06 Januari 2020

Ramai Kasus Keracunan Makanan di Restoran Vietnam, Ini 4 Langkah Pertolongan Pertama Saat Keracunan Makanan

Mual dan muntah bisa menjadi gejalanya!

Kasus keracunan makanan terjadi di Saigon Delight, Lippo Mall Puri Kembangan, Jakarta Barat, pada Minggu (5/1/2020). Viralnya insiden ini berawal dari unggahan media sosial oleh seorang korban sekaligus konsumen restoran tersebut.

Akun @zenifueru bercerita lewat Instagram Story-nya, bahwa ia, suami dan anaknya makan di restoran itu pada 28 Desember 2019 lalu. Usai makan di sana, suami dan anaknya mengalami muntah-muntah, diare, mual, dan demam.

Sempat dirawat 7 hari, dokter melakukan diagnosis di rumah sakit dan disebutkan bahwa anak dan suaminya keracunan makanan. Selama dirawat, sang anak harus mendapatkan dosis obat yang sangat tinggi.

Pihak Saigon Delight telah memberikan pernyataan terkait laporan keracunan makanan tersebut lewat akun Instagram. Salah satu karyawannya juga telah melakukan pengecekan untuk mengetahui penyebab keracunan makanan.

"Begitu menerima laporan kita langsung investigasi. Kita cek laboratorium semua bahan-bahan kita untuk mencari tahu kemungkinan-kemungkinan," ujar Sari mengutip Detik.com.

Baca Juga: Pertolongan Pertama Jika Balita Alami Keracunan Makanan

Penyebab Keracunan Makanan

pertolongan pertama keracunan makanan-1.jpg
Foto: pertolongan pertama keracunan makanan-1.jpg (rd.com)

Foto: rd.com

Melansir Journal of Medical and Health Sciences, keracunan makanan disebabkan oleh makan makanan yang terkontaminasi. Termasuk makanan yang kurang disiapkan dengan baik, dimasak pada suhu yang salah atau kebersihan yang buruk.

Keracunan makanan juga bisa disebabkan kontaminasi bakteri, virus, racun atau parasit. Ini adalah penyakit umum yang berkisar dari yang relatif ringan hingga yang serius, bahkan kondisi yang mengancam jiwa.

Menurut First Aid, gejala keracunan makanan dapat timbul sekitar 5-72 jam setelah infeksi. Jika terjadi mual dan muntah, dapat dilakukan penelusuran kembali tentang apa saja makanan yang dikonsumsi sebelumnya.

Baca Juga: Terlihat Sama, Flu Perut dan Keracunan Makanan Ternyata Berbeda!

Pertolongan Pertama Keracunan Makanan

pertolongan pertama keracunan makanan-2.png
Foto: pertolongan pertama keracunan makanan-2.png (pngio.com)

Foto: pngio.com

Pertolongan keracunan makanan biasanya tergantung pada sumber penyakit, dan tingkat keparahan gejala. Tetapi kebanyakan, keracunan makanan dapat sembuh tanpa pengobatan dalam beberapa hari.

1. Berbaring dan Istirahat

Pertolongan pertama pada orang yang mengalami keracunan makanan, sarankan untuk berbaring dan beristirahat. Bila muntah, beri sedikit air minum untuk mencegah dehidrasi.

Pertolongan ini sangat penting pada orang yang lebih rentan seperti orang tua, orang yang memiliki kondisi kesehatan lain, dan anak-anak.

2. Mengganti Cairan Tubuh yang Hilang

Melansir Mayo Clinic, gejala muntah dan diare dapat menyebabkan seseorang kehilangan cairan tubuhnya. Karena itu, jaga tubuh tetap terhidrasi sebagai pertolongan pertama keracunan makanan.

Beberapa anak-anak dan orang dewasa dengan diare atau muntah berkepanjangan mungkin perlu dirawat di rumah sakit, agar mendapatkan elektrolit melalui pembuluh darah untuk mencegah atau mengobati dehidrasi.

Baca Juga: Konsumsi 4 Makanan Ini Saat Keracunan Makanan

3. Antibiotik

Jika seseorang mengalami keracunan makanan hingga dirawat di rumah sakit, dokter mungkin akan meresepkan antibiotik keracunan makanan karena bakteri tertentu dan gejalanya parah.

Keracunan makanan yang disebabkan oleh listeria perlu diobati dengan antibiotik selama rawat inap. Semakin cepat perawatan dimulai, semakin baik.

4. Mengontrol Mual dan Muntah

Hindari konsumsi makanan padat sampai muntah berakhir. Jika sudah tidak muntah kembali, berikan makan makanan ringan dan hambar, seperti biskuit asin, pisang, nasi, atau roti.

Jangan makan makanan yang digoreng, berminyak, pedas, atau manis ketika melakukan pertolongan pertama keracunan makanan.

Selain itu, jangan minum obat anti mual atau anti diare tanpa bertanya kepada dokter. Ini karena ada efek samping dan dapat memperburuk diare. Dokter mungkin akan memberi obat anti-mual jika berisiko mengalami dehidrasi.

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.