Scroll untuk melanjutkan membaca

KESEHATAN MENTAL
08 September 2022

Serba-serbi Psikosomatis, Mulai dari Penyebab, Gejala, dan Pencegahannya

Lakukan pencegahan dengan kelola stres yang baik
Serba-serbi Psikosomatis, Mulai dari Penyebab, Gejala, dan Pencegahannya

Pernahkah Moms mendengar tentang psikosomatis? Jika belum, cari tahu penjelasannya di bawah ini, ya!

Psikosomatis adalah kondisi penyakit fisik yang disebabkan atau diperburuk oleh gangguan kesehatan mental.

Secara etimologi, psikosomatis terdiri dari dua kata, yaitu psyche atau pikiran dan soma atau tubuh.

Secara harfiah, psikosomatis adalah penyakit yang melibatkan pikiran dan tubuh.

Melansir Cleveland Clinic, psikosomatis adalah kondisi psikologis yang mengarah pada gejala fisik, dan sering kali tanpa disertai penjelasan medis.

Ciri-ciri psikosomatis biasanya berkaitan dengan pikiran, perasaan, atau kekhawatiran yang berlebihan.

Gangguan ini dapat mempengaruhi hampir semua bagian tubuh.

Jika mengalaminya, Moms disarankan untuk segera mencari pertolongan profesional, baik dokter, psikolog, atau psikiater.

Yuk, cari tahu lebih lanjut tentang gejala, cara mencegah dan mengatasi psikosomatis!

Baca juga: 8 Penyakit Infeksi yang Umum Menyerang Dewasa dan Anak-anak

Gejala Psikosomatis yang Dialami Penderita

Gangguan Kesehatan Mental

Foto: Gangguan Kesehatan Mental (Freepik.com)

Dalam banyak kasus, kesehatan mental yang kurang baik dapat memengaruhi seluruh kondisi tubuh.

Artinya, kesehatan mental yang tidak baik dapat memperparah penyakit yang sudah ada sebelumnya.

Jika dilihat dari sisi psikologi, psikosomatis adalah kondisi yang membuat penderitanya mengalami gangguan fungsi tubuh.

Namun, saat dilakukan pemeriksaan fisik maupun penunjang, tidak ada keanehan yang terjadi pada tubuh penderita.

Melansir Very Well Mind, berikut ini tanda dan gejala psikosomatis:

  • Jantung berdebar
  • Peningkatan tekanan darah
  • Sakit dan nyeri otot
  • Sakit kepala
  • Pusing atau gemetar
  • Masalah pencernaan

Gejala juga dapat dibedakan berdasarkan gender dan usia penderita.

Berikut ini perbedaan tersebut:

1. Gejala Berbasis Gender

Tanda-tanda stres pada tubuh mungkin saja berbeda antara laki-laki dan perempuan.

Pada wanita, stres membuat mereka cenderung mengalami kelelahan meski cukup tidur, lekas marah, perut kembung, dan perubahan periode menstruasi.

Sementara itu, pada pria, stres ditandai dengan gejala berupa nyeri dada, peningkatan tekanan darah, dan penurunan gairah seksual.

2. Gejala Berbasis Usia

Gejala psikosomatis menurut usia, baik pada anak-anak dan orang dewasa, akan berbeda.

Pada anak kecil yang belum bisa berkomunikasi dengan baik, mereka bisa saja rewel sepanjang waktu.

Sementara itu, pada remaja, tanda stres umumnya berkaitan dengan kecemasan.

Kondisi tersebut perlu diwaspadai, karena juga menjadi tanda depresi.

Pada orang dewasa, mereka rentan mengalami stres bahkan depresi akan kehidupan yang dijalankannya.

Kondisi tersebut dapat memperparah penyakit yang sudah ada, bahkan memicu gangguan kesehatan serius.

Baca juga: Mengenal Dispepsia, Penyakit yang Sering Disebut Sakit Maag

Penyebab Psikosomatis

Penyakit Darah Tinggi

Foto: Penyakit Darah Tinggi (Freepik.com)

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, psikosomatis merupakan sebuah kondisi yang tidak mudah didiagnosis.

Hal itu karena psikosomatis bisa tidak menunjukkan gejala yang signifikan.

Namun, stres dan depresi umumnya dapat mencetuskan atau memperburuk penyakit fisik.

Seperti halnya jika seseorang tidak dapat melepaskan rasa stres atau pikirannya yang menumpuk, maka akan meningkatkan risiko hadirnya masalah kesehatan lain.

Hingga akhirnya, pada titik terlemah, penyakit yang berhubungan dengan stres akan berkembang dan menjadi lebih parah.

Selain stres, mengutip dari Cleveland Clinic, hal-hal yang dapat meningkatkan risiko munculnya gejala psikosomatis adalah:

  • Gaya hidup kacau
  • Kesulitan mengenali dan mengekspresikan emosi
  • Pengabaian masa kecil
  • Riwayat pelecehan seksual
  • Kondisi psikologis lainnya, seperti depresi atau gangguan kepribadian
  • Penyalahgunaan zat (seperti alkoholisme atau kecanduan narkoba)
  • Pengangguran

Hal ini terjadi karena seseorang yang sedang stres dan tidak mampu melampiaskan emosinya, sehingga mencapai titik puncak emosional.

Kondisi ini dapat menyebabkan gejala fisik atau memicu depresi berat.

Selain itu, stres juga ternyata dapat membahayakan kekebalan tubuh manusia.

Misalnya, ketika Moms berada di kondisi kesehatan menurun, seperti demam. Maka, stres bisa membuat penyakit tersebut lebih lama untuk sembuh.

Jadi, secara garis besar, psikosomatis hadir akibat adanya pikiran yang menumpuk dan tidak bisa disalurkan dengan baik.

Gangguan psikosomatis dapat mempengaruhi hampir semua bagian tubuh.

Contoh umumnya, meliputi:

  • Kelelahan
  • Insomnia
  • Sakit dan nyeri, seperti nyeri otot atau nyeri punggung
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • Kesulitan bernapas (dispnea, atau sesak napas)
  • Gangguan pencernaan (sakit perut)
  • Sakit kepala dan migrain
  • Disfungsi ereksi (impotensi)
  • Ruam kulit (dermatitis)
  • Tukak lambung (penyakit tukak lambung)

Baca Juga: 3 Gangguan Kesehatan Mental Pascamelahirkan, Waspada!

Langkah Mengatasi Psikosomatis

Terapi Kesehatan Mental

Foto: Terapi Kesehatan Mental (Freepik.com)

Untuk mengatasi psikosomatis, dokter yang menangani gangguan fisik mungkin akan meminta Moms berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.

Tujuannya agar Moms dapat mengelola stres dengan baik, sehingga tidak memengaruhi kesehatan fisik secara keseluruhan.

Jika dinilai memerlukan perawatan psikologis, tim medis akan menentukan langkah yang paling tepat.

Sebelum terlambat, penting bagi Moms untuk mempelajari bagaimana cara mengelola stres secara efektif.

Prosesnya memang memakan waktu, tetapi hasilnya sangat bermanfaat bagi tubuh.

Beberapa perawatan ini mungkin dilakukan oleh layanan kesehatan untuk membantu mengurangi gejala nyeri somatik:

  • Terapi perilaku kognitif
  • Obat-obatan, seperti antidepresan
  • Terapi berbasis kesadaran
  • Rujukan ke spesialis kesehatan mental (misalnya, psikiater atau psikolog)
  • Kontak teratur dengan penyedia perawatan

Jika psikosomatis dibarengi dengan gejala gangguan fisik, dokter akan memberikan terapi tambahan, seperti obat-obatan, terapi kesadaran, atau terapi kognitif.

Misalnya, jika Moms mengalami nyeri di leher, cobalah untuk mengatasi hal yang menjadi pemicu stres.

Tujuannya agar dapat membantu mengatasi rasa sakit tersebut.

Ingat, rasa sakit bukan hanya dari fisik saja, tetapi dimulai dari dalam otak.

Stres yang dialami menyebabkan meningkatnya aliran bahan kimia berbahaya dalam tubuh, termasuk kortisol.

Jika diproduksi secara berlebihan, kortisol dapat memicu peradangan pada otot leher, yang memicu gangguan kesehatan.

Setelah mengetahui jika tubuh sedang stres, langkah selanjutnya adalah mengelolanya agar tidak menumpuk.

Berkaitan dengan stres, Moms tidak disarankan untuk menahan perasaan tersebut.

Seperti pressure cooker, stres yang terpendam di tubuh akan 'meledak' seperti bom waktu.

Hal paling sehat yang dapat dilakukan adalah menyalurkannya dengan cara yang tepat.

Ingat, gunakan cara yang sehat, ya!

Hindari penggunaan alkohol secara berlebihan, karena justru dapat meningkatkan kadar stres pada tubuh.

Daripada mengandalkan alkohol, lebih baik lakukan hal di bawah ini sebagai langkah mengelola stres dengan baik:

  • Jujurlah dengan diri sendiri terkait dengan hal apapun
  • Curhat dengan seseorang yang dipercaya
  • Lakukan sesuatu yang baik untuk orang lain dan diri sendiri
  • Konsumsi makanan sehat bergizi seimbang, berolahraga secara teratur, dan ciptakan ruang tidur yang menenangkan
  • Mencari cara baru yang menyenangkan untuk mengatasi stres
  • Bergabunglah dengan grup dengan kondisi yang sama
  • Pelajari teknik relaksasi
  • Belajar untuk ikhlas, melepaskan dendam, dan melepas hubungan yang tidak sehat
  • Luangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang Moms sukai
  • Luangkan waktu untuk beristirahat dan tidur yang cukup

Baca juga: Hati-Hati, Ini 10 Ciri Penyakit Jantung yang Harus Diwaspadai!

Itulah penjelasan mengenai psikosomatis. Ingatlah bahwa setiap orang menangani stres dengan caranya sendiri.

Setelah Moms memahami bagaimana cara mengatasi stres dengan baik, kesehatan emosional maupun fisik diharapkan bisa terjaga dengan optimal.

Dengan begitu, Moms akan jauh dari risiko psikosomatis dan penyakit fisik lainnya.

  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/21521-psychosomatic-disorder
  • https://www.verywellmind.com/depression-can-be-a-real-pain-1065455
  • https://patient.info/mental-health/psychosomatic-disorders