Pernikahan & Seks

8 Prosesi Pernikahan Adat Aceh yang Sakral

Setiap prosesinya sangat sakral.
placeholder

Foto: shutterstock.com

placeholder
Artikel ditulis oleh Dresyamaya Fiona
Disunting oleh Karla Farhana

Aceh adalah salah satu daerah di Indonesia yang kaya akan campuran budaya dan tradisi. Begitu juga pada proses pernikahan adat Aceh.

Ia dibaluri dengan berbagai campuran budaya Arab, Eropa, Tionghoa serta Hindia.

Dalam pernikahan adat Aceh, diisi dengan syarat-syarat dan unsur kekeluargaan dan penghormatan terhadap Tuhan dan sesama manusia.

Yuk, ketahui lebih dalam mengenai prosesi dan baju pernikahan adat Aceh.

Prosesi Pernikahan Adat Aceh

Kebudayaan Aceh terus berkembang pada ritual dan tradisi sakral, salah satunya adat pernikahan.

Mulai dari prosesi pernikahan, busana, malam keagamaan, semua dirangkai menjadi sebuah pernikahan yang penuh dengan arti.

Adapun tahapan dan prosesi pernikahan adat Aceh, antara lain:

1. Jak Keumalen (Cah Roet)

Cah Roet Pernikahan Adat Aceh.jpg

Foto: Weddingku

Prosesi pernikahan adat Aceh yang pertama adalah Jak Keumalen. Ini merupakan prosesi merintis jalan yang dilakukan untuk mencari tahu dan mengenal calon mempelai wanita.

Pada prosesi ini biasanya akan bisa dilakukan langsung oleh orang tua atau utusan khusus dari pihak laki-laki.

Pihak keluarga calon mempelai pria (linto baro) datang bersilaturahmi sambil mengamati calon mempelai wanita (dara baro).

Biasanya, calon mempelai pria akan membawa bungong jaroe (bingkisan berupa makanan). Pihak perempuan akan menyambut baik keluarga pria, dan dilanjutkan dengan jak meu lake (jak ba ranub) atau meminang.

Jak keumalen sendiri dapat dilakukan dengan dua cara :

  • Langsung dilakukan oleh orang tua atau keluarga
  • Menggunakan utusan khusus (theulangke)

2. Jak Meu Lake Jok Theulangke (Jak ba Ranub)

Setelah itu, prosesi pernikahan adat Aceh dilanjutkan dengan Jak Ba Runub. Ini seperti halnya prosesi 'lamaran'.

Prosesi ini, orang tua calon mempelai pria akan memberi kuasa pada theulangke (utusan khusus) untuk mengemukakan tujuan kedatangan kepada calon mempelai putri, dengan membawa bingkisan seperti sirih, buah-buahan, baju dan sebagainya.

Kedua pihak keluarga akan saling musyawarah.

Jika calon mempelai wanita menerima lamaran, maka ia akan menjawab “Insha Allah” sementara jika tidak diterima mereka akan menjawab dengan alasan yang baik seperti “Hana get lumpo”.

Artinya adalah mimpi yang tidak baik atau buruk. Kebudayaan Aceh kental dengan makna mimpi dan kekuatan alam.

Kepercayaan ini dipengaruhi oleh nenek moyang bahkan dalam hal memilih calon pengantin.

Bila lamaran diterima, pihak keluarga pria akan melanjutkan dengan jak ba tanda (membawa tanda jadi).

Baca Juga: 7+ Ide Dekorasi Akad Nikah, Dari Minimalis Hingga yang Mewah

3. Malam Peugaca/Inai

Malam Peugaca Adat Pernikahan Aceh.jpg

Foto: Weddingku

Menjelang hari pernikahan, kedua mempelai akan mengadakan upacara selamatan pada malam hari dalam waktu 3 sampai 7 hari. Ini dinamakan malam Peugaca.

Tujuan prosesi pernikahan Aceh ini adalah untuk memanjat doa serta wejangan dari orang tua dengan bantuan sesepuh adat.

Hal ini dimaksudkan agar kedua mempelai mendapatkan berkah dan kemudahan di kehidupan pernikahan.

Dalam prosesi upacara ini juga diadakan peusiejeuk (upacara pemberian tepung tawar) calon dara baro dan peusiejeuk gaca, serta bate mupeh (batu giling).

Maksud dari peusiejeuk adalah memberi dan menerima restu serta mengharapkan keselamatan atas segala peristiwa yang akan terjadi kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Busana dan baju yang dikenakan oleh dara baro pada malam Inai ini tidak terikat dan terus berganti dari malam pertama hingga ketujuh.

4. Pernikahan/Ijab Kabul

Masuk ke dalam prosesi pernikahat adat Aceh berikutnya yakni malam pernikahan. Adat ini kuat dipengaruhi oleh buaya India dan Arab.

Dahulu ijab kabul dapat dilakukan di KUA atau di musala dekat rumah tanpa dihadiri pengantin wanita.

Namun sekarang berkembang dengan ijab kabul yang dilakukan di masjid besar.

Ijab kabul pengantin pria kepada wanita dihadiri oleh wali nikah, penghulu, saksi dan pihak keluarga.

Biasanya lafaznya berupa bahasa aceh "ulon tuan peunikah, aneuk lon (apabila ayah perempuan yg mengucapkan)....(nama pengantin perempuan) ngon gata (nama pengantin laki-laki) ngon meuh...(jumlah mahar yang telah disepakati) mayam,"

Jawabannya yakni "ulon tuan terimong nikah ngon kawen.. (nama pengantin) ngon meuh.. (jumlah mahar yang telah disepakati) mayam, tunai "

Ada beberapa lafaz yang berbeda, disesuaikan dengan kesepakatan dan adat setempat.

5. Meratakan Gigi

Adat Pernikahan Aceh Arab.jpg

Foto: The Bride Dept

Nah, jika mengikuti prosesi pernikahan adat Aceh pada masa lalu, adanya malam meratakan gigi.

Gigi seorang gadis yang telah menikah harus dipotong dengan alat pengikir gigi, kemudian diberi obat penguat gigi (baja ruek).

Ini dlakukan menjelang pesta pernikahan dan ditentukan pada keluarga.

Pemotongan gigi dimulai dengan posisi mempelai pengantin berbaring di atas kasur, mengikir gigi bagian sisi yang ganjil lalu ke bagian sisi yang lain.

Setelah selesai ia akan berkumur air garam hangat, lalu dengan kain perca yang telah direndam air panas, mengatupkan gigi atas dan bawah, setiap celah diolesi baja ruek hingga merata dan dibiarkan beberapa saat.

Lalu gigi dibersihkan dengan tapeh (sabut kelapa) dan berkumur dengan air bersih.

Prosesi pernikahan adat Aceh ini bertujuan untuk memperkuat gigi dan memberi kesan lebih cantik.

Namun prosesi ini sudah jarang dilakukan di masa sekarang.

Baca Juga: Bedak Dingin Rahasia Kecantikan Tradisional, Inilah Manfaat dan Cara Membuatnya

6. Khatam Al-Quran

Karena prosesi pernikahan adat Aceh masih kental dengan budaya Arab, maka perlu melakukan khatam Al-Quran.

Upacara ini dipimpin oleh guru ngaji dan dimulai dengan membaca doa untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Setelah itu calon mempelai disuapi ketan dan tumpo, dan menyelesaikan membaca ayat terakhir Al Qur’an.

Setelah selesai, calon pengatin akan bersalaman, pengucapan syukur serta memohon maaf dan restu guru ngaji

Selanjutnya sang guru membimbing calon dara baro untuk melakukan hal yang sama kepada kedua orang tua dan keluarga terdekat.

Acara khatam Al-Quran ini ditutup dengan pemberian hadiah seperti telur, bereteh, beras, padi dan uang sedekah kepada guru ngaji.

7. Pesta Pernikahan

Pesta Pernikahan Aceh.jpg

Foto: The Bride Dept

Dilanjuti dengan pesta pelaminan yang dilakukan setelah melangsungkan ijab kabul antara sang calon pengantin laki-laki dengan pengantin perempuan.

Biasanya dilaksanakan pada hari yang sama ataupun lain hari. Ini juga disebut juga acara Tueng Linto Baro.

Pesta pernikahan dalam proses pernikahan adat Aceh ini bertujuan selain merayakan kebahagian juga untuk memperkenalkan kedua mempelai kepada seluruh kaum kerabat.

Prosesi Usai Acara Pernikahan

Usai pesta pelaminan digelar proses pernikahan adat Aceh ternyata belum usai, Moms. Ada yang namanya Tueng Dara Baro. Apakah itu?

8. Tueng Dara Baro

Selain pesta pernikahan, ada yang melakukan Tueng Dara Baro sebagai prosesi pernikahan adat Aceh.

Ini adalah upacara untuk mengundang pengantin perempuan dan rombongan ke rumah keluarga laki-laki.

Upacara ini dilakukan tujuh hari setelah akad nikah. Keluarga perempuan akan membawa hantaran berupa makanan, kue, serta makanan lainnya.

Dalam proses ini, orangtua keduanya akan melakukan tukar sirih, di pintu masuk juga akan ditaburi dengan beras, bunga rampai dan daun-daun sebagai on seunijuk.

Setelah pengantin perempuan duduk, ibu pengantin laki-laki akan melakukan tepung tawar dan dilanjutkan sujud dan restu pada orang tua.

Baca Juga: Intip Keunikan 7 Tradisi Cukur Rambut Pertama Anak Dari Berbagai Budaya

Itu dia Moms tahapan dan prosesi pernikahan adat Aceh yang perlu diketahui. Semoga tradisi ini akan terus kekal seiring perubahan zaman, ya.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait