Kesehatan Mental

12 Juli 2021

Tanda Perfeksionisme dan Dampaknya pada Kehidupan Sehari-hari

Apakah Moms termasuk seseorang yang perfeksionis?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Debora
Disunting oleh Intan Aprilia

Apakah Moms termasuk seseorang yang perfeksionis? Namun, sejauh mana Moms memahami tentang perfeksionisme?

Jika Moms ingin semua berjalan sesuai dengan rencana, tepat sasaran dan tujuan, belum tentu menjadi seseorang yang perfeksionis.

Ada hal yang lebih kompleks tentang perfeksionisme. Dilansir dari Psychology Today, seseorang yang perfeksionis akan menjadikan hidupnya tentang pencapaian atau penampilan yang sempurna.

Perfeksionisme dinilai dapat memotivasi dan mendorong seseorang untuk menjadi lebih baik dan mencapai kesuksesan.

Namun, pencapaian yang sempurna sebenarnya bukan ukuran dari kesuksesan itu sendiri.

Di balik itu juga, tetap ada dampak negatif dari perfeksionisme yang terlalu ekstrem. Untuk mengetahui lebih lengkapnya, simak ulasan berikut ini.

Baca Juga: Sifat Perfeksionis Berlebihan pada Anak? Begini Cara Mengatasinya

Apa yang Dimaksud dengan Perfeksionisme?

Apa yang Dimaksud dengan Perfeksionisme?

Foto: Orami Photo Stock

Dilansir dari jurnal Perfomance Psychology pada tahun 2016, perfeksionisme adalah karakteristik kepribadian, yang didefinisikan sebagai berusaha untuk kesempurnaan dan menetapkan standar kinerja yang sangat tinggi, disertai kecenderungan untuk evaluasi yang terlalu kritis.

Namun, perfeksionisme bukan sekadar berjuang atau berusaha untuk menjadi yang terbaik.

Ketika seseorang termotivasi untuk melakukan suatu hal dengan maksimal, maka hal tersebut dapat dianggap sebagai perilaku yang sehat. Hal ini berbeda dengan perfeksionisme.

"Perfeksionisme tidak sama dengan berjuang untuk menjadi yang terbaik. Kesempurnaan bukan tentang pencapaian dan pertumbuhan yang sehat. Sayangnya, perfeksionisme sering dijadikan alasan untuk melindungi diri dari rasa malu, cemas, atau harga diri yang rendah,” ungkap Brené Brown, penulis dan profesor penelitian di University of Houston Graduate College of Social Work.

Lantas, apa yang menyebabkan seseorang memiliki perfeksionisme begitu tinggi? Simak ulasan berikutnya.

Baca Juga: Ternyata Sifat Perfeksionis Punya Dampak Buruk untuk Karir!

Apa Penyebab Seseorang Menjadi Perfeksionis?

Apa Penyebab Seseorang Menjadi Perfeksionis?.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Penyebab perfeksionisme sebenarnya sangat beragam. Setiap orang juga mungkin akan mengalami penyebab yang berbeda-beda.

Dilansir dari laman Good Therapy, berikut ini beberapa faktor penyebab seseorang memiliki sifat perfeksionisme, yaitu:

  • Merasa takut, tidak aman, dan ragu dengan kemampuan diri sendiri, sehingga sangat memerlukan pengakuan dari orang lain.
  • Memiliki orang tua atau tumbuh dalam keluarga yang memiliki perfeksionisme tinggi. Biasanya, orang tua dengan riwayat pencapaian tinggi terkadang merasakan tekanan yang luar biasa untuk memenuhi pencapaian mereka sebelumnya. Hal inilah yang akhirnya memberikan tekanan pada anak-anaknya.
  • Memiliki masalah kesehatan mental, seperti gangguan kecemasan atau gangguan obsesif-kompulsif (OCD). Namun, tidak semua pengidap OCD atau gangguan kecemasan itu perfeksionis, ya, Moms.
  • Orang-orang yang memiliki keterikatan yang bermasalah dengan orang tua saat mereka masih muda mungkin mengalami kesulitan menenangkan diri sebagai orang dewasa. Mereka mungkin mengalami kesulitan menerima hasil yang baik sebagai baik jika tidak sempurna.
  • Anak-anak yang sering dipuji atas prestasinya mungkin merasakan tekanan untuk terus berprestasi seiring bertambahnya usia. Faktor ini juga dapat menjadi penyebab seseorang menjadi perfeksionis.

Selanjutnya, bagaimana cara mengetahui Moms adalah seseorang yang perfeksionis atau tidak? Simak ulasan berikutnya, ya, Moms.

Baca Juga: Mengenal Karakter Melankolis, Si Introvert yang Perfeksionis

Tanda-tanda Perfeksionisme

Tanda-tanda Perfeksionisme

Foto: Orami Photo Stock

Ada beberapa tanda perfeksionisme yang dapat Moms ketahui. Jika Moms merasa memiliki beberapa tanda-tandanya, maka bisa dikatakan Moms adalah seseorang yang perfeksionis.

Inilah tanda-tanda perfeksionisme yang harus dipahami, yaitu:

  • Tidak dapat melakukan suatu pekerjaan, kecuali mereka tahu bahwa mereka melakukannya dengan sempurna.
  • Selalu melihat hasil akhir sebagai bagian paling penting dalam pekerjaan. Umumnya, seorang yang perfeksionis tidak menghargai proses yang dilakukannya.
  • Tidak melihat suatu pekerjaan selesai sampai hasilnya sempurna menurut standar mereka.
  • Orang dengan perfeksionisme mungkin tidak ingin memulai suatu tugas sampai mereka tahu bahwa mereka dapat melakukannya dengan sempurna.
  • Meluangkan banyak waktu untuk menyelesaikan tugas yang biasanya tidak membutuhkan waktu lama bagi orang lain untuk menyelesaikannya.
  • Hanya fokus kepada kesempurnaan, sehingga terkadang mengabaikan hal-hal lainnya.
  • Ketika mencapai hasil yang diinginkan, seringnya mereka juga merasa tidak puas.

Perlu Moms pahami, seorang yang perfeksionis juga dapat melakukan beberapa hal berikut ini, yaitu:

  • Menghabiskan 30 menit dalam mengirimkan e-mail atau pesan.
  • Percaya bahwa kurang dua poin dalam ujian adalah tanda kegagalan.
  • Sulit merasa bahagia ketika melihat orang lain sukses.
  • Membandingkan diri sendiri secara tidak realistis dengan orang lain.
  • Berfokus pada produk akhir daripada proses pembelajaran.
  • Menghindari bermain game atau mencoba aktivitas baru bersama teman karena takut dianggap kurang sempurna.
  • Melewatkan kelas atau menghindari tugas karena tidak ada gunanya berusaha kecuali kesempurnaan dapat dicapai.

Itulah yang menjadi alasan mengapa perfeksionisme ekstrem bisa menjadi hal yang sangat berbahaya.

Sebab, mereka yang perfeksionis hanya mementingkan diri sendiri dan fokus untuk menghindari kegagalan.

Mereka juga cenderung tidak percaya pada cinta tanpa syarat, sebab mereka mengharapkan kasih sayang dan persetujuan orang lain untuk bergantung pada hasil yang sempurna.

Dampak Perfeksionisme dalam Kehidupan

Dampak Perfeksionisme dalam Kehidupan.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Perfeksionisme tidak hanya tentang urusan pekerjaan. Seseorang yang terlalu perfeksionis juga dapat berpengaruh pada kehidupan dan interaksi sosial, seperti:

  • Perfeksionisme dapat menyebabkan seseorang menempatkan standar tidak realistis mereka pada pasangan Kondisi ini lama-kelamaan membuat mereka merasa tingkat stres yang tinggi saat berada dalam sebuah hubungan.
  • Ketika seseorang perfeksionis tentang cara mereka berbicara atau menulis, kualitas ucapan atau tulisan mereka dapat menurun. Hal ini menyebabkan mereka berbicara sangat sedikit atau menghindari menulis karena takut membuat kesalahan.
  • Perfeksionisme seputar penampilan fisik juga bisa menyebabkan seseorang mengalami gangguan makan atau kecanduan olahraga.
  • Seseorang yang perfeksionis menghindari memulai tugas yang tidak membuat mereka merasa percaya diri. Hal ini sering kali disebabkan oleh keinginan untuk menyelesaikan tugas dengan sempurna.

Baca Juga: Mengenal Karakter Koleris, Si Tangguh dan Ambisius

Itulah penjelasan tentang perfeksionisme. Maka dari itu, diperlukan keseimbangan dalam segala hal di hidup ini.

Jika memang dibutuhkan, Moms dapat meminta bantuan untuk kembali menata cara pandang tentang kehidupan ini.

  • https://www.psychologytoday.com/us/basics/perfectionism
  • https://www.sciencedirect.com/topics/psychology/perfectionism
  • https://www.goodtherapy.org/learn-about-therapy/issues/perfectionism
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait