Scroll untuk melanjutkan membaca

KESEHATAN UMUM
23 Februari 2022

Syok Anafilaksis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Cara Mengobatinya

Karena sulit terdeteksi, tes alergi perlu dilakukan
Syok Anafilaksis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Cara Mengobatinya

Foto: Freepik.com/cookie_studio

Dari berbagai jenis syok yang ada dalam dunia medis, syok anafilaksis merupakan salah satu yang cukup berbahaya.

Kondisi ini menyebabkan gangguan aliran darah dan penyerapan oksigen sehingga dapat menghasilkan sejumlah gejala, bahkan berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

Syok anafilaksis dapat terjadi dalam hitungan menit setelah penderita terpapar oleh penyebab alergi (alergen).

Yuk, ketahui lebih jauh mengenail syok anafilaksis di bawah ini!

Baca Juga: Meskipun Sederhana untuk Dilakukan, Ternyata Ini 7 Manfaat Jalan Kaki bagi Kesehatan

Apa Itu Syok Anafilaksis

Foto:

Foto: Orami Photo Stock

Anafilaksis adalah syok yang disebabkan oleh reaksi alergi yang berat.

Melansir SpringerPlus, reaksi ini akan mengakibatkan penurunan tekanan darah secara drastis sehingga aliran darah ke seluruh jaringan tubuh terganggu.

Akibatnya, muncul gejala berupa sulit bernapas, bahkan penurunan kesadaran.  

Dalam kurun waktu 12 jam setelah syok pertama, syok anafilaksis berpotensi untuk kembali terjadi (biphasic anaphylaxis).

Perlu Moms ketahui bahwa seperti reaksi alergi lainnya, syok anafilaksis hanya dapat terjadi jika terpapar alergen yang memicunya.

Alergen adalah zat apapun yang dapat menjadi penyebab terjadinya reaksi alergi dalam tubuh seseorang.

Reaksi penyakit ini terjadi ketika sistem imun tubuh merespon alergen yang dianggap berbahaya secara berlebihan, sehingga mengakibatkan tekanan darah rendah tiba-tiba (syok).

Baca Juga: 10 Rekomendasi Dokter Hewan Jogja, Yuk Bawa Peliharaan Moms Kontrol Rutin!

Gejala Syok Anafilaksis

anafilaksis

Foto: anafilaksis (dlife.com)

Foto: Orami Photo Stock

Anafilaksis merupakan reaksi alergi, maka gejala awalnya mirip dengan reaksi alergi ringan yang dapat hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan.

Namun, reaksi anafilaksis memerlukan perawatan medis dengan segera.

Berikut tanda-tanda atau gejala syok anafilaksis yang perlu Moms waspadai, yaitu:

  • Reaksi kulit, termasuk gatal-gatal, ruam, kulit memerah atau pucat
  • Tekanan darah turun drastis
  • Kesulitan bernapas, berbicara, dan menelan
  • Sensasi kesemutan di kulit kepala, mulut, tangan, atau kaki
  • Denyut nadi lebih cepat namun terasa lemah
  • Detak jantung yang cepat atau tidak normal
  • Mual, muntah, atau diare
  • Kram atau nyeri perut
  • Pusing atau pingsan
  • Kebingungan atau cemas
  • Pembengkakan pada wajah, kelopak mata, lidah, atau tenggorokan
  • Kulit membiru

Gejala di atas biasanya timbul dalam kurun waktu 5-30 menit setelah adanya reaksi terhadap alergen.

Jika reaksi yang muncul layaknya alergi ringan, diperlukan waktu hingga satu jam untuk menentukan bahwa reaksi tersebut adalah anafilaksis.

Jangan langsung memvonis reaksi sebagai alergi ringan atau normal.

Sebaiknya amati gejala dengan seksama karena reaksi dapat menjadi lebih hebat bahkan berubah cepat menjadi anafilaktik syok.

Baca Juga: Kenali Duck Syndrome atau Sindrom Bebek yang Membuat Orang Tampak Baik-Baik Saja

Penyebab Syok Anafilaksis

anafilaksis

Foto: anafilaksis (medicalnewstoday.com)

Foto: Orami Photo Stock

Syok anafilaksis umunya disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas atau reaksi alergi yang parah.

Reaksi hipersensitivitas akan menyebabkan sistem imun bereaksi tidak normal atau berlebihan terhadap bahan atau zat tertentu (alergen).

Reaksi sistem imun yang berlebihan pada syok anakfilaksis akan menyebabkan gangguan aliran darah dan penyerapan oksigen pada seluruh organ tubuh.

Hal ini menyebabkan akan muncul sejumlah gejala dan keluhan. Jenis anafilaksis lainnya disebut reaksi anafilaktoid.

Reaksi yang bukan disebabkan oleh pelepasan antibodi alergi tetapi karena aktifitas olahraga (terutama kegiatan aerobik) dan zat kontras yang digunakan dalam pemindaian tertentu.

Jika pasien tidak memiliki alergi dan penyebab gejala tidak diketahui, kasus ini akan didiagnosis sebagai anafilaksis idiopatik.

Zat alergen pencetus reaksi anafilaksis yang umum antara lain:

  • Makanan seperti kacang-kacangan, susu, ikan, kerang, telur, dan beberapa jenis buah
  • Obat-obatan tertentu, seperti obat antibiotik, obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), obat pelemas otot, atau obat antikejang
  • Gigitan serangga terutama lebah
  • Agen kontras
  • Zat bius umum
  • Bahan lateks, biasanya pada sarung tangan karet atau kondom
  • Tanaman, seperti rumput atau serbuk sari bunga

Pada dasarnya, setiap orang bisa mengalami syok anafilaksis.

Namun, berikut beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko kondisi ini, yaitu:

  • Menderita asma atau alergi
  • Memiliki riwayat syok anafilaksis sebelumnya
  • Memiliki anggota keluarga dengan riwayat alergi atau syok anafilaksis

Baca Juga: Potret Keharmonisan Keluarga Abimana dan Inong, Selalu Kompak!

Alergi Susu Menyebabkan Anafilaksis

anafilaksis

Foto: anafilaksis

Foto: Orami Photo Stock

Berdasarkan MayoClinic, alergi susu ternyata dapat menyebabkan anafilaksis atau reaksi alergi parah yang mengancam jiwa.

Bayi memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami jenis syok ini.

Sebuah penelitian Journal of Asthma and Allergy, meneliti 213 reaksi anafilaksis di antara 192 anak dan melaporkan adanya tantangan tertentu dalam menetapkan diagnosis anafilaksis.

Penelitian menemukan bahwa, hanya 16,6 persen bayi yang diteliti memiliki pengukuran tekanan darah.

Selain itu, hanya 12,5 persen anak-anak yang lebih muda dari 3 tahun yang memiliki pengukuran tekanan darah dibandingkan dengan 90 persen pasien berusia 3 tahun dan lebih tua.

Gambaran klinis anafilaksis lainnya mungkin lebih sulit diidentifikasi pada kelompok usia-usia tersebut.

Hal ini karena ada beberapa gejala yang merupakan tanda pertumbuhan yang normal pada bayi, seperti disfagia dan air liur.

Karena tumbuh gigi menghasilkan air liur, tanda fisik ini mungkin tidak terdokumentasi atau mungkin dianggap tidak berhubungan dengan reaksi alergi.

Demikian pula, pruritus, tanda fisik pelepasan histamin, dapat muncul sebagai rasa gatal, yang mungkin juga tidak tercatat sebagai reaksi alergi.

Baca Juga: 11 Tutorial Pashmina Simple Tapi Stylish, Cocok untuk Moms yang Suka Bergaya!

Diagnosis Syok Anafilaksis

Syok Anafilaktis

Foto: Syok Anafilaktis (Health3-0.com)

Foto: Orami Photo Stock

Syok anafilaksis didiagnosis berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisik.

Berikut jenis pemeriksaan terhadap syok anafilaksis yang kemungkinan akan Moms lakukan, yaitu:

1. Pemeriksaan Riwayat

Dokter akan melalui pemeriksaan dan tanya jawab tentang riwayat paparan alergen sebelumnya.

Saat Moms datang dengan keluhan dan gejala di atas, dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh dan memastikan tanda-tanda vital.

Seperti, tekanan darah, denyut nadi, frekuensi napas, suhu, dan tingkat kesadaran.

2. Menanyakan Kepada Pendamping

Dokter juga akan menanyakan kepada pendamping Moms atau keluarga terdekat tentang:

  • Riwayat penggunaan obat
  • Konsumsi makanan
  • Paparan zat tertentu
  • Riwayat alergi sebelumnya

Selanjutnya, sembari melakukan pemeriksaan, dokter akan melakukan penanganan untuk menstabilkan kondisi Moms.

3. Tes Lanjutan

Setelah kondisi Moms stabil, dokter mungkin akan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Tes darah untuk mendeteksi peningkatan kadar histamin dan tryptase
  • Tes alergi (skin prick test atau intradermal test) untuk mendeteksi penyebab bahan yang menyebabkan reaksi alergi

Baca Juga: Alergi Sperma: Ketahui Gejala, Penyebab dan Cara Mengatasinya agar Hubungan Intim Tetap Nyaman

Cara Mengatasi Syok Anafilaksis

Obat .jpg

Foto: Obat .jpg

Foto: Orami Photo Stock

Syok anafilaksis merupakan keadaan gawat darurat yang harus segera ditangani.

Suntikan epinephrine adalah salah satu pengobatan syok anafilaksis.

Dokter akan memberikan suntikan ini secepatnya pada pasien yang mengalami kondisi ini.

Dokter juga akan meresepkan obat-obatan, seperti:

  • Epinefrin (adrenalin): mengurangi respon alergi tubuh
  • Oksigen: membantu pernapasan
  • Antihistamin dan cortisone yang disuntikkan melalui vena: mengurangi peradangan saluran udara dan meningkatkan pernapasan
  • Beta-agonist (sebagai contoh albuterol): meringankan gejala pernapasan

Baca Juga: 5 Resep Cakalang Fufu, Hidangan Ikan Khas Sulawesi Utara yang Lezat!

Itu dia Moms penjelasan mengenai syok anafilaksis. Semoga membantu, ya!

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4970985/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3706379/
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/anaphylaxis/symptoms-causes/syc-20351468
  • https://www.aaaai.org/Conditions-Treatments/allergies/anaphylaxis
  • https://www.nhs.uk/conditions/anaphylaxis/
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/milk-allergy/symptoms-causes/syc-20375101