Kesehatan

1 Juni 2020

Mengenal Toxic Positivity yang Buruk Bagi Kesehatan Mental

Kebiasaan selalu berpikir positif dan mengabaikan emosi negatif tidak baik untuk kesehatan mental
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Sabrina
Disunting oleh Intan Aprilia

Toxic positivity atau positif beracun adalah kondisi bahwa kita harus fokus pada emosi positif dan aspek positif kehidupan.

Karena, orang akan merasa bahagia bila mengabaikan emosi negatif dan bagian hidup yang tidak berfungsi baik.

Sayangnya dilansir oleh New Port Academy, cara berpikir ini justru bisa merusak kesehatan mental. Ketika kita hanya berfokus pada hal positif, kita tidak belajar cara menghadapi emosi negatif.

Oleh sebab itu, toxic positivity atau pikiran positif yang beracun bisa menyebabkan anak remaja dan dewasa muda untuk memahami diri mereka dengan lebih baik dan menerima apa pun yang terjadi di dalam dirinya.

Hal itu termasuk perasaan tidak menyenangkan seperti kesedihan, kemarahan, ketakutan dan kecemburuan. Padahal semua orang memiliki emosi positif dan negatif.

Baca Juga: 5 Cara Memutuskan Warisan Emosi Negatif saat Hamil

Sehingga mengabaikan emosi negatif justru akan membuat perasaan lebih buruk daripada menghadapinya langsung.

Di sisi lain, penelitian menunjukkan bahwa orang yang tidak mengabaikan emosi negatifnya akan lebih mudah beradaptasi dan memiliki kesehatan mental yang lebih baik.

Tanda Toxic Positivity

Toxic Positivity - tanda.jpg

Foto: shutterstock.com

Ada beberapa hal yang bisa membantu Moms untuk mengenali toxic positivity dalam kehidupan sehari-hari seperti yang dilansir oleh The Psychology Group, antara lain:

  1. Menyembunyikan atau menutupi perasaan yang sebenarnya.
  2. Mencoba mengabaikan emosi negatif.
  3. Merasa bersalah ketika memiliki perasaan atau emosi negatif.
  4. Menyepelekan pengalaman buruk orang lain.
  5. Mempermalukan atau menghukum orang lain karena mengekspresikan frustrasi, putus asa, dan bentuk emosi negatif lainnya.

Baca Juga: 5 Tanda Toxic Parent yang Kerap Tak Disadari

Emosi Negatif Bukan Sesuatu yang Buruk

Toxic Positivity - emosi negatif.jpg

Foto: shutterstock.com

Emosi negatif sering digambarkan sebagai hal buruk, berbeda dengan emosi positif yang menggambarkan suka cita, kebanggaan, dan cinta.

Tetapi, emosi negatif ini dapat memberikan informasi penting tentang kondisi sesungguhnya dan cara mengontrolnya.

Contohnya, Moms merasa kesal setiap kali mengerjakan satu hal. Perasaan itu menandakan bahwa Moms tidak menyukai pekerjaan itu.

Sehingga Moms perlu mencari aktivitas lain yang lebih disukai daripada mencoba memaksakan diri dengan berpikir positif.

Selain itu, emosi negatif dapat membantu mengidentifikasi pemicu trauma.

Jika situasi tertentu memicu ketakutan dan kecemasan, artinya perasaan itu mengungkap dan memproses pengalaman traumatis di masa lalu.

Baca Juga: Efek Mengejutkan Trauma Emosional pada Anak

Cara Mengatasi Toxic Positivity

Toxic Positivity - cara mengatasi.jpg

Foto: shutterstock.com

Berusaha menghadapi emosi negatif bisa membantu mengatasi dan mengurangi stres.

Dilansir dari Psychology Today, caranya adalah dengan memikirkan rasanya ketika Moms mencoba melepaskan atau tidak mengabaikan emosi negatif yang selama ini dipendam.

Moms mungkin akan merasa lebih ringan bebannya dan terasa lega di dada, dibandingkan harus berpura-pura baik terus-menerus.

Cobalah untuk tidak melihat emosi dari baik dan buruknya. Tanamkan di kepala bahwa emosi negatif bisa menjadi pendoman yang membantu kita memahami banyak hal.

Jika Moms merasa sedih meninggalkan pekerjaan, artinya Moms sangat menyukainya atau pengalaman itu bermakna.

Emosi negatif dan positif yang datang lalu pergi bergantian ini bisa membantu kita memahami diri sendiri dan orang-orang di sekitar.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait