Kesehatan

19 September 2021

Gangguan Depresi Mayor, Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

Tanda-tanda depresi bisa dikenal dari tingkah dan sikap kita sehari-hari
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Floria Zulvi
Disunting oleh Widya Citra Andini

Gangguan depresi mayor merupakan satu hal yang lekat di telinga dan mungkin terjadi pada orang-orang di sekitar kita.

Dilansir dari laman American Psychiatric Association, depresi (gangguan depresi mayor) adalah penyakit medis umum dan serius yang memengaruhi secara negatif perasaan kita, cara berpikir, dan perilaku serta tindakan kita.

"Ketika kita terkadang merasa sedih, depresi adalah perasaan putus asa yang meresap secara konsisten, serta merasa rendah diri," jelas Victoria Fisher, psikoterapis dan pekerja sosial klinis berlisensi dengan pengalaman mendiagnosis depresi.

Baca Juga: Suami Mengalami Depresi? Kenali Tanda-tandanya!

Gangguan depresi mayor menyebabkan kita kehilangan minat pada aktivitas yang pernah kita lakukan atau sukai.

Hal ini tentu berbahaya karena dapat menyebabkan berbagai masalah emosional dan fisik, serta dapat menurunkan kemampuan seseorang untuk berfungsi di tempat kerja dan di rumah secara efektif.

Menurut data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), 7,6 persen orang di atas usia 12 mengalami depresi dalam periode 2 minggu.

Sedangkan menurut World Health Organization (WHO), depresi adalah penyakit paling umum di seluruh dunia dan penyebab utama kecacatan.

Mereka memperkirakan bahwa 350 juta orang terkena depresi, secara global.

Lalu, bagaimana cara mengatasi dan mencegah terjadinya gangguan depresi mayor? Simak penjelasannya di bawah ini.

Penyebab Gangguan Depresi Mayor

gangguan depresi mayor

Foto: Orami Photo Stock

Tidak diketahui dengan pasti sebenarnya apa yang menyebabkan gangguan depresi mayor.

Seperti halnya banyak gangguan mental lainnya, berbagai faktor bisa jadi penyebabnya, seperti beberapa di bawah ini.

Baca Juga: 4 Dampak Perceraian Pada Anak, Salah Satunya Gangguan Mental

1. Perbedaan Biologis

Orang yang menderita gangguan depresi mayor tampaknya memiliki perubahan fisik di otak mereka.

Signifikansi dari perubahan ini masih belum pasti, tetapi pada akhirnya dapat membantu menentukan penyebabnya.

2. Bahan Kimia Otak

Neurotransmitter adalah bahan kimia otak yang muncul secara alami, dan kemungkinan berperan dalam gangguan depresi mayor.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa perubahan fungsi dan efek neurotransmiter ini berperan dalam menjaga stabilitas suasana hati.

Pada akhirnya, ini dapat memainkan peran penting dalam depresi dan perawatannya.

3. Hormon

Perubahan keseimbangan hormon tubuh juga bisa menyebabkan dan memicu gangguan depresi mayor.

Perubahan hormon dapat terjadi dalam kehamilan dan beberapa minggu atau bulan setelah melahirkan (postpartum) dan dari masalah tiroid, menopause, atau sejumlah kondisi lainnya.

4. Sifat Bawaan

Gangguan depresi mayor lebih sering terjadi pada orang yang kerabat darahnya juga mengalami kondisi ini.

Para peneliti mencoba menemukan gen yang mungkin terlibat dalam menyebabkan depresi.

Baca Juga: Moms, Kenali Lebih Dekat 6 Gejala Depresi Pada Anak

Tanda dan Gejala Depresi

tanda depresi

Foto: Orami Photo Stock

Banyak dari gejala gangguan depresi mayor yang terlihat sama, atau setidaknya sangat mirip.

Dengan mengenali gejala depresi ini, akan sangat membantu kita untuk bisa segera mengatasinya.

"Melihat tanda-tanda peringatan dini dari depresi memungkinkan kita menghadapinya secara langsung dengan mencari pengobatan atau dukungan untuk membuat kita pulih," kata Victoria Fisher.

Berikut ini tanda dan gejala gangguan depresi mayor yang bisa kita temukan.

