Rupa-rupa

22 September 2021

Mengenal Sikap Fanatisme yang Bisa Jadi Ciri Gangguan Kejiwaan

Ternyata fanatisme bisa menandakan seseorang memiliki gangguan kejiwaan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Rizky
Disunting oleh Amelia Puteri

Apakah Moms familiar dengan istilah fanatisme? Apakah Moms termasuk salah satu yang melakukan fanatisme?

Menurut kamus Merriam-Webster, fanatisme artinya adalah pandangan atau perilaku fanatik.

Kata "fanatisme" berasal dari kata fanatik yang artinya seseorang yang menunjukkan antusiasme berlebihan dan pengabdian tidak kritis yang intens terhadap beberapa masalah kontroversial seperti misalnya dalam agama atau politik.

Orang-orang fanatik yakin bahwa mereka melayani tujuan yang benar dan bahwa segala cara dibenarkan untuk mencapai tujuan.

Fanatisme nyatanya telah menjadi momok terbesar umat manusia. Apakah itu fanatik terhadap aliran politik atau ajaran agama, fanatisme telah menjadi candu dan 'memabukkan' manusia.

Parahnya, sikap fanatik ini bisa sangat beracun dan merusak nilai-nilai kemanusiaan.

Fanatisme paling sering terjadi saat seorang pemimpin membuat variasi kecil pada keyakinan yang sudah ada, yang kemudian membuat para pengikut mengalami efek yang menghebohkan karena mereka terlalu memercayai ucapan pemimpinnya.

Efek ini bisa membuat pengikut setianya memaksakan ide baru tersebut ke semua lapisan masyarakat, padahal tidak semua orang menyetujuinya.

Dalam hal ini, fanatisme digunakan sebagai kata sifat yang menggambarkan sifat perilaku tertentu yang kadang juga dikenali orang sebagai hal seperti kultus.

Baca Juga: Apa Itu Altruisme? Simak Penjelasannya dari Segi Psikologi

Apakah Fanatisme Tergolong Gangguan Jiwa?

fanatisme

Foto: housely.com

Fanatisme dapat terjadi akibat adanya hal yang diyakini secara berlebihan.

Apabila sikap fanatik sudah memberikan dampak buruk bagi diri orang tersebut dan mengganggu orang sekitarnya, maka hal ini sudah dapat dikategorikan sebagai gangguan psikologis.

Saat seseorang sudah meyakini secara ekstrem suatu hal sebagai sesuatu yang benar, seseorang cenderung mengabaikan informasi yang kontradiktif dengan apa yang ia yakini.

Sehingga mereka tidak mampu untuk melihat sudut pandang lain.

Ketidakmampuan memahami karakteristik individual orang lain yang berada diluar kelompoknya, benar atau salah juga merupakan ciri dari fanatisme.

Bahkan sikap fanatik juga telah membuat seseorang merasa sangat tertutup terhadap pendapat orang lain. Orang yang fanatik akan menentang orang-orang dengan pendapat yang tidak sesuai dengan pendapat pribadinya.

Faktanya, fanatisme bisa membuat seseorang menjadi obsesi pada seseorang.

Selain itu, ada beberapa jenis gangguan kejiwaan yang bisa dikategorikan untuk kondisi fanatisme. Seseorang yang mengalami kondisi fanatisme bisa mengalami gangguan disosiatif.

Ini terjadi saat seseorang mengalami gangguan parah pada identitas, ingatan, serta kesadaran diri sendiri dan lingkungannya. Kondisi seperti ini dikenal sebagai kepribadian ganda.

Selain itu, kondisi fanatisme juga bisa dikategorikan sebagai celebrity worship syndrome. Ini adalah kondisi saat individu menjadi terobsesi kepada seseorang, seperti misalnya selebriti.

Pengidapnya tidak akan rela jika idolanya memiliki pencitraan yang buruk atau dihina oleh orang lain.

Baca Juga: Gangguan Jiwa pada Ibu Hamil, Adakah Dampaknya pada Janin?

Jenis-Jenis Fanatisme

fanatisme

Foto: medium.com

Ada beberapa jenis fanatisme yang paling umum dikenal, yaitu:

  • Fanatisme konsumen, yakni tingkat keterlibatan atau minat seseorang dalam menyukai orang, kelompok, tren, karya seni, atau ide tertentu.
  • Fanatisme emosional.
  • Fanatisme supremasi etnis atau ras, seperti misalnya fanatisme yang jadi penyebab Perang Dunia Kedua. Misalnya retorika Nazisme di Jerman yang menganggap bahwa bangsa Arya adalah bangsa yang paling unggul di dunia. Fanatisme supremasi di Italia yang menginginkan agar Italia kembali menguasai bekas imperium Romawi. Serta fanatisme supremasi Jepang yang menganggap bahwa mereka adalah pemimpin Asia.
  • Fanatisme nasionalis atau patriotik.
  • Fanatisme politik dan ideologis.
  • Fanatisme agama – dianggap oleh sebagian orang sebagai bentuk fundamentalisme agama yang paling ekstrem. Contohnya adalah yang terjadi di Afganistan, yang mana Taliban ingin membuat negaranya menerapkan syariat Islam dalam menjalankan kehidupan bernegara.
  • Fanatisme olahraga seperti intensitas tinggi di sekitar acara olahraga. Hal ini dilakukan berdasarkan keyakinan bahwa fanatisme ekstrem dapat mengubah permainan untuk tim favorit seseorang atau karena orang tersebut menggunakan aktivitas olahraga sebagai "tempat pembuktian" maskulinitas untuk perkelahian, seperti dalam kasus hooliganisme sepakbola.

Baca Juga: 8 Jenis Penyakit Psikologi atau Gangguan Mental yang Perlu Dipahami

Bahaya Jika Kondisi Fanatisme Diabaikan

fanatisme

Foto: Orami Photo Stock

Sebaiknya jangan abaikan kondisi fanatik saat Moms merasa diri sendiri atau kerabat di sekitar mengalami kondisi ini.

Pasalnya, ada beberapa dampak buruk yang dapat dirasakan oleh diri Moms sendiri ketika kondisi fanatik diabaikan. Beberapa dampaknya antara lain:

1. Kondisi yang Bertambah Buruk

Apabila seseorang mengalami kondisi fanatik, maka penting untuk membujuk mereka menemui psikolog untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Jika tidak dilakukan pemeriksaan, dikhawatirkan kondisi fanatik bisa semakin bertambah buruk.

2. Merusak Fungsi Kognitif Otak

Kondisi gangguan jiwa akibat sikap fanatisme bisa memengaruhi perkembangan seseorang.

Gangguan jiwa ini berkaitan langsung dengan fungsi normal otak untuk mengolah informasi, berpikir logis, dan mengambil keputusan.

3. Kualitas Hidup dan Hubungan Pribadi Terganggu

Gangguan jiwa yang dialami seseorang juga dapat memperburuk kualitas hidup seseorang. Jika tidak segera diatasi kondisi fanatik menyebabkan terganggunya hubungan pribadi seseorang.

Contohnya adalah perceraian dengan pasangan, menutup diri dari keluarga dan masyarakat, ketidakmampuan untuk bekerja atau sekolah, dan masih banyak lagi.

Baca Juga: Perbedaan Psikolog dan Psikiater, Tentukan Pakar yang Tepat untuk Berkonsultasi

Cara Membantu Orang dengan Fanatisme untuk Kembali Hidup Normal

fanatisme

Foto: Orami Photo Stock

Tak hanya dibawa ke psikolog, salah satu pendekatan yang dianggap cukup efektif adalah dengan melibatkan anggota keluarga dan orang lain yang ada di sekitar individu tersebut dalam sesi perawatan.

Anggota keluarga dan sahabat bisa membantu menjelaskan mengenai pendapat mereka yang berbeda, dan ini mereka juga perlu memberikan alasan-alasan yang mendukung.

Namun, mereka juga harus memiliki kesabaran dalam menjelaskannya dan melakukannya dengan perlahan. Umumnya, bila mendapatkan pendekatan cocok, maka individu dengan sikap fanatik bisa mulai memahami pendapat orang lain.

Tak hanya itu, Moms juga bisa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mental profesional.

Pada kesempatan ini, dapat dilakukan terapi perilaku kognitif untuk membantu mengenal lebih lanjut dasar dari adanya fanatik yang dialami oleh individu tersebut.

Selain itu, tenaga kesehatan mental profesional juga bisa menentukan penanganan yang sesuai dengan kondisi yang dialami.

Baca Juga: Penggemar Drama Korea, Yuk Simak Arti dari 15 Nama Marga Korea Ini

Sebetulnya, seorang fanatik masih bisa menjadi hal yang baik, asal tidak berlebihan.

Saat Moms menjadi fanatik dengan porsi yang cukup maka ini dapat menjadi suatu yang baik, di mana Moms bisa percaya akan sesuatu atau seseorang namun secukupnya.

Dengan fanatik secukupnya, Moms tetap masih bisa membandingkan apa yang Moms percaya apakah hal tersebut benar atau tidak.

Jika sudah berlebihan, fanatik bisa berujung pada fanatisme dan sikap fanatik ini sudah masuk kepada kepercayaan berlebihan.

Mereka bisa jadi menutup mata akan informasi lainnya karena merasa apa yang dipercayai sudah benar adanya dan tidak terbantahkan,

Saat Moms mempercayai sesuatu, tetaplah harus mengetahui apa dasar Moms mengetahui hal tersebut.

Karena dengan mengetahui apa dasar dari yang Moms percayai, Moms jadi lebih memahami dan mengetahui apa yang dipercayai tersebut atau secara singkat, cobalah kembangkan sikap skeptis akan suatu hal baru atau hal yang sudah Moms yakini dari lama.

Oleh karenanya, Moms tidak akan melakukan secara berlebihan dalam mempercayai hal tersebut.

  • https://www.psychologytoday.com/intl/blog/ambigamy/201411/fanaticism-is-disease-alcoholism
  • https://goodmenproject.com/featured-content/the-effects-of-religious-fanaticism-on-mental-health-kpkn/
  • http://awalbros.com/kejiwaan/apakah-fanatisme-merupakan-gangguan-kejiwaan/
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait