30 Mei 2024

Sejarah Perang Aceh: Penyebab, Tokoh, Kronologinya

Perang Aceh berlangsung selama hampir 30 tahun!
Sejarah Perang Aceh: Penyebab, Tokoh, Kronologinya

Foto: id.wikipedia.org

5. Cut Meutia

Tokoh perempuan Aceh yang juga terlibat dalam perlawanan melawan Belanda dan gugur dalam pertempuran di Alue Kurieng, Aceh Utara pada tahun 1910.

6. Johan Köhler

Panglima besar angkatan perang Belanda yang memimpin pasukan Belanda dalam Perang Aceh Pertama pada tahun 1873.

7. Christiaan Snouck Hurgronje

Ahli Belanda yang menyamar sebagai seorang ulama dan tinggal di pedalaman Aceh selama dua tahun untuk melakukan penelitian tentang masyarakat dan pemerintahan Aceh.

Hasil penelitiannya kemudian diterbitkan dalam buku berjudul Rakyat Aceh (De Acehers) dan berisi strategi untuk menaklukkan Aceh.

Para tokoh ini memiliki peran penting dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda di Aceh dan menjadi simbol semangat perlawanan dan patriotisme bagi rakyat Aceh.

Baca Juga: Tugas BPUPKI: Sejarah, Anggota, dan Tujuannya

Kronologi Perang Aceh

Ilustrasi Perang Aceh
Foto: Ilustrasi Perang Aceh (Steemit.com)

Berikut kronologi dan periode Perang Aceh:

1. Perang Aceh Pertama (1873–1874)

Perang Aceh pertama dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah dalam melawan pasukan Belanda yang dipimpin oleh Köhler.

Pasukan Köhler yang berjumlah 3.000 tentara berhasil dihadapi dan dikalahkan. Köhler sendiri gugur pada tanggal 14 April 1873.

Hanya sepuluh hari setelahnya, pertempuran meletus di berbagai lokasi, dengan pertempuran terbesar terjadi saat upaya merebut kembali Masjid Raya Baiturrahman, yang didukung oleh beberapa kelompok pasukan.

Selain itu, pertempuran juga terjadi di Peukan Aceh, Lambhuk, Lampu'uk, Peukan Bada, hingga Lambada dan Krueng Raya.

Ribuan penduduk dari Teunom, Pidie, Peusangan, dan berbagai wilayah lainnya juga bergabung dalam perjuangan tersebut.

2. Perang Aceh Kedua (1874–1880)

Pasukan Belanda di komando Jenderal Jan van Swieten berhasil menduduki Keraton Sultan pada tanggal 26 Januari 1874, yang kemudian dijadikan sebagai pusat pertahanan Belanda.

Pada tanggal 31 Januari 1874, Jenderal Van Swieten mengumumkan bahwa seluruh wilayah Aceh menjadi bagian dari Kerajaan Belanda.

Pada saat Sultan Machmud Syah meninggal pada tanggal 26 Januari 1874, Tuanku Muhammad Dawood dilantik sebagai sultan di Masjid Indrapuri.

Perang pertama dan kedua ini dicirikan oleh pertempuran langsung dan intens.

Meskipun ibu kota negara sering berpindah-pindah ke Keumala Dalam, Indrapuri, dan tempat-tempat lain, pemerintahan tetap berlangsung dengan relatif stabil.

3. Perang Aceh Ketiga (1881–1896)

Perang kemudian berlanjut dalam bentuk perang gerilya dengan semangat perang fi sabilillah (perang jihad) yang berlangsung hingga tahun 1903.

Pasukan Aceh dalam perang gerilya ini dipimpin oleh Teuku Umar dan Panglima Polim.

Pada tahun 1899, Teuku Umar gugur dalam serangan mendadak yang dilancarkan oleh pihak Van der Dussen di Meulaboh. Namun, Cut Nyak Dhien kemudian muncul sebagai komandan dalam perang gerilya tersebut.

4. Perang Aceh Keempat (1896–1910)

Perang ini sebagian besar merupakan perang gerilya yang melibatkan kelompok dan individu yang melakukan perlawanan, serangan, penghadangan, dan pembunuhan tanpa adanya komando sentral dari pemerintahan Kesultanan.

Meskipun perang besar berakhir sekitar tahun 1910-1915, perlawanan sporadis dari penduduk Aceh masih berlanjut hingga tahun 1942 di beberapa wilayah yang dipimpin oleh kelompok-kelompok pejuang.

Baca Juga: Sejarah dan Tujuan Konferensi Asia Afrika, Pelajari yuk!

Mengutip situs resmi Pemerintah Aceh, pada masa perang kemerdekaan, rakyat Aceh memberikan...

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.