
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Dari sekian banyak makanan, telur adalah salah satu makanan penyebab alergi bayi dan anak yang paling umum.

Gejala alergi telur pada bayi biasanya terjadi beberapa menit sampai beberapa jam setelah Si Kecil memakan telur atau mengonsumsi makanan lain yang mengandung telur.

Mengutip Mayo Clinic, tanda-tanda dan gejala anak mengalami alergi telur mulai dari gejala ringan hingga berat. Seperti ruam kulit, gatal-gatal, hidung tersumbat, muntah atau masalah pencernaan lainnya.

Baca lebih lanjut untuk mengetahui apa saja penyebab alergi telur pada bayi berikut ini, Moms.

Baca Juga: Jangan Tunda, Ini 4 Tips Mengenalkan Alergen Pada Bayi 6-12 Bulan

Penyebab Alergi Telur pada Bayi

penyebab alergi telur pada balita-1

Foto: Orami Photo Stock

Menurut Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy, semua bentuk alergi dikarenakan sistem kekebalan tubuh yang bereaksi terhadap molekul pemicu alergi tertentu (alergen).

Sistem kekebalan tubuh balita menghasilkan antibodi yang mendeteksi alergen dan menyebabkan reaksi peradangan dan pelepasan zat kimia yang disebut histamin.

Histamin menyebabkan gatal-gatal, demam, dan gejala alergi lainnya.

Baik putih telur maupun kuning telur, bisa menjadi penyebab alergi telur pada balita. Tetapi, umumnya balita mengalami alergi putih telur. Tidak hanya telur ayam, Si Kecil juga dapat alergi terhadap telur bebek.

Mengutip Mom Junction, sistem kekebalan bayi bekerja sepanjang waktu untuk melindungi bayi dari parasit, bakteri, dan virus. Namun, sistem kekebalan tubuhnya belum berkembang sepenuhnya dibanding orang dewasa.

Penyebab dasar dari alergi telur pada bayi adalah ketidakmampuan sistem kekebalan untuk membedakan protein telur dari patogen penyebab penyakit. Tubuh Si Kecil melihat protein telur sebagai hal asing dan melakukan serangan dengan melepaskan antibodi yang disebut imunoglobulin E (IgE).

Melansir Children's Hospital of Philadelphia, sel-sel merasakan kehadiran IgE dan melepaskan histamin, mengakibatkan ruam kulit, pilek, yang memperingatkan individu atau orang-orang di sekitar tentang adanya alergi.

Bayi dapat mengalami alergi terhadap segala bentuk telur, baik itu mentah, direbus, dimasak atau bahkan dimasak secara setengah matang. Selain itu, alergi ini dapat terjadi pada bayi yang disusui jika Moms makan telur.

Baca Juga: 3 Resep MPASI 8 Bulan Berbahan Telur Puyuh, Kaya Nutrisi!

Bentuk Reaksi Alergi Telur pada Bayi

reaksi alergi telur pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Melansir jurnal Pediatric Clinics of North America, balita dan anak-anak biasanya mengalami reaksi alergi dalam beberapa menit hingga dua jam setelah mengonsumsi telur.

Meskipun gejala kulit adalah reaksi yang paling umum, reaksi alergi lainnya yang melibatkan saluran pencernaan atau pernapasan juga dapat terjadi.

Tingkat keparahan reaksi alergi ini sulit untuk diprediksi, berpotensi mengancam kehidupan, dan dapat bervariasi dari balita lainnya yang mengalami alergi telur.

National Health Service menjelaskan, sebagian besar reaksi alergi bayi terhadap telur ringan. Biasanya bayi menolak makanan yang mengandung telur, mengalami kemerahan dan kadang-kadang bengkak di sekitar mulut dan dapat muntah setelah makan.

Sakit perut atau diare juga dapat terjadi sebagai bentuk alergi telur pada bayi. Gejalanya hampir selalu terjadi segera atau dalam 2 jam setelah makan. Semakin lama telur dimasak atau diproses, semakin kecil kemungkinan menimbulkan reaksi.

Pada kasus yang jarang, beberapa anak juga mengembangkan reaksi alergi telur yang lebih parah disertai batuk, kesulitan bernapas, mengi tipe asma atau bahkan anafilaksis.

Kontak kulit yang tidak disengaja biasanya hanya menyebabkan ruam, tetapi tidak ada gejala umum atau berbahaya.

Alergi telur pada bayi mungkin juga dapat memperburuk kondisi eksim bayi, tetapi ini biasanya lebih sulit untuk didiagnosis mengingat timbulnya gejala membutuhkan waktu yang lebih lambat.

Putih telur dan kuning telur mengandung protein yang dapat memicu reaksi alergi oleh sistem kekebalan tubuh. Protein pada putih telur yaitu ovomucoid, ovalbumin, ovotransferrin, lisozim. Sementara protein kuning telur adalah livetin, apovitillin, phosvitin.

Putih telur biasanya merupakan penyebab alergi yang lebih umum pada bayi dibandingkan dengan kuning telur.

Baca Juga: Mencegah Alergi Makanan, Bagaimana Menentukan Snack yang Baik untuk Anak?

Faktor Pengaruh Alergi Telur pada Bayi

alergi telur pada bayi

Foto: Orami Photo Stock

Ada faktor-faktor tertentu yang dapat meningkatkan risiko anak dan balita mengalami alergi telur.

1. Dermatitis Atopik

Pada jurnal Immunology and Allergy Clinics of North America, dermatitis atopik merupakan dermatitis kronis, yang biasanya terjadi pada anak usia dini. Dermatitis atopik pada Si Kecil biasanya muncul pertama kali di usia 3-6 bulan.

Pada bayi yang memiliki kondisi kulit ini lebih mungkin mengembangkan alergi makanan, termasuk telur, daripada anak-anak yang tidak memiliki masalah kulit.

2. Sejarah Keluarga

Si Kecil berisiko lebih tinggi mengalami alergi makanan jika salah satu atau kedua orang tua menderita asma, alergi makanan atau jenis alergi lainnya, seperti demam, gatal-gatal atau eksim.

Termasuk bila Moms memiliki riwayat keluarga alergi makanan atau salah satu orang tua (Moms atau Dads) menderita alergi, maka ada kemungkinan bayi mengalami alergi telur pada telur hingga 40 persen.

3. Usia

Alergi telur paling umum terjadi pada anak-anak. Dengan bertambahnya usia, sistem pencernaan menjadi matang dan reaksi makanan alergi cenderung terjadi lebih sedikit.

Baca Juga: Ini Tanda-Tanda Alergi Kedelai pada Bayi, Moms Perlu Tahu!

4. Reaktivitas Silang

Jika bayi memiliki kecenderungan umum untuk memiliki reaksi alergi, maka mereka dapat mengembangkan alergi terhadap telur juga.

Bayi yang alergi terhadap makanan lain seperti biji-bijian dan kacang-kacangan berisiko lebih tinggi terkena alergi telur.

Fenomena ini dikenal sebagai reaktivitas silang.

Reaktivitas silang terjadi ketika sistem kekebalan merasakan satu protein terkait erat dengan yang lain.

5. Terserang Penyakit

Karena alergi melibatkan sistem kekebalan tubuh, serangan penyakit parah baru-baru ini dapat membuat tubuh sangat sensitif dan waspada terhadap zat asing.

Ini bisa menjadi faktor yang menyebabkan alergi telur pada bayi.

Jika Si Kecil terserang penyakit, berarti tubuh akan menganggap protein telur sebagai agen infeksi yang potensial, sehingga membuat sistem kekebalan untuk menyerang protein ini.

Mengatasi Alergi Telur pada Bayi

mengatasi alergi telur

Foto: Orami Photo Stock

Perawatan alergi telur pada bayi akan tergantung pada keparahan reaksi alergi.

Dokter akan berusaha mengurangi jumlah gejala dan intensitasnya sehingga alergi ini tidak menjadi sesuatu yang mengancam hidupnya.

1. Menggunakan Obat

Mengutip American College of Allergy, Asthma & Immunology, jika gejalanya ringan maka dokter akan meresepkan antihistamin. Moms dapat memberikan obatnya secara oral di rumah.

Dalam kasus anafilaksis, dokter akan memberikan suntikan epinefrin, juga disebut adrenalin.

Dokter akan menyarankan Moms untuk membeli suntikan epinefrin otomatis sehingga bisa digunakan secara darurat jika bayi mengalami syok anafilaksis lagi.

Baca Juga: Moms, Yuk Kenali Ciri-ciri Alergi Dingin Pada Bayi

Ketika Moms melihat Si Kecil mengalami syok anafilaksis karena alergi telur pada bayi, masukkan penyuntik otomatis ke paha bayi dan suntikkan jarum mengirimkan epinefrin ke tubuh melalui otot.

2. Mengubah Pola Makan

Mengutip Better Health Channel, langkah yang pasti dalam mengatasi alergi telur adalah dengan menghindari makanan yang menyebabkan alergi.

Moms bisa memilih alternatif dari telur sebagai asupan untuk protein Si Kecil.

Jika Moms masih di masa menyusui bayi, maka harus berhenti mengonsumsi makanan telur.

Ini akan mencegah terulangnya gejala alergi telur pada bayi.

Bayi mungkin berhenti menunjukkan gejala setelah menjalani perawatan. Tetapi karena tidak ada obat untuk alergi telur, menghindari telur adalah satu-satunya cara untuk menjaga bayi bebas dari bahaya.

3. Berikan Anak Pengganti Telur yang Sehat

Mengatasi alergi telur pada bayi, berikut ini adalah makanan tertentu yang sangat baik sebagai pengganti telur.

  • Daging: daging dari unggas adalah cara yang bagus untuk menggantikan telur dalam makanan saat Moms memiliki bayi yang alergi telur atau bayi di atas enam bulan yang dapat diberi makan daging. Ini adalah sumber seng dan mineral makanan yang membantu bayi tumbuh lebih baik. Moms bisa memberi makan daging dalam bentuk bubur dan setelah bayi cukup besar untuk mengunyah. Bisa dimulai dengan potongan daging seukuran nugget padat.
  • Legum: Legum atau dal memiliki protein yang melimpah. Moms bisa merebusnya dengan nasi, membuat pasta atau haluskan tergantung usia bayi kita.
  • Kacang: Kacang-kacangan adalah sumber vitamin dan kolesterol baik yang luar biasa dan karenanya menjadi pengganti telur yang bagus.
  • Sayuran berdaun: Sayuran berdaun merupakan sumber mineral dan vitamin yang baik sebagai penggan

Moms harus memeriksa apakah bayi alergi atau tidak terhadap makanan tersebut sebelum memberinya makan.

Baca Juga: Makan Kacang saat Hamil, Benarkah Bikin Anak Jadi Alergi?

Mencegah Alergi Telur pada Bayi

mencegah alergi telur

Foto: Orami Photo Stock

Alergi telur memang tidak memiliki obat pasti dan setiap pengobatan ditujukan untuk mengurangi gejala.

Berikut beberapa tips yang dapat membantu Moms mencegah alergi telur pada bayi.

1. Memperkenalkan Telur Sejak Dini

Melansir Harvard Health Publishing, penelitian telah menunjukkan bahwa pengenalan makanan pada awal kehidupan bayi dapat mengurangi kemungkinan terjadinya alergi.

Ini biasanya terjadi karena desensitisasi sistem kekebalan tubuh terhadap makanan.

Selama suatu periode, sistem kekebalan dapat mengidentifikasi protein dalam telur sebagai tidak berbahaya dan dengan demikian berhenti menyerangnya dengan respons antibodi.

2. Upaya saat Menyusui

Seorang ibu yang menyusui dapat menghindari telur untuk mencegah alergi telur pada bayi.

Namun, penelitian menunjukkan bahwa tidak selalu perlu menghindari makanan yang mengandung alergi saat menyusui karena ASI memperkuat sistem kekebalan bayi.

Ini berarti sistem menjadi lebih kompeten dalam membedakan antara protein dan patogen.

Moms dapat menggunakan tindakan pencegahan ini sebagai percobaan dan kesalahan.

3. Imunoterapi

Dalam perawatan ini, bayi menerima sejumlah telur selama suatu periode untuk menurunkan sensitivitas sistem kekebalan.

Perawatan dimulai dengan dosis kecil, diikuti dengan dosis tambahan pada interval waktu yang tetap.

Kondisi bayi dipantau dan jika menunjukkan gejala alerginya sembuh total, ia dinyatakan aman mengonsumsi makanan.

Baca Juga: Jika Anak Terlambat Imunisasi di Era Pandemi, Haruskah Khawatir?

Langkah-langkah yang disebutkan di atas dicapai setelah melakukan pengujian di lingkungan yang terkendali.

Oleh karena itu, kami menyarankan Moms untuk berkonsultasi dengan dokter anak sebelum melakukan tindakan pencegahan apa pun untuk alergi telur pada bayi.

Itu dia Moms, penjelasan mengenai alergi telur pada bayi yang perlu diperhatikan. Jangan sampai lalai ya, Moms!

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait