Scroll untuk melanjutkan membaca

KESEHATAN MENTAL
16 Februari 2022

Kenali Duck Syndrome atau Sindrom Bebek yang Membuat Orang Tampak Baik-Baik Saja

Umumnya mereka mampu menutupi kesulitannya dengan senyuman lho, Moms!
Kenali Duck Syndrome atau Sindrom Bebek yang Membuat Orang Tampak Baik-Baik Saja

Tak jarang orang menyembunyikan banyaknya tuntutan di balik senyuman. Namun, tahukah Moms kalau orang yang selalu menutupi tekanan tersebut disebut dengan duck syndrome?

Istilah duck syndrome sering disebut juga dengan Stanford Duck Syndrome karena istilah tersebut dicetuskan pertama kali di Stanford University.

Awalnya, duck syndrome sering digunakan untuk menggambarkan mahasiswa yang terlihat tenang padahal mereka memiliki banyak tekanan akibat berbagai masalah, seperti:

  • Menjelang kelulusan
  • Tekanan pekerjaan
  • Gambaran kehidupan ke depannya

Menurut dr. Ashwin Kandouw, Sp.KJ, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, RS Pondok Indah, istilah duck syndrome dikemukakan dari pengamatan seekor bebek.

Dijelaskan, seekor bebek yang sedang berenang tampak dari luar sangat tenang.

Namun, orang tidak mengetahui bahwa di bawah permukaan air, sang bebek mungkin berusaha dengan sangat keras untuk tetap mengayuh agar tidak tenggelam.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai duck syndrome, Moms bisa cari tahu di sini.

Baca Juga: 8 Cara Mencegah Sindrom Kematian Bayi Mendadak (SIDS)

Apa Itu Duck Syndrome?

4 Tips Mengatasi Rasa Cemas saat Hamil di Tengah Pandemi.jpg

Foto: 4 Tips Mengatasi Rasa Cemas saat Hamil di Tengah Pandemi.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, duck syndrome merupakan sebuah kondisi seseorang yang mampu bersikap tenang menutupi tekanan dan tuntutan di dalam dirinya.

dr. Ashwin menjelaskan lebih lanjut, duck syndrome adalah kondisi seseorang yang dari tampilan luarnya tampak sangat tenang.

Namun, dibalik ketenangannya di dalam hatinya merasakan kecemasan yang luar biasa untuk dapat mengatasi tekanan dan tuntutan kehidupan saat ini dan ke depannya.

Istilah "sindrom bebek" umumnya diamati di kalangan remaja dan mahasiswa, terutama di lingkungan kampus.

Karena, ini dapat dilihat perbedaan kehidupan nyata dengan gaya hidup mereka di sosial media.

Baca Juga: Kenali FOMO, Sindrom Fear of Missing Out yang Bisa Berbahaya

Ciri-Ciri Duck Syndrome

Depresi.jpg

Foto: Depresi.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Meskipun sindrom bebek jarang dikenal kalangan orang awam, tetapi banyak gejala yang mungkin dirasakan kita tanpa sadar lho, Moms!

Umumnya, beberapa ciri ini dapat mereka rasakan ketika mengalami stres yang luar biasa tetapi mencoba untuk memasang wajah tersenyum.

Beberapa ciri duck syndrome, meliputi:

  • Merasa kewalahan
  • Kesulitan menenangkan diri dan pikiran
  • Merasa buruk tentang diri sendiri, kesepian, atau membandingkan diri dengan orang lain
  • Merasa gugup
  • Gejala fisik termasuk energi rendah, sulit tidur, ketegangan otot, gigi terkatup, mual, atau mulut kering
  • Gejala kognitif, seperti rasa khawatir, pelupa, pikiran berlomba, kesulitan fokus, dan penilaian yang buruk
  • Perubahan perilaku termasuk perubahan nafsu makan, peningkatan penggunaan alkohol atau obat-obatan

Selain itu, orang-orang yang mengalami duck syndrome juga kerap kali merasa gelisah. Salah satu tandanya adalah kebiasaan menggigit kuku, Moms.

Ciri-ciri duck syndrome memang hampir sebagian besar menyerupai dengan kondisi depresi atau gangguan kecemasan lainnya.

Bahkan dr. Ashwin mengatakan tanda pada seseorang yang mengalami duck syndrome ini bisa terlihat seperti kecemasan yang berlebihan atau menjadi depresi.

Namun, hal yang membedakan penderita duck syndrome adalah mereka kerap merasa mengalami tekanan mental secara terus-menerus.

Selain itu, seseorang dengan kondisi ini juga selalu memaksakan diri untuk terlihat tanpa masalah di depan orang lain, yang membuat dirinya kehilangan fokus.

Faktor Penyebab Duck Syndrome

2 Stres.jpg

Foto: 2 Stres.jpg

Foto: Orami Photo Stock

dr. Ashwin menjabarkan terdapat beberapa penyebab duck syndrome, meliputi:

  • Pertama kalinya hidup terpisah dari keluarga
  • Adanya peningkatan bermakna dari tekanan akademis
  • Tekanan kegiatan
  • Tekanan sosial terkait dengan kehidupan kuliah

Selain itu, ada juga pendapat yang menyatakan bahwa tekanan media sosial yang kerap menampilkan kesempurnaan dapat menyebabkan seseorang dapat menderita sindrom ini.

Kemudian, pola asuh orang tua yang terlalu protektif juga dapat berperan menyebabkan seorang pelajar tidak terbiasa mengelola kekecewaan, kesulitan, dan kegagalan.

Baca Juga: Sindrom Waardenburg: Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya

Komplikasi dari Duck Syndrome

8 Jenis Gangguan Kesehatan Mental yang Perlu Kita Kenal.jpg

Foto: 8 Jenis Gangguan Kesehatan Mental yang Perlu Kita Kenal.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Jika seseorang tidak melakukan pengobatan dan konseling, mungkin kondisi kesehatan mental penderita akan memburuk.

Mengingat hubungan sindrom bebek berkaitan erat dengan masalah emosional, kemungkinan kesehatan mental penderitanya akan semakin buruk tanap pengobatan.

Mereka akan kehilangan fokus dan rasa cemas kian meningkat.

Depresi dan kecemasan yang dirasakan oleh penderita duck syndrome berisiko mengembangkan sejumlah masalah kesehatan mental lainnya.

Misalnya, masalah prestasi akademik atau pekerjaan yang buruk, terlibat dalam penyalahgunaan zat, dan mengalami masalah keluarga atau lainnya.

Dengan pengobatan, kemungkinan pemulihan dapat meningkat secara signifikan.

Diagnosis Duck Syndrome

2 Diagnosis Adenomyosis dan Endometriosis.jpg

Foto: 2 Diagnosis Adenomyosis dan Endometriosis.jpg (Volusonclub.net)

Foto: Orami Photo Stock

Perlu diketahui bahwa duck syndrome bukanlah sebuah diagnosis formal masalah kesehatan mental.

Tetapi perasaan depresi, kecemasan dan masalah kesehatan mental lainnya yang mendasari hadirnya sindrom ini yang akan dinilai oleh profesional.

Depresi atau kecemasan umumnya dikaitkan dengan sejumlah kondisi kesehatan mental lainnya, seperti:

  • Attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD)
  • Gangguan bipolar
  • Gangguan stres pascatrauma (PTSD)
  • Gangguan pikiran seperti skizofrenia
  • Manik depresi (gangguan bipolar)
  • Riwayat trauma
  • Gejala kesehatan mental lainnya

Selain beberapa masalah kesehatan mental di atas, duck syndrome juga dapat dikaitkan dengan sejumlah masalah medis, atau efek samping dari berbagai obat.

Oleh karena itu, dokter akan melakukan tes laboratorium rutin selama penilaian awal untuk mengetahui penyebab duck syndrome.

Sebagai bagian dari evaluasi, penderita mungkin akan ditanyai serangkaian pertanyaan dari survei gejala standar.

Baca Juga: Sindrom Edward pada Bayi, Apa Penyebab dan Gejalanya?

Cara Mengatasi Duck Syndrome

depresi

Foto: depresi

Foto: Orami Photo Stock

"Sindrom bebek" memang tidak memiliki perawatan khusus.

Namun, terdapat perawatan dan strategi yang sangat efektif untuk mengatasi stres dan lebih banyak masalah yang mungkin dihadapi.

Menjadi salah satu gangguan kesehatan mental, kombinasi psikoterapi dan obat-obatan adalah cara yang harus dipertimbangkan dalam mengurangi duck syndrome.

Tanpa pengobatan, orang dengan sindrom ini semakin lama akan menderita depresi dan kecemasan yang berisiko mengalami masalah medis dan masalah kesehatan mental lainnya.

Dilakukannya konseling bertujuan untuk membuat penderita mengetahui kelebihan dan kekurangannya.

Selain itu, konseling juga bertujuan membangun kepercayaan dirinya dan membiasakan dirinya untuk dapat tenang dalam menghadapi tekanan yang ada dan bukan berpura-pura tenang.

Beberapa langkah perawatan duck syndrome umumnya meliputi:

  • Psikolog/psikiater akan melihat masalah kesehatan mendasar yang mungkin menyebabkan masalah
  • Obat-obatan dapat diresepkan jika dibutuhkan, seperti obat antidepresi dan kecemasan
  • Terapi bicara sangat penting ketika berhadapan dengan orang dewasa muda yang menderita
  • CBT atau Terapi Perilaku Kognitif

Kemudian bagi para penderita duck syndrome, langkah pertama yang harus dipahami adalah mendekati masalah daripada menghindarinya.

Jadi, alih-alih terus bertopeng dengan keadaan baik-baik saja, mengakui masalah dan mencari dukungan lebih baik dilakukan.

Tak hanya dapat melakukan konsultasi dengan profesional di bidang kesehatan mental, penderita juga bisa mendapat pertolongan oleh pembimbing akademis di kampusnya.

Cara Mencegah Duck Syndrome

Mengenal Eustress - Stres Positif yang Ternyata Diperlukan oleh Tubuh - 1.jpg

Foto: Mengenal Eustress - Stres Positif yang Ternyata Diperlukan oleh Tubuh - 1.jpg (shutterstock)

Foto: Orami Photo Stock

Sebagai dokter spesialis kesehatan jiwa, dr. Ashwin mengatakan, langkah pencegahan terjadinya duck syndrome adalah meningkatkan komunikasi.

Tak hanya antara orang tua dan anak, Moms juga disarankan untuk meningkatkan komunikasi dengan pihak kampus untuk membuat program yang dapat membantu pelajar.

Baca Juga: Gejala dan Penyebab ARDS, Sindrom Gangguan Pernapasan Akut

Moms itulah pemaparan lengkap mengenai duck syndrome yang dapat Moms ketahui. Jangan terlalu banyak berikan tekanan pada anak ya, Moms!

  • https://www.medicinenet.com/duck_syndrome/article.htm
  • https://www.betterhelp.com/advice/stress/what-is-duck-syndrome-are-you-suffering-from-it/
  • https://stanforddaily.com/2018/01/31/duck-syndrome-and-a-culture-of-misery/
  • https://psychnews.psychiatryonline.org/doi/10.1176/appi.pn.2018.9b22