07 April 2022

9 Fakta dan Fungsi Hormon Kortisol untuk Tubuh, Wajib Tahu!

Dikenal sebagai hormon stres, lho!

Stres atau rasa cemas pada seseorang itu disebabkan karena tubuh mengalami lonjakan hormon, Moms. Nah, hormon yang berperan adah hormon kortisol.

Mengutip Hormone Health Network, hormon kortisol adalah hormon stres yang merupakan bagian dari hormon steroid.

Hampir setiap sel dalam tubuh mengandung reseptor untuk mengatur fungsi hormon kortisol.

Beragam fungsi dari hormon kortisol bagi tubuh yaitu sebagai antiradang, pembentukan memori, mengatur gula darah, dan fungsi lain yang tak kalah penting.

Bahkan keberadaan hormon stres ini juga terlibat dalam proses melahirkan pada wanita, lho.

Mari cari tahu lebih lanjut terkait fakta, fungsi, dan makanan yang memicu lonjakan hormon kortisol!

Fungsi Hormon Kortisol

Fungsi Hormon Kortisol.jpg
Foto: Fungsi Hormon Kortisol.jpg

Foto: hormone.org

Kadar kortisol dalam darah bervariasi sepanjang hari. Umumnya, akan lebih tinggi saat pagi hari setelah bangun tidur dan menurun seiring beraktivitas. Ini disebut sebagai ritme diurnal.

Pada orang yang bekerja di malam hari, pola ini terbalik. Sehingga waktu pelepasan kortisol terkait dengan pola aktivitas sehari-hari.

Melansir Better Health Channel, fungsi dari hormon kortisol ini sendiri berbagai rupa dalam tubuh, di antaranya seperti:

  • Mengatur penyebaran protein, karbohidrat dan lemak tubuh.
  • Mengurangi peradangan dalam tubuh.
  • Meningkatkan gula darah (glukosa)
  • Mengontrol siklus tidur seseorang.

Baca Juga: 10 Cara Meningkatkan Hormon Estrogen pada Wanita, Terbukti Ampuh!

Kortisol turut membantu menjaga tekanan darah dan fungsi kekebalan tubuh.

Kita bisa menemukan hormon ini yang terletak umumnya di dalam otak.

Ada pula bantuan dari kelenjar pituitari dan adrenalin untuk mengatur jumlah kortisol yang dikeluarkan tiap harinya.

Namun, ada beberapa kondisi saat tubuh mengalami lonjakan kadar kortisol yang terlalu tinggi ataupun sebaliknya.

Tentu saja kondisi tidak normal ini memicu gangguan metabolisme dalam tubuh.

Terkadang, para dokter menggunakan pengobatan steroid untuk mengobati gangguan umum terkait kortisol.

Namun, jika dikonsumsi dalam dosis tinggi atau untuk waktu yang lama, pengobatan ini dapat memiliki sejumlah efek samping, termasuk osteoporosis (penipisan tulang) dan diabetes.

Fakta-Fakta Hormon Kortisol

Sebagai salah satu hormon yang penting untuk metabolisme tubuh, Moms perlu tahu fakta-fakta cara kerjanya.

Ini untuk mencegah terjadinya risiko gangguan kesehatan yang timbul di kemudian hari.

Berikut sejumlah fakta dan manfaat terkait hormon kortisol, antara lain:

1. Dikenal Sebagai Hormon Stres

Fakta dan Fungsi Hormon Kortisol
Foto: Fakta dan Fungsi Hormon Kortisol

Foto: Orami Photo Stocks

Kortisol adalah hormon steroid yang dialirkan ke dalam darah sebagai respons terhadap rasa stres.

Tak heran jika ini sering dijuluki sebagai hormon stres.

Apa pun yang membuat stres dapat membuat kadar kortisol ini meningkat.

Ini merupakan reaksi alami yang normal ketika kita merasakan stres, perasaan sedih, dan rasa cemas berlebih.

Indian Journal of Endocrinology and Metabolism memaparkan, biasanya kadar kortisol memuncak saat stres dan kembali normal saat stres mereda.

Lonjakan kortisol juga dapat membantu tubuh bekerja di bawah tekanan.

Namun, ketika konsentrasi kortisol tinggi terlalu lama, ini akan mengganggu beberapa fungsi tubuh.

2. Kadar Hormon Terlalu Tinggi

Fakta Hormon Kortisol pada Tubuh
Foto: Fakta Hormon Kortisol pada Tubuh (Orami Photo Stock)

Foto: Orami Photo Stocks

Sampel darah diperlukan untuk mengukur kadar kortisol. Melansir dalam Healthline, kadar normal hormon kortisol yakni sekitar 6 dan 23 (mcg/dL).

Tak jarang, beberapa orang mengalami kadar kortisol yang terlalu tinggi untuk fungsi hormon yang sebenarnya.

Penyebabnya pun beragam. Salah satunya karena keberadaan tumor pada kelenjar pituitari atau adrenal yang dapat menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai sindrom Cushing.

Ini merupakan penyakit yang ditandai kadar kortisol terlalu tinggi dalam darah.

Seseorang dengan sindrom Cushing akan mengalami beberapa gejala seperti:

  • Kenaikan berat badan dalam waktu cepat
  • Wajah mudah memerah
  • Tekanan darah tinggi
  • Perubahan warna pada kulit
  • Perubahaan mood
  • Osteoporosis

Tingkat kortisol yang tinggi juga dapat memengaruhi libidio dan siklus menstruasi pada wanita.

Baca Juga: Mengenal Serotonin, Hormon yang Membuat Kita Bahagia!

3. Kadar Kortisol Terlalu Rendah

Gangguan Autoimun Pengaruhi Kadar Kortisol? 3
Foto: Gangguan Autoimun Pengaruhi Kadar Kortisol? 3

Foto: Orami Photo Stocks

Selain kadar hormon yang terlalu tinggi, sejumlah orang mengalami kondisi sebaliknya.

Melansir National Health Services, kadar hormon kortisol yang terlalu rendah dapat menyebabkan penyakit Addison.

Meskipun jarang terjadi, ini adalah penyakit autoimun yang memicu kerusakan pada kelenjar adrenal dalam darah.

Gejalanya mungkin tak disadari, tetapi jika didiamkan bisa sangat fatal.

Seseorang dengan penyakit Addison mengalami gejala seperti:

  • Mudah lelah
  • Kehilangan massa otot
  • Penurunan berat badan tidak terkendali
  • Perubahan mood
  • Warna kulit berubah

Selain hormon kortisol yang rendah, ini juga dibarengi dengan natrium rendah dan kalium yang tinggi dalam tubuh.

4. Terletak di Setiap Sel Tubuh

sel darah hormon kortisol.jpg
Foto: sel darah hormon kortisol.jpg (Orami Photo Stocks)

Foto: Orami Photo Stocks

Kortisol berfungsi sebagai 'pembawa pesan' jika mengenai reseptor dalam sel. Keberadaannya di tubuh pun ada di setiap sel darah.

Hampir setiap jenis sel memiliki reseptor kortisol untuk berbagai fungsi hormon kortisol ini sendiri.

Meskipun kortisol dibuat di kelenjar adrenal, mereka tidak dapat melepaskannya ke dalam aliran darah sendiri.

Kelenjar adrenal menunggu 'instruksi khusus' dari otak sebelum mereka mengeluarkan kortisol ke dalam tubuh.

5. Memengaruhi Memori Otak

4 makanan hormon kortisol
Foto: 4 makanan hormon kortisol

Foto: Orami Photo Stocks

Melansir Cognitive Neuroscience Society, hormon kortisol ini mempengaruhi dalam pembentukan memori dalam otak.

Kortisol berikatan dengan reseptor di hipokampus dan amigdala, yakni terletak di pusat memori otak.

Tingginya kortisol yang beredar dalam darah dapat menguasai otak sel otak kita.

Melimpahnya hormon stres ini dapat membuat kita kesulitan dalam mencerna informasi.

Penelitian itu menunjukkan bahwa seseorang dapat mengingat informasi dengan lebih baik ketika kadar kortisol mulai turun.

Adapun cara menurunkan kortisol yakni dengan melakukan aktivitas yang menenangkan seperti meditasi dan peregangan untuk membantu tubuh tetap tenang.

Baca Juga: Fungsi Membran Sel pada Manusia dan Tumbuhan, Edukasi untuk Anak SMP

6. Makanan Menstabilkan Kortisol

Cokelat Hitam Makanan untuk Turunkan Hormon Kortisol.jpg
Foto: Cokelat Hitam Makanan untuk Turunkan Hormon Kortisol.jpg (Bienmanger.com)

Foto: Orami Photo Stocks

Bagaimana cara menstabilkan kadar kortisol dalam darah? Salah satunya yakni dengan mengonsumsi makanan sehat dan seimbang, Moms.

Beberapa makanan yang dapat membantu menjaga kadar kortisol stabil meliputi:

  • Cokelat hitam
  • Buah pisang dan pir
  • Teh hitam atau teh hijau
  • Makanan dengan prebiotik tinggi seperti yoghurt
  • Makanan yang mengandung serat larut

Minum banyak air untuk menghindari dehidrasi juga dapat membantu menjaga kadar kortisol dalam tubuh, lho.

7. Hindari Mengonsumsi Kafein

2 Pengaruh Kafein Pada Pria.jpg
Foto: 2 Pengaruh Kafein Pada Pria.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Seseorang yang mencoba menurunkan kadar kortisol, harus menghindari konsumsi makanan dan minuman yang mengandung kafein di malam hari.

Kafein dapat mengganggu kualitas tidur, yang berpotensi menurunkan hormon kortisol dalam tubuh.

Kandungan gula yang tinggi dalam kafein dapat menyebabkan pelepasan hormon kortisol, adrenalin, dan epinefrin yang lebih besar.

Lonjakan hormon yang tinggi ini dapat memengaruhi kualitas tidur seseorang.

Aturlah waktu tidur yang rutin untuk menghasilkan kualitas tidur yang lebih baik, Moms.

Dengan menjaga asupan makanan dan kualitas tidur, ini akan menstabilkan fungsi dari kortisol dalam tubuh.

8. Penghasil Energi

olahraga hormon kortisol
Foto: olahraga hormon kortisol

Foto: Orami Photo Stocks

Manfaat dari hormon kortisol ini cukup beragam, salah satunya untuk menghasilkan energi dalam beraktivitas.

Melansir National Center for Biotechnology and Information, kortisol sangat penting untuk menghasilkan energi sehari-hari dan fungsi tubuh

Hormon kortisol ini bermanfaat dalam membakar lemak dalam tubuh untuk menghasilkan energi atau 'bahan bakar' untuk kita bergerak.

Baca Juga: Mengenal Hormon HCG, Hormon yang Membuat Test Pack Jadi Positif

9. Menurunkan Risiko Hipoglikemia

gula-darah-rendah.jpg
Foto: gula-darah-rendah.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Apa itu hipoglikemia? Menurut Mayo Clinic, ini merupakan kondisi tubuh ketika gula darah di bawah batas normal. Dalam arti lain ini terjadi ketika gula darah terlalu rendah.

Nah manfaat dari hormon kortisol ini dapat mencegah terjadinya penyakit hipoglikemia.

Seperti kita tahu sebelumnya, fungsi dari hormon kortisol yakni untuk penghasil 'bahan bakar' dari protein, karbohidrat, dan lemak.

Nah karenanya, ini dapat menaikkan gula darah dalam tubuh untuk tetap stabil.

Tak hanya itu, manfaat lain dari kortisol ini sendiri juga membantu pencernaan tetap lancar dan mencegah terjadinya sembelit dan diare.

Bagaimana Moms, sekarang sudah lebih kenal dengan hormon stres atau kortisol satu ini, bukan?

  • https://www.hormone.org/your-health-and-hormones/glands-and-hormones-a-to-z/hormones/cortisol
  • https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/ConditionsAndTreatments/Hormones-cortisol-and-corticosteroids
  • https://www.nhs.uk/conditions/addisons-disease/diagnosis/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3079864/
  • https://www.cogneurosociety.org/cortisol_memory/#:~:text=While%20increased%20levels%20of%20cortisol,challenging%20to%20retrieve%20specific%20memories.
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK538239/
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hypoglycemia/symptoms-causes/syc-20373685#:~:text=Hypoglycemia%20is%20a%20condition%20in,who%20don't%20have%20diabetes

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.