KESEHATAN MENTAL
10 Oktober 2022

Hari Kesehatan Mental Sedunia: Tingkatkan Kesadaran, Kepedulian, dan Hentikan Stigma Negatif

Sadari jika ada hal yang tidak baik-baik saja sedang terjadi di dalam diri
Hari Kesehatan Mental Sedunia: Tingkatkan Kesadaran, Kepedulian, dan Hentikan Stigma Negatif

Setiap tahunnya, Hari Kesehatan Mental Sedunia diselenggarakan setiap tanggal 10 Oktober.

Perayaan ini pertama kali dilakukan pada tahun 1992 atas inisiatif World Federation for Mental Health, sebuah organisasi kesehatan mental global.

Perlu diketahui, kesehatan mental tidak hanya seputar gangguan mental, tapi merupakan isu yang kompleks yang dapat dialami secara berbeda antara individu yang satu dengan individu lainnya.

Tujuan peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia adalah untuk mempromosikan pentingnya kesadaran kesehatan mental dan pencegahan gangguan mental.

Ini ditujukan agar setiap individu berfokus untuk pemulihan secara menyeluruh.

Baca Juga: 7+ Pilihan Hukuman yang Mendidik untuk Anak, Hindari Kekerasan Fisik dan Verbal!

Hari Kesehatan Mental Sedunia 2022

Tanda Gangguan Kesehatan Mental pada Anak

Foto: Tanda Gangguan Kesehatan Mental pada Anak (Orami Photo Stocks)

Mengacu World Federation for Mental Health, tema peringatan tahun 2022 berkaitan dengan kesehatan mental dan kesejahteraan sosial yang menjadi prioritas global.

Pandemi COVID-19 telah menciptakan krisis global untuk kesehatan mental, memicu tekanan jangka panjang, serta merusak kesehatan mental jutaan orang.

Menurut data World Health Organization (WHO), diperkirakan peningkatan gangguan kecemasan dan depresi terjadi lebih dari 25% selama tahun pertama pandemi.

Dampaknya tidak hanya untuk kesehatan mental, ini pun memengaruhi sektor sosial dan ekonomi.

Di Indonesia sendiri, stigma dan diskriminasi menjadi salah satu penghalang sosial untuk mendapatkan akses dan perawatan kesehatan mental yang tepat.

Adanya peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia ini, tujuan lainnya adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya permasalahan tersebut.

Setiap individu berhak untuk mendapatkan akses perawatan yang tepat tanpa merasakan diskriminasi dan stigma dari berbagai pihak.

Baca Juga: Mengenal Hidroterapi, Terapi Air untuk Orang yang Sedang Alami Depresi

Jenis-Jenis Gangguan Mental

Tanda Gangguan Mental

Foto: Tanda Gangguan Mental (Orami Photo Stocks)

Penyakit mental adalah istilah umum untuk merujuk ke sekelompok penyakit yang berkaitan dengan mental atau psikis.

Gejala yang ditimbulkan pun beragam dan dapat memengaruhi pemikiran, persepsi, mood ataupun perilaku seseorang.

Penyakit mental dapat mempersulit seseorang untuk melakukan pekerjaan, menjalin hubungan, dan hal lainnya.

Melansir Better Health, sejumlah gangguan mental yang kerap ditemukan di masyarakat meliputi:

1. Depresif Mayor

Gangguan depresi mayor ditandai dengan perasaan yang terus-menerus tertekan atau kehilangan minat dalam aktivitas.

Kemungkinan penyebabnya termasuk pengaruh biologis, psikologis dan sosial.

2. Anxiety Disorder

Anxiety disorder dikenal juga dengan gangguan kecemasan yang ditandai dengan kepanikan serta ketakutan akan sesuatu.

Gangguan mental ini sering dikaitkan dengan gangguan obsesif kompulsif (OCD) dan gangguan stres pasca trauma.

Baca Juga: 10 Rekomendasi Psikolog Jakarta Terbaik untuk Bantu Mengatasi Masalah Mental

3. Skizofrenia

Skizofrenia adalah gangguan psikotik kompleks yang ditandai dengan gangguan berpikir dan emosi, serta persepsi realitas yang terdistorsi.

Orang dengan skizofrenia memiliki risiko tinggi untuk bunuh diri.

4. Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar adalah jenis gangguan mental yang disebut sebagai "depresi manik".

Seseorang dengan gangguan bipolar mengalami gejala mania (kegembiraan) dan depresi.

Penyebab pastinya tidak diketahui, tetapi kecenderungannya adalah terpengaruh dari genetik.

5. Gangguan Makan

Tidak hanya berkaitan dengan psikis, penyakit mental juga berdampak pada gaya hidup seseorang.

Gangguan makan yang dimaksud termasuk anoreksia, bulimia nervosa dan gangguan makan lainnya.

6. Attention Deficit Hperactivity Disorder (ADHD)

ADHD adalah salah satu gangguan perkembangan saraf yang paling umum terjadi pada masa kanak-kanak.

Biasanya pertama kali didiagnosis pada masa kanak-kanak dan sering berlangsung hingga dewasa.

7. Gangguan Perilaku

Gangguan perilaku mengacu pada sekelompok masalah perilaku dan emosional yang ditandai dengan mengabaikan orang lain.

Anak-anak dengan gangguan perilaku mengalami kesulitan mengikuti aturan dan berperilaku yang layak di sosial.

8. Gangguan Stres Pascatrama (PTSD)

Gangguan stres pasca trauma (PTSD) adalah kondisi kesehatan mental yang dapat berkembang akibat peristiwa traumatis.

Ini bisa berupa kecelakaan, penyerangan fisik atau seksual, peristiwa atau penyiksaan yang berhubungan dengan perang, atau bencana alam.

Gangguan Mental Jadi Salah Satu Masalah Kesehatan Terbesar di Dunia

Masalah Kesehatan Terbesar di Dunia 2021

Foto: Masalah Kesehatan Terbesar di Dunia 2021 (Orami Photo Stock)

Diketahui sebelumnya, pandemi COVID-19 yang terjadi di dunia memicu berbagai permasalahan, khususnya penyakit seputar kejiwaan.

Pandemi yang hampir berlangsung sampai 2 tahun, meningkatkan gangguan masalah fisik dan juga mental.

Merujuk data tahun 2021, gangguan kesehatan tertinggi di dunia setelah COVID-19 yakni (70%) dan kanker (34%), adalah masalah terkait kesehatan mental (31%).

Pada tahun 2019, saat awal pandemi, diperkirakan sekitar 4% populasi global mengalami gangguan kecemasan, sementara 3,59% adalah menderita depresi.

Baca Juga: 7 Penyebab Anak Berperilaku Buruk, Bisa Karena Stres atau Pola Asuh Otoriter

Data Statistik Kesehatan Mental di Dunia dan Indonesia

Tes Depresi

Foto: Tes Depresi (Orami Photo Stocks)

Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia, kita juga perlu menyoroti data-data nyata di setiap aspeknya.

Isu terkait penyakit mental bukanlah sebuah fenomena baru di era perkembangan teknologi modern ini.

Contoh-contoh nyata penyakit mental ini dapat dilihat dari lingkup global dan regional, meliputi:

1. Penyakit Mental di Dunia

Sebuah penelitian di jurnal Ethnicity and Disease membuktikan bahwa beban penyakit di dunia tidak hanya seputar tekanan darah tinggi, penyalahgunaan narkoba, ataupun kebiasaan merokok.

Beban penyakit secara global tahun 2017 menyatakan bahwa penyakit mental berada di dalam peringkat 5 teratas dibandingkan dengan penyakit lain, seperti penyakit pernapasan, kardiovaskular, kehamilan, dan gangguan darah.

Diperkirakan jumlah orang dengan gangguan mental di dunia adalah sekitar 450 juta jiwa.

Merujuk National Alliance of Mealth Illness, data statistik penyakit mental tertinggi secara umum di Amerika tahun 2021 yakni meliputi:

Menurut Mental Health Foundation, ini dapat dipengaruhi oleh banyak faktor biologis seperti genetika, saraf otak, serta pengalaman hidup seperti trauma dan pelecehan.

Riwayat keluarga dengan masalah kesehatan mental pun jadi salah satu faktor penyebabnya.

2. Penyakit Mental di Indonesia

Jika dilihat dari wilayah Indonesia, kasus terkait gangguan mental pun menjadi salah satu yang perlu disoroti.

Melansir data di Infodatin (Pusat data dan Informasi Kesehatan Kesehatan RI), situasi kesehatan jiwa di Indonesia cukup memprihatinkan.

Pada data riset tahun 2017 tersebut, gangguan mental menduduki peringkat 5 sebagai salah satu beban penyakit di Indonesia.

Hasil Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2018 menunjukkan bahwa jenis gangguan mental tertinggi, yakni depresi dapat terjadi sejak usia remaja (15-24 tahun) dengan prevalensi 6,2%.

Prevalensi merupakan proporsi dari populasi yang memiliki karakteristik tertentu dalam jangka waktu tertentu

Berdasarkan pengukuran kesehatan Disability Adjusted Life Years (DALYs), gangguan depresi tetap menduduki peringkat pertama dalam tiga dekade (1990-2017).

Pola prevalensi depresi semakin meningkat seiring dengan peningkatan usia, yakni tertinggi terjadi pada umur 75 tahun ke atas dengan sebanyak 8,9%.

Dalam arti lain, tingginya angka DALY dalam masyarakat menunjukkan kualitas kesehatan yang kurang baik

Sementara itu, data DALY dari IHME (Institute for Health Metrics and Evaluation) tahun 2019 per 100 ribu populasi di Indonesia menunjukkan jenis gangguan mental tertinggi di Indonesia sebagai berikut:

  • Gangguan depresi: 1,23%
  • Gangguan kecemasan: 1,19%
  • Skizofrenia: 0,69%
  • Bipolar: 0,25%
  • Gangguan perilaku: 0,24%
  • Autism: 0,16%
  • Cacat intelektual: 0,12%
  • Gangguan perilaku makan: 0,08%
  • ADHD: 0,03%

Baca Juga: 7 Tanda Kepribadian Ganda, Salah Satunya Kesulitan Mengenali Diri Sendiri, Pernah Mengalami?

Selebriti Tanah Air yang Mengidap Penyakit Mental

Profil Marshanda

Foto: Profil Marshanda (Instagram.com/marshanda99)

Beberapa artis Indonesia diketahui juga mengidap gangguan mental, seperti Marshanda dengan gangguan bipolarnya yang ia akui sejak usia 20 tahun.

Lalu selebgram Rachel Vennya yang juga mengaku mengidap bipolar, hingga artis film Aliando yang diketahui menderita OCD (Obsessive Compulsive Disorder).

Adapun pengakuan tersebut mereka umumkan melalui media sosial pribadi masing-masing pada beberapa waktu yang lalu.

Dari kasus tersebut, tak menutup kemungkinan, masyarakat umum juga menderita gangguan yang sama tanpa diketahui secara publik.

Baca Juga: Kenali 9 Jenis Tes Depresi Beserta Manfaatnya

Masalah-Masalah Kesehatan Mental di Masyarakat

Cara Mengatasi Depresi

Foto: Cara Mengatasi Depresi (Orami Photo Stocks)

Membahas seputar isu kesehatan jiwa, tentu berkaitan erat dengan stigma atau pandangan di masyarakat secara umum.

Ada sejumlah masalah-masalah yang kerap ditemukan terkait kesehatan mental, khususnya:

1. Stigma dan Tabu di Masyarakat

Banyak orang enggan untuk berkonsultasi terkait kegelisahan yang dialami karena banyak stigma yang bermunculan di masyarakat dan dianggap sebagai tabu.

Stigma-stigma negatif yang paling sering terdengar yakni orang dengan gangguan mental disalahartikan sebagai orang yang "gila".

Alhasil, tabu atau stigma yang dipercayai tersebut membuat orang dengan gangguan mental jadi memandang dirinya sebagai sesuatu yang negatif.

Baca Juga: Mengenal Emotional Eating, Makan Berlebihan saat Stres

2. Rendahnya Kunjungan terhadap Layanan Psikolog atau Psikiater

Mengutip salah satu situs Seribu Tujuan, stigma juga dapat menimbulkan citra negatif tentang tenaga profesional dan perawatan kesehatan mental.

Tak jarang, banyak kasus ditemukan orang yang terlambat mendapatkan penanganan para ahli karena tabu atau pandangan negatif.

Rendahnya kunjungan dan akses ke para pakar seperti psikolog atau psikiater menjadi dampak dari stigma negatif itu sendiri.

3. Keterbatasan Penyediaan Layanan Kesehatan Mental

Di sisi lain, penyedia layanan kesehatan mental di Indonesia pun masih terbatas dan sulit diakses di beberapa wilayah tertentu.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar Kemenkes tahun 2018, Indonesia hanya memiliki sekitar 600-800 psikiater yang tersebar ke berbagai wilayah.

Ini artinya, 1 psikiatri melayani 300.000 – 400.000 pasien dan persebarannya tidak merata di seluruh wilayah tanah air.

Baca Juga: 16 Ciri-ciri Depresi, Mulai dari Sering Hilang Konsentrasi hingga Muncul Keinginan Bunuh Diri

4. Minimnya Perhatian Masyarakat terhadap Kesehatan Mental

Ketakutan akan stigma dan tabu di masyarakat, salah satu yang menyebabkan rendahnya perhatian terhadap kesehatan mental.

Kebanyakan orang menganggap penyakit mental dapat diobati dengan ritual keagamaan atau berbagai kepercayaan tertentu.

Ketakutan akan kebutuhan biaya yang tinggi untuk mendapatkan pengobatan pun jadi salah satu kendala orang dengan gangguan mental.

Faktanya, pengobatan konseling kesehatan mental dapat memanfaatkan program BPJS kesehatan yang disediakan pemerintah.

Menurut informasi dalam laman BPJS Kesehatan, layanan ini mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 82 tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan.

Manfaat jaminan kesehatan yang diberikan berupa pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

“Artinya, seluruh peserta JKN-KIS bisa memperoleh manfaat dari program ini sesuai indikasi medis," kata Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ali Ghufron Mukti, pada Januari 2022 lalu.

Namun, kekurangannya adalah tidak semua Puskesmas memiliki layanan kesehatan mental yang memadai.

Baca Juga: Chlorpromazine, Obat untuk Atasi Gangguan Mental

Stigma Kesehatan Mental di Indonesia

Ilustrasi Stigma Gangguan Mental

Foto: Ilustrasi Stigma Gangguan Mental (Orami Photo Stock)

Stigma atau penilaian negatif terjadi akibat adanya cara pandang seseorang atau khalayak terhadap kelompok tertentu yang memiliki kondisi berbeda di lingkungan pada umumnya.

Sayangnya, sikap dan keyakinan negatif terhadap orang yang memiliki masalah mental, dianggap hal biasa dan tidak perlu diubah.

Sedangkan, adanya stigma yang melekat, sangat berpengaruh terhadap kondisi mental seseorang.

Stigma ini bisa membuat orang dengan gangguan mental enggan untuk mengakui bahwa dirinya mengalami masalah mental dan kesulitan untuk menerima diri sendiri.

Stigma yang ada di tengah masyarakat dapat menyebabkan diskriminasi.

Diskriminasi seperti memberikan komentar negatif terhadap orang dengan gangguan mental, diberhentikan dari pekerjaan, diceraikan oleh pasangan, ditelantarkan keluarga, hingga dikeluarkan dari sekolah.

Baca Juga: Mengenal Apa Itu Playing Victim, Tanda, dan Penyebabnya

Sengaja atau tidak sengaja, seseorang bisa saja menghindari orang dengan gangguan mental karena dianggap memiliki kondisi yang tidak stabil dan tidak mampu bersosialisasi dengan maksimal.

Untuk kasus yang parah, kelompok yang mengalami masalah mental mendapat perlakuan kekerasan, hinaan, hingga perlakuan tidak terpuji lainnya.

Stigma masih menyelimuti isu kejiwaan di Indonesia bahkan sebagian besar masih mempercayai gangguan kesehatan jiwa disebabkan oleh hal yang tidak rasional maupun supranatural.

“Misalkan, pengidap skizofrenia disebabkan karena sihir, kemasukan setan, kemasukan roh jahat, melanggar larangan, dan lain-lain,” seperti dilansir dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI.

Akibatnya, penanganan masalah kejiwaan ini dilakukan dengan pendekatan non medis atau dengan ahli spiritual.

Baca Juga: Mengenal Ciri-ciri Seseorang Mengalami Phobia Darah dan Terapi untuk Menghilangkannya

Cara Menghentikan Stigma Negatif Terkait Kesehatan Mental

Meski umumnya stigma datang dari lingkungan luar, rupanya stigma juga bisa datang dari 2 cara, yaitu stigma internal (dari pikiran sendiri) dan stigma eksternal (dari masyarakat).

Ada beberapa cara untuk menghadapi stigma terhadap gangguan kesehatan mental, seperti dilansir dari Mayo Clinic.

1. Mendapatkan Pengobatan

Stigma membuat seseorang tidak ingin mengakui bahwa dirinya membutuhkan pertolongan.

Tapi, jangan biarkan rasa enggan dan rasa takut menghalangi dalam mencari bantuan.

Pengobatan bisa membantu orang dengan gangguan mental mengidentifikasi apa yang salah dalam diri dan mengurangi gejala yang mengganggu.

2. Jangan Membiarkan Stigma Membuat Keraguan

Seperti yang sudah disinggung di atas, stigma tidak hanya datang dari orang lain, melainkan diri sendiri.

Maka, jangan membiarkan pikiran tentang gangguan mental yang dialami sebagai sebuah kelemahan.

Sebab, mencari dukungan dengan konseling, bisa membantu mengatasi kesulitan dalam menghadapi stigma.

Dengan tidak ragu berkunjung ke psikolog atau psikiater, dapat membantu proses pemulihan lebih cepat dan menghindari kondisi yang lebih parah.

Baca Juga: 13 Jenis Phobia yang Paling Banyak Diderita Orang, Termasuk Takut Ketinggian dan Ruang Sempit!

3. Berani Speak Up

Berani menentang stigma dan membicarakannya, menjadi salah satu upaya mengatasi stigma.

Selain mengatasi stigma, cara ini juga melatih keberanian dalam diri sendiri dan mendorong orang lain untuk lebih berani.

4. Jangan Samakan Masalah Mental dengan Diri Sendiri

Jangan samakan masalah mental dengan diri sendiri, dalam artian, alih-alih mengatakan “saya bipolar”, ubah menjadi “saya menderita gangguan bipolar”.

Meski terdengar sepele, tapi kata-kata yang digunakan dapat mengubah pandangan negatif tentang masalah mental.

5. Bergabung dengan Kelompok Pendukung

Terkadang, bagi orang dengan masalah mental, kesepian dan merasa sendiri kerap menyelimuti diri sendiri.

Bergabung dengan kelompok pendukung, orang dengan gangguan mental bisa mendapatkan program ataupun bersosialisasi dengan orang dengan masalah mental lainnya.

Terlebih, pelayanan kesehatan mental di Indonesia seperti konseling online dan psikolog online, dengan mudah dapat dijumpai.

Baca Juga: Waspadai Tanda-Tanda Toxic Relationship dan Cara Tepat Mengakhirinya

Dampak Buruk Stigma Negatif Terkait Kesehatan Mental

Meski hal di atas bisa dikatakan sulit untuk diterapkan, tapi, ingatlah bahwa jika tidak diterapkan, pandangan negatif yang berlarut akan menimbulkan efek buruk.

Melansir dari penelitian di European Archives of Psychiatry and Clinical Neuroscience, yang melibatkan 200 orang dengan gangguan mental selama 2 tahun menemukan bahwa stigma diri menghalangi pemulihan.

Artinya, stigma membuat orang dengan gangguan mental sulit pulih bahkan memburuk.

Stigma dan diskriminasi dapat memperburuk gejala dan berisiko orang dengan gangguan mental tidak mendapatkan pengobatan.

Hal ini senada dengan yang dinyatakan dr. Zulvia Oktanida Syarif, Sp.KJ, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Psikiater).

“Stigma merupakan alasan terbesar seseorang ragu ke psikiater. Alasan lainnya adalah kesulitan akses, mahalnya biaya, dan alasan keengganan pribadi untuk menceritakan pikiran dan perasaannya.

Sehingga, sering kali orang datang ke psikiater ketika merasa gejala gangguan mental yang dialami sudah parah dan sangat mengganggu kehidupannya.

Padahal, seseorang dapat datang berkonsultasi dengan psikiater dalam tahap kesehatan mental apapun, bahkan dalam tahap pencegahan,” jelas dr. Zulvia, saat diwawancara Orami pada Jumat, 23 September 2022.

dr. Zulvia Oktanida Syarif SpKJ

Foto: dr. Zulvia Oktanida Syarif SpKJ (Dok.pribadi)

Melansir studi di jurnal Psychiatry Research, stigma mengarah pada efek negatif untuk pemulihan.

Berikut efek negatif dari stigma:

  • Berkurangnya harapan untuk pulih
  • Memiliki harga diri yang rendah atau low self-esteem
  • Gejala yang semakin memburuk
  • Kesulitan dalam berhubungan sosial
  • Menghindari pengobatan
  • Kesulitan di tempat kerja

Jika pandangan negatif tidak diatasi, maka stigma ini mengakar dan lebih sulit untuk dihadapi.

Baca Juga: Ketahui Obat Antidepresan: Manfaat, Jenis, Dosis, dan Efek Samping

Situasi atau Kondisi Kesehatan Mental di Kalangan Pekerja

Ilustrasi Situasi Kesehatan Mental

Foto: Ilustrasi Situasi Kesehatan Mental (Orami Photo Stock)

Dalam kehidupan sehari-hari tentu ada banyak hal yang bisa membuat kesehatan mental seseorang menjadi memburuk. Termasuk salah satunya adalah kondisi di lingkungan kerja.

Menurut Australian Human Rights Commission, lingkungan kerja yang tidak sehat dapat menyebabkan stres yang cukup besar dan memperburuk kondisi mental.

Sebuah survei pada lebih dari 5.000 pekerja di Australia menunjukkan bahwa 25% dari mereka mengambil cuti tiap tahun karena alasan yang berhubungan dengan stres.

Dilansir dari laman Harvard Business Review, tahun 2019, dilakukan survei terhadap 1.500 orang dewasa yang bekerja penuh waktu di Amerika Serikat.

Sebanyak 84% responden melaporkan setidaknya ada salah satu faktor dari tempat kerja yang berdampak negatif pada kesehatan mental mereka.

Melansir dari Organisasi Kesehatan Dunia, ada banyak faktor risiko kesehatan mental yang bisa saja terjadi di lingkungan kerja.

Sebagian besar risiko berhubungan dengan interaksi antara jenis pekerjaan, lingkungan organisasi dan manajerial, keterampilan dan kompetensi karyawan, dan dukungan yang tersedia bagi karyawan untuk melaksanakan pekerjaan.

Hal ini berpengaruh terhadap kesehatan mental di kalangan pekerja.

Berikut beberapa jenis toxic culture yang umum dijumpai di kalangan pekerja yang dapat berdampak pada kesehatan mental.

1. Hustle Culture

Melansir dari Psychology Today, hustle culture atau workaholic adalah fenomena berbahaya dengan harapan yang tidak realistis.

Kondisi ini seringnya didukung dan diperkuat melalui media sosial. Menerapkan budaya seperti ini berdampak pada penurunan kesehatan mental.

Dalam dunia kerja yang sangat kompetitif, tidak jarang budaya gila kerja justru diapresiasi. Sedangkan, bekerja keras tidak selalu berkonotasi positif.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia dan Organisasi Buruh Internasional yang diterbitkan di jurnal Environment International, jam kerja panjang yang dikaitkan dengan hustle culture menyebabkan 745.000 kematian akibat stroke dan penyakit jantung iskemik pada tahun 2016.

Hustle culture yang terus diterapkan menimbulkan burnout atau kelelahan kerja. Kondisi ini termasuk dalam jenis stres terkait pekerjaan.

Bahkan keadaan kelelahan fisik dan emosional melibatkan rasa pencapaian yang berkurang dan hilangnya identitas pribadi.

“Stres dan burnout di dunia kerja bila tak diatasi dengan baik dapat menimbulkan gangguan mental seperti anxiety disorder dan atau depresi. Anxiety dan depresi memerlukan terapi dari profesional kesehatan mental,” jelas dr. Zulvia.

Jadi, hustle culture akan merambat ke semua jenis gangguan kesehatan mental.

Baca Juga: Penganut Hustle Culture? Jangan Dulu Bangga, Banyak Dampak Negatifnya untuk Fisik dan Mental!

2. Quiet Firing

Quiet firing merupakan toxic culture yang ada di kalangan pekerja selanjutnya. Kondisi ini memang belum banyak terdengar.

Quiet firing adalah tindakan mengabaikan karyawan secara perlahan sehingga membuat karyawan resign dengan sendirinya.

Tindakan quiet firing juga bisa berupa tidak mendapatkan feedback yang baik dari atasan, tidak diberikan kenaikan gaji, tidak ingin ditemui, tidak diberikan kejelasan apapun mengenai karier dan diabaikan.

Melansir dari Bloomberg, quiet firing terjadi karena sebagian besar manajer tidak jelas tentang apa yang diharapkan dan tidak mampu memberikan umpan balik serta membangun hubungan dengan anggota tim-nya.

Quiet firing ini kemudian menimbulkan dampak bagi karyawan berupa merasa kurang diapresiasi.

Bisa juga membuat karyawan merasa lelah secara mental, tidak bahagia dengan pekerjaannya, tidak memiliki semangat kerja, hingga memutuskan untuk keluar.

Baca Juga: Mengenal Masokis, Kelainan Seksual yang Ditandai dengan Kesenangan terhadap Rasa Sakit

3. Fear-Based Culture

Meski jarang terdengar fear-based culture atau budaya berdasarkan ketakutan juga merupakan salah satu budaya toxic di kalangan pekerja yang memengaruhi mental pekerja.

Dalam budaya tempat kerja yang sehat, karyawan didorong untuk menentang proses, prosedur, dan apa pun yang tidak berhasil.

Fear-based culture menciptakan lingkungan kerja yang keras sehingga banyak dari pekerja tidak berani mengambil risiko.

Budaya ini membuat kecemasan karyawan meningkat dan sering mengkhawatirkan konsekuensi hingga takut akan kehilangan pekerjaan.

Berikut dampak kesehatan mental akibat fear-based culture:

  • Karyawan tidak berani untuk mengatakan yang sebenarnya atau tidak berani melaporkan adanya tindakan bullying, pelecehan, dan perilaku buruk yang dialami.
  • Rela melakukan apapun untuk menenangkan atasan dan berusaha keras menghindari kesalahan.

Baca Juga: Depersonalisasi, Gangguan Kesehatan Mental Seolah Tubuh Terpisah dari Jiwa

4. Abusive Culture

Melansir dari Harvard Business Review, jutaan orang menghadapi bullying dan sifat abusive di tempat kerja.

Karyawan yang dianggap lemah kerap menjadi sasaran ejekan, ancaman, hingga komentar merendahkan lainnya.

Akibatnya, karyawan tersebut mengalami penurunan performa, produktivitas yang terganggu, hingga menyebabkan gangguan mental.

Suasana kerja yang abusive berdampak negatif dalam kesuksesan tim dalam suatu perusahaan.

Bahkan setiap karyawannya cenderung tidak saling membantu dan mendukung satu sama lain.

Dampak lainnya dari abusive culture adalah:

  • Lelah secara emosional.
  • Kesejahteraan karyawan yang lebih rendah.
  • Meningkatkan konflik di rumah atau konflik rumah-pekerjaan.

5. Blame Culture

Blame culture adalah budaya saling menyalahkan ketika terdapat masalah di dalam tim.

Toxic culture jenis ini adalah bentuk serangan yang akhirnya membuat orang yang disalahkan tidak memiliki tenaga ataupun kesempatan untuk membela diri.

Kondisi ini cenderung membuat karyawan cenderung menutupi kesalahannya karena takut akan terus disalahkan ke depannya.

Alih-alih menyalahkan orang lain, fokus dengan solusi atau apa yang bisa diubah dan mengatur mindset bahwa semua adalah tahap pembelajaran bisa menjadi solusi untuk keluar dari blame culture.

Dampak dari blame culture adalah:

  • Berisiko pada pembubaran tim.
  • Berisiko pada kekerasan fisik.
  • Tidak mampu memecahkan masalah tim karena terlalu fokus pada menyalahkan orang lain.

6. Dictatorial Culture

Dictatorial culture adalah kondisi adanya kontrol atau penguasa penuh dari perusahaan atau dari atasan.

Karyawan yang dipimpin oleh diktator, berdampak negatif pada kinerja tim. Bahkan diktator dianggap sebagai masalah kepribadian.

Dictatorial culture akan membuat karyawan merasa tidak aman hingga mendapatkan tekanan yang luar biasa.

Atasan atau perusahaan yang diktator dianggap tidak memiliki kepedulian terhadap karyawannya.

Toxic Culture di Lingkungan Kerja

Foto: Toxic Culture di Lingkungan Kerja (Orami Photo Stock)

Fear Based, Abusive, Blame, Dictatorial Culture

Foto: Fear Based, Abusive, Blame, Dictatorial Culture (Orami Photo Stock)

Baca Juga: 4 Penyebab Mental Breakdown dan Cara Mengatasinya, Banyak Dialami Karena Tekanan Pekerjaan!

Pelayanan Kesehatan Mental di Indonesia

Ilustrasi Konseling

Foto: Ilustrasi Konseling (Orami Photo Stock)

Masalah kesehatan mental di Indonesia masih terbilang cukup serius. Hal ini diperburuk karena stigma.

Tapi, di luar stigma, pelayanan kesehatan mental di Indonesia terbilang belum cukup tersebar hingga ke daerah-daerah.

Hal ini juga yang menyebabkan banyak orang dengan gangguan jiwa tidak mendapatkan penanganan tepat mengenai masalah mental.

Bahkan, menurut informasi yang dibuat oleh Universitas Gadjah Mada dalam artikel bertajuk Minim Psikolog, Ribuan Penderita Gangguan Jiwa Belum Tertangani, kesenjangan pengobatan gangguan jiwa di Indonesia mencapai 90%.

Artinya, kurang dari 10% orang dengan gangguan jiwa mendapatkan layanan pengobatan oleh petugas kesehatan.

Masalah ini terjadi karena kurangnya tenaga medis yang menangani masalah kejiwaan di Indonesia.

Minimnya tenaga profesional yang ada di Indonesia ini, mengakibatkan terhambatnya upaya pencegahan dan penanganan terkait masalah mental.

Mengutip dari Data Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia, terdapat penambahan sebesar 353 psikolog baru di Indonesia di 2022.

Sedangkan, anggota baru di tahun lalu sebesar 580. Dengan angka tersebut, kini Indonesia tercatat memiliki total 3.375 tenaga psikolog yang tersebar di 34 provinsi.

Tapi, dengan angka tersebut ternyata Indonesia masih kekurangan tenaga psikolog.

