Parenting

15 Oktober 2021

4 Tipe Pola Asuh Anak, Mana yang Moms Pilih?

Cari tahu pola asuh terbaik untuk anak
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Defara Millenia
Disunting oleh Adeline Wahyu

Ketika menjadi orangtua baru, Moms dan suami tentu memiliki cara dan gaya sendiri saat mengasuh Si Kecil. Selain pengetahuan, pola asuh anak tersebut tentu juga dipengaruhi pengalaman saat masih kecil dulu.

Tentu Moms masih ingat seperti apa orangtua mengasuh Moms saat masih anak-anak. Dan, apakah cara tersebut kembali Moms terapkan pada Si Kecil?

Sebuah penelitian ilmiah Handbook of Child Psychology menunjukkan bahwa, pengaruh pola asuh pada anak cukup besar, mulai dari kualitas kesehatan hingga pembentukan pola pikir dan kepribadian dalam jangka panjang.

Terlepas dari gaya hidup, kondisi sosial ekonomi, latar belakang budaya, maupun domisili, pada akhirnya setiap keluarga hanya menjalankan salah satu dari 4 tipe pola asuh anak.

Yuk Moms cari tahu tentang 4 tipe pola asuh anak dan dampaknya bagi perkembangan Si Kecil di bawah ini.

Baca Juga : Stop! Orang Tua Jangan Lakukan 7 Hal yang Justru Meruntuhkan Harga Diri Balita Ini

Pola Asuh Anak

Mari cari tahu lebih banyak tentang berbagai tipe pola asuh anak, agar bisa mendukung tumbuh kembang balita dengan lebih optimal. Sebab dari 4 pola asuh anak ini, ternyata membawa pengaruh pada perkembangan psikologis anak, lho.

1. Otoriter

mengenal 4 tipe pola asuh dan pengaruhnya pada balita 1

Foto: Romper.com

Ciri yang paling mudah dikenali dari pola asuh otoriter adalah diterapkannya aturan super ketat yang wajib diikuti oleh anak.

Orangtua yang otoriter sering mengatakan ungkapan “pokoknya” ketika sedang mengutarakan pendapat, tanpa memedulikan atau mendengar pendapat dan keinginan anak.

Hal ini tentu dapat membuat anak menjadi tidak terbiasa membuat keputusan sendiri dan takut jika tidak menuruti perkataan orangtuanya.

Selain itu, tipe pola asuh orangtua yang otoriter memiliki karakter umum sebagai berikut:

  • Menuntut anak untuk menuruti semua aturan tanpa kompromi.
  • Tidak mempertimbangkan pendapat dan perasaan anak.
  • Memiliki ekspektasi tinggi terhadap anak.

Hubungan orangtua dan anak dalam pola asuh anak otoriter cenderung dingin dan berjarak, dan lebih banyak menggunakan hukuman ketimbang strategi disiplin.

Hasil yang didapatkan dari pola asuh otoriter seringkali bertolak belakang dengan harapan orangtua.

Selain prestasi sekolah yang tidak terlalu baik, anak juga tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kepercayaan diri dan keterampilan sosial yang rendah.

Melansir The Spanish Journal of Psychology membuktikan bahwa, pola asuh anak otoriter menyebabkan sang anak mengalami kesulitan mengelola kemarahan karena mereka tidak diberikan ruang untuk berpendapat.

Yang lebih mengejutkan, anak yang dibesarkan dalam pola asuh ini juga memiliki risiko lebih besar untuk penyalahgunaan narkoba, gangguan kesehatan mental, serta perilaku agresif.

2. Permisif

mengenal 4 tipe pola asuh dan pengaruhnya pada balita 2

Foto: Verywellfamily.com

Dalam tipe pola asuh anak yang bersifat permisif alias serba boleh, orangtua bersikap sangat santai, bebas, dan mencoba menjadi teman bagi anaknya.

Orangtua permisif menjadi seorang teman baik bagi anaknya karena memberikan perhatian, kehangatan, dan interaksi yang cukup baik.

Beberapa karakter umum lain dari pola asuh permisif adalah:

  • Hanya memiliki sedikit aturan, yang juga dilaksanakan dengan sangat longgar.
  • Tetap memenuhi segala kebutuhan anak dan menganggap anak lebih tahu yang terbaik untuk dirinya.
  • Jarang memberikan hukuman.
  • Lebih banyak menuruti kemauan anak ketimbang memberikan panduan.

Pengaruhnya, tipe pola asuh anak ini sering kali menjadikan anak mengembangkan tingkat kreativitas yang lebih tinggi pada anak-anak umumnya.

Namun, dampaknya karena jarang sekali diberikan batasan dan petunjuk mengenai pilihan yang baik, anak yang dibesarkan dalam pola asuh permisif cenderung lebih egois, impulsif, sulit diatur, dan kurang berempati.

Pengaruh pola asuh anak ini yang patut diwaspadai adalah meningkatnya risiko obesitas, gigi berlubang, dan gangguan kesehatan lain, karena tidak diajarkan pola makan dan gaya hidup yang baik.

Kebebasan pada tingkat ini dapat menyebabkan kebiasaan negatif lainnya karena orangtua tidak memberikan banyak bimbingan tentang moderasi.

Baca Juga : Benarkah Sering Membentak Anak Membuat Sel Otaknya Terputus?

3. Demokratis

mengenal 4 tipe pola asuh dan pengaruhnya pada balita 3

Foto: Focusonthefamily.ca

Pola asuh anak demokratis atau authoritative parenting bisa dikatakan sebagai kombinasi yang cukup pas antara tipe pola asuh permisif dan otoriter.

Sebuah penelitian ilmiah International Journal of Behavioral Development menunjukkan bahwa, pola asuh anak seperti ini mendorong anak untuk berani berpendapat dan percaya diri. Anak merasa dihargai, karena orangtua terbuka mendengarkan pendapat anak. Ini juga yang kemudian merekatkan hubungan anak dan orangtua.

Karakter dari tipe pola asuh orangtua ini adalah:

  • Hubungan yang positif dan hangat antara orangtua dan anak.
  • Ada aturan tegas yang harus diikuti anak, disertai penjelasan dibalik aturan tersebut.
  • Orangtua bisa bersikap tegas dalam menerapkan aturan dan memberikan konsekuensi, tapi tetap mempertimbangkan pendapat dan perasaan anak.

Orangtua otoritatif biasanya menerapkan aturan disiplin, namun juga diterapkan secara suportif. Jika anak membantah, orangtua tidak langsung menghukum, namun mendahulukan dialog terlebih dahulu.

Berkat strategi disiplin yang positif, anak yang dibesarkan dalam pola asuh demokratis cenderung memiliki kemampuan berpikir kritis dan mengambil keputusan yang lebih baik.

Selain itu, mereka juga tumbuh menjadi pribadi bertanggung jawab yang tidak ragu dalam mengungkapkan pendapat mereka.

Baca Juga : 6 Kesalahan Pola Asuh Orang Tua yang Membuat Anak Jadi LGBT

4. Pengabaian

mengenal 4 tipe pola asuh dan pengaruhnya pada balita 4

Foto: Aptparenting.com

Tidak sedikit juga orangtua yang abai dengan kebutuhan bahkan keberadaan anak mereka.

Anak-anak yang tubuh dari pola asuh pengabaian biasanya kurang mendapatkan kasih sayang orangtua.

Moms dan Dads akan kurang menghabiskan waktu berkualitas dengan anak-anaknya, baik karena lalai atau kesibukan kerja masing-masing.

Sering kali, anak-anak dibiarkan menghasikan waktu untuk menonton televisi dan bermain gawai atau gim sepanjang harinya. Akibatnya, anak-anak dari orangtua ini karap mengalami kesulitan mengikuti aturan.

Beberapa karakter umum dari pola asuh pengabaian adalah:

  • Tidak memiliki aturan dan tidak ada hukuman.
  • Anak diharapkan untuk belajar dan memenuhi kebutuhannya sendiri.
  • Jarang ada komunikasi antara anak dan orangtua.

Pengabaian tidak selalu dilakukan dengan sengaja, tapi bisa juga karena orangtua memiliki gangguan kesehatan fisik atau mental, memiliki aktivitas yang sangat padat, sedang mengalami masalah berat dalam hidup, dan sebagainya.

Moms mungkin sudah bisa menduga, anak dibesarkan dalam pola asuh ini cenderung memiliki kepercayaan diri yang rendah dan prestasi sekolah yang kurang baik.

Dalam jangka panjang, anak juga cenderung mengalami gangguan perilaku serta gangguan kesehatan mental.

Berdasar penelitian ekstensif yang berlangsung selama 50 tahun lamanya, para pakar perkembangan anak di seluruh dunia sepakat bahwa tipe pola asuh orangtua demokratis adalah yang terbaik untuk tumbung kembang anak.

Baca Juga : 6 Karakter Orang Tua Masa Kini, yang Manakah Moms?

Mana yang Lebih Ideal?

pola asuh demokratif

Foto: Orami Photo Stock

Dari penjelasan di atas, Moms bisa melihat bahwa tipe pola asuh anak demokratis memiliki dampak yang paling positif untuk perkembangan anak.

Berikut ini alasan pola asuh anak demokratis lebih baik daripada tipe lainnya:

  • Orangtua tipe demokratis dipandang bersikap lebih masuk akal dan adil, sehingga anak-anak bisa menerima tuntutan dan ucapan yang diberikan orangtua.
  • Ketika memberikan aturan, orangtua tipe demokratis selalu memberikan alasan. Karenanya, anak-anak akan paham dengan makna aturan tersebut.
  • Untuk menerapkan disiplin, orangtua demokratis dan anak membuat kesepakatan di awal. Selain itu, memberikan anak sebuah penghargaan atas perbuatan baik dapat dilakukan dan konsekuensi bila anak melakukan kesalahan. 

Namun, patut diingat bahwa latar belakang kebudayaan memiliki pengaruh terhadap tipe pola asuh anak. Sebab, di beberapa budaya, pola asuh anak demokratis justru memberikan dampak negatif.

Orangtua juga terkadang tidak bisa secara sempurna menerapkan pola asuh anak tipe tertentu. Mungkin saja Moms termasuk orangtua demokratis, tapi terkadang menjadi tipe pengabaian.

Yang terpenting dalam pola asuh anak adalah komitmen dan dedikasi untuk menjadi orangtua terbaik untuk Si Kecil dan selalu membangun komunikasi yang baik dengan anak.

Jika Moms kesulitan menentukan atau menerapkan pola asuh anak, sebaiknya berkonsultasi ke psikolog.

Baca Juga: 6 Cara Menjaga Kesehatan Jantung agar Terhindar dari Berbagai Penyakit

Nah itu dia Moms beberapa tipe pola asuh anak yang biasa diterapkan orangtua. Setelah membaca tipe pola asuh orangtua di atas, manakah yang Moms jalankan saat ini?

  • https://onlinelibrary.wiley.com/doi/book/10.1002/9780470147658
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/17992960/
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/24850978/
  • https://www.verywellfamily.com/types-of-parenting-styles-1095045
  • https://www.healthline.com/health/parenting/types-of-parenting
  • https://www.cnbc.com/2021/06/29/child-psychologist-explains-4-types-of-parenting-and-how-to-tell-which-is-right-for-you.html
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait