Scroll untuk melanjutkan membaca

RUPA-RUPA
28 Desember 2022

Begini Proses Terjadinya Hujan, Moms Bisa Jelaskan pada Anak untuk Menambah Pengetahuannya

Ternyata proses terjadinya hujan cukup sederhana, dan pasti dimengerti oleh Si Kecil
Begini Proses Terjadinya Hujan, Moms Bisa Jelaskan pada Anak untuk Menambah Pengetahuannya

Sebagai salah satu fenomena alam, kita tentu sering melihat hujan, turunnya air dari langit. Namun, pernahkah Si Kecil menanyakan pada Moms mengenai proses terjadinya hujan?

Ia mungkin akan bingung bagaimana bisa air yang begitu banyak turun dari langit ke bumi dan bisa membuat semuanya yang ia lihat menjadi basah.

Ketika kecil, Moms mungkin belum tahu jawabannya, tetapi kini Moms sudah tahu dan sebaiknya Moms mempersiapkan jawaban yang tepat untuk disampaikan kepada Si Kecil.

Sebab, sangat penting untuk memberikan edukasi anak proses terjadinya hujan.

Penjelasan yang tepat membantu mereka untuk mengetahui seperti apa bumi dan seisinya bekerja.

Nah, berikut ini adalah penjelasan mengenai jenis proses terjadinya hujan.

Simak juga berbagai fakta yang perlu Moms ketahui yang bisa menjadi edukasi untuk Si Kecil!

Baca Juga: Musim Hujan, Ketahui Proses Terjadinya Banjir dan Dampaknya

Teori dalam Proses Terjadinya Hujan

Air Hujan di Kaca Mobil

Foto: Air Hujan di Kaca Mobil (Freepik.com/user3802032)

Selain itu, proses terjadinya hujan dan turunnya hujan juga memiliki dua teori yaitu teori kristal es atau ice crystal theory dan teori tumbukan atau coalescence theory.

1. Teori Kristal Es

Dalam teori kristal es, maka diyakini bahwa hujan berasal dari kristal es atau salju yang mencair.

Teori ini menggambarkan bahwa kristal es terbentuk di awan yang sangat tinggi akibat deposisi air.

Jadi, semakin banyak uap airnya maka ukuran kristalnya juga akan semakin besar.

Karena adanya gaya gravitasi, maka kristal juga akan jatuh ke permukaan bumi.

Saat jatuh, maka kristal akan melewati udara panas sehingga mencair dan mereka kemudian menjadi air hujan.

2. Teori Tumbukan

Dalam teori ini, diduga bahwa butiran air memiliki ukuran yang tidak sama. Sehingga kecepatannya jatuh ke bumi akan berbeda-beda.

Butiran yang besar ini kemudian akan jatuh lebih cepat dari butiran yang kecil.

Saat butiran besar jatuh, maka ini akan menabrak atau bertumbukan dengan butiran yang ukurannya lebih kecil.

Ketika bertabrakan, maka ukurannya akan semakin besar, sehingga proses jatuhnya air ke permukaan bumi semakin cepat.

Baca Juga: Kumpulan Doa Agar Hujan Reda, Yuk Panjatkan Moms!

Proses Terjadinya Hujan

Hujan di Atas Rumah

Foto: Hujan di Atas Rumah (Freepik.com/kireyonok-yuliya)

Secara singkat, proses terjadinya hujan menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) diawali dari naiknya uap air yang berasal dari bumi seperti laut, danau, sungai, dan tanah ke atmosfer kemudian memadat membentuk awan.

Saat air itu sudah terlalu berat di dalam awan, mereka jatuh ke bumi sebagai hujan.

Jika udara di awan berada di bawah titik beku (32 derajat Fahrenheit atau 0 derajat Celcius), maka kristal es akan terbentuk.

Jika udara sampai ke tanah juga begitu dingin, maka turunlah hujan berbentuk salju.

Namun, umumnya di negara tropis seperti Indonesia, air hanya akan turun dalam bentuk hujan atau hujan es dan bukan salju.

Berikut ini penjabaran lebih jelas mengenai proses terjadinya hujan:

1. Evaporasi

Proses ini merupakan penguapan air yang ada di permukaan bumi baik daratan atau perairan.

Penguapan tersebut terjadi disebabkan oleh adanya suhu panas dari bumi.

Uap air selanjutnya akan menggumpal menjadi awan.

Saat suhu menjadi semakin panas, maka semakin banyak air yang akan menguap.

2. Kondensasi

Setelah evaporasi atau penguapan air, maka masuk ke dalam tahapan kedua dalam proses terjadinya hujan, yakni kondensasi.

Proses ini terjadi saat evaporasi atau uap air naik ke atmosfer yang kemudian mengembun.

Proses ini akan menyebabkan terbentuk partikel es karena udara di langit cukup rendah.

Setelah itu, partikel-partikel tersebut akan mendekat dan membentuk awan.

3. Presipitasi

Ini adalah proses terakhir, yakni mencairnya butiran es di awan yang kemudian turun ke bumi sebagai air hujan.

Awan yang sudah terlalu berat umumnya tidak lagi bisa menahan air, sehingga turunlah hujan.

Faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya presipitasi adalah kelembapan udara, energi matahari, angin, suhu udara.

Baca Juga: Bebaskan Anak Mandi Hujan! Ini, Lho Moms 7 Manfaatnya!

Fakta tentang Hujan

Air Hujan

Foto: Air Hujan (Freepik.com/tawatchai07)

Ada banyak kesalahpahaman yang telah terlanjur dipercaya banyak orang mengenai proses terjadinya hujan.

Nah, berikut ini beberapa fakta menariknya, yaitu:

1. Ukuran Air Hujan

Faktanya, dalam proses terjadinya hujan, air hujan yang turun tidak berbentuk seperti tetesan air, seperti air mata.

Tetesan air hujan ternyata yang lebih kecil dengan ukuran sekitar 1 milimeter dan mereka hampir berbentuk bulat sempurna.

Tetesan hujan yang lebih besar 2–3 milimeter juga tetap berbentuk bulat, meski ada lekukan kecil di sisi bawahnya.

Saat hujan turun, bentuknya sebenarnya bukan seperti tetesan air mata, melainkan seperti kacang merah.

Sementara itu, tetesan hujan yang sangat besar (lebih besar dari 4,5 millimeter) memiliki lekukan besar dan lebih mirip parasut.

Namun, tetesan ekstra besar ini biasanya akan pecah menjadi dua tetesan yang lebih kecil.

Sementara itu, lekukan pada tetesan air hujan disebabkan oleh hambatan udara.

Baca Juga: 10+ Tips Jemur Pakaian Saat Musim Hujan, Efektif Keringkan Baju!

2. Air Hujan Selalu Tawar

Meski air hujan sebelumnya bisa berasal dari laut atau samudera, tetapi air hujan tetap terasa tawar. Ini karena garam laut tidak menguap dengan air.

Namun, dalam beberapa kasus, polutan di atmosfer bisa mencemari tetesan air sebelum jatuh ke bumi. Kondisi ini bisa disebut sebagai hujan asam.

Sebenarnya hujan asam tidak merugikan manusia secara langsung, tetapi ia bisa membuat danau dan sungai menjadi lebih asam.

Hal ini kemudian akan membahayakan ekosistem perairan karena tumbuhan dan hewan sering kali tidak bisa beradaptasi dengan tingkat keasaman air yang tinggi.

Baca Juga: 10+ Tips Jemur Pakaian Saat Musim Hujan, Efektif Keringkan Baju!

Jenis-jenis Hujan

Hujan terbagi dalam beberapa jenis. Ada hujan orografis, frontal, asam, dan lainnya.

1. Hujan Zenithal

Hujan zenithal hanya sering turun di iklim yang tropis.

Hal ini karena intensitas penyinaran matahari di iklim tropis sangatlah tinggi.

Ini terjadi ketika proses udara yang naik akibat pemanasan udara yang ada disekitarnya terlalu tinggi dan awan menjadi membesar dan terjadilah hujan secara mendadak.

Ada beberapa karakteristik hujan zenithal, yaitu:

  • Hujan ini terjadi di daerah yang beriklim tropis. Sering terjadi pada siang hari, yaitu ketika sinar matahari bersinar cukup terik atau ketika sinarnya bersinar sangat cerah.
  • Hujan zenithal sering terjadi di beberapa wilayah yang sempit.
  • Munculnya awan hitam atau gelap.
  • Hujan zenithal sering kali di sertai dengan guntur dan petir dan hujannya yang sangat lebat.
  • Hujan zenithal terjadi dua kali dalam setahun.

2. Hujan Orografis

Hujan orografis adalah hujan yang terjadi karena adanya udara yang mengandung uap air dan dipaksa oleh angin mendaki ke arah lereng pegunungan.

Seperti yang kita ketahui, bahwa suhu di lereng pegunungan ini semakin ke atas maka akan semakin dingin, sehingga terjadi kondensasi.

Setelah proses kondensasi, awan terbentuk dan jatuh sebagai hujan.

Itulah penjelasan mengenai proses terjadinya hujan yang perlu Moms ketahui.

Jadi pastikan Moms benar-benar memahaminya agar kemudian kelak bisa dijelaskan kepada Si Kecil dengan lebih baik.

Dengan begini Si Kecil akan jauh lebih mudah memahami alam sekitarnya.

  • https://katadata.co.id/sitinuraeni/berita/6164ec421170d/pahami-proses-terjadinya-hujan-dan-jenis-jenis-hujan
  • https://www.nationalgeographic.org/encyclopedia/precipitation/
  • https://scijinks.gov/rain/