Lalu, apa saja yang sudah pemerintah lakukan dalam menyikapi masalah kesehatan mental di Indonesia?

Melansir dari Sehat Negeriku oleh Kementerian Kesehatan, pemerintah sudah mengupayakan beberapa hal berikut.

  • Menerapkan sistem pelayanan kesehatan jiwa yang komprehensif dan berkesinambungan di masyarakat.
  • Menyediakan sarana, prasarana, dan sumber daya yang diperlukan untuk pelayanan kesehatan jiwa di seluruh Indonesia termasuk, obat, alat kesehatan, tenaga kesehatan dan non-kesehatan terlatih.
  • Menggerakan masyarakat untuk melakukan upaya preventif hingga deteksi dini gangguan jiwa.

Masih melansir dari Sehat Negeriku, pemerintah mengatakan keberhasilan akan upaya-upaya di atas ditentukan oleh kepedulian keluarga dan masyarakat sekitar.

Baca Juga: Kenali Claustrophobia atau Fobia akan Ruang Sempit dan Gelap

Meningkatkan Kesadaran Masyarakat Melalui Komunitas atau Gerakan yang Peduli Kesehatan Mental

Ada beberapa upaya yang dilakukan masyarakat dalam membuat komunitas atau gerakan yang bertujuan untuk meningkatkan kepedulian akan masalah kesehatan mental.

Berikut beberapa komunitas yang memiliki beragam program untuk kesehatan mental yang lebih baik:

1. Social Connect

Sepriandi, Founder dan CEO Social Connect

Foto: Sepriandi, Founder dan CEO Social Connect (Dok.pribadi)

Berdiri sejak tahun 2019, Social Connect selaku komunitas kesehatan mental terbesar di Indonesia ikut berperan andil untuk masyarakat.

Ini merupakan sebuah platform online yang bergerak dalam pengelolaan konten dan edukasi terkait isu kesehatan mental di Indonesia.

“Berawal dari keresahan pribadi, kemudian ada keinginan untuk membuat grup kecil di WA untuk bisa berbagi antar individu,” tukas Sepriandi, Founder & CEO of Social Connect.

Seiring berjalannya waktu, saat ini Social Connect telah menjalankan kampanye online #Selflove yang telah diikuti lebih dari 5.000 peserta.

Beberapa program sosial yang dijalankan komunitas ini untuk mengatasi isu terkait kesehatan mental adalah:

  • Webinar kesehatan mental.
  • Penyuluhan dan edukasi kesehatan mental berbasis pakar atau psikolog.
  • Komunitas untuk berbagi pengalaman.

Kehadiran kampanye ini turut mendukung pentingnya akan kesadaran isu penyakit mental di tengah masyarakat.

Istilah buzz word yang muncul era sosial media, salah satu yang menggerakkan platform edukasi ini untuk meluruskan istilah yang kerap disalahartikan tersebut.

“Saat ini banyak istilah mental health di masyarakat yang dikaitkan dengan beberapa aspek yang tidak berkesinambungan,” terang Andi.

Akibatnya, banyak stigma yang salah untuk mengartikan makna yang sebenarnya dari kesehatan mental itu sendiri.

Instagram: Socialconnect.id

Website: Socialconnect.id

Baca Juga: 11 Rekomendasi Psikolog Bandung dan Rentang Biaya Konsultasinya

2. Bicarakan.id

Andreas Handani, CEO & Co-founder Bicarakan.id

Foto: Andreas Handani, CEO & Co-founder Bicarakan.id (Dok.pribadi)

Sementara itu, kehadiran platform konseling Bicarakan.id sejak 2020, turut memberikan solusi lain untuk mengatasi stigma negatif di masyarakat.

Bicarakan.id adalah sebuah aplikasi online yang menyediakan layanan konseling dengan psikolog profesional dari berbagai aspek permasalahan.

Selain online, konseling ini juga dapat diakses melalui tatap muka di Rumah Bicara yang berlokasi di daerah Jakarta Barat.

“Adanya konseling ini tujuannya adalah untuk mensejahterakan masyarakat.

Artinya, penting untuk setiap individu mengenali diri sendiri dengan bantuan profesional,” jelas Andreas Handani, CEO & Co-Founder Bicarakan.id.

Beberapa layanan konseling isu kesehatan mental yang dibincangkan di platform konseling ini seperti:

  • Kecemasan
  • Gangguan mood
  • Konflik keluarga
  • Karier & pekerjaan
  • Gangguan kepribadian dan lain-lain

Hingga kini, platform konseling ini telah ditenagai lebih dari 25 psikolog aktif serta 15 ribu "pembicara" atau mereka yang pernah melakukan konseling di Bicarakan.id.

Menjalankan moto #AngkatBicara jadi salah satu perhatian yang perlu dipahami bagi mereka yang membutuhkan konseling dan bantuan.

Menurut Andre, penting untuk bertanya ke psikolog terkait isu kesehatan mental yang selalu berulang atau berpola tanpa adanya solusi yang tepat.

Instagram: @bicarakan.indonesia

Youtube: Bicarakan ID

3. KALM

Wenny Aidina, Kalmselor

Foto: Wenny Aidina, Kalmselor (Dok.pribadi)

KALM merupakan platform konseling online berbasis aplikasi yang sudah berdiri sejak 2017.

Dalam tahap pembuatan aplikasi, pertama-tama, KALM meluncurkan aplikasi untuk KALMselor (sebutan bagi psikolog dan konselor di KALM).

Baru selanjutnya di Oktober 2018 KALM membentuk aplikasi untuk pengguna.

Menurut Wenny Aidina, Psikologi Klinis & Koordinator KALMselor, salah satu alasan dibentuknya layanan konseling online, KALM adalah untuk bisa terhubung dengan banyak pengguna tanpa terhalang dengan jarak dan waktu.

Kemudian, secara profesional dibentuknya KALM untuk lebih banyak mendapatkan klien kalau dari sisi KALMselor-nya.

"Jadi, karena ingin meminimalisir jarak, waktu, dan hal lainnya, kita mengembangkan aplikasi ini.

Dari segi tempat, kita juga tidak membutuhkan modal yang terlalu besar, apalagi untuk mendirikan bangunan.

Kalau konseling tatap muka paling tidak kita harus ada ruangan. Sedangkan dengan adanya aplikasi, jauh lebih terjangkau untuk kita bisa memberikan layanan,” jelas Wenny Aidina.

Selain memberikan layanan konseling online, tujuan dibentuknya KALM lainnya untuk bisa mengedukasi tentang kesehatan mental.

Secara keseluruhan, program yang ada di KALM adalah sebagai berikut:

  • Konseling online
  • Edukasi (melalui Instagram, Twitter, Discord, dan lain-lain)
  • Gratitude Journal (ada di dalam aplikasi)
  • Self KALM (audio untuk relaksasi)

Sebagai informasi, gratitude journal yang terdapat di dalam aplikasi berfungsi untuk emosional tracker guna mengetahui perasaan atau emosi yang dirasakan setiap harinya.

Instagram: @get.kalm

Youtube: KALM

Sebagai upaya tambahan, Kominfo Indonesia saat ini telah mendukung layanan Konseling Sejiwa yang dapat diakses melalui nomor hotline 119.

Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental adalah tanggung jawab masyarakat, pemerintah, dan setiap individu itu sendiri.

Yuk, peringati Hari Kesehatan Mental Sedunia dengan lebih sadar, lebih peduli terhadap kesehatan mental diri kita sendiri, serta hentikan stigma negatif di masa kini, dan masa yang akan datang!


Ditulis oleh:

  • Dresyamaya Fiona
  • Chrismonica

Disunting oleh:

  • Aprillia Ramadhina
  • Widya Citra Andini

Ilustrasi oleh:

  • Achyadi

  • https://publichealth.jhu.edu/departments/mental-health/about/origins-of-mental-health
  • https://wfmh.global/who-we-are/about-us
  • https://www.who.int/campaigns/world-mental-health-day/2022
  • https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/servicesandsupport/types-of-mental-health-issues-and-illnesses
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6428171/
  • https://kebijakankesehatanindonesia.net/31-berita/berita-internasional/3021-world-mental-health-day-what-is-it-and-why-is-it-important#:~:text=Every%20October%2010%20is%20World,effects%20on%20people's%20lives%20worldwide.
  • https://www.nami.org/NAMI/media/NAMI-Media/Infographics/GeneralMHFacts.pdf
  • https://www.mentalhealth.org.uk/explore-mental-health/statistics
  • https://pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/InfoDatin-Kesehatan-Jiwa.pdf
  • https://cdn.who.int/media/docs/default-source/mental-health/mental-health-atlas-2017-country-profiles/idn.pdf?sfvrsn=6374858b_1&download=true
  • https://rsjd-surakarta.jatengprov.go.id/wp-content/uploads/2021/07/Artikel-web-RSJ-Dahsyatnya-pengaruh-stigma-untuk-kesehatan-mental.pdf
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/coronavirus/in-depth/mental-health-covid-19/art-20482731
  • https://www.seributujuan.id/id/stigma-dan-kesehatan-mental
  • https://bpjs-kesehatan.go.id/bpjs/post/read/2022/2161/Gangguan-Kejiwaan-Dijamin-BPJS-Kesehatan
  • https://www.kominfo.go.id/content/detail/26186/kominfo-dukung-layanan-konseling-sejiwa/0/sorotan_media
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/mental-illness/in-depth/mental-health/art-20046477
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/28188369/
  • https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0165178120301682?dgcid=raven_sd_via_email
  • https://www.psychiatry.org/patients-families/stigma-and-discrimination
  • https://www.who.int/teams/mental-health-and-substance-use/promotion-prevention/mental-health-in-the-workplace
  • https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0160412021002208
  • https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-shameless-psychiatrist/202107/why-we-need-address-hustle-culture
  • https://www.bloomberg.com/news/articles/2022-09-02/quiet-quitting-backlash-spotlights-bosses-quiet-firing-employees
  • https://metro.co.uk/2022/09/01/quiet-quitting-is-getting-attention-but-what-about-quiet-firing-17282074/
  • https://www.forbes.com/sites/heidilynnekurter/2021/11/30/is-your-workplace-dysfunctional-here-are-the-5-types-of-toxic-cultures/?sh=37e1d6b12af4
  • https://data.ipkindonesia.or.id/
  • https://www.ugm.ac.id/id/berita/9715-minim-psikolog-ribuan-penderita-gangguan-jiwa-belum-tertangani
  • https://hbr.org/2021/10/its-a-new-era-for-mental-health-at-work
  • https://humanrights.gov.au/our-work/1-mental-health-workplace