Scroll untuk melanjutkan membaca

KESEHATAN UMUM
18 Januari 2023

Kenali Gejala Alergi Ikan dan Beragam Jenis Obat untuk Mengatasinya

Alergi ikan adalah kondisi yang tidak bisa dianggap sepele
Kenali Gejala Alergi Ikan dan Beragam Jenis Obat untuk Mengatasinya

Alergi ikan merupakan salah satu alergi makanan yang paling umum.

Sebuah penelitian mengatakan bahwa salmon, tuna, dan lele adalah jenis ikan yang paling sering menyebabkan reaksi alergi.

Alergi ikan tidak seperti alergi makanan lainnya yang bisa diketahui sejak kecil. Umumnya, alergi ikan diketahui saat dewasa.

Melansir Current Allergy and Asthma Reports, sebanyak 40 persen orang yang melaporkan alergi ikan tidak memiliki masalah mengonsumsi ikan sebelumnya.

Jika Moms memiliki alergi ikan bukan berarti juga akan alergi makanan laut. Makanan laut termasuk ikan laut dan kerang.

Meskipun keduanya termasuk dalam kategori "makanan laut", ikan dan kerang secara biologis berbeda.

Reaksi alergi ikan dapat terjadi setelah beberapa jam mengonsumsinya, tetapi Moms juga dapat mengalami gejala hanya dengan menyentuh atau menghirup asap ikan.

Baca Juga: Patut untuk Diikuti, Ini 5 Cara Mengetahui Risiko Alergi pada Bayi

Ciri dan Gejala Alergi Ikan

Sistem kekebalan setiap orang berbeda sehingga alergi ikan dapat menyebabkan gejala yang beragam, mulai dari ringan hingga parah.

Beberapa kasus, orang yang mengalami alergi ikan tidak menunjukkan gejala yang parah, tetapi sebagian orang memiliki gejala hingga dapat mengancam nyawa.

Gejala alergi ringan yang dapat terjadi sebelum reaksi alergi parah meliputi:

1. Gatal

Gatal Akibat Alergi Ikan (Orami Photo Stocks)

Foto: Gatal Akibat Alergi Ikan (Orami Photo Stocks)

Ciri-ciri ini biasanya disertai benjolan, ruam kulit, perih, dan kulit menjadi merah.

Seringkali gatal dapat menyebar ke seluruh tubuh. Jika mengalami ciri-ciri ini, Moms bisa menggunakan obat atau bedak gatal.

Ingat ya Moms, untuk tidak menggaruk karena akan menyebabkan infeksi dan berbekas pada kulit.

2. Bersin

Bersin Akibat Alergi Ikan (Orami Photo Stocks)

Foto: Bersin Akibat Alergi Ikan (Orami Photo Stocks)

Gejala alergi ikan yang selanjutnya adalah bersin-bersin.

Umumnya, bersin dapat muncul karena alergi bulu hewan atau debu. Faktanya, alergi ikan juga bisa menyebabkan Moms bersin-bersin.

Jika sudah terlalu parah, bersin akan disertai sesak napas.

Nah, jika sudah disertai sesak, ada baiknya Moms segera pergi ke dokter, ya.

3. Kesulitan Bernapas

Sesak Napa Akibat Alergi Ikan (Orami Photo Stocks)

Foto: Sesak Napa Akibat Alergi Ikan (Orami Photo Stocks) (Orami Photo Stock)

Kesulitan bernapas juga bisa dialami oleh seseorang akibat alergi. Apabila Moms menderita asma biasanya akan kambuh.

Pada ciri ini, Moms akan terasa seperti tenggorokan menutup, kesemutan, dan sulit bernapas.

Untuk penangan pertama, Moms harus tenang dan atur napas. Jika menderita asma, Moms bisa gunakan inhaler.

4. Anafilaksis

Wajah Bengkak Akibat Alergi

Foto: Wajah Bengkak Akibat Alergi (medicalnewstoday.com)

Pada beberapa orang, alergi ikan dapat menjadi parah.

Melansir Science Direct, risiko terparah dari alergi ikan adalah anafilaksis, yaitu reaksi sistemik yang parah di mana tubuh melepaskan histamin dalam jumlah besar.

Kondisi ini menyebabkan jaringan di seluruh tubuh membengkak sehingga dapat menyebabkan gejala pernapasan, jantung, dan gastrointestinal yang mengancam jiwa.

Jika tidak segera diobati dengan suntikan epinefrin dan intervensi darurat lainnya, anafilaksis dapat menyebabkan syok, koma, gagal jantung atau pernapasan, dan bahkan kematian.

Selain ciri-ciri di atas, umumnya seseorang yang memiliki alergi ikan akan muncul gejala-gejala:

  • Hidung tersumbat dan bersin (rhinitis alergi)
  • Sakit kepala
  • Gangguan pencernaan dan sakit perut
  • Bersendawa, kembung, atau perut kembung
  • Diare
  • Mual atau muntah

Baca Juga: Obat PK untuk Bayi, Bolehkah Dipakai untuk Mandi Saat Si Kecil Ruam dan Gatal-gatal?

Obat untuk Mengatasi Alergi Ikan

Obat Alergi Ikan (Orami Photo Stocks)

Foto: Obat Alergi Ikan (Orami Photo Stocks)

Melansir American Academy of Allergy, Asthma, and Immunology (AAAAI), gatal akibat alergi disebut pruritoceptive.

Gatal pruritoceptive timbul akibat alergi, pengobatan, tungau, kulit kering, eksim, biduran, dan psoriasis.

Jika gatal-gatal karena alergi, Moms dapat mengonsumsi obat-obatan.

Beberapa pilihan obat yang dapat membantu meredakan gatal antara lain:

1. Antihistamin

Antihistamin memblokir histamin, bahan kimia penyebab gejala yang dilepaskan oleh sistem kekebalan selama reaksi alergi.

Obat ini meredakan pilek, mata gatal atau berair, gata-gatal, bengkak, atau tanda alergi lainnya.

Antihistamin tersedia dalam bentuk pil, semprotan hidung, dan obat tetes mata.

Efek samping dari obat ini adalah membuat Moms mengantuk dan lelah.

Sehingga jika ingin konsumsi antihistamin hindari mengemudi atau melakukan aktivitas lain yang membutuhkan kewaspadaan.

Selain itu, efek samping yang adalah sakit kepala dan mata kering. Namun, efek ini jarang muncul.

2. Dekongestan

Dekongestan digunakan untuk meredakan hidung tersumbat dan sinus akibat alergi dengan cepat dan sementara.

Efek samping pada obat ini adalah dapat menyebabkan kesulitan tidur, sakit kepala, tekanan darah meningkat, dan mudah tersinggung.

Dekongestan tidak direkomendasikan untuk orang dengan tekanan darah tinggi, penyakit kardiovaskular, glaukoma atau hipertiroidisme.

Obat ini tersedia dalam bentuk pil, semprotan hidung, dan obat tetes mata.

3. Kortikosteroid

Kortikosteroid meredakan gejala dengan menekan peradangan terkait alergi.

Bentuk obat ini bermacam-macam.

  • Pil dan cairan untuk mengobati alergi berat dan asma
  • Obat hirup (inhalers) untuk mengatasi asma
  • Nasal spray untuk mengatasi gejala rhinitis alergi musiman
  • Krim oles untuk mengatasi reaksi alergi pada kulit
  • Tetes mata untuk mengatasi mata merah (konjungtivitis) akibat alergi

Bagi Moms yang ingin mengonsumsi obat ini, dosisnya harus dipertimbangkan dengan baik.

Hal ini karena kortikosteroid memiliki efek samping yang panjang jika digunakan sembarangan.

Efek samping obat ini adalah sariawan, mimisan, batuk, warna kulit memucat, infeksi jamur di mulut, hingga suara serak, dan peningkatan risiko infeksi kulit.

Beberapa obat kortikosteroid tidak dijual bebas sehingga jika ingin mengonsumsinya, ada baiknya konsultasikan terlebih dahulu ke dokter ya Moms.

Baca Juga: Alergi Sperma, Cari Tahu Penyebab dan Cara Mengatasinya

4. Stabilisator Sel Tiang

Stabilisator sel tiang memblokir pelepasan bahan kimia dalam sistem kekebalan yang berkontribusi pada reaksi alergi.

Obat ini umumnya aman, tetapi biasanya perlu digunakan selama beberapa hari untuk menghasilkan efek penuh.

Stabilisator sel tiang biasanya digunakan ketika obat antihistamin tidak bekerja atau tidak dapat ditoleransi dengan baik.

Efek samping pada obat ini, yaitu:

  • Rasa tidak enak di mulut
  • Batuk
  • Gatal atau sakit tenggorokan
  • Sakit kepala
  • Hidung tersumbat

5. Anti Leukotrien

Anti leukotrien adalah obat resep yang memblokir bahan kimia penyebab gejala yang disebut leukotrien.

Obat oral ini meredakan tanda dan gejala alergi termasuk hidung tersumbat, pilek dan bersin.

Hanya satu jenis obat ini, montelukast (Singulair), yang disetujui untuk mengobati demam.

Pada beberapa orang, penghambat leukotrien dapat menyebabkan gejala psikologis seperti kecemasan, depresi, mimpi aneh, sulit tidur, dan pemikiran atau perilaku bunuh diri.

6. Imunoterapi Alergen

Imunoterapi diatur waktunya dengan hati-hati dan secara bertahap meningkatkan paparan terhadap alergen, terutama yang sulit dihindari, seperti serbuk sari, tungau debu, dan jamur.

Tujuannya untuk melatih sistem kekebalan tubuh agar tidak bereaksi terhadap alergen tersebut.

Imunoterapi dapat digunakan jika perawatan lain tidak efektif atau tidak dapat ditoleransi.

Kondisi ini juga membantu dalam mengurangi gejala asma pada beberapa pasien.

Baca Juga: Ketahui 3 Perbedaan Alergi Makanan dan Intoleransi Makanan Pada Balita

7. Suntikan Epinefrin Darurat

Suntikan epinefrin digunakan untuk mengobati anafilaksis, reaksi mendadak yang mengancam jiwa.

Obat ini diberikan dengan alat suntik dan jarum suntik otomatis (auto-injector).

Moms mungkin perlu mengonsumsi dua auto-injektor jika ada kemungkinan mengalami reaksi alergi parah terhadap makanan tertentu.

Alergi ikan tidak seperti alergi pada makanan lainnya.

Alergi ikan tidak bisa disembuhkan secara total. Namun, kondisi ini bisa dikendalikan agar gejalanya tak kambuhan.

Moms tidak perlu khawatir, karena dengan penanganan yang baik dan menghindari konsumsi ikan, maka gejalanya tidak akan muncul.

Jika Moms mengalami ciri-ciri atau gejala alergi ikan yang sangat parah, sebaiknya jangan tunda untuk segera berobat ke dokter.

Semakin cepat ditangani, risiko komplikasi akibat alergi ikan dapat dihindari. Jadi, jangan anggap sepele, ya, Moms!

  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/allergies/in-depth/allergy-medications/art-20047403
  • https://link.springer.com/article/10.1007/s11882-017-0732-z#citeas
  • https://www.aaaai.org/conditions-and-treatments/library/allergy-library/what-makes-us-itch
  • https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0025712516373965?via%3Dihub
  • https://www.sensitivitycheck.com/fish-allergy-3-signs/

Copyright © 2023 Orami. All rights reserved.