1. Waktu Tidur Jadi Terganggu

Perubahan waktu tidur adalah gejala pertama yang mungkin bisa diperhatikan ketika berhadapan dengan gangguan depresi mayor.

"Beberapa orang mengalami kesulitan tidur atau mungkin terbangun sangat pagi," ujar Pooja Lakshmin, psikiater bersertifikat yang berspesialisasi dalam kesehatan mental wanita dan psikiatri perinatal.

Sementara tanda lainnya, bisa tertidur dengan baik, tetapi bangun sepanjang malam dan tidak merasa tidak mendapatkan istirahat yang cukup di pagi hari.

Baca Juga: 5 Cara Ampuh Agar Balita Mau Tidur Siang

2. Tidak Punya Motivasi

"Salah satu tanda gangguan depresi mayor yang jelas adalah tidak lagi menikmati hal-hal yang pernah kita nikmati," jelas Marianna Strongin, pendiri Strong In Therapy. Menurutnya kita akan merasa kurang motivasi.

Misalnya dulunya suka membaca, tapi sekarang tidak ingin membaca lagi, meskipun ada setumpuk buku bagus di samping tempat tidur.

Atau tidak ingin bertemu dengan teman, meskipun mereka mengajak jalan-jalan.

3. Merasa Tidak Nyaman dengan Hal-Hal Kecil

Kecelakaan di tempat kerja, kemacetan lalu lintas, kehilangan kunci atau lupa menaruh sesuatu, hal-hal ini mungkin akan terasa mengganggu, tetapi tidak sampai menimbulkan rasa putus asa.

“Namun, jika gangguan depresi mayor mulai muncul, kita mungkin "mulai percaya bahwa tidak ada yang akan lebih baik atau berubah," jelas Sheila Tucker, terapis asosiasi perkawinan dan keluarga dan pemilik Heart Mind & Soul Counseling.

4. Semua Terasa Sulit Dilakukan

Perasaan yang terjadi pada gangguan depresi mayor dapat membuat segalanya terasa sulit, mulai dari bangun, untuk mandi atau menyikat gigi, pergi bekerja, untuk mengirim pesan teks ke teman, hingga memasak makan malam. Semuanya akan terasa sulit untuk dilakukan.

Baca Juga: Begini 4 Cara Memotivasi Anak Agar Selalu Semangat

5. Kehilangan Nafsu Makan

Meskipun mungkin terdengar tidak berkaitan dengan gangguan depresi mayor, perhatikan sedikit perubahan pada kita, seperti kurangnya nafsu makan, meskipun dihadapkan dengan makanan favorit kita.

"Depresi dapat menyebabkan perubahan besar dalam nafsu makan," kata Pooja Lakshmin.

Kita akan merasa tidak peduli dengan apa yang dimakan, meskipun kita termasuk suka makan.

6. Tidak Sabaran

Gangguan depresi mayor membuat keadaan kita terkuras secara emosional, dan sejak awal, kita mungkin menunjukkan tanda-tanda penurunan cadangan emosional, sehingga kehilangan kesabaran.

Kita bisa membentak rekan kerja atau merasa tidak sabar dengan anggota keluarga. Mungkin lebih banyak berdebat dengan pasangan.

Tanda lainnya seperti merasa sering panik dan khawatir, tidak peduli keadaan sekitar dan lebih sering menyendiri.

Faktor-Faktor Risiko Depresi

depresi

Foto: Orami Photo Stock

Gangguan depresi mayor dapat memengaruhi siapa pun, bahkan orang yang tampaknya hidup dalam keadaan yang relatif ideal dan baik-baik saja.

Beberapa faktor dapat berperan dalam depresi:

  • Biokimia: perbedaan bahan kimia tertentu di otak dapat berkontribusi pada gejala depresi.
  • Genetika: depresi dapat terjadi dalam keluarga. Sebagai contoh, jika satu kembar identik mengalami depresi, yang lain memiliki kemungkinan 70 persen untuk menderita suatu penyakit dalam kehidupan.
  • Kepribadian: orang-orang yang kurang percaya diri, yang mudah diliputi oleh stres, atau yang umumnya pesimistis tampaknya lebih mungkin mengalami depresi.
  • Faktor lingkungan: paparan terus menerus terhadap kekerasan, pengabaian, pelecehan atau kemiskinan dapat membuat beberapa orang lebih rentan terhadap depresi.

Baca Juga: 3 Tahapan Kondisi Kesehatan Mental Saat Pandemi COVID-19, Wajib Tahu!

Mengatasi Gangguan Depresi Mayor

depresi

Foto: Orami Photo Stock

Jangan khawatir Moms, gangguan depresi mayor merupakan salah satu gangguan mental yang dapat diobati.

Antara 80 persen dan 90 persen penderita depresi akhirnya merespons pengobatan dengan baik.

Sebelum diagnosis atau perawatan, harus dilakukan evaluasi diagnostik menyeluruh, termasuk wawancara dan mungkin pemeriksaan fisik.

Dalam beberapa kasus, tes darah mungkin dilakukan untuk memastikan depresi bukan karena kondisi medis seperti masalah tiroid.

Hal ini dilakukan untuk mengidentifikasi gejala spesifik, riwayat medis dan keluarga, faktor budaya dan faktor lingkungan untuk sampai pada diagnosis dan merencanakan tindakan penanganan.

Dilansir dari jurnal National Institute of Mental Health, ada beberapa cara untuk mengatasi gangguan depresi mayor, seperti di bawah ini.

1. Obat

Antidepresan adalah obat yang bisa mengatasi gangguan depresi mayor.

Jenis obat ini dapat membantu meningkatkan cara otak menggunakan bahan kimia tertentu, lalu mengendalikan suasana hati atau stres.

Antidepresan biasanya memerlukan waktu 2 hingga 4 minggu untuk bekerja.

Sering kali, gejala-gejala seperti masalah tidur, nafsu makan, dan konsentrasi meningkat sebelum suasana hati yang membaik.

2. Psikoterapi

Beberapa jenis psikoterapi (juga disebut "terapi bicara" atau, dalam bentuk yang kurang spesifik, konseling) dapat membantu penderita gangguan depresi mayor.

Contoh pendekatan berbasis bukti khusus untuk pengobatan depresi termasuk terapi kognitif-perilaku (CBT), terapi interpersonal (IPT), dan terapi pemecahan masalah.

Baca Juga: Gejala Depresi dan Kelelahan Hampir Sama, Ini Cara Bedakannya

3. Terapi Stimulasi Otak

Jika obat tidak mengurangi gejala gangguan depresi mayor, terapi electroconvulsive (ECT) dapat menjadi pilihan untuk mengeksplorasi.

Berdasarkan penelitian terbaru, ECT dapat memberikan kelegaan bagi orang dengan depresi berat yang belum dapat merasa lebih baik dengan perawatan lain.

Terapi electroconvulsive dapat menjadi pengobatan yang efektif untuk depresi.

Dalam beberapa kasus parah di mana respon cepat diperlukan atau obat tidak dapat digunakan dengan aman, ECT bahkan dapat menjadi intervensi lini pertama.

Setelah prosedur rawat inap yang ketat, ECT hari ini sering dilakukan berdasarkan rawat jalan.

Perawatan terdiri dari serangkaian sesi, biasanya tiga kali seminggu, selama dua hingga empat minggu.

ECT dapat menyebabkan beberapa efek samping, termasuk kebingungan, disorientasi, dan kehilangan memori.

Biasanya efek samping ini bersifat jangka pendek, tetapi kadang-kadang masalah memori dapat bertahan lama, terutama selama masa perawatan.

Metode ECT ini tidak menyakitkan, dan kita tidak akan merasakan impuls listrik. Sebelum ECT dimulai, pasien diberikan anestesi singkat dan diberikan pelemas otot.

Dalam satu jam setelah sesi perawatan, yang hanya membutuhkan beberapa menit, pasien akan sadar kembali.

4. Pengobatan Sederhana

Berikut adalah tips lain yang dapat membantu kita atau orang yang kita cintai selama perawatan untuk gangguan depresi mayor:

  • Cobalah untuk aktif dan berolahraga.
  • Tetapkan tujuan realistis untuk diri sendiri.
  • Cobalah untuk menghabiskan waktu bersama orang lain dan curhat pada teman atau kerabat yang tepercaya.
  • Cobalah untuk tidak mengisolasi diri sendiri, dan biarkan orang lain membantu.
  • Harapkan suasana hati meningkat secara bertahap, tidak langsung.
  • Tunda keputusan penting, seperti menikah atau bercerai, atau berganti pekerjaan sampai merasa lebih baik.
  • Diskusikan keputusan dengan orang lain yang mengenal kita dengan baik dan memiliki pandangan yang lebih objektif tentang situasi yang ada
  • Terus mendidik diri sendiri tentang depresi.

Membekali diri kita dengan semua informasi mengenai depresi ini dapat membantu kita dan orang-orang di sekitar kita untuk terhindar dari depresi atau sembuh dari gangguan depresi mayor.

Jenis-Jenis Depresi

gangguan depresi

Foto: Orami Photo Stock

Seperti yang sudah diketahui, depresi adalah gangguan mood atau suasana hati yang memengaruhi rutinitas harian. Jika tidak segera diatasi, hal ini sangat mengganggu keseharian.

Ketika tak segera diobati, si penderita bisa mengalami kehampaan dan kehilangan minat.

Bunuh diri pun bisa menjadi hal yang dilakukan orang yang mengidap kondisi ini.

Nah, berikut adalah jenis depresi yang perlu diketahui selai gangguan depresi mayor.

1. Depresi Pasca Melahirkan

Tidak semua ibu baik-baik saja karena anak yang selama ini ia dambakan lahir ke dunia, Moms. Ternyata, ada depresi yang diidap pasca melahirkan.

Biasnya depresi pasca melahirkan disebut dengan postpartum depression. Pada umumnya muncul 1 hingga 4 minggu usai seorang ibu melahirkan anak.

Baca Juga: 4 Hal Penting untuk Bertahan Menghadapi Depresi Pascapersalinan

Gejala yang dihadapi mirip dengan depresi pada umumnya. Namun, berbeda dengan sindrom baby blues yang bisa hilang sendiri.

Nah, depresi pasca melahirkan ini akan membutuhkan terapi agar bisa hilang. Bukan hanya ibu, ayah juga bisa mengalami kondisi depresi pasca melahirkan.

Berbeda dengan gangguan depresi mayor, ternyata depresi memiliki beragam jenisnya lho, Moms!

2. Gangguan Depresi Musiman

Gejala depresi ini hampir mirip dengan gangguan depresi mayor. Bedanya, gejala depresi musiman bisa berubah sesuai pola musim alias musiman.

Biasnya depresi ini muncul saat musim salju dan atau gugur namun hilang dan si penderita kembali normal pada musim lainnya.

Mungkin Moms sedikit heran dengan jenis depresi ini. Ya, berbeda dengan gangguan depresi mayor, penderita jenis depresi ini memang jarang sekali terjadi di Indonesia.

Biasanya gangguan depresi musiman biasa diidap oleh masyarakat yang tinggal di negara 4 musim.

3. Bipolar

Selain gangguan depresi mayor, ada pula jenis depresi yang bernama bipolar.

Sesuai dengan namanya, bipolar memiliki arti dua kutub yang saling bertolak belakang yakni mood manik dan depresi.

Ketika mengalami mood manik, penderita bipolar biasanya akan mengalami peningkatan suasana hati yang sangat baik.

Nah, hal yang dirasakan dan gejalanya adalah peningkatan suasana hati, banyak bicara, euforia, rasa percaya diri yang meningkat, kesulitan tidur karena terlalu senang, banyak energi.

Meski terdengar positif karena perasaan bahagia, namun seminggu kemudian mood-nya bisa turun dan mengalami kondisi yang depresif.

Nah ketika hal ini terjad, gejalanya mirip dengan gangguan depresi mayor.

Jika penderita mengalami gejala gangguan depresi mayor dan manik baik dalam waktu yang bergantian, atau bercampur secara terus menerus dan hilang timbul dalam waktu minimal dua tahun, orang tersebut bisa disebut memiliki gangguan siklotimia.

Baca Juga: Ketahui Masalah Bipolar dan Depresi Anak dari Giginya

Jika Moms atau keluarga terdekat memiliki gejala depresi mayor seperti yang sudah disebutkan, jangan ragu untuk segera ke psikolog atau pskiater ya!

  • https://www.psychiatry.org/patients-families/depression/what-is-depression
  • https://www.cdc.gov/nchs/fastats/depression.htm
